
Hari ini, Setya kembali ke kota untuk kuliah. Karna masa akhir pekan sudah berlalu. Sebenarnya, hati Setya sangat berat meninggalkan Kamila di desa. Tapi, dia juga tak bisa libur dari kuliahnya, karna sedang berlangsung ujian.
Setelah pamit dengan Kamila kemarin sore, dan meninggalkan sebuah ponsel pada Kamila, hati Setya tak lagi begitu gelisah. Dia sudah sedikit tenang, karna bisa bertanya kabar Kamila, melalui telepon.
Setya memberikan ponsel yang dulu dibelikan oleh ayahnya, pada Kamila. Ponsel itu sudah jarang ia gunakan. Karna, Setya sudah memiliki ponsel baru, yang dibelinya memakai uang dari gajinya bekerja.
Dan atas usul dari pak Wiguna dan bu Indri juga, Setya memberikan ponsel itu pada Kamila. Agar Setya tidak berat hati meninggalkan Kamila.
Ya, meskipun ibu dan ayah Setya berada di desa yang sama dengan Kamila, dan jarak rumah mereka tidak begitu jauh, Setya tetap saja tak tenang. Jika sewaktu-waktu Kamila memerlukan bantuan, dan dia tak berada di dekat Kamila. Karna Setya tau, bahwa Kamila tak akan mau datang kerumah ibu dan ayahnya untuk meminta pertolongan, karna merasa segan.
Maka dari itu, Setya tetap harus memantau Kamila melalui ponsel yang sudah diisikan pulsa dan kuota internet olehnya. Setya sudah menegaskan pada Kamila, agar segera menghubunginya jika kakek Parmin berani menyakitinya lagi.
Kepergian Setya, bukanlah semata-mata untuk kuliah dan bekerja. Dari kota, Setya juga tengah berupaya mengumpulkan semua petunjuk untuk menemukan keberadaan bu Ratih--ibu kandung Kamila.
Lima buah surat terakhir dari bu Ratih, yang didapatkannya dari Kamila, juga turut dibawa oleh Setya. Tak lupa juga, poto wajah bu Ratih pun, dibawa oleh Setya. Agar memudahkan Setya, yang sama sekali tidak mengenal wajah bu Ratih, untuk menemukannya. Meskipun, poto itu adalah poto Bu Ratih semasa gadis, dan terlihat sudah sedikit usang, tak menyurutkan keyakinan Setya, mencari keberadaan Bu Ratih.
"Bro, kenapa melamun?" Rizki, teman kampus, serta sahabat Setya itu, menghampiri Setya yang terlihat duduk melamun di bangkunya.
"Eh, Ki. Kamu ini membuatku kaget saja." Setya sedikit tersentak kaget, karna dikejutkan oleh Rizki yang datang tiba-tiba, dan menepuk pundaknya.
"Sebenarnya, ada yang sedang kufikirkan, Ki. Aku sedang mencari keberadaan seseorang," lanjutnya bercerita pada sahabatnya, yang dikenalnya sejak dia datang ke kota itu.
Rizki adalah teman baik Setya. Setya bertemu dengan Rizki saat pertama kali mendaftar kuliah. Rizki orang yang sangat periang. Dia sangat mudah berteman. Sebab itu jugalah, dia bisa dengan mudah, dekat dengan Setya, yang terbilang pendiam, jika dengan orang yang baru dikenalnya. Namun, karna Rizki mudah bergaul, Setya jadi cepat akrab dengannya.
"Hah? Nyari siapa, Setya? Nyari jodoh? Hahahaa." Rizki terkekeh setelah meledek Setya, yang dikenalnya tak pernah mempunyai seorang pacar, bahkan tak pernah dekat dengan perempuan itu.
"Aku lagi nyari Ibunya Kamila, Ki," jelas Setya pada Rizki, yang sudah pernah bertemu dengan Kamila, saat Setya membawanya ikut pulang ke kampung. Meskipun hanya bertemu sekali, namun Rizki sedikit banyaknya, tahu tentang Kamila, karna Setya seringkali bercerita mengenai Kamila, pada Rizki.
"Mau apa kamu, mencari Ibu Kamila? Bukannya Ibu Kamila itu, sudah lama menghilang, ya? Dulu juga kamu bilang, Kakek nya Kamila pernah berusaha mencari Ibunya, tapi hasilnya nihil, bukan?" tanya Rizki heran, mengingat kembali cerita Setya, padanya.
"Rizki, aku akan menikahi Kamila dalam kurun waktu seminggu ini, kalau bisa. Sebab itu, aku mencari Ibunya, agar bisa tahu siapa Ayah kandung Kamila, yang akan menjadi wali pernikahan kami." Setya berbicara sedikit pelan pada Rizki. Karna dia tak ingin membuat heboh satu kelas, mengenai rencana pernikahannya di usia muda.
__ADS_1
"Apa katamu? Kamu serius, Setya? Kenapa terburu-buru? Apa tidak bisa menunggu hingga selesai wisuda? Lagipula, ini sudah di akhir semester, 'kan? Otak kita masih terbebani oleh skripsi, lah kamu, malah mau nikah." Rizki yang tadinya berdiri agak jauh dari Setya, kini bergerak duduk persis di samping Setya. Dia terlihat kaget sekaligus penasaran mendengar pengakuan Setya yang akan menikah secara mendadak itu, dan lantas mencecar Setya dengan berbagai pertanyaan. Sampai beberapa orang yang ada di kelas itu menatap kearah mereka.
"Sssst. Jangan bicara keras-keras. Aku tak ingin membuat heboh kelas ini." Setya mengintruksi Rizki agar bicara pelan.
Untung saja, keadaan di kelas, belum begitu ramai, dan hanya ada beberapa orang laki-laki saja. Jika sudah ramai dengan para mahasiswi yang tingkat keingin tahuannya dengan urusan orang diatas rata-rata, sudah pasti, Setya akan menjadi topik gosip mereka hari ini.
"Kamu tau, bukan, kalau Kakek Kamila itu selalu menyiksanya. Aku tak ingin melihat Kamila lebih lama lagi merasakan penderitaan itu. Maka dari itu, aku ingin membebaskannya, dengan cara menikahinya, Ki," imbuh Setya menjelaskan pada Rizki.
"Ooo, begitu. Jadi, rencana kamu, mau mulai darimana mencari Ibunya Kamila? Apa sudah dapat petunjuk?" tanya Rizki.
"Ya, aku membawa lima buah surat terakhir yang dikirimkan oleh Ibunya Kamila ke desa. Dan juga, sebuah poto lamanya. Hanya itu saja. Rencananya, sepulang kuliah, aku akan langsung memulai pencarian ke alamat pos di surat ini." Setya mengulurkan sebuah surat pada Rizki.
"Aku juga sudah izin cuti pada Om Ilham, agar lebih leluasa mencari Ibunya Kamila," lanjut Setya, yang disertai anggukan sahabatnya yang kini tengah membaca alamat dari surat ibunya Kamila.
"Baiklah, aku akan membantumu mencari Ibunya Kamila, Setya. Setelah pulang kuliah, kita akan mencarinya bersama. Kebetulan, aku tahu alamat ini." Rizki berniat membantu Setya menemukan Ibunya Kamila.
"Terima kasih banyak, Rizki," ucap Setya pada sahabatnya itu.
Dia juga lega, ada yang akan mengarahkannya menuju seluk-beluk kota ini, karna Rizki, berasal asli dari kota ini. Sebab, Setya, yang walaupun sudah bertahun-tahun tinggal dan berkuliah di kota ini, dia tak begitu tahu jalanan di kota ini. Dia hanya hafal jalan dari kontrakannya, menuju kampus dan tempat kerja, serta jalan menuju rumah Rizki.
Setya terbilang sangat jarang keluar dari kontrakannya di kota, untuk hanya sekedar nongrong di kafe, atau jalan-jalan bersama teman-teman kuliahnya. Dia hanya pergi bersama Rizki, itupun jika ada yang penting saja. Atau, Rizki akan datang ke rumahnya untuk sekedar bercerita, maupun mengerjakan tugas, dan sebaliknya.
-----
Pukul tiga sore, Setya yang sudah berjanji akan menjeput Rizki dengan motor sport miliknya, telah sampai di depan rumah Rizki.
"Assalamualaikum." Setya mengucap salam, sembari mengetuk pintu rumah Rizki.
"Waalaikumsalam." Seorang wanita terdengar menjawab salam Setya. Dia pasti adalah ibunya Rizki. Karna, Rizki hanya tinggal berdua dengan ibunya dirumah ini, sejak ayahnya meninggal dunia lima tahun lalu.
"Eh, ada Nak Setya rupanya. Silahkan masuk, Nak. Rizki baru selesai mandi. Sedang memakai pakaian. Nak Setya duduklah dulu," sambut bu Fatma ramah pada Setya. Diiringi dengan Setya, yang langsung menyalami bu Fatma.
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Bu," ujar Setya sembari duduk di ruang tamu rumah Rizki, yang tidak terlalu besar itu. Sementara Bu Fatma, sepertinya akan berjalan menuju dapur.
"Nak Setya, tunggu disini, ya, Ibu buatkan minum dulu." Bu Fatma yang sudah berjalan dua langkah itu, berhenti sejenak untuk memberi tahu pada Setya, bahwa dia akan mengambilkan minum untuk Setya.
"Tidak usah, Bu. Setya akan pergi bersama Rizki. Ibu tidak usah repot-repot, Bu. Karna Setya hanya sebentar." Setya mencegah bu Fatma, agar tidak perlu repot menyiapkan air minum untuknya. Karna dia, ingin segera mencari ibu dari Kamila.
"Loh, mau pergi, toh. Kalian berdua, mau kemana? Mau cari calon, ya?" ucap bu Fatma dengan nada bercanda, dan duduk di sofa, tepat di samping Setya.
"Tidak, Bu. Sebenarnya--" Rizki yang baru keluar dari kamar, dengan mengenakan celana jeans, serta kaos santai itu, menghentikan kalimatnya, lalu memandang kearah Setya, menunggu tanda, apakah Rizki boleh memberi tahu ibunya, atau tidak.
"Sebenarnya, Rizki dan Setya akan mencari Ibu dari Kamila, Bu. Kamila itu adalah calon istri Setya. Dia akan menikah dalam minggu ini. Sementara Ibu dan Ayah kandung Kamila, tidak tahu keberadaannya. Maka dari itu, Setya mencari mereka. Dan Rizki, mencoba membantu Setya, Bu." Rizki melanjutkan perkataannya, setelah mendapat anggukan dari Setya.
"Walah, Nak. Alhamdulillah. Jodohnya cepat datang. Daripada berbuat yang tidak disukai Allah, memang lebih baik menikah. Ya, toh?" Bu Fatma terlihat senang mendengar berita pernikahan Setya, yang sudah dianggapnya seperti putra sendiri.
"Iya, Bu. Doakan yang terbaik untuk Setya, ya Bu." Setya meminta doa dari ibu sahabatnya yang sangat baik hati itu.
"Tentu saja, Nak." Bu Fatma tampak tersenyum pada Setya.
"Kalau begitu, Rizki pergi dulu, ya, Bu," pamit Rizki sembari mencium tangan ibunya.
"Setya izin membawa Rizki, Bu." Setya meminta izin Bu Fatma, lalu menyalaminya.
"Iya, Nak. Hati-hati dijalan, ya. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," balas bu Fatma, seraya mengusap punggung Setya yang berdiri di sampingnya.
"Aamiin. Terima kasih, Bu." Setya berlalu menuju pintu keluar.
"Assalamualaikum." Rizki dan Setya mengucap salam serempak, lalu menaiki motor Setya.
"Waalaikumsalam, hati-hati, Nak." Bu Fatma melepas Rizki dan Setya, sembari melambaikan tangannya pada mereka.
Bu Fatma tampak berbinar bahagia mendengar kabar pernikahan Setya. Karna, Setya, yang sering main kerumahnya, sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya.
__ADS_1
Beliau sangat bersyukur, Rizki berteman dengan Setya. Sebabnya, sejak berteman dengan Setya, Rizki mengikuti jejak Setya yang rajin beribadah di masjid. Setya yang dikenal Bu Fatma, sebagai anak yang sholeh itu, sangat menyentuh hatinya. Setya juga membawa pengaruh baik pada anaknya, Rizki.