
Setya dan Rizki sudah sampai di pos, tempat pengiriman surat terakhir yang dikirim oleh Bu Ratih, ke desa.
Setelah memasuki pagar, Setya dan Rizki lalu memakirkan motor Setya. Di sana terlihat seorang lelaki paruh baya, yang sepertinya, telah bekerja cukup lama di kantor itu. Bisa dilihat dari pakaian dinasnya yang sudah tampak sedikit usang. Melihatnya, Rizki lantas menghampiri lelaki itu.
"Selamat sore, Pak," ucap Rizki, sembari menyambangi lelaki yang terlihat seusia ibunya itu, dengan duduk persis di samping lelaki yang tengah santai di kursi panjang, di halaman kantor tersebut.
"Iya, Nak. Ada yang bisa saya bantu?" balas lelaki itu ramah pada Rizki dan Setya.
"Mari, duduk," ujar lelaki itu pada Setya yang tampak masih berdiri di samping Rizki.
"Iya, Pak. Perkenalkan, saya Setya." Setya kemudian duduk di sebelah Rizki, lalu mengulurkan tangannya pada lelaki berseragam kantor pos itu, yang lantas disambut hangat olehnya.
"Saya, Jupri. Anak berdua ini, ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki yang kini diketahui bernama Jupri itu, sembari kembali menanyakan maksud kedatangan dua anak muda di sampingnya.
"Begini, Pak Jupri, saya Rizki, temannya Setya. Kami berdua datang kesini, bermaksud menanyakan perihal surat ini kepada Bapak. Apakah Bapak bisa membantu kami, mencari data dari pengirim surat ini? Sebab, alamat pengirim di surat ini, sudah tak begitu jelas terlihat." Rizki langsung saja menjelaskan maksud kedatangannya dan Setya, pada pak Jupri.
"Di sini sepertinya terlihat tulisan, gang kenang--. Gang Kenanga, lebih tepatnya barangkali." Pak Jupri berusaha menganalisis alamat surat yang diberi oleh Setya, sembari menerka-nerka tulisan yang sudah mulai pudar itu. Hanya tulisan itu saja, yang terlihat. Alamat lengkapnya, sudah hilang terkena air.
"Apa Bapak tau, dimana gang Kenanga itu, Pak? Setya dengan gamblang bertanya pada pak Jupri. Dia tampak sudah sangat tidak sabar, menemui ibu kandung Kamila.
"Hmmmm. Apa kalian ini sedang mencari seseorang, Nak? Bapak tau alamat ini. Tidak jauh dari sini. Setelah jam kerja selesai, Bapak akan antar kalian." Pak Jupri kembali menanyakan Setya dan Rizki, tapi tanpa ragu, dia akan membantu dua pemuda itu.
"Terima Kasih banyak, Pak." Setya merasa sangat senang, dan menjabat tangan Pak Jupri yang mengangguk-angguk padanya.
"O iya, Pak. Bapak sudah lama bekerja disini?" Rizki kembali berbincang pada Pak Jupri, sembari menantikan waktu Pak Jupri bekerja habis.
"Wah, sudah lama sekali, Nak. Bapak bekerja disini sudah hampir dua puluh lima tahun. Sampai-sampai, Bapak hafal sekali dengan wajah-wajah pengirim surat, di pos ini," tukasnya, menjelaskan pada Rizki yang terlihat lebih banyak berintraksi dengan Pak Jupri, dibandingkan Setya, yang lebih memilih banyak diam.
Entah karna fikirannya yang sedang kacau memikirkan skripsi, atau tengah memikirkan Kamila. Terlihat sesekali Setya menengok keponsel miliknya. Menanti kabar dari Kamila, sepertinya.
__ADS_1
"Oo, kalau begitu, apa Bapak mengenal wanita ini?" Rizki mengulurkan poto wajah bu Ratih pada pak Jupri, yang diikuti wajah kaget pria itu, yang juga turut membuat Rizki dan Setya heran dengan ekspresi yang ditunjukkan Pak Jupri.
"Raa--tih," bibirnya tampak bergetar mengucapkan nama wanita yang ada di poto itu.
"Bapak kenal, dengan Bu Ratih?" selidik Setya, yang merasa sedikit aneh dengan sikap Pak Jupri yang kini, menitiskan air mata itu.
"Sangat, Nak. Bapak sangat mengenal wanita ini. Dia adalah Ratih. Teman baik Bapak," ujar Pak Jupri, mengusap bulir air mata yang menetes tanpa sengaja, dari matanya.
"Apa Bapak tau, dimana keberadaan Bu Ratih, Pak?" Setya seperti mendapatkan angin segar, dimana keberadaan Bu Ratih, mendengar pernyataan pak Jupri barusan.
"Hmmmm... ayo, kalian ikut Bapak." Pak Jupri mendengkus kasar. Seperti ada beban berat di hatinya, sejak melihat poto Ratih. Setelah melirik jam di tangannya, lelaki itu lantas mengajak Setya dan Rizki bersamanya.
----
Pak Jupri yang mengendarai motor bebek, kemudian diiringi oleh Setya dan Rizki yang berboncengan dengan motor Setya. Pak Jupri tampak menyusuri jalan raya, hingga sampai disebuah gang kecil, yang hanya muat dua buah motor berdampingan.
Pak Jupri terus masuk ke dalam gang yang cukup sempit itu, lalu tak berapa lama, motornya terhenti di sebuah bangunan yang lumayan besar, tetapi tampak seperti bekas terbakar. Memarkirkan motornya di halaman bangunan itu, diikuti oleh Setya dan Rizki, pak Jupri tampak berjalan sedikit mendekati bangunan itu.
"Pak, sebenarnya, saya akan menikahi putri Bu Ratih, yaitu Kamila. Jadi, saya berusaha mencari keberadaan Bu Ratih, agar saya juga tahu siapa Ayah kandung Kamila," penjelasan Setya, sontak membuat Pak Jupri kembali merasa kaget.
"Aa-pa? Putrinya? Gadis kecil itu, masih hidup?" Pak Jupri mendekati Setya, lalu mengguncang pelan badan pemuda itu, memastikan ucapan yang baru saja dilontarkan Setya. Membuat Rizki, merasa curiga dengan tingkah aneh Pak Jupri.
"Ya, Kamila namanya. Saya akan menikahinya, Pak," jelas Setya pada pak Jupri, yang membuat Rizki menginjak kakinya, mengisyaratkan agar Setya tak terlalu percaya pada lelaki pegawai kantor pos itu.
"Ehhhmm... sebenarnya, Pak. Mengapa Bapak membawa kami ke sini?" Rizki mengalihkan pembicaraan, karna juga heran, ada maksud apa, Pak Jupri membawa mereka ke bangunan yang sudah terbakar ini.
"Nak, inilah tempat Bu Ratih bekerja selama hidupnya," ujar Pak Jupri, dengan membentukkan tanda kutip menggunakan tangannya, pada kata 'bekerja' dikalimatnya.
"Selama hidup? Maksud Bapak, Bu Ratih sudah tiada?" Setya terkulai lemas mendengar penuturan pak Jupri.
__ADS_1
Jika yang dikatakan Pak Jupri itu, benar adanya, maka bagaimana caranya Setya menyampaikan hal ini, pada Kamila. Hati gadis itu pasti akan hancur karenanya.
"Entahlah, Nak. Memang, tak ada yang menemukan jenazahnya, tapi ada yang mengatakan, bahwa, Ratih terakhir kali berada di sini, sebelum kebakaran itu membakar habis tempat ini," ujar Pak Jupri, yang sebenarnya juga merasa ragu, atas berita kematian Ratih. Namun, karna Ratih, sejak kejadian itu, tak pernah menampakkan batang hidungnya, membuat pak Jupri mau tak mau harus menerima, bahwa Ratih memang sudah meninggal, dalam insiden kebakaran itu.
"Akhhhh. Tidak mungkin." Setya mengusap kasar wajahnya. Harapannya pupus, mendengar penuturan dari pak Jupri.
"Tenanglah, Setya. Semua pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah." Rizki menepuk pundak sahabatnya itu, dan berusaha menenangkannya.
"Nak, apa Bapak boleh tau, dimana keberadaan putri dari Ratih itu, kini? Dan, siapa yang mengurusnya selama ini?" Pak Jupri menanyakan pada Setya perihal keberadaan Kamila. Dia tampak begitu sangat mengharapkan jawaban dari Setya.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberi tahu Bapak." Rizki menghentikan Setya, yang dengan sukarela akan menjawab pertanyaan Pak Jupri.
Entah kenapa, hatinya merasa janggal terhadap pak Jupri. Dia tak bisa dengan mudah mempercayai pak Jupri. Berbeda dengan Setya, yang dengan cepat, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan lelaki paruh baya itu.
"Nak, Bapak bisa mengerti, kecurigaan Nak Rizki. Bapak merasa wajar, melihat sikap Nak Rizki ini. Tapi, Bapak bukanlah orang jahat, seperti yang Nak Rizki fikirkan." Pak Jupri membaca kecurigaan di wajah Rizki, lalu berusaha menjelaskan pada pemuda itu, bahwa dia tak punya niatan jahat pada Kamila.
"Bapak hanya ingin tahu, dimana putri Ratih. Bapak ingin sekali menemuinya. Dulu, semasa putrinya Ratih itu masih bayi, Bapak sering menggendongnya. Bapak sudah menganggap Kamila seperti putri Bapak sendiri," jelas Pak Jupri, yang masih berusaha meyakinkan Rizki dan Setya.
"Ooh, seperti itu, ya, Pak. Jadi, Bapak sudah mengenal dekat Bu Ratih. Berarti, Bapak tau, siapa Ayah kandung Kamila?" tanya Setya pada pak Jupri, yang diikuti anggukan dari pria itu.
"Sangat tahu. Tapi, Bapak tidak bisa mengatakan hal itu, disini. Temui Bapak besok sore, di kantor. Bapak akan membawa kalian ke rumah Bapak, dan akan menceritakan semua mengenai Ratih, pada kalian. Sekarang, pulanglah. Sudah menjelang maghrib." Pak Jupri menyuruh kedua pemuda itu, untuk pulang. Karna, langit senja sudah mulai muncul ke permukaan. Dan dia, meminta kedua pemuda itu untuk kembali menemuinya besok saja.
Setelah menyetujui apa yang dikatakan Pak Jupri, dan sudah berpamitan dengan lelaki itu, Rizki dan Setya beranjak menuju pulang. Sebelum mengantarkan Rizki ke rumahnya, Setya dan Rizki singgah ke mesjid, untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib, karna waktu maghrib telah tiba.
Sesampainya dirumah Rizki, Setya hanya mengantar Rizki di depan pagar saja. Dia tak turut masuk bersama Rizki. Karna, dia harus menyelesaikan pekerjaan yang dikirim om Ilham lewat email, padanya.
"Terima kasih, sudah menemaniku, Ki. Besok, kamu akan kurepotkan kembali." Setya menghaturkan terima kasih pada Rizki, yang sudah menemaninya mencari informasi tentang ibu Kamila.
"Santai saja, Setya. Besok, sepulang kampus, kita langsung bergerak ke rumah Pak Jupri itu. Aku masih penasaran, siapa sebenarnya Bapak itu. Mencurigakan sekali." Rizki kembali berbicara tentang Pak Jupri, yang masih dia curigai.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, Ki. Bapak itu sudah membantu kita. Kita temui dia besok. Kalau begitu, aku cabut, ya. Masih ada kerjaan kantor, yang harus aku selesaikan malam ini." Setya yang selalu berfikir positif, menyalurkan sisi positif nya, pada Rizki, yang memang terkenal tak mudah mempercayai seseorang.
"Oke, Setya. Hati-hati." Rizki melepas Setya, yang sudah mulai melajukan motornya.