Karsa

Karsa
Prolog


__ADS_3

"nduk, kamu bongkar gudang di belakang. Yangti mau bersihin halaman depan" pinta Yangtinya yang sudah berumur, namun tetap segar bugar selayaknya remaja itu.


Kana menggulung rambut panjangnya kemudian mengangguk patuh kepada Yangtinya. Setiap kali liburan kuliah, Kana pasti akan selalu berkunjung di rumah Yangtinya yang letaknya di Jawa tengah. Rumah itu sangat kental akan budaya Jawa. mereka memang keturunan ningrat dari buyut mereka. Estat itu sendiri adalah peninggalan buyut mereka yang diwariskan secara turun-temurun sampai pada Kana.


Dulu, Yangkung sempat menjual beberapa peninggalan buyut mereka seperti kereta kuda, guci dan bahkan gamelan, karena krisis 98. Jadilah, di rumah itu yang tersisa hanya beberapa peninggalan saja seperti lukisan, perabot kayu, lampu dan arsitektur rumah yang dipertahankan.


(Yangti adalah singkatan dari eyang putri yang artinya nenek. Yangkung adalah singkatan dari eyang Kakung yang artinya kakek)


"Mbok, bantuin Kana bersihin gudang, nggih? Katanya nggak pernah dibersihin sejak Yangkung meninggal," gumam Kana pada pembantu dirumahnya yang turut menjaga rumah dan Yangti.


Pembantunya langsung mengangguk kemudian berkata, ''gudangnya ndak pernah dibersihin sama sekali, Non, bahkan sebelum Yangkung meninggal. Hanya pernah dibongkar sedikit aja waktu krisis 98."


"sedikit?" tanya Kana tidak mengerti.


"Iya Non, hanya untuk mencari barang berharga yang bisa dijual," jawab pembantu yang sedah bekerja lama sekali di rumah itu.


Keduanya berjalan melewati halaman belakang yang cukup luas, sebelum sampai di sebuah pendopo kayu yang berdebu itu. Kana membuka pintu tersebut dan ia langsung disambut jaring laba laba dan debu yang bertebaran, membuatnya terbatuk-batuk sendiri ditempatnya. Kecoa, tikus mulai berkeliaran keluar dari persembunyian mereka, membuat Kana menjerit kemudian memaki.


Yangti yang mendengar makian Kana langsung berseru dari arah ruang tamu. "Bahasanya, Nduk!" ucap Yangti memperingatkan.


Kana hanya cengengesan kemudian berkata, "Ya, refleks, Yangti."


Kana pun langsung membongkar barang barang di gudang itu. Berkali kali ia menahan umpatan, karena kecoa sempat merangkak dikakinya, membuatnya panik setengah mati. Gudang itu seolah menjadi kebun binatang khusus serangga. Mau apa saja ada. Kecoa ada. Nyamuk ada. Kalajengking pun ada. Lengkap. Kana yang pantang menyerah, menyeret semua barang yang ada di gudang itu ke halaman dengan di bantu pembantunya. Butuh waktu yang lama ketika gudang itu kosong dan tak bersisa. Kana sempat menemukan satu kotak kayu berukir yang tersimpan jauh di sudut gudang.


Ketika kotak tersebut sudah berada di halaman, Kana meniup debu di kotak itu untuk membersihkannya. Kotak itu cantik sekali, dengan gembok kecil kuno yang menyegelnya.


"Nduk, Mbok, minum dulu. Yangti udah buatkan teh," ucap Yangti sambil meletakkan nampan itu di meja taman yang biasa digunakan untuk bersantai.


Kana mengangguk, kemudian menghampiri Yangti yang tengah duduk sambil menyesap tehnya. "Mbok, minum dulu," panggil Kana lagi, membuat mbok Sari langsung keluar dari gudang dengan wajah sungkannya. ia menerima segelas teh itu sambil mengucapkan terimakasih.


"Ini apa, Ti?" ucap Kana sambil meletakkan kotak berukir itu di meja taman.


"kamu ketemu dimana, Nduk?" tanya Yangtinya.


"Disudut gudang, Ti," jawab Kana kemudian menggerakkan gembok yang berkarat hebat itu. Kana berlari kecil, kearah studio kerja Yangkung yang dulu dipakai untuk membuat perabot rumah, kemudian mengambil pemukul. Ia kembali lagi ke tempat bersantai itu, kemudian memukul gembok tersebut beberapa kali. Meski sudah berkarat, namun Kana akui gembok ini kuat.


"Jangan-jangan itu jenglot, Nduk, atau itu pesugihan," gumam Yangti mewanti-wanti.


"Emang dulu keluarga kita pesugihan, Ti?" tanya Kana kaget.


"Ya, Ndak ngerti juga," ucap Yangti dengan tawa polosnya.


Kana memberanikan membuka kotak itu perlahan dan yang didapatinya buka jenglot atau kawan kawan, tetapi tumpukan kertas lupuk, botol tinta, pena berbulu yang menguning, dan wadah tinta. ketika Kana memilah kertas menguning itu, ia menemukan banyak gambar yang terbuat dari coretan bastrak dari pena. Ada Mbak Rara, Kangmas Arya, Kangmas Reksanegara, Yu Marsinah dan masih banyak lagi.


"Sepertinya itu punya buyutnya Yangkung mu," jawab Yangti, kemudian mengeluarkan perangkat tinta dan pena berukir itu, lalu mengamatinya perlahan. Level di botol itu bahkan masih tertempel spurna, hanya saja memang sudah sangat tua. Tulisannya terbaca dengan jelas dan menggunakan bahasa Belanda.


Kana menarik kertas kuning yang sudah lupuk dan mengamatinya. itu adalah sebuah surat. surat yang sangat tua. Ditulis tangan. Tulisannya begitu elegan, bersambung dan bahkan masih ada perangkonya yang masih melekat. Kana tidak mengerti maksud tulisan itu. sepertinya ini bukan bahasa Jawa atau Indonesia, tetapi lebih ke bahasa Belanda?

__ADS_1


"Yangti bisa baca ini?" tanya Kana sambil menyodorkan surat itu kepada neneknya.


Neneknya memicingkan mata, kemudian berkata, "Ndak bisa bahasa Inggris..."


Kana tertawa lebar melihat kepolosan Neneknya. Kana kemudian meraih ponselnya dan memotret semua surat di kertas itu, sebelum mengirimkannya pada temannya yang mengambil beasiswa studi di Belanda.


"Yangti kenal sama buyutnya Yangkung?" tanya Kana kebingungan.


"Ya Ndak lah, Nduk. Udah beda dimensi," ucap Yangtinya dengan tawa yang tak pernah pudar.


Yangtinya memang terkenal konyol dan suka becanda. Hal itu juga yang membuat Kana selalu nyaman berlibur di rumah neneknya.


"Maksudnya mungkin Yangkung pernah cerita?" gumam Kana lagi.


"Yangkung hanya pernah cerita kalau dulu buyutnya adalah bupati Sleman. Lukisannya itu yang ada di rumah depan," jawab Yangtinya.


"Pasti buyut idaman ya dulu, Ti? Kalau buyut masih hidup sampai sekarang, pasti udah jadi artis tuh. Gantengnya itu khas Indonesia banget," gumam Kana sambil mengingat kembali lukisan yang ada di bagian depan rumah.


"Yangti aja demen," canda Yangti sambil tertawa.


Setelah selesai berbincang santai, Kana melanjutkan tugas membersihkan gudangnya sampai sore tiba. setelah selesai makan malam, Kana langsung beranjak ke kamarnya, sebab ia sangat kelelahan, karena seharian membersihkan gudang. Kotak tua itu sudah berada di kamarnya. Perjalanannya ke kamar sempat melewati bagian depan rumah, tempat lukisan itu dipajang. Kana berhenti sebentar untuk mengamati lukisan itu.


kedua kakek dan nenek buyutnya menggunakan pakaian pernikahan ala ala ningrat. kakek buyutnya memakai ageman rapi, dengan jarik dan blangkon. Pria itu berdiri dengan memegang pundak nenek buyutnya yang duduk sopan. Nenek buyutnya sendiri memakai kebaya ala ala Kartini berwarna putih, dan jarik seperti kakek buyutnya. Rambutnya disanggul sederhana dan diberi hiasan kantil yang memanjang hingga ke dada. Kakek buyutnya memiliki wajah tipikal orang Indonesia pada umumnya dengan mata yang teduh dan wajahnya yang kalem. Tubuhnya cukup tinggi dan tegap, mengindikasikan pria itu tampaknya menyukai hobi yang berhubungan dengan fisik. Terlihat dari perawakan dan tatapannya, pria ini sudah dewasa, baik secara jasmani maupun jiwa. Disisi lain, nenek buyutnya malah seperti remaja yang baru pubertas. Tampak masih malu malu, mungkin karena pernikahannya di usia dini itu. Dibawah foto itu terdapat nama buyutnya.


Raden Mas Adipati Reksanegara Wiryadiningrat & Raden Ayu Anjani Wiryadiningrat.


"eh gila, Lo!" ucap Via, temannya yang mendapat beasiswa di Belanda itu dengan nada blak-blakan.


"Hah, anjir," jawab Kana kaget.


"Lo dapet surat itu dari mana? Gila, itu tu bukan surat biasa," gumam Via lagi.


"kok bisa?" tanya Kana kaget.


"Gue hanya bisa translate beberapa kata. Ada beberapa kata yang terkesan asing bagi gue. surat itu pake bahasa Belanda, -beberapa kata bukan Belanda modern-, tapi dosen gue bilangnya itu kata yang berasal dari tahun 1800-an. dan disitu ada surat pengadilan Hindia-Belanda zaman itu, lengkap dengan stempelnya. Kebanyakan surat itu artikel. Gue belum sempet translate semuanya, hanya beberapa aja. Udah gue kirim foto nya," gumam Via lagi dengan nada terpukaunya.


"Gila, Lo baru aja dapat artefak, sadar nggak sih lo? coba deh Lo lelang di museum Indonesia, Lo bakal dapet harga selangit," gumam Via lagi yang memang tertarik dalam bidang artefak dan sejarah, wong studinya saja di bidang itu.


Kana syok ditempatnya sambil mendongak menatap lukisan itu lagi. "sungguhan Lo?"


"Iya, anjir. Buyut Lo kayaknya aktivis deh. Artikelnya banyak yang bernada perjuangan. Coba Lo liat," gumam Via lagi. "udah gue kirim foto nya."


Dengan panggilan yang masih terhubung, Kana membuka foto terjemahan yang dikirimkan Via padanya. Terjemahan itu cukup panjang, namun Via dengan baik hati meng-highlight hal hal yang menurut gadi itu sangat menyentuh.


...Seorang pejuang tetaplah seorang pejuang, tidak peduli bahwa ia gagal dalam perjuangannya...


^^^17 Juli 1910.^^^

__ADS_1


...Bagaimana bisa kita menjadi budak di tanah air sendiri?...


...Bagaimana bisa kita memberi makan penjajah sampai kenyang, namun membiarkan anak anak kita mati kelaparan?...


...kita memanen di tanah air sendiri, untuk memberi makan bangsa asing....


...Jika ini takdir belaka, maka Tuhan tak lagi bergelar Maha pengasih....


^^^19 April 1899.^^^


"Hanya itu yang udah gue terjemahin, sisanya belum," gumam Via lagi, "lo tahu nggak diantara artikel itu, ada banyak surat yang di tulis dalam bahasa jawa?"


"ditulis buyut gue juga?"


"kata profesor gue, yang nulis surat ini beda orang," jawab Via pelan.


"Beda orang?" tanya Kana sedikit kaget.


"Gue juga sempet skeptis diawal, soalnya bentuk tulisanya mirip banget, sama kayak surat surat sebelumnya. Tapi mata seorang profesor ga mungkin salah. Sepertinya inisurat dari kekasih buyut Lo. Soalnya seperti surat cinta," balas via lagi. "surat ini udah gue terjemahin sebisa mungkin dengan bantuan, pakde gue. Coba Lo baca. di foto ke tiga."


kita memandang langit yang sama, namun tak bisa memandang satu dengan yang lain.


*kita menghirup udara yang sama, namun tak bisa saling menghidu wangi tubuh satu dengan yang lain.


jika ini buka perasaaan rindi, maka aku tak tahu lagi harus menamakan perasaan ini apa*.


"Orang dulu kok romantis ya, zaman sekarang kalau pdkt mah nanyainnya 'udah makan belum', dan pertanyaan yang nggak penting lainnya." gumam Kana merasakan hatinya dugun dugun hanya karena membaca surat romantis di kotak buyutnya itu.


"Beda zaman beda cerita mah, yakali zaman segini masih nulis beginian. Yang ada dibilang cringe," balas Via lagi.


Kana menghela nafas panjang, kemudian mengangguk, "Thank you ya, bay the way, udah bantu."


"santai aja" gumam Via dari ujung sana, sebelum mereka saling mengucapkan perpisahan dan memutuskan sambungan telepon.


Kana meraih surat di boks tua itu, lalu menatapnya Lamat lamat. jika boks ini diletakkan jauh di ujung gudang, artinya benda ini memang sengaja ingin dilupakan oleh pemiliknya.


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎


‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎

__ADS_1


happy reading guys 😼


__ADS_2