
Anjani terdiam di tempatnya duduk dengan sendok di tangannya. Apakah itu artinya ia akan digantikan? Apakah itu artinya ia akan dimadu? Jika Anjani tidak berhasil memberikan Reksa anak laki-laki, apakah itu artinya ia akan dibuang dengan mudah? Jantung Anjani mencelus saat berbagai kemungkinan negatif itu berseliweran di benaknya.
Awalnya, Anjani bahkan sangat rela jika Reksa mengangkat istri kedua atau bahkan memiliki gundik tidak sah. Anjani benar-benar tidak peduli dan sudah berencana akan mengurusi dirinya sendiri dan juga masa depannya. Sialnya, semua sikap itu runtuh seketika ketika melihat Reksa sangat mengayominya dan menghormatinya sebagai seorang wanita. Pria itu bahkan tidak pernah menyentuhnya tanpa izinnya sedikit pun. Reksa juga memberikannya kasih sayang dan perhatian seperti yang dilakukan Kangmas Arya padanya.
Apakah jika Anjani memberi Reksa anak laki-laki, pria itu tidak akan meninggalkannya? Apa anak laki-laki bisa menjamin pria itu tidak akan mencari istri lain selain dirinya? Anjani kembali tertegun. Ia baru tersadar oleh kata manis Reksa yang mengatakan bahwa pria itu hanya menginginkan dirinya. Kata-kata manis yang sering diucapkan oleh bibir para lelaki untuk merayu gadis. Bagaimana pun juga, Reksa tetaplah laki-laki. Meskipun Anjani melahirkan seratus anak laki-laki, pada akhirnya ia akan tetap dimadu. Anjani merasa bodoh, karena sudah percaya pada ilusi yang ia ciptakan untuk sosok Reksa ini.
Di sisi lain, Anjani juga tidak bisa lari dari tanggung jawab dasarnya untuk melahirkan anak. Anjani kembali tepekur dengan tangannya yang gemetar sembari memegang sendok itu. Ya, ini tidak akan sulit. Anjani hanya perlu bermalam bersama Reksa dan ia akan hamil anak pria itu. Dan setelah itu, Reksa akan bosan padanya dan mencari wanita baru. Anjani mengangguk dengan tawa gugupnya.
Ya, benar, hanya satu malam dan semua selesai. Satu kehamilan dan Reksa akan bosan padanya. Setidak-tidaknya Anjani telah melakukan tanggung jawab dasarnya.
Di sisi lain, tak jauh dari situ, Yu Isma duduk berlutut sambil sesekali mengawasi nyonyanya yang sedang makan malam sendirian, karena sang raden sangat sibuk. Di sebelah Yu Isma juga terdapat Asih yang tampak kebingungan, menatap sendok yang dipegang Anjani terbalik dan tangan majikannya yang gemetar. Namun, tak ada satu pun dari mereka nyonyanya itu. yang berani menegur
Anjani menyendokkan nasi putih ke dalam mulutnya dengan pikiran masih berkeliaran liar. Ia sedikit kaget ketika tidak ada nasi yang masuk ke dalam mulutnya. Ia menundukkan kepalanya dan baru menyadari jika sendoknya terbalik.
"Kalian bisa kembali dan makan malam," ucap Reksa pada Yu Isma dan Asih. Kedatangannya yang tak diduga-duga itu cukup mengaggetkan baik Anjani maupun Yu Isma dan Asih. Sang raden memang terkenal tidak bersuara ketika melangkah, sehingga sering membuat orang-orang di sekitarnya serangan jantung kecil.
Yu Isma dan Asih membungkukkan badannya dan pamit undur diri dari tempat itu. Di sisi lain, jantung Anjani berdebar semakin kencang. Suaminya duduk tepat di depannya, membuat Anjani semakin salah tingkah karenanya.
__ADS_1
"Kamu hanya makan nasi putih saja, Ni?" tanya Reksa sedikit kaget ketika melihat piring Anjani hanya berisikan nasi putih.
Anjani semakin gagu di tempatnya, membuat Reksa curiga gadis ini bersikap seperti ini padanya, karena malam kemarin. Malam di mana keduanya seranjang sebagai suami istri. Reksa menghela nafas pelan, kemudian menyendokkan sayur ke piring Anjani dengan lembut. Anjani mendongak kaget menatap suaminya. Seharusnya itu adalah tugasnya untuk sang suami, tetapi mengapa malah ia yang disendokkan. Terkadang Anjani berharap jika Reksa menjahati dirinya sekali saja, supaya ia punya alasan untuk membenci pria itu dan meneruskan kehidupannya dengan damai.
"Anjani bisa Kang-"
"Makan, Ni," potong Reksa dengan nadanya yang tenang, sambil menyendokkan untuk dirinya sendiri.
Anjani menuruti Reksa dan memakan makanannya dalam diam. Pria itu pun juga melakukan hal yang sama. Keduanya makan dengan ditemani bunyi dentingan piring saja dan suara jangkrik di malam hari. Tidak ada satu pun yang bersuara, membuat Anjani merasa semakin gelisah di tempatnya. Di sisi lain, Reksa tampak tenang-tenang saja, seolah ia sudah biasa mengalami hal seperti ini.
"Kamu gelisah, Ni," ucap Reksa sambil menatap Anjani sesaat, sebelum kembali melanjutkan makannya.
"Apa itu?" tanya Reksa pelan.
"Maaf?" Anjani melongo kebingungan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Ni?" tanya Reksa dengan tatapannya yang lurus.
__ADS_1
Anjani terdiam, sebelum tertawa gugup. "Anjani... Anjani berpikir besok harus melakukan apa."
"Ibu mengatakan sesuatu ke kamu?" balas Reksa membuat Anjani kembali terdiam. Tubuh Anjani menggigil di tempatnya, mengingat percakapan mengerikan antara dirinya dengan ibu mertuanya. Gerak-gerik Anjani tak luput dari pandangan Reksa yang tajam.
"Kangmas tahu kamu masih belum terbiasa dengan Kangmas. Ndak papa, Ni," ucap Reksa sambil menghela nafas pelan. "Kalau kamu siap menceritakannya, Kang-"
"Anjani takut ndak bisa memberikan Kangmas anak laki-laki," potong Anjani lagi dengan kegelisahan yang semakin tidak bisa ia tahan.
Reksa tertegun mendengar Anjani dengan nada bicara gadis itu yang gemetar hebat. Anjani mencengkeram sendoknya dengan tangannya yang gemetar kemudian melanjutkan, "Anjani rela dimadu."
Reksa mengerutkan keningnya mendengar perkataan Anjani yang tiba-tiba itu. Gerak-gerik gadis itu malah kontradiksi dengan perkataannya. Setelah mengatakan demikian, Anjani malah semakin gelisah di tempatnya dan Reksa bisa merasakannya dengan jelas.
"Kamu yakin, Ni?" tanya Reksa lagi, berusaha memancing tantrum Anjani untuk keluar. "I-iya," jawab Anjani lagi.
"Baik," balas Reksa membuat jantung Anjani mencelus. "Jika kamu memintanya, Kangmas ndak akan menolak."
Anjani ingin menangis sekarang, namun ia sendiri juga bodoh, karena mengatakan hal seperti itu. Perasaannya campur aduk. Ia telah jatuh pada Reksa. Gerak-gerik pria itu membuat Anjani terlena hingga bisa terjebak sedalam ini. Kini, ia harus bertanggung jawab atas perasaanya sendiri. Keduanya kembali melanjutkan makan malam dalam keheningan yang pekat. Reksa lebih dulu menyelesaikan makanannya. Pria itu pamit dan langsung meninggalkan Anjani makan sendirian di meja itu dengan air mata yang akhirnya turun.
__ADS_1
Awalnya Anjani siap untuk dimadu, namun semakin lama, perasaan cemburu yang tak dapat dideskripsikan kian merajainya. Apa ini yang dirasakan ibu tirinya? Apa ini yang dirasakan wanita bersuami yang tahu akan dimadu? Mengapa mereka semua tampak begitu tenang dan tidak terganggu sama sekali? Apa hanya Anjani yang merasakan perasaan aneh ini?
Terlebih lagi, apakah perasaan ini wajar dirasakan wanita ningrat sepertinya?