Karsa

Karsa
Anjani


__ADS_3

"Poffertjes, Ni," ucap Arya sambil memberikan Anjani kue kesukaannya. Keduanya kini tengah duduk di kursi kayu halaman belakang rumah ketika malam tiba. Anjani memakan kue itu dengan santai sambil menatap pemandangan halaman belakang rumahnya. Terdapat tiga bangunan di area kadipatennya. Area depan adalah tempat keluarganya tidur, area belakang adalah kebun kecil dan tempat abdi dalem tidur yang mana di sebelahnya adalah dapur, kemudian satu bangunan lagi sebagai gudang.


Ketika melihat sedikit lebam di wajah Anjani, Arya tentu saja marah -sangat marah, namun ia tidak ingin adiknya mengingat lagi peristiwa itu. Arya hanya ingin menghibur adiknya dan berusaha sebaik mungkin membuat Anjani lupa akan semua masalahnya. Sejak tadi, tidak ada yang berani datang ke kamar Anjani, bahkan Rara pun tidak. Ketika malam tiba, barulah Arya memberanikan dirinya untuk mengajak Anjani keluar, agar ia bisa mengobati lebam adiknya.


"Jangan mati duluan, Ni. Kamu belum bayar utang poffertjes sama buku kamu ke Kangmas. Kalau udah bayar, baru boleh mati," gumam Arya sambil berlutut di depan Anjani, kemudian mengobati lebam si sudut bibir Anjani.


Anjani langsung memukul kakaknya dengan pukulan gemasnya. Arya langsung meringis, merasakan sakit. "Adik durhaka kamu, Ni," keluh Arya yang mengundang tawa ringan Anjani.


"Tanda cinta Anjani," canda Anjani sambil menyuapi kakaknya poffertjes. Melihat tawa adiknya sudah lebih dari cukup untuk membuat Arya merasa lebih baik.


"Makan yang banyak, Ni. Lihat, kamu udah kayak tulang berjalan," gumam Arya sambil menggoyangkan tangan Anjani, untuk membuktikan betapa kurusnya gadis itu.


"Kangmas mau Anjani berikan tanda cinta lagi?" ancam Anjani.


Arya tertawa lagi, kemudian menarik adiknya itu ke dalam pelukannya. Dipeluknya Anjani, satu-satunya saudara kandung yang ia punya, dengan erat.


"Maaf..." gumam Arya lagi. "Kangmas ndak bisa jadi saudara yang baik bagi kamu."


Anjani merasakan matanya mulai berair lagi. "Memang," gumam Anjani, namun suaranya terdengar seperti sedang menangis.


Hal itu membuat Arya tertawa, namun juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Kangmas kutuk kamu jadi batu, baru tahu rasa," gumam Arya lagi, berusaha meringankan suasana di antara mereka.


Anjani balas memeluk Arya dengan sangat erat sambil menitikkan air matanya. Tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya berdiri dengan wajah lelahnya, mendengar semua percakapan anaknya. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung yang berisikan foto seorang wanita pujaan hatinya -Padmi, ibu kandung Anjani dan Arya.


...----------------...


"Raden, ke sini lagi?" tanya sang kusir kaget, ketika sang raden menyuruhnya untuk berhenti di tempat yang sama selama tiga hari berturut-turut.


"Ini yang terakhir, Mas, sebelum pulang," gumam Reksa sambil tersenyum tenang. Masih sangat pagi, namun Reksa memutuskan untuk ke tempat itu dengan sepatu hitam di tangannya. Reksa menunggu di pohon mangga itu kira-kira sepuluh menit lamanya setiap harinya di Klaten, dengan sepatu di tangannya. Reksa hanya ingin mengembalikan sepatu itu -setidaknya itulah yang ia pikirkan.


Reksa mendengar bunyi gemerisik pohon dari balik dinding putih tinggi itu. Ia mendongak dan tersenyum ketika melihat seorang gadis memanjat dinding itu, sebelum mendarat dengan selamat di tanah. Kali ini, gadis itu tidak memakai alas kaki sama sekali -mengingat terakhir kali ia memakai alas kaki, sebelahnya langsung hilang dibawa Reksa.


Ketika gadis itu sedang membersihkan jariknya, Reksa melangkah tenang tanpa menimbulkan suara. "Saya menunggu kamu sejak kemarin," ucap Reksa.


Anjani melompat kaget ketika mendengar suara pelan itu berada di dekatnya. Ia refleks melangkah mundur dengan sikap antisipasi yang jelas. Mata keduanya bertemu untuk sesaat. Reksa tersenyum, sedangkan Anjani menatap pria itu aneh.

__ADS_1


"Apa lagi mau Anda?" tanya Anjani blak-blakan, sambil menunjuk kakinya yang tidak memakai apa-apa sekarang. "Saya tidak punya sepatu lain yang bisa Anda curi, Raden."


"Saya hanya mengembalikan sepatu kamu," ucap Reksa tenang, sambil menjatuhkan sepatu hitam itu di depan Anjani.


"Oh."


"Iya," jawab Reksa dengan senyumannya yang sama tenangnya.


Anjani tidak akan memungkiri pria di depannya menguarkan aura yang tidak biasa. Aura itu begitu kuat dan menarik perhatian siapa saja yang berpas-pasan dengan pria di depannya. Iya, pria ini tampan dengan fisik yang terlihat kuat dan tegap, namun ada hal lain di luar penampilan fisik pria itu yang mampu menarik perhatian siapa saja.


"Matur nuwun, Raden," ucap Anjani tergesa sambil bergegas pergi dari situ secepatnya.


"Anjani," panggil Reksa tenang, membuat Anjani refleks berhenti. Anjani menoleh dengan wajahnya yang tidak sabaran. Apa lagi mau pria ini?


"Nama kamu Anjani. Kamu mengerti arti dari Anjani dalam mitologi masyarakat Hindu?" tanya Reksa lagi sambil melangkah mendekati Anjani. Anjani mengerutkan keningnya curiga. Kenapa pula pria ini ingin berbasa-basi dengannya?


Anjani jawab sajalah, supaya pria ini senang dan meninggalkannya. Anjani menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Reksa tersenyum bijaksana, membuat Anjani sadar, namanya tampaknya memiliki filosofi yang indah dan cantik. Ia menjadi tertarik untuk mendengarkan filosofi namanya sendiri.


"Dalam mitologi Hindu, Anjani adalah ibu Hanuman, seorang prajurit monyet yang menjadi teman setia Rama," jelas Reksa dengan senyumab bijaksananya yang tidak luntur.


"Anda... baru saja bilang saya monyet?" tanya Anjani tidak percaya.


"Bukan kamu," jawab pria itu percaya diri. "... tapi nama kamu."


Anjani memasang wajah mencercanya jelas-jelas pada sang raden. Anjani sudah tidak peduli lagi jika pria di depannya adalah seorang bupati Sleman. Namun, lagi-lagi Anjani takut pria ini mengadukannya pada keluarganya. Secara tidak langsung pria jakung di depannya adalah pemegang nyawanya. Karena itu, ia memilih untuk tetap bersikap sopan seadanya.


"Matur nuwun, Raden," ucap Anjani tersenyum singkat, sebelum kembali bergegas pergi dari situ.


"Kamu ingin menikah dengan saya?" tanya Reksa lagi, membuat Anjani kembali menghentikan langkahnya.


Anjani menoleh kaget ke arah Reksa. "Anda... ingin menikahi saya?" tanya Anjani syok.


"Ya, untuk mengajari kamu tata krama dan etika," jawab Reksa ringan dengan senyuman tipisnya.


"Anda ingin menikahi saya hanya untuk itu?" tanya Anjani lagi dengan nadanya yang naik satu oktaf.

__ADS_1


"Ah... alasannya kurang kuat?" tanya Reksa tampak berpikir. "Kalau alasannya, saya jatuh cinta pada pandangan kedua, apakah kamu percaya?"


"Apa Anda senang mempermainkan wanita, Raden?" tanya Anjani lagi dengan nadanya yang tajam. "Apa wanita terlihat seperti mainan?"


"Saya tidak mempermainkan kamu, Anjani," jawab Reksa serius, kemudian berjalan mendekati Anjani. "Saya serius."


Anjani mengerutkan keningnya tidak percaya. Lama mereka bertatapan, sampai pikiran Anjani terwahyukan. Ah... pria ini melajang begitu lama, karena pria ini adalah seorang bajingan yang suka mempermainkan wanita. Apakah Anjani baru saja suudzon? Ah... tidak. Anjani yakin sekali itu alasan pria tersebut melajang sampai sekarang. Pria di depannya tidak bisa bermain dengan satu wanita saja dan tampaknya perasaan adalah objek menyenangkan untuk sang agung Reksanegara.


"Anda melakukan ini pada semua wanita, bukankah begitu?" tanya Anjani sambil menepuk pundak sang raden bersahabat dengan senyuman penuh artinya. Anjani berani melakukannya, karena tempat itu masih sepi dan tata krama tentu saja menjadi sedikit longgar.


Reksa menghela nafas panjang kemudian mengangguk. "Saya hanya melakukan ini pada satu orang dan saya ditolak," jawab Reksa dengan senyuman getirnya.


Anjani tersenyum geli, kemudian menarik sebuah kertas dari tas kecilnya dan memberikan itu pada pria di depannya. Itu adalah gambar wajah pria itu yang Anjani gambar beberapa hari yang lalu, untuk mengingat-ingat wajah pria yang mencuri sepatu kesayangannya. Tak disangka ia bertemu pria itu lagi.


"Pria sejati adalah pria yang bisa membuktikan perkataannya. Bayangkan kalau Anda mengatakan ini pada semua wanita yang Anda temui, berapa banyak istri yang mungkin Anda miliki -jika Anda adalah pria sejati. Anda perayu ulung, Raden," canda Anjani, seolah itu bukanlah hal yang besar. Ia berjalan meninggalkan Raden itu begitu saja setelahnya. Pria itu masih terpaku dengan gambar yang ia dapatkan dari Anjani.


"Kalau pinangan saya sampai ke kadipaten kamu, saya harap kamu ndak kaget, Anjani," ucap Reksa setengah berseru.


"Kalau saya ingat. Saya mudah lupa soalnya," jawab Anjani sambil melambaikan tangannya tanpa perlu membalikkan tubuhnya menghadap sang raden.


Reksa tersenyum, kemudian menatap gambar di tangannya. Gambar itu terbuat dari pena dengan coretan abstrak. Wajah Reksa di gambar itu tidak sepenuhnya benar, karena sesuai perkataan gadis itu sendiri -ia mudah lupa. Namun, Reksa menyukai gambar tersebut. Ia melipatnya baik-baik dan memasukkannya ke dalam saku jariknya. Reksa berjalan ke arah kusir dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.


"Pulang, Raden?" tanya sang kusir.


"Ya, kita kembali ke rumah," jawab Reksa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Pena dan tinta yang digunakan Anjani



Poffertjes

__ADS_1


__ADS_2