Karsa

Karsa
Kekacauan di pagi hari


__ADS_3

Anjani menoleh kaget, begitu juga dengan Rara dan pembantu perempuan di situ ketika mendengar seruan penuh amarah dari dalam rumah utama.


"Apa itu, Mbak?" tanya Anjani khawatir.


"Ndak tahu," balas Rara lagi, lalu menarik tangan Anjani segera masuk ke dalam rumah utama tersebut, sumber keributan di pagi hari yang cerah itu.


Ketika memasuki rumah utama, Anjani langsung mendapati kerumunan abdi dalem di rumahnya yang mengintip dari dinding, penasaran dengan apa yang terjadi. Anjani tak sengaja berpas-pasan dengan kakak laki-laki keduanya -Kangmas Arya.


"Kangmas..." panggil Anjani. "Itu kenapa?"


"Kangmas saja baru bangun, Ni," jawab Arya cengengesan.


Anjani melebarkan matanya kaget ketika melihat Rama menampar Kangmas Surya cukup kuat hingga membuat pria itu terhuyung dan terjatuh di lantai kadipaten yang dingin itu. Meskipun sudah paruh baya, namun kekuatan Rama memang tidak perlu diragukan lagi. Rama dan Kangmas Surya bertengkar di ruangan depan yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu. Rama tampak begitu marah. Pipinya merah padam. Nafasnya tak beraturan. Tangannya gemetar hebat.


"Sudah gila, kamu, Surya!" seru Rama sambil merenggangkan lehernya yang tegang.


Anjani melebarkan matanya kaget. Ia tahu dengan pasti penyebab pertengkaran di pagi hari itu. Tangannya keringat dingin dan tubuhnya gemetaran.


"Surya dan Anjani saling mencintai, Rama! Kalau memang perlu, Surya akan kawin lari dengan Anjani," seru Surya berani, membuat Rama membungkuk, lalu menghadiahkan bogeman mentah di wajah anaknya.


Semua orang di situ, langsung mengalihkan tatapan mereka pada Anjani dengan wajah syok mereka, terutama Rara. Anjani sendiri mematung dan menatap Rara serta Kangmas Arya, sambil menggelengkan kepalanya, berusaha menolak fakta itu.


"Kangmas!"


Ibu tiba-tiba saja datang dan menerobos kerumunan di situ. Ibu berlari, berusaha melerai pertengkaran antara suami dan anak kesayangannya itu. Dipeluknya Surya dengan erat, membuat Rama langsung mengurungkan niatnya untuk memberikan bogeman lagi.


"Anak kamu itu sudah gila, Lasmi!" seru Rama penuh amarah. "Dia mau mengawini saudaranya sendiri!"


Ibu pun tampak syok di tempatnya, ketika mendengar fakta itu dari Rama. Ibu menunduk, menatap Surya yang menahan darah keluar dari hidungnya dengan tangannya sendiri. Surya tampak pantang menyerah untuk mengawini Anjani. Pria itu bahkan berdiri dari tempatnya terjatuh, menghadapi Rama dengan wajah angkuhnya.


"Apa sesulit itu mencari wanita di luar sana, Surya, sampai dirimu ingin mengawini adikmu sendiri?!" ucap Rama lagi, menunjuk Anjani yang tengah bersembunyi di balik tubuh Mas Arya.


"Anjani tidak pernah menjadi adik Surya, Rama. Sejak awal, Anjani juga bukan anak resmi keluarga ini. Dia lahir dari rahim abdi dalem. Sudah sepantasnya Surya mengawini Anjani," jelas Surya lagi dengan tatapannya yang teguh dan tak kenal menyerah.


Kangmas Surya sudah gila, rutuk Anjani dalam hati. Cinta harusnya ditanggung sendiri, jangan bawa-bawa orang lain ke dalamnya


Baru saja Rama ingin bermain tangan lagi, Ibu sudah melerai keduanya dan menahan tangan Rama. "Sudah, Kangmas!" bentak Ibu sambil berurai air mata.


"Kamu tahu bukan konsekuensi mengawini saudaramu sendiri, Surya?" ucap Rama mengancam.


"Tahu, Rama," jawab Surya mantap.


"Anjani hanya akan menjadi gundikmu. Anak yang dikandung Anjani nantinya pun statusnya tak lebih dari anak haram," gumam Rama lagi dengan suara yang sengaja dikeraskan, agar Anjani bisa mendengarnya dengan jelas."... dan nama keluarga kita tercoreng."

__ADS_1


"Saya menge-"


"Seret Anjani ke sini," potong Rama tegas.


Anjani melebarkan matanya panik, kemudian beringsut semakin dekat di belakang punggung Kangmas Arya. Kangmas Arya pun juga bersikap defensif dengan melindungi adiknya, agar tidak diseret ke arena pertempuran itu.


"Yu Marsinah! Seret Anjani ke sini," seru Rama lagi dengan nadanya yang naik seoktaf.


"Anjani ndak mau," bisik Anjani pada Kangmas Arya sambil meremas baju putih pria itu. Mendengar adiknya satu-satunya itu ketakutan setengah mati, Kangmas Arya langsung memalang semua orang yang berusaha mengambil adiknya. Dibawanya Anjani ke belakang tubuhnya dengan wajahnya yang sekeras batu ingin mempertahankan adiknya.


Sayangnya, Arya tentu saja kalah jumlah, karena abdi dalem kadipaten jauh lebih banyak darinya. Mereka berusaha keras melerai Anjani dari Arya, karena Arya sangat defensif.


"Pukul saja Arya! Seret dia masuk ke kamar," pinta Rama lagi, seolah mengerti jika Arya yang berusaha menahan adiknya. Maka, seorang abdi dalem langsung memukul perut Arya dengan tak segan dan Yu Marsinah menyeret Ndoro Ajeng-nya dengan berurai air mata. Yu Marsinah merasa sedih sekali melihat Ndoro Ajeng-nya diperlakukan seperti itu. Yu Marsinah yang membesarkan Anjani sejak kecil. Melihat Anjani diseret paksa dan diadili, ia merasa seperti melihat anaknya yang disiksa.


Anjani langsung berlutut di depan Rama dengan tubuhnya yang gemetar. Saking paniknya, ia tidak sempat menangis. Surya pun juga ikut berlutut di sebelah Anjani, kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kamu ingin jadi gundik kakakmu sendiri, Ni?" tanya Rama terang-terangan.


Di saat begini, kenapa Tuhan tidak ambil saja nyawanya?! Anjani sudah siap lahir dan batin. Ia sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Kalau ia menjawab ya, itu artinya dia berbohong pada dirinya sendiri. Anjani tidak pernah mau menjadi gundik, bahkan pada londo pun tidak.


"Anjani..." Anjani menatap Kangmas Surya yang tampak sangat yakin, lalu menatap Rama. "... ndak yakin."


"Kamu dengar itu baik-baik, Surya!" bentak Rama lagi sambil mengacungkan telunjuknya dengan keras pada Surya.


"Anjani... ndak pernah bilang," jawab Anjani lagi, menatap Kangmas Surya dengan tatapan seriusnya dan berkaca-kaca.


"Ini alasan mengapa kamu ndak boleh manjakan anakmu, Lasmi," sentak Rama lagi pada istrinya, membuat Ibu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menangis.


"Anjani," ucap Kangmas Surya lagi dengan nada gemetar hebat, karena ingin menangis. "... jangan seperti ini."


"Rama akan segera mencarikanmu pasangan, Ni," ucap Rama lagi, membuat Anjani menoleh syok dengan wajah tidak terimanya. "Karena itu, pernikahan Rara akan dimajukan."


Di sisi lain, Rara yang baru mendengar hal itu langsung mendongakkan kepalanya kaget. Anjani menoleh ke arah kakak perempuannya yang tampak sangat syok dan mulai menangis itu. Kakaknya tampak sangat terpukul mendengar berita itu, apalagi pernikahannya dimajukan, hanya karena masalah Anjani. Melihat hal itu, Anjanj langsung beringsut mendekati kaki Rama dan memeluknya erat, sambil menangis tak karuan di sana.


"Rama, jangan libatkan Mbak Rara," mohon Anjani lagi sambil bersujud di kaki Rama dengan tangisannya yang hebat.


"Setidaknya dengan begini, kalian mengerti konsekuensi dari perbuatan kalian," ucap Rama lagi, menyentak Anjani dari kakinya dengan kasar dan berjalan meninggalkan mereka.


"Ni..." panggil Surya lagi dengan putus asa.


"Berhenti, Kangmas," cicit Anjani lagi dengan tubuh gemetar hebat menahan amarah.


"Ni..." Surya berusaha meraih Anjani, masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Anjani bilang berhenti Kangmas!" teriak Anjani penuh amarah, hingga suaranya menggema di rumah utama yang luas itu, membuat Surya, Lasmi, Rara, beserta abdi dalem lain terperanjat mendengarnya. Sangatlah tidak patut, seorang wanita terhormat mengeluarkan tantrumnya yang sebesar ini dan membentak lelaki yang adalah seorang kepala keluarga. Namun, Anjani sudah terlalu marah untuk menuruti etika lagi.


Tiba-tiba saja, tamparan keras mendarat di pipinya. Saking kerasnya tamparan itu, Anjani sampai terjengkang dan jatuh ke lantai. Melihat hal itu, Mbak Rara yang khawatir dan kasihan, langsung berjalan mendekati Anjani.


"Berhenti di situ," pinta Lasmi tajam sambil menunjuk Rara. "Masuk ke kamar."


Ya, Lasmi-lah yang menamparnya begitu keras dan Surya hanya bisa menatap semua kejadian itu, tanpa membela Anjani. Anjani menoleh menatap kakaknya dengan mata yang berair dan tersenyum tipis, berusaha menenangkan Rara yang tampak sangat khawatir itu.


"Masuk, Rara!" bentak ibunya lagi, membuat Rara mau tidak mau menurutinya, namun dengan perasaan gelisah luar biasa.


Setelah Rara menuruti perkataannya, Lasmi beralih pada Anjani. Anjani menatap ibu tirinya itu dengan tatapan penuh amarah dan berkaca-kaca. Menatap langsung ke mata orang yang dituakan adalah sesuatu yang dianggap sangat kurang ajar, sebab hal itu sama saja dengan menantang. Amarah Lasmi meningkat tajam, melihat kekurang ajaran anak tidak tahu diri itu. Namun, Lasmi sadar beberapa abdi dalem masih mengintip dari balik dinding dan jendela.


Karena itu, Lasmi menarik sebelah tangan Anjani dengan serampangan dan menyeret gadis itu ke kamarnya sendiri. Anjani diseret tidak manusiawi, seolah ia hanyalah karung beras, namun, Lasmi tidak peduli. Lasmi melemparkan Anjani dengan kasar di kamar gadis itu dan mengunci pintunya. Anjani menatap Lasmi dengan tatapan was-wasnya sambil beringsut mundur.


"Wanita setengah ningrat ya gini," ucap Lasmi lagi dengan nada tajamnya. "Pelacur."


Lasmi meraih kebaya Anjani dan ditariknya gadis itu ke arahnya. "Kamu sama saja seperti ibumu. Hanya tahu ngangkang saja di depan laki-laki," lanjut Lasmi, membuat hati Anjani mencelus.


"Anjani ndak melakukan itu," balas Anjani berani dengan nadanya yang gemetar hebat.


"Anjani ndak mungkin melakukan hal itu, Bu. Anjani menghor-" ulang Anjani lagi, berusaha membela dirinya sendiri. Hal itu membuatnya dihadiahi tamparan keras.


"Dengar, Ni," ucap Lasmi lagi. "Pria seperti kucing. Kucing tidak akan datang jika tidak diberi ikan asin. Tidak ada kucing yang menolak ikan asin, bahkan yang busuk sekali pun."


Anjani hanya terdiam, mendapat semua kata-kata tajam itu. Ia berbaring di lantai kamarnya yang dingin dengan air mata menitik kian deras. Melihat Anjani tampaknya tidak menantangnya lagi, Lasmi berdiri dengan perasaan puas luar biasa.


"Ibu akan segera mencarikan kamu pasangan. Ndak perlu yang terhormat, yang penting kamu cepat pergi dari kadipaten ini," gumam Lasmi lagi, lalu keluar dari kamar Anjani.


Sepanjang hari itu, Anjani tidak keluar dari kamarnya. Tidak ada yang berani mengunjunginya juga, bahkan Mbak Rara atau pun Yu Marsinah, karena Lasmi melarangnya. Anjani pun juga tidak diberikan makan siang atau pun makan malam. Dan begitulah, Anjani menghabiskan sehariannya di lantai kadipaten yang dingin, berkhayal andaikan saja ia dilahirkan sebagai laki-laki, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.


...----------------...


Catatan penting!


Pada zaman kolonial Belanda, kaum priyayi, khususnya adipati harus memiliki setidaknya satu istri sah yang berasal dari golongan ningrat, boleh juga dimadu -terserah pada suami. Pembantu yang hamil anak bupati, tidak dianggap jadi istri -tapi kayaknya bisa diangkat jadi istri kedua yang nanti dipanggil Mas Ayu (seperti di film Kartini). Anak-anak dari si pembantu ini nantinya ketika besar, harus memanggil ibu tirinya dengan panggilan 'Ibu', karena dia adalah istri sah. Dan memanggil ibu kandungnya dengan panggilan 'Yu' -panggilan untuk pembantu kadipaten.


Sumber: Film Kartini


Ini hanya pengetahuan dan penafsiranku, jika ada kesalahan, mohon dikoreksi. Langsung komentar saja, oke?


Terima kasih udahh menunggu🎉


Jangan bosan-bosan

__ADS_1


__ADS_2