Karsa

Karsa
Satu


__ADS_3

"Ndak papa, nanti juga terbiasa," ucap Yu Isma berusaha menenangkan Anjani yang menangis ketika dimandikan pagi hari itu. Anjani menangis bukan karena ia diperkosa atau apa. Ia hanya merindukan rumahnya. Anjani merindukan Kangmas Arya, Mbak Rara, juga Yu Marsinah. Anjani merasa cengeng sekali, namun ia ingin pulang. Tempat ini terlalu luas dan juga terlalu asing baginya. Tidak ada yang ia kenal baik di rumah itu.


"Anjani kesepian, Yu," ucap Anjani sambil sesegukan.


"Ndak papa, Ndoro Ayu, nanti kalau Ndoro Ayu hamil dan punya anak, pasti ndak akan kesepian lagi," balas Yu Isma tenang sambil membantu Anjani berpakaian.


Bagaimana mau punya anak, wong dia saja tidak disentuh dan tidak ingin disentuh suaminya sendiri. Kangmas Reksa tidak kembali semalaman penuh ke kamar itu, membuat Anjani lega luar biasa. Pria itu tidak bertatap muka dengannya sama sekali sampai pagi ini. Anjani tidak peduli dan tidak mau tahu juga. Dalam pikirannya adalah mau tak mau ia harus melakukan 'itu' dengan Kangmas Reksa, sebab mereka diwajibkan punya anak. Belum lagi, mertuanya pasti juga akan memarahinya jika ia tidak kunjung melahirkan anak untuk penerus keluarganya. Dan harus laki-laki pula -setidaknya satu.


"Ndak mau punya anak," ucap Anjani lagi dengan tangisan putus asanya.


Yu Isma hanya terdiam dan menenangkan nyonyanya itu dengan usapan di punggung. Yu Isma merawat Anjani dengan sangat baik, jauh lebih baik dari Yu Marsinah. Yu Isma memandikannya kembang, memberikan wewangian rempah-rempah yang manis dan bahkan menghias rambutnya dengan bunga-bunga kecil yang diambil Yu Isma di pekarangan rumah utama. Nyatanya, Anjani tidak ke mana-mana hari itu, namun Yu Isma tampaknya sangat senang mendandaninya, seolah dia adalah boneka. Meskipun begitu, Yu Marsinah tetap nomor satu di hati Anjani.


"Cantiknya Ndoro Ayu," ucap Yu Isma ketika selesai mendandani Anjani. Anjani mendongak menatap Yu Isma dengan wajahnya yang masih enggan hidup.


"Yu senang sekali waktu tahu Raden membawa nyonya baru ke rumah ini," ucap Yu Isma berusaha meringankan suasana. "Yu dari dulu ingin sekali punya anak perempuan, supaya bisa didandani cantik seperti ini. Keluarga Raden juga ndak ada yang perempuan remaja, seperti Ndoro Ayu. Waktu Ndoro Ayu datang, Yu udah ndak sabar ingin merawat Ndoro Ayu."


Anjani tersenyum mendengarnya, membuat Yu Isma pun juga ikut tersenyum semakin lebar. "Nuwun, Yu," ucap Anjani pelan.


Tiba-tiba saja, seorang abdi dalem gadis menghampiri mereka sambil berjalan jongkok. Anjani menunduk dan melihat gadis itu mengatupkan tangan di depan hidungnya kemudian membungkuk, sebagai penghormatannya pada nyonya barunya itu.


"Salam saya, Ndoro Ayu. Raden menitipkan pesan, meminta Ndoro Ayu ke ruang kerjanya sekarang," ucap gadis itu dengan nadanya sopannya.


Anjani menatap gadis itu lamat-lamat. Gadis itu manis sekali menurutnya. Kulitnya sawo matang tanpa cela. Wajahnya mungil dengan matanya yang besar. Dahinya lebar dengan senyuman yang sopan. Pikiran Anjani mulai berkelana ke mana-mana. Tidak mungkin Kangmas Reksa tidak tergoda pada gadis semanis ini. Anjani curiga, gadis ini adalah istri pertama Kangmas Reksa yang tidak sah dan Anjani hanyalah istri kedua dengan status sah.


Pada zaman itu, setiap bupati diharuskan untuk memiliki istri sah yang berasal dari keturunan ningrat. Istri bupati yang berasal dari rakyat biasa hanya akan menjadi istri tidak resmi, seperti halnya ibu Anjani. Dulu, Kangmas Arya sempat bercerita, jika ia harus memanggil ibu kandungnya sendiri dengan panggilan 'Yu' dan memanggil ibu tirinya dengan panggilan 'Ibu'. Sistem poligami zaman Hindia-Belanda sangatlah menyakitkan bagi para wanita dan juga para ibu. Para wanita harus rela dimadu dan para ibu -simpanan ningrat, harus rela dipanggil 'Yu'.


"Nama kamu siapa?" tanya Anjani lembut.


Gadis itu kembali mengatupkan tangannya di depan hidung, kemudian berkata, "Nuwun sewu, Ndoro Ayu, nama saya Asih."

__ADS_1


Anjani mengingat-ingat nama itu dengan wajahnya yang tampak menimbang. Yu Isma tampak sedikit bingung melihat nyonyanya yang tampak terdiam itu. Anjani langsung berdiri dari tempatnya, mengucapkan terima kasih pada kedua abdi dalem itu, sebelum berjalan ke arah ruang kerja Kangmas Reksa.


Anjani berlutut di depan pintu tinggi itu, kemudian mengetuknya dengan lembut, sambil berkata, "Anjani sudah di luar, Kangmas."


"Masuk, Ni," ucap Reksa dari dalam ruangan.


Anjani membuka pintu itu perlahan, kemudian berjalan jongkok memasuki ruang kerja yang terang itu. Anjani kembali menutup pintu tersebut perlahan dan terus berjalan jongkok hingga sampai di depan meja kerja suaminya.


"Duduk, Ni," ucap Reksa lagi, sambil menatap Anjani dengan senyuman tipisnya. Anjani tampak cantik pagi itu dengan kebaya biru muda dan bunga-bunga kecil sanggulnya. segar di


Anjani langsung menempatkan tubuhnya dengan sopan di kursi depan meja kerja jati pria itu. Kini, keduanya hanya terpisah oleh meja kerja jatj berukir yang melintang di antara keduanya.


"Lain kali, jalannya biasa saja, Ni," ucap Reksa pelan. "Ndak ada Rama atau Ibu yang marah."


Anjani mendongak dan menatap suaminya kaget, mengingat itu adalah tata krama dasar yang harus dilakukan setiap keturunan ningrat. "Kangmas bersungguh-sungguh?" tanya Anjani lagi.


Anjani tidak ingin berdebat lagi, sebab hal itu tentu saja menguntungkannya, apalagi kakinya sering kesemutan tiba-tiba. Anjani kembali mengangguk dengan senyuman sopannya.


"Kamar kamu sudah dibersihkan, Ni," ucap Kangmas Reksa pelan.


"Nuwun, Kangmas," gumam Anjani dengan wajah leganya. Akhirnya ia mendapatkan kamar sendiri. Meskipun sudah menikah, namun Anjani dan Kangmas Reksa tetap pisah kamar, seperti halnya ibu tirinya dan Rama-nya. Ketika mereka ingin bermalam bersama, barulah mereka seranjang. "Jadi, kapan kita akan bermalam bersama?"


"Sudah semalam, Kangmas," jawab Anjani dengan nada bicara seolah ia tidak tahu apa-apa.


Di sisi lain, Reksa pun ikut tersenyum tenang melihat reaksi Anjani yang kentara sekali kalau gadis itu berpura-pura polos. Keduanya saling tersenyum satu dengan yang lain dalam keheningan, membuat Anjani mulai merasa canggung.


"Oh... itu," ucap Anjani menyerah, sebab pipinya pegal. Bisa-bisa ia menua dari umurnya, jika harus saling senyum dengan pria itu dalam waktu yang lama. Raut wajah Anjani tiba-tiba saja sedih. Anjani mengusap matanya, padahal tidak ada air mata sama sekali di sana.


"Semuanya terasa asing, Kangmas. Anjani rindu rumah," ucap Anjani memaksa air matanya turun, namun yang keluar hanyalah setetes saja.

__ADS_1


Reksa memasang wajah simpatinya pada Anjani. "Kasihan," ucap Reksa bersimpati, sambil memberikan Anjani sapu tangannya, yang diterima Anjani dengan senang hati.


"Kangmas tunggu kehadiran kamu malam ini," lanjut Reksa lagi, seolah tidak terpengaruh dengan air mata buaya Anjani.


Anjani menghela nafas pelan. Air matanya tidak mempan. Pria ini sulit. Sangat sulit. "Semua ini terlalu asing, Kangmas. Anjani butuh beberapa tahun..."


"Saya sudah jadi menua duluan, Ni," potong Reksa lagi dengan nada tenangnya. "Saya berikan kamu satu bulan."


Anjani mendongak, menatap Reksa. Satu bulan? Anjani tidak yakin ia bisa terbiasa dalam jangka waktu sesingkat itu. Ia meremas jariknya dengan pikirannya yang mulai berkelana ke mana-mana, berusaha mencari jalan keluar. Namun, pria itu juga sudah sangat baik memberikannya waktu untuk mempersiapkan dirinya yang masih belia ini. Anjani sering mendapat surat dari Mbak Rara, setelah kakaknya itu menikah. Kakaknya itu sering mencurahkan perasaan sedih dan marahnya di surat, menceritakan suaminya yang selalu memaksakan kehendak meskipun Rara belum siap. Karena itu, Anjani mengangguk mengiyakan Reksa.


"Apa ada lagi yang ingin kamu katakan, Ni?" tanya Reksa pelan, ketika melihat ekspresi istrinya yang tampak gelisah dan gamang di tempatnya duduk.


"Apa Anjani boleh bertanya sesuatu?" tanya Anjani perlahan dengan nada sungkannya dan dijawab dengan anggukan dari Reksa. Reksa menunggu gadis di depannya berbicara sambil bersandar di kursi kayunya.


"Apa Kangmas memiliki istri lain selain Anjani?" tanya Anjani pelan.


Reksa tampak tidak bereaksi sedikit pun mendengar pertanyaan Anjani, membuat Anjani semakin gelisah di tempatnya. Seulas senyuman tipis kemudian terbit di wajah Reksa, membuat Anjani semakin kebingungan bagaimana cara mengartikan senyuman itu.


"Hanya kamu, Ni. Untuk seterusnya," jawab Reksa pelan, membuat Anjani ketar-ketir di tempatnya. Pipi Anjani tiba-tiba saja merah padam mendengar perkataan Reksa yang sederhana itu. Melihat ekspresi Anjani yang malu-malu dengan pipi gadis itu semerah tomat, Reksa tersenyum geli di tempatnya.


"Karena itu, pastikan kamu selalu jaga kesehatan, Ni," ucap Reksa lagi dengan nadanya yang misterius.


"... karena anak-anak Kangmas hanya akan berasal dari rahim kamu."


...----------------...


Selamat menikmatišŸŽ‰


Kalau ada kritik dan saran, langsung komentar saja ya. Terima kasih untuk perhatiannya, kalian yang terbaik🤧

__ADS_1


__ADS_2