
Pagi-pagi sekali, Reksa sudah duduk di beranda belakang rumahnya sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Anjani dan surat kabar di tangannya. Dalam prinsipnya, tidak ada hari yang tenang tanpa diawali dengan surat kabar di tangan. Kebiasaannya yang ia lakukan hampir setiap hari, entah dimulai sejak kapan. Hubungan Reksa dan Anjani tidak berkembang sejak pembicaraan terakhir mereka di ruang kerja beberapa hari yang lalu.
Reksa merasa sedikit kebingungan dengan Anjani yang terus berusaha menghindarinya. Gadis itu memang tetap menunaikan tugas sebagai istrinya dengan melayani kebutuhannya, seperti memasak, menjahit dan selalu membuatkannya teh di pagi hari, namun tidak ada interaksi hangat terjalin di antara keduanya. Reksa malah berpikir jika Anjani lebih menyerupai abdi dalemnya jika gadis itu terus bersikap seperti ini.
Reksa mengakui jika pernikahannya hanya sebagai formalitas saja, agar pemerintah bisa meresmikan kedudukan sebagai bupati Sleman. Sejak ayahnya meninggal, mau tidak mau, Reksa harus mengambil tanggung jawab lebih besar dari seorang wedana, yaitu menjadi bupati. Dan untuk menjadi bupati pada masa itu, Reksa harus menikahi seorang wanita ningrat. Namun, kematian ayahnya yang mendadak, membuatnya duduk di posisi bupati itu, meskipun ia belum menikah.
Saat itu, sang kontrolir Belanda mendatanginya dan menjelaskan konsekuensi jika Reksa masih menduduki posisi bupati itu dan tak kunjung menikah.
Saudara akan dilengserkan dan posisi Saudara akan diganti oleh orang pilihan Tuan Residen, kata sang kontrolir.
Reksa pun menuliskan langsung sebuah surat resmi pada tuan residen di Djogjakarta dan meminta waktu selama satu tahun paling lama untuk mencari istri ningratnya. Surat disetujui, namun Reksa diawasi cukup ketat oleh sang kontrolir Belanda yang bertugas di daerah kekuasaannya itu. Kebutuhan untuk mendapatkan istri seolah didengar oleh Tuhan, sebab beberapa bulan kemudian, ketika berada di Klaten untuk memenuhi panggilan kekerabatan Surya, Reksa bertemu dengan Anjani.
Ketika Anjani melompat dari dinding di belakang rumahnya, Reksa langsung tahu jika gadis itu adalah adik Surya, namun Reksa tetap diam. Saat itu, muncul ketertarikannya pada Anjani, apalagi melihat tingkah di luar nalar gadis itu. Anjani yang kecil nyatanya telah tumbuh menjadi gadis yang berani dan sedikit liar -untuk ukuran seorang wanita terhormat. Pertemuan keduanya dengan Anjani, membuat Reksa semakin tertarik lebih dalam pada gadis itu dan memutuskan untuk menikahi Anjani. Waktu Reksa yang terbatas dan ruang gerak Anjani yang sempit sebagai wanita yang dipingit, membuat Reksa tidak bisa melakukan pendekatan sebelum menikah. Karena itu, ia langsung melewati fase itu dan melamar Anjani.
Ketika tehnya habis, Reksa langsung beranjak dari kursi santainya dengan gelas kosong di tangannya. Reksa melangkahkan kakinya, melewati kebun kecil di halaman belakanh rumahnya, sebelum sampai ke dapur. Reksa tahu itu bukanlah tempat abdi dalemnya untuk mencuci peralatan masak dan makan, hanya saja saat itu, Reksa ingin melihat apa yang sedang dilakukan Anjani.
Ketika Reksa masuk, para abdi dalem wanita yang tengah menyiapkan bahan langsung menghentikan pekerjaan mereka. Abdi dalem itu mundur, lalu berlutut, sebelum memberikan salam pada majikannya. Adalah peristiwa yang sangat jarang, seorang pria utama bisa masuk ke dapur, sebab pria utama bisa langsung memanggil saja.
Anjani yang sibuk dengan daun kelornya, kebingungan ketika melihat abdi dalem itu tiba-tiba saja menjadi sangat sopan dan sungkan. Ia menoleh dan mendapati suaminya berdiri di depan pintu dapur itu dengan gelas teh di tangannya.
"Kangmas," ucap Anjani kaget, lalu bergegas menghampiri suaminya. Diraihnya gelas teh itu dari tangan Reksa dengan sedikit tergesa dan panik.
"Kangmas ndak perlu repot-repot datang ke sini. Cukup letakkan saja cangkirnya di me-"
"Kangmas hanya ingin lihat kamu sebentar," potong Reksa, membuat pipi Anjani langsung memerah. Anjani kebingungan harus bereaksi apa sekarang. Ia tiba-tiba gagu. Tubuhnya mematung di tempatnya berdiri. Di sisi lain, Anjani melihat Yu Isma tampak sedikit tersenyum, begitu juga dengan beberapa abdi dalem lain.
"Kamu baik-baik saja," ucap Reksa dengan senyuman tipisnya, sambil menyentuhkan jemarinya dengan lembut di dagu Anjani. Sentuhan itu singkat, namun terasa begitu intens di kulit Anjani. Pipi Anjani kembali merah padam, bahkan lebih merah dari sebelumnya.
"Kalau begitu, Kangmas pergi dulu," pamit Reksa pada Anjani juga abdi dalem yang ada di situ, sebelum keluar dari dapur itu dan meninggalkan Anjani yang masih mematung.
***
__ADS_1
Reksa mengayuh sepeda ontelnya ke arah kantor administrasi bumiputera yang letaknya tak jauh dari kantor administrasi kompeni. Letak kantor itu tak jauh dari tempat tinggalnya, sehingga tidak memerlukan bendi. Segera ketika ia sampai di halaman kantor administrasi itu, Reksa langsung memarkirkan sepeda ontelnya, bersama sepeda rekan kerjanya yang lain. Reksa melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki kantor administrasi yang telah ada sejak kabupaten Sulaiman diresmikan menjadi wilayah baru. Peresmian ini sendiri tertera dalam Rijksblaad no. 11 tahun 1890, tanggal 15 Agustus 1885, dengan ayah Reksa yang diangkat sebagai bupati pertama.
Saat pertama kali masuk ke bangunan putih itu, Reksa langsung menemukan Ter Heide, sang kontrolir yang bertugas di kabupatennya sejak ayahnya masih ada. Pria ini juga yang menyampaikan pesan mengenai konsekuensi perlajangannya selama menjadi bupati. Reksa mengerutkan kening tampak tidak mengerti dengan kehadiran pria Belanda itu di sini. Seingat Reksa, ini masih pertengahan bulan, sehingga tidak ada yang perlu dicek lebih lanjut.
Ter Heide sendiri juga bukanlah tipikal kontrolir yang rajin mengunjungi kantor administrasi bumiputera. Pria itu jarang mau mendatangi gedung itu, kecuali ada urusan yang memang sangat mendesak atau memang sudah jadwalnya untuk menunaikan tugas pria itu sebagai kontrolir. Jadwal Ter Heide sendiri antara akhir bulan dan awal bulan.
"Selamat atas perkawinan saudara," ucap Ter Heide dengan bahas melayu yang fasih, meskipun memang aksen pria itu masih belum bisa ia tinggalkan. Ter Heide melepaskan topinya, lalu membungkuk dengan gaya yang dilebih-lebihkan. Ter Heide memang selalu menjadi musuh tak kasat mata Reksa. Pria itu licik dan manipulatif.
"Terima kasih," ucap Reksa sopan dengan raut wajahnya yang tenang.
"Sebagai hadiah perkawinan dari saya, saudara akan mendapat seorang wedana baru yang lebih baik," lanjut Ter Heide lagi sambil tersenyum tipis. "Wedana kapanewon Gamping tentu saja sudah terlalu tua untuk menjalankan penugasannya. Karena itu, saya ajukan permintaan pada tuan residen langsung untuk menggantikannya."
Reksa mengerutkan keningnya tampak sangat marah mendengar pernyataan Ter Heide. Ya, memang sebagai bupati, Reksa tidak memiliki kewenangan untuk memilih bawahannya, namun pria di depannya pun tidak.
Bisa-bisanya pria di depannya melangkahinya dan mengajukan permintaan semacam itu pada tuan residen. Reksa tahu jika Ter Heide melakukan ini semua agar kegiatan korupsi dan kolusinya bisa terus berjalan. Pria itu tak ubahnya lintah darat yang terus menyerap dari pajak rakyat kecil.
"Pergantian wedana tidak bisa semudah itu, Meinheer," ucap Reksa lagi dengan nadanya yang tegas dan menunjukkan watak kerasnya. Pegawai bumiputera yang ada di situ hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam dan tetap melanjutkan pekerjaan mereka dalam diam.
"Anda baru saja melangkahi saya, Meinheer," ucap Reksa lagi dengan nada konfrontasinya yang kental. Rasa kecewa menggerogoti hatinya ketika mengetahui permintaan sang kontrolir diloloskan oleh asisten residen juga tuan residen.
(Meinheer artinya tuan dalam bahasa Belanda)
Reksa sangat menentang Soeroso Djajadiningrat menjadi wedana di daerah kekuasannya. Pria itu memang priyayi terpelajar, namun reputasinya sangatlah buruk. Pria itu senang bermain wanita dan bahkan meniduri istri orang lain. Etika kerja pria itu sangat diragukan Reksa, apalagi kejujurannya. Berkali-kali, pria itu berusaha menyogok Reksa agar merekomendasikannya pada pemerintah pusat agar diizinkan menduduki jabatan penting di kantor administrasi. Berkali-kali juga Reksa menolak dengan alasan yang sama; kejujurannya patut dipertanyakan.
"Saudara sadar bukan, Saudara tidak memiliki kewenangan dalam mengangkat dan memberhentikan pegawai?" tanya Ter Heide dengan tatapannya yang terang-terangan merendahkan.
"Anda sendiri juga tidak, Meinheer," balas Reksa sama kerasnya. "Anda jelas telah melangkahi saya, sebagai seorang regent di sini. Rekomendasi Anda patut dipertanyakan, Meinheer."
(Regent artinya bupati)
"Bukan saya yang patut dipertanyakan," balas Ter Heide tampak sedikit tersinggung. "Saudara yang patut dipertanyakan. Coba Saudara pikir, jika rekomendasi saya diterima bahkan oleh pemerintah pusat, bukankah artinya pilihan saya baik?"
__ADS_1
Reksa tampak sangat tidak setuju dengan perkataan pria itu. "Atau ada niat lain di baliknya," sambung Reksa berani.
"Apa Saudara khawatir jika Soeroso bisa mengambil jabatan Saudara sekarang?" tanya Ter Heide tajam sambil mendekati Reksa.
"Apa itu ancaman, Meinheer?" tanya Reksa sambil menyipitkan matanya tak gentar.
Ter Heide tersenyum sinis, kemudian berkata, "Mengapa tidak Saudara menikmati kekayaan dan posisi Saudara, lalu biarkan kami bekerja dengan cara kami sendiri."
Setelah berkata demikian, Ter Heide menyerahkan surat dengan segel yang telah terbuka pada Reksa. Pria itu menepuk pundak Reksa dengan lembut, sebelum melenggang santai, meninggalkan gedung itu. Reksa membuka surat itu dan membacanya secara singkat. Surat itu adalah rekomendasi Soeroso Djajadiningrat menjadi seorang wedana kapenewon Gamping. Surat itu telah ditandatangani langsung oleh asisten residen Sleman dan tuan residen di Djogjakarta. Sebagai penutup, Reksa juga melihat adanya tanda tangan Gurbenur Jenderal Hindia-Belanda, tak lupa dengan cap resminya. Reksa meremas surat itu dengan kemarahan luar biasa. Ia lebih marah lagi saat mengetahui ada sesama bumiputera yang nantinya akan memeras bangsanya sendiri.
...----------------...
Catatan penting:
Bupati dan pegawai bumiputera tidak memiliki kewenangan sama sekali untuk mengangkat dan memberhentikan pegawai, begitu pun dengan residen, asisten residen atau bahkan kontrolir. Semua itu kewenangan pemerintah pusat, atas rekomendasi residen. Bupati bisa dengan mudahnya diganti jika tidak menyenangkan hati pemerintah kolonial saat itu. Tetapi bupati juga memiliki hak untuk merekomendasikan pegawai pada residen. Residen ini nanti yang akan meneruskannya pada pemerintah pusat. Makanya KKN antara pejabat pribumi dan pegawai kompeni lazim waktu itu, seperti yang dibahas dalam buku Max Havelaar.
Bupati di sini setara dan bekerja sama dengan asisten residen, sedangkan tuan residen adalah pimpinan dari asisten residen yang memiliki karesidenan sendiri. Kabupaten Sleman adalah bagian dari karisedanan Jogjakarta, makanya tuan residennya ada di Jogjakarta. Wedana bisa dibilang adalah camat dan dia bekerja sama dan setara dengan kontrolir. Wedana berada di bawah bupati dan patih.
Akan ada banyak perubahan tiba-tiba di sini. Jadi kalau kalian baca ulang terus menemukan yang beda ya dimaklumi ya heheheheheh. Kadang ketika melakukan riset baru terus ada banyak fakta baru yang ternyata bertentangan dengan apa yang aku paparkan di chapter sebelumnya.
__ADS_1
Juga, kalau ada yang dirasa kurang cocok, mohon dikoreksi, terima kasih. Mungkin koreksi dari kalian kadang tidak aku balas, tetapi biasanya akan aku revisi. Terima kasih sudah membaca ceritaku yang masih belum sempurna ini 👁️👄👁️✌️