
Malam itu Sleman diguyur hujan deras, bahkan tidak berhenti, padahal sudah sejam lamanya. Reksa masih berbaring di ranjangnya dengan mata yang menatap nyalang ke langit-langit kamarnya. Reksa tidak bisa tidur malam itu. Ada begitu banyak hal yang berseliweran dalam benaknya. Ia beranjak bangun dari ranjangnya, lalu berjalan ke arah ruang kerjanya dengan hanya ditemani lilin yang temaram saja. Reksa meletakkan tempat lilin itu di meja, sebelum membongkar lacinya dan mengeluarkan tumpukan kertas berupa surat, juga artikel yang ia tulis sendiri.
Reksa termenung di tempatnya. Ia sudah menikah, yang artinya perjuangannya tidak bisa segesit dulu lagi. Jika Reksa sampai lengah, Anjani juga bisa ikut terseret ke dalam masalahnya dengan pemerintah. Reksa sebenarnya tidak berniat menikah sama sekali, bahkan menjadi bupati Sleman pun ia tidak ingin. Namun, ia adalah satu-satunya laki-laki di keluarga itu yang harus meneruskan takhta bupati tersebut. Melepaskannya tentu saja akan membuatnya berhadapan langsung dengan keluarga besarnya, bila perlu dengan Ngarsa Dalem sendiri yang masih memiliki hubungan darah yang kuat dengannya.
Perjuangan Reksa diteruskan oleh sahabatnya yang dulu satu sekolah dengannya di STOVIA yang bernama Tirto Adhi Soerjo. Tirto kini telah menjadi redaktur di Pembrita Betawi, meneruskan mimpi Reksa yang tidak akan pernah ia gapai. Reksa terkadang masih sering mengunjungi Tirto atau bahkan Tirto sendiri yang mengunjungi Reksa di Sleman. Keduanya saling bertukar surat cukup rutin, membahas hal-hal pelik tentang politik.
Reksa juga sering mengirimkan artikelnya pada Tirto untuk diseleksi nantinya. Reksa meminta pada Tirto, jika artikelnya berhasil terpilih untuk diterbitkan, Reksa ingin nama penulis artikel tersebut bukanlah dirinya, melainkan diganti dengan nama Tirto sendiri. Awalnya Tirto cukup menentang hal itu, mengingat Reksa yang memiliki hak ciptanya, namun akhirnya karena permintaan sahabatnya, Tirto setuju.
Reksa meraih penanya, juga kertas baru, lalu menuliskan surat pada sahabatnya itu. Surat yang berisikan kegundahan hatinya dan keinginan untuk bertemu jika ada kesempatan lagi, untuk membahas beberapa hal yang rahasia. Cukup lama Reksa menghabiskan waktu untuk menulis, sampai ia merasakan tubuhnya kedinginan, karena suhu menurun drastis sejak hujan deras. Reksa memasukkan suratnya ke dalam amplop, lalu menuliskan alamat, juga stempel khusus di sana. Setelahnya, ia kembali memasukkan semua peralatan dan surat itu ke dalam lacinya.
Reksa keluar dari ruang kerjanya dan berniat untuk kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri. Namun, langkahnya terhenti di tengah jalan yang gelap itu. Ia menoleh ke arah kamar Anjani dan merasakan dorongan yang kuat untuk ke sana. Karena terlalu terhanyut dengan pikirannya, Reksa tidak menyadari jika kakinya membawanya ke kamar gadis itu. Ia menggenggam gagang pintu dingin tersebut, sebelum mendorongnya. Reksa cukup kaget ketika mengetahui pintu itu tidak dikunci sama sekali.
Dibukanya perlahan dan tak disangkanya, Anjani masih bangun di tengah malam itu dengan ditemani lilin di meja belajarnya. Gadis itu berdiri di depan meja belajar dengan perasaan was-was yang tercium jelas oleh Reksa.
"K-Kangmas..." bisik Anjani kaget ketika melihat suaminya berdiri di depan pintunya dengan membawa lilin. Awalnya Anjani kira ia diganggu setan di malam-malam hujan seperti ini. Nyatanya yang mengunjunginya adalah suaminya sendiri.
"Belum tidur, Ni?" tanya Reksa lembut sembari melangkah masuk dan menutup kembali pintu kamar Anjani dengan lembut.
"Belum," jawab Anjani gugup, sambil menutupi buku yang dibacanya dengan tubuhnya sendiri
"Kenapa?" tanya Reksa lagi dengan nadanya yang begitu tenang, membuat Anjani semakin gelisah di tempatnya.
__ADS_1
Anjani semakin gagu mendengar pertanyaan Reksa. Jika Anjani mengaku ia membaca buku Max Havelaar, apakah suaminya akan marah dan menyita semua buku selundupannya? Apakah suaminya sama konservatifnya seperti kekuarganya? Apakah Kangmas Reksa bisa menerima kenyataan jika Anjani sekarang sedang mengikuti jejak Raden Ayu Kartini? Apakah perbuatannya sendiri direstui suaminya? Anjani tak bisa berpikir jernih. Berbagai kemungkinan dan kekhawatiran berseliweran di benaknya, membuatnya tepekur di tempatnya.
"Anjani?" panggil Reksa lagi, membuat Anjani seolah tersadar dari pikirannya sendiri.
"Anjani sedang... menjaga lilin, Kangmas," jawab Anjani cepat dan seadanya.
Reksa tampak mengerutkan kening tidak mengerti pada istrinya. "Kamu melakukan ritual, Ni?" tanya Reksa pelan, juga sedikit kaget mendengar jawaban Anjani yang berjuta makna itu.
Mendengar hal itu, Anjani semakin gagu saja. Tak disangkanya, suaminya malah mengira dirinya melakukan ritual terlarang. Anjani tersenyum gugup, kemudian menjawab, "Malam ini udara terasa dingin, Kangmas. Lilin adalah satu-satunya kehangatan yang Anjani punya," jelas Anjani sambil tersenyum sopan pada suaminya.
Mendengar perkataan Anjani, Reksa tersenyum tenang. Pria itu meniup lilinnya sendiri dengan lembut, sebelum berjalan mendekati Anjani yang masih berdiri di depan meja belajar. Jantung Anjani berkejar-kejaran dalam rongga dadanya ketika Reksa mendekatinya dengan langkahnya yang hening dan tenang. Anjani refleks mundur dan menabrak meja belajarnya sendiri. Anjani menutup matanya rapat-rapat, ketika merasakan tubuh Reksa begitu dekat dengan tubuhnya. Mata Anjani yang tertutup mengaktifkan inderanya yang lain untuk bekerja lebih baik.
Anjani bisa merasakan nafas Reksa di sisi wajahnya. Wangi tubuh pria itu juga tercium jelas olehnya. Pipi Anjani sontak langsung merah padam, karena kedekatannya sekarang dengan suaminya. Anjani bisa merasakannya, meskipun ia menutup matanya.
Anjani membuka matanya perlahan, lalu mendongak ke arah Reksa, sebelum menundukkan kepalanya lagi dengan panik. Ia menoleh sedikit ke belakang dan baru menyadari maksud dari 'hati-hati' pria itu. Nyatanya pria itu mendekat hanya untuk meencegah jatuhnya lilinnya yang menyala, sebagai akibat dari gerakan mundurnya yang membentur meja belajar itu. Anjani malu sekali, karena sudah berpikir yang tentang pria di hadapannya. aneh-aneh
"Nuwun, Kangmas," ucap Anjani lagi, sembari menunggu agar pria itu menjauh darinya. Lama Anjani menunggu, namun Reksa tak kunjung menjauh dari tubuhnya, membuat Anjani semakin gemetar kebingungan di tempatnya.
"Kangm-"
"Mau Kangmas hangatkan, Ni?" potong Reksa lagi, membuat Anjani mendongakkan kepalanya dengan wajah kagetnya. Melihat wajah kaget Anjani, Reksa tersenyum kemudian melanjutkan perkataannya, "Sebelumnya kamu bilang kedinginan."
__ADS_1
"Sekarang, Kangmas?" tanya Anjani syok, ketika mendengar perkataan pria itu. Ia belum mempersiapkan dirinya untuk malam seperti ini.
Anjani sangat khawatir di tempatnya, sampai-sampai tubuhnya mendingin. Di sisi lain, Reksa tampak sangat santai di tempatnya. Pria itu menjauh sedikit dari tubuh Anjani, membiarkan istrinya bernafas, sebab Reksa tahu dengan jelas jika Anjani menahan nafas sejak tadi. Reksa duduk di pinggir ranjang kayu Anjani, kemudian menarik tangan Anjani dengan lembut agar datang ke arahnya. Anjani mengikuti tarikan pria itu dalam keadaan nyawanya yang seolah melayang dari tubuhnya saking ketakutannya.
"Hanya tidur, Ni," ucap Reksa lagi, berusaha menenangkan Anjani.
Anjani tampak sangat cantik malam ini di mata Reksa. Rambut gadis itu yang biasanya digulung, kini tergerai hingga ke punggung dengan gelombang alaminya. Kebaya gadis itu pun sudah dilepaskan, sehingga tinggal kemben dan jarik saja sebagai pakaian tidurnya. Ada ketertarikan jasmani yang natural pada Anjani, sebagai seorang pria normal yang sehat. Namun, Reksa masih menahan dirinya dan menunggu waktu sesuai kesepakatan keduanya.
"Kamu tidur di dalam, Ni," ucap Reksa yang langsung dituruti Anjani. Anjani beringsut ke bagian dalam ranjang kayunya yang menempel di dinding putih itu. Anjani merebahkan dirinya, menghadap ke dinding, sebab ia malu sekali jika tidur berhadap-hadapan dengan suaminya. Ini saja, Anjani sudah ketar-ketir di tempatnya, sampai tubuhnya memanas seketika.
Reksa meniup lilin itu dengan pelan. Menyisakan kegelapan yang pekat di antara keduanya dengan ditemani suara hujan yang semakin deras. Reksa menyelimuti Anjani dengan lembut, sebelum tidur dengan tetap menyisakan jarak di antara keduanya. Anjani kira ia akan dipeluk oleh Reksa atau mungkin Reksa akan membalikkan tubuhnya hingga menghadap pria itu. Namun, kenyataannya, pria itu tertidur tanpa menyentuhnya sama sekali. Jantung Anjani tidak aman malam itu. Ia baru bisa tertidur ketika hujan mulai berhenti, kira-kira saat subuh. Malam itu adalah malam pertama, keduanya seranjang sebagai pasangan suami istri yang sah, meskipun tidak ada aktivitas intim di dalamnya.
...****************...
Gerimis kecil mulai turun ketika pagi tiba. Reksa terbangun saat mendengar suara kokok ayam dari kebun belakang rumahnya. Saat itulah ia menyadari jika jarak di antara dirinya dan Anjani tidak berhasil. Gadis itu kini malah tertidur di dadanya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Reksa tersenyum tipis, lalu membelai rambut Anjani dengan lembut, menikmati pelukan istrinya sendiri di pagi hari. Tiba-tiba saja, pintu kamar Anjani dibuka sangat perlahan, menampilkan Yu Isma yang biasanya bertugas untuk membangunkan nyonya barunya itu dan menyiapkan segala kebutuhannya di pagi hari.
Tatapan mata Yu Isma bertabrakan dengan Reksa, membuat Yu Isma salah tingkah sendiri di tempatnya dan menunduk dalam-dalam. Yu Isma menutup kembali pintu itu perlahan dengan perasaan malu luar biasa. Reksa melepaskan pelukan Anjani selembut mungkin dari tubuhnya, lalu beranjak berdiri dari ranjang kayu itu. Diselimutinya tubuh Anjani, sebelum membuka pintu tinggi itu perlahan dan keluar dari kamar Anjani. Reksa mendapati Yu Isma duduk berlutut di samping pintu kamar Anjani. Wanita paruh baya itu mengatupkan kedua tangannya di depan hidung, lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai permintaan maaf.
"Nyuwun pangapunten, Raden, saya tida-" Buru-buru Yu Isma membela dirinya dengan perasaan panik, sekaligus sungkan.
"Ndak papa, Yu," potong Reksa lembut. "Hari ini, biarkan Ndoro Ayu tidur lebih lama dari biasanya. Dia baru bisa tidur ketika menjelang subuh."
__ADS_1
"Baik, Raden," ucap Yu Isma, kembali membungkuk dalam-dalam pada Reksa.
"Titipkan juga permintaan maaf, karena sudah meninggalkan dia terbangun sendirian pagi ini," ucap Reksa lagi yang disambut dengan jawaban dan gestur sama dari Yu Isma. Setelah berkata demikian, Reksa melangkah tenang ke kamarnya sendiri dengan senyuman tersirat masih tersungging di bibirnya.