
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan berlalu. Mbak Rara telah menikah sejak sebulan yang lalu, meninggalkannya, setelah mendapatkan pinangan dari seorang kepala pegawai administrasi pribumi Hindia-Belanda. Pria itu juga memiliki darah ningrat di dalamnya, meskipun tidak sekental Mbak Rara. Yang membuat Rama dan Ibu menerima pinangan itu dengan senang adalah karena pria tersebut memiliki reputasi yang baik dengan kekayaan yang mumpuni. Awalnya Mbak Rara menangis hebat, tidak ingin dinikahkan, namun apalah daya, lagi-lagi wanita tidak memiliki pilihan. Yang memiliki kewenangan dalam hidup wanita adalah ayah, suami dan keluarga mereka.
Wanita tak punya karsa. Kalau pun punya, mereka tak punya kuasa. mereka
Tinggalah, Anjani, satu-satunya gadis yang tersisa di rumah utama itu. Sejak Rara menikah, Anjani menangis setiap malam, karena merindukan kakaknya yang akan sangat jarang ia temui itu. Anjani juga lebih senang menghabiskan waktunya di dalam kamarnya, menggambar, menulis artikel, atau membaca buku selundupannya. Anjani agak sedikit takut keluar dari kamarnya. Ia takut berpas-pasan dengan Kangmas Surya yang masih berharap padanya.
Sejak kasus Kangmas Surya babak belur dipukuli Rama, Ibu langsung cepat-cepat mencari wanita untuk anak sulungnya itu. Wanita yang dipilih pun bukanlah wanita ningrat, sebab jika Kangmas Surya menikahi wanita ningrat, maka perizinan pria itu untuk naik takhta menjadi bupati Klaten menggantikan Rama, akan langsung dipenuhi pemerintah Hindia-Belanda. Jika Kangmas Surya menjadi bupati Klaten, yang mana pria itu otomatis menjadi kepala keluarga di situ, maka tamatlah riwayat Anjani.
Pernikahan pun terlaksana, seminggu setelah lamaran. Sayangnya, rumah baru untuk Kangmas Surya belum selesai pembangunannya, membuat pria itu dan istrinya yang baru tinggal di rumah yang sama dengan Anjani. Bayangkan, Anjani harus menjalani cinta segitiga itu di rumahnya sendiri. Sangat tidak mengenakkan. Untungnya Kangmas Arya selalu pulang lebih cepat untuk menjaga Anjani dan menemaninya.
Di sisi lain, Anjani masih bingung ketika Rama dan Ibu tak kunjung menikahkannya juga, padahal sudah beberapa bulan berlalu. Tampaknya ibunya sudah lupa dengan gertakan yang diberikannya pada Anjani waktu itu. Ada beberapa saat di mana Anjani lebih baik menikah saja daripada terkurung di neraka itu bersama Kangmas Surya, istrinya dan ibunya. Pernah beberapa kali, Kangmas Surya sengaja menjebaknya di ruangan berdua. Ia ingat sekali hari itu. Hari di mana ia menolak Kangmas Surya terang-terangan dengan cara yang kasar, karena pria itu begitu menakutkan.
Hari itu, tiba-tiba Yu Marsinah mengantar pesan pada Anjani untuk mengambil buku di ruang kerja Kangmas Surya dan mengantarkannya pada Rama. Saat itu, Anjani sudah curiga, sebab ia tidak biasa diberikan tugas semacam itu. Anjani sampai menyeret Yu Marsinah menemaninya ke dalam ruang kerja Kangmas Surya. Namun, pria itu tiba-tiba datang, segera setelah Anjani dan Yu Marsinah memasuki ruang kerjanya.
"Yu, tinggalkan kami berdua," ucap Kangmas Surya dengan nada dinginnya.
"Ndak perlu, Kangmas. Anjani juga udah selesai," ucap Anjani sambil menggenggam tangan Yu Marsinah erat.
"Yu," ucap Kangmas Surya lagi dengan nadanya yang lebih dingin.
__ADS_1
"Anjani harus antar buku ini, Kangmas," balas Anjani lagi, berusaha kabur dari ruangan itu, namun Kangmas Surya menghadang jalannya.
"Yu tadi dipanggil sama Ibu," gumam Kangmas Surya membuat Yu Marsinah panik.
"Kalau begitu, kita pergi, Yu. Anjani pamit, Kangmas," gumam Anjani lagi, menarik Yu Marsinah keluar. Ketika keduanya sampai di luar pintu kayu berukir itu, tiba-tiba saja Anjani merasakan tangannya digenggam erat dan ditarik, membuat genggaman Anjani di tangan Yu Marsinah tak sengaja terlepas. Sebelum Anjani sempat bereaksi, Kangmas Surya sudah menutup kembali pintu di depan itu, berhasil memisahkannya dengan Yu Marsinah dan mengunci pintu itu.
Kangmas Surya memeluk Anjani sangat erat dari belakang sambil menenggelamkan wajahnya di lekuk leher gadis itu.
"Kangmas," ucap Anjani panik, mengingat kakaknya sudah menikah.
"Anjani... kenapa kamu ndak bilang ke Rama kalau kamu ingin menjadi gundik Kangmas," gumam Kangmas Surya lagi dengan nada putus asanya.
Anjani memberontak dan mendorong tubuh pria itu sekuat mungkin, membuat Kangmas Surya terhuyung. "Dengar, Kangmas..." ucap Anjani dengan nada muak. "Anjani ndak ingin jadi gundik. Siapa pun itu, apalagi gundik kakak sendiri."
"Anjani ndak bohong, Kangmas yang ndak ingin dengar fakta itu," gumam Anjani berani dengan segala kemuakan dalam dadanya.
"Kamu pikir dengan menjadi istri resmi pria lain, kamu akan bahagia, Ni?" Surya mendengus mengejek. "Kamu juga akan dimadu pada akhirnya."
"Anjani juga jelas-jelas dimadu kalau bersama Kangmas," balas Anjani, membuat Surya langsung terdiam.
__ADS_1
"Kangmas sudah bilang beberapa kali, Ni. Itu hanya status. Kangmas hanya sayang sama kamu," gumam Kangmas Surya berusaha mendekati Anjani, namun Anjani langsung bergerak mundur dengan panik.
"Berhenti paksa Anjani, Kangmas!" seru Anjani frustrasi.
"Kamu yang seharusnya ndak boleh berontak, Ni. Kamu itu perempuan. Bibir kamu ndak boleh mengucapkan kata-kata tajam seperti tadi," gumam Kangmas Surya sambil meraih wajah Anjani dan mengusap bibir gadis itu. "Bibir kamu seharusnya digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Melayani Kangmas misalnya."
Anjani mengerutkan keningnya dan menampar Kangmas Surya cukup keras, dengan perasaan tersinggung luar biasa. "Daripada mengurusi perpajakan dan politik, bagaimana kalau Kangmas mengurusi etika Kangmas sendiri. Kangmas berlaku tak ubahnya anjing di musim kawin," ucap Anjani berjalan keluar dari ruangan itu secepat mungkin, selagi Kangmas Surya merasa syok.
Sejak saat itu, Kangmas Surya menatapnya dingin. Anjani tidak peduli. Ia terus berusaha menjauhi pria itu, sebab pria itu semakin kurang ajar padanya.
Pernah beberapa kali, Anjani mendengar pria itu berbisik vulgar padanya, kira-kira seperti, "Kangmas akan menghamili kamu, Ni, sampai kamu ndak punya pilihan, selain menjadi gundik Kangmas. Kamu ndak akan dapat pinangan, karena mana ada pria yang mau dengan wanita bekas, Ni. Ketika saat itu tiba, kamu sendiri yang akan merangkak ke ranjang dan mengangkang untuk Kangmas."
Iya pria itu sakit. Sakit jiwa.
Anjani sangat takut keluar kamar sejak saat itu dan selalu meminta Yu Marsinah menemaninya ke mana-mana. Ia berdoa setiap malam agar mendapat pinangan atau dicabut saja nyawanya, sebab ia sudah tidak tahan lagi dengan dunia yang aneh ini. Setelah dipikir-pikir lagi, pinangan pun tak akan menyelamatkannya. Iya, pinangan hanya akan menyelamatkannya dari Kangmas bajingan itu, tetapi kemungkinan untuk menjadi istri dari pria yang lebih bajingan lagi sangat besar.
Anjani ingin mati saja rasanya. Hidupnya tak diberikan pilihan sama sekali hanya karena jenis kelaminnya -yang mana bukan lagi sesuatu yang bisa ia kontrol.
diberikan pilihan sama sekali hanya karena jenis kelaminnya -yang mana bukan lagi sesuatu yang bisa ia kontrol.
__ADS_1
Dan hari itu pun tiba. Jam dua belas siang, bulan Agustus, tanggal 16, sebuah rombongan datang ke kediamannya. Seorang pria datang langsung bersama keluarganya dan meminangnya di tempat.
Pria itu adalah Raden Mas Adipati Reksanegara Wiryadiningrat.