Karsa

Karsa
Hakikat Perkawinan


__ADS_3

...(Part ini mengandung adegan dewasa)...


Anjani tidak bisa tidur malam itu. Ia juga tidak ada keinginan untuk membaca buku atau bahkan menulis. Ia berbaring di ranjangnya dengan hanya ditemani lampu teplok yang bergoyang-goyang, karena angin malam yang semakin dingin. Suasana syahdu malam itu membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bagaimana bisa dalam sebulan ia langsung jatuh cinta pada seorang Reksanegara? Mbak Laras dan suaminya saja membutuhkan lebih dari dua tahun untuk bisa terbiasa satu dengan yang lain. Itu pun Mbak Laras masih menganggap suaminya seperti atasannya, bukan pendamping hidupnya. Apakah dirinya yang terlalu cepat luluh?


Pintu kamarnya bergerak perlahan, membuat Anjani menegang seketika. Ia beranjak duduk di sisi ranjangnya dengan pandangan waspada ke arah pintu kamarnya. Dilihatnya Reksa berdiri di depan pintu kamarnya, tanpa membawa apa pun. Anjani dengan sigap langsung berdiri menyambut suaminya. Reksa menutup kembali pintu itu, tampak tenang dan tidak mengatakan apa pun.


"K-Kangm-"


Belum sempat Anjani menyapa suaminya, Reksa sudah lebih dulu menarik Anjani masuk ke dalam pelukannya. Anjani merasakan jantungnya berdegup sangat kencang ketika merasakan tubuh suaminya secara langsung untuk pertama kalinya. Tubuh pria itu keras dan hangat, membuat pipi Anjani merah padam, namun tak ayal perasaan asing mulai menggerogoti dirinya. Reksa mengusap kepala Anjani dengan lembut, sambil memejamkan matanya. Merasakan kehangatan dan tubuh feminim istrinya.


"Apa menurut kamu, Kangmas bajingan, Anjani?" tanya Reksa dengan nada frustrasinya yang terdengar jelas. Nada bicara yang baru pertama kali didengar Anjani.


"Kamu selalu berpikiran bahwa Kangmas akan mencari wanita lain," lanjut Reksa lagi sambil mengeratkan pelukannya pada Anjani. "... padahal Kangmas hanya menginginkan kamu."


Anjani merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Pipinya merah padam dengan tubuhnya yang memanas, karena malu.


"Kamu senang membuat Kangmas ndak bisa tidur seperti ini, Ni?" balas Reksa lagi sambil menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Anjani dan menghirup wangi feminim gadis itu.


"M-maaf, Kangmas," bisik Anjani dan menyadari beban di hatinya terangkat sepenuhnya, ketika tahu jika Reksa sama gamangnya dengan dirinya. Apakah itu artinya perasaan Anjani terbalas?


"Kangmas tahu rasanya memiliki dua ibu, Ni. Kangmas tahu..." gumam Reksa lagi dengan nadanya yang gemetar. "Kangmas ndak ingin anak Kangmas merasakan hal yang sama seperti Kangmas. Jadi, berhenti, Ni... berhenti... Kangmas ndak ingin mendengar hal itu lagi."

__ADS_1


"Kangmas," bisik Anjani pelan, ketika mendengar pengakuan Reksa yang tak diduga-duganya itu. Perasaan bersalah dan simpatinya muncul tanpa bisa ia cegah.


"Kangmas hanya menginginkan kamu. Bagaimana caranya membuat kamu mengerti, Ni?" lanjut Reksa lagi dengan nadanya yang terdengar putus asa.


Anjani merasakan hatinya menghangat. Usapan Reksa di kepalanya membuat Anjani semakin terbuai dalam pesona pria itu. Anjani menyandarkan kepalanya ke dada pria itu dan melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh suaminya. Pipi Anjani merah padam, karena itu adalah pelukan pertamanya dengan suaminya. Namun, tak ayal senyumnya mengembang malu-malu. Keduanya hening dan saling menikmati panas tubuh masing-masing.


Reksa memejamkan matanya, menghirup aroma feminim yang menguar dari Anjani. Tubuh Anjani begitu lembut, berbanding terbalik dengan tubuhnya sebagai seorang pria dewasa. Reksa tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menelusuri tubuh istrinya. Dirasakannya pinggul Anjani yang kuat dengan tangannya sendiri. Tubuh Anjani menggigil ketika mendapat sentuhan itu di pinggulnya yang masih terbalut kain jarik.


"Kamu kedinginan," bisik Reksa pelan di telinga Anjani, sambil mengurai pelukan keduanya. "Mau Kangmas hangatkan?"


Anjani tidak menjawab Reksa, namun jantungnya berdegup tak terkendali sekarang. Meskipun ruangan itu remang-remang, namun Reksa bisa menangkap dengam jelas guratan kemerahan di pipi istrinya. Reksa menunduk seolah berniat ingin mencium bibir Anjani. Jantung Anjani kian tak tenang dalam dadanya.


"Pejamkan matamu, Ni," bisik Reksa di depan bibir Anjani.


Reksa menjauhkan wajahnya dari lekuk leher Anjani dan mata keduanya kembali bertemu. Tatapan Reksa begitu dalam dan serius. Di sisi lain, Anjani menatap Reksa dengan tatapan seorang gadis yang baru mekar. Reksa tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Anjani. Ia mengelus sisi wajah Anjani dengan lembut kemudian berbisik, "Ketika Kangmas menyentuh kamu malam ini, Ni, Kangmas melakukannya sebagai suami kamu."


Anjani mengangguk dengan wajahnya yang polos, membuat Reksa tersenyum. "Apa yang kita lakukan malam ini adalah hal yang wajar dalam sebuah perkawinan, jadi biarkan Kangmas memenuhi kebutuhan batinmu, Anjani."


Anjani menelan ludahnya lagi, kemudian kembali mengangguk. Reksa menghadiahkan Anjani kecupan di dahi gadis itu, sebelum turun ke hidungnya dan berakhir di bibirnya. Penantiannya selama sebulan, nyatanya sepadan dengan apa yang ia dapatkan malam ini. Anjani yang tidak menolak dan malah menerimanya adalah sebuah kehormatan, sekaligus hadiah terbaik yang didapatkan Reksa dalam perkawinan ini.


Reksa mencium bibir Anjani dengan lembut. Anjani tidak pernah menyangka ia melakukan ini dengan suaminya sekarang. Reksa mengecup bibirnya perlahan-lahan dan lembut, membuat tubuh Anjani gemetar. Kecupan itu merasuki Anjani lebih dari yang ia duga dan memunculkan sekelumit rasa yang tak dapat dideskripsikan. Ciuman Reksa menjadi semakin menuntut, membuat Anjani sedikit kesusahan, sebab ini adalah pertama kali untuknya. Reksa melepaskan kemben jarik yang melingkar di tubuh Anjani. Anjani terlalu terbuai dalam ciuman yang diberikan Reksa hingga tidak menyadari satu per satu kain yang melingkar di tubuhnya terlepas.

__ADS_1


Reksa melepaskan ciuman di antara keduanya, membuat Anjani terengah-engah dengan pipi merah padam. Reksa menunduk menatap tubuh istrinya yang telah polos di hadapannya. Cahaya lampu teplok cukup memberikan gambaran tubuh Anjani secara keseluruhan, membuat Reksa menelan ludahnya perlahan. Sebulan Anjani tinggal di rumahnya, gadis itu mulai berisi sedikit demi sedikit, tak sekurus pertama kali mereka bertemu. Tubuh sehat gadis itu nyatanya sangat menggelitik gairahnya sebagai seorang pria.


Anjani ikut menunduk dan baru tersadar ia tak lagi memakai apa pun. Anjani memekik kecil, kemudian menutupi tubuhnya sendiri. Reksa tersenyum tenang, sebelum berjongkok di hadapan Anjani dan membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Anjani merasa sangat malu. Tak ada satu pun laki-laki yang pernah melihatnya seperti ini dan itu membuatnya semakin gelisah.


Reksa membaringkan Anjani di ranjang dengan lembut. Anjani refleks merapatkan kedua kakinya dan menutupi dadanya sendiri. Anjani mengawasi Reksa diam-diam yang kini tengah berdiri di samping ranjangnya. Pria itu menarik kaos oblong putihnya hingga terlepas, menampilkan tubuhnya yang tegap sebagai seorang pria dewasa yang sehat. Reksa melepaskan semua pakaiannya, sebelum kemudian kembali bergabung bersama Anjani di ranjang sempit gadis itu. Reksa menindih gadis itu, membuat Anjani semakin gugup tak karuan di tempatnya.


"A-Anjani harus bagaimana, Kangmas?" tanya Anjani sambil menelan ludahnya gugup.


"Menerima Kangmas," jawab Reksa pelan, berusaha menenangkan Anjani yang mulai ketakutan.


Anjani memejamkan matanya dan mengangguk. Reksa tersenyum melihat istrinya yang tampak begitu waspada padanya. Reksa menjelajahi setiap senti tubuh Anjani dengan tangannya yang kasar, membuat Anjani mencicit pelan. Ia menggoda dada Anjani dengan lembut, membuat Anjani semakin malu di tempatnya. Itu adalah bagian yang intim baginya sebagai seorang perempuan dewasa. Reksa mencium leher Anjani dan melebarkan kedua kaki gadis itu dengan tangannya yang lain.


Pria itu mulai menyatukan keduanya dengan perlahan-lahan, namun Anjani tampak sangat gelisah, membuat Reksa sedikit kesulitan. Reksa mendesak perlahan, membuat Anjani semakin merintih tidak nyaman. Karena dirasanya perlahan hanya akan menyiksa istrinya, Reksa langsung menyatukan keduanya, membuat Anjani memekik pelan, sampai mengeluarkan air mata. Jari kakinya menekuk kian hebat, karena rasa sakit dan perasaan tak nyaman di sana. Keduanya kini telah menjadi satu, baik tubuh maupun jiwa, memenuhi hakikat perkawinan pada umumnya. Meskipun Reksa adalah suaminya secara sah, namun Anjani masih belum terbiasa dengan kegiatan intim bersama pria itu.


"Anjani," bisik Reksa berusaha menenangkan Anjani yang tegang. "Hanya kali ini saja yang sakit, Kangmas janji."


"Masih sakit," bisik Anjani pelan, tidak berani menunduk ke bawah.


"Ndak papa, Ni, tenang," bisik Reksa perlahan sambil merapikan rambut di dahi Anjani dengan lembut. "Anjani-ku sudah dewasa sekarang."


Anjani kembali tersipu-sipu malu di bawah Reksa. Reksa kembali melanjutkan aktivitas itu, berusaha sebaik mungkin membuat Anjani kembali terbuai. Usahanya berhasil, sebab kini Anjani telah terbiasa dengan dirinya. Gadis itu mulai mendesah lembut dan malu-malu, menikmati setiap sentuhannya. Anjani tampak sangat cantik di bawahnya dengan pipi gadis itu yang merah padam, bagai bunga yang baru mekar. Dan begitulah, percintaan keduanya untuk yang pertama kali sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


Keduanya bercinta dan saling menghangatkan satu sama lain dengan rintik hujan yang kian deras sebagai pengisi keheningan. Lampu teplok semakin meredup ketika mendekati tengah malam, namun baik Reksa maupun Anjani masih tenggelam dalam kehangatan yang menyelimuti keduanya. Percintaan panas dan menggelora itu barulah selesai ketika memasuki subuh dengan lampu teplok yang telah lama padam.


__ADS_2