
Pinangan tentu saja diterima baik oleh kedua orangtuanya, mengingat dengan keluar Anjani dari rumah itu, masalah akan berkurang. Belum lagi hadiah pinangan yang diberikan pun adalah hadiah pinangan yang besar. Anjani sendiri terlalu syok ketika mengetahui pria itu sungguh meminangnya. Ia bahkan tidak diberikan waktu oleh keluarganya untuk mempertimbangkan keputusan pernikahan itu. Lagi, kalau pun ia tidak ingin, apakah Anjani bisa menolak? Oh, tentu tidak, kan dia perempuan.
Ketika rombongan itu kembali dengan pinangan yang diterima, Raden Mas Adipati Reksanegara sempat menghampirinya dan berkata, "Kangmas tunggu kehadiran kamu, Anjani."
Sial, belum apa-apa, pria itu sudah menggunakan kata mesra padanya.
Dan begitulah, hari demi hari berlalu dengan cepat. Pernikahannya disiapkan sedikit demi sedikit, mulai dari penentuan tanggal baik untuk menikah sesuai penanggalan jawa hingga sampai pada menyebarkan undangan. Selama masa itu, Anjani masih tinggal di rumah keluarganya sendiri dan ia sama sekali tidak mendapatkan surat apa-apa dari Raden Mas Adipati Reksanegara, padahal Laras dan Rara selalu mendapat surat dari calon mereka. Belum lagi dengan tekanan Kangmas Surya yang selalu berusaha menjebaknya. Kali ini pria itu lebih licik dan berani. Pria itu terus berusaha memperkosanya, sampai-sampai Anjani meminta Yu Marsinah tidur bersamanya di kamarnya, saking takutnya.
Beberapa hari sebelum hari pernikahan, Anjani menangis, karena tidak rela meninggalkan Kangmas Arya juga Yu Marsinah. Anjani sudah berkali-kali mengajukan permohonan pada Rama untuk mengizinkannya membawa Yu Marsinah ikut serta bersamanya. Namun, Rama tak kunjung memberikannya kepastian. Anjani sudah bisa membayangkan betapa kesepiannya hidupnya nanti di rumah barunya setelah menikah. Bagaikan burung dalam sangkar emas.
Seperti kematian yang datang tak diduga-duga, begitu pun dengan pernikahan Anjani. Dengan kereta kuda, Anjani dan kedua orangtuanya menghadiri pernikahan yang dilaksanakan di rumah utama Raden Mas Adipati Reksanegara di Sleman -yang nantinya juga menjadi rumahnya. Ketika kereta kuda Anjani sampai, semua tamu undangan sudah menunggu kehadirannya di dalam. Beberapa tamu terhormat pun hadir, baik yang berasal dari golongan pribumi juga dari Belanda.
Anjani saat itu memakai kebaya putih dan jarik dengan bunga kantil yang menghiasi rambutnya. Berbagai ritual pernikahan telah dilewati Reksa dan Anjani. Perayaan itu berlangsung hingga sore hari. Sebelum perayaan itu, Reksa serta Anjani berfoto bersama sebagai foto pernikahan mereka.
Dan malam yang sangat ditakuti Anjani pun tiba. Sebelum memasuki kamar pengantinnya, Anjani dipersiapkan terlebih dahulu oleh abdi dalem wanita yang ada di kediaman itu. Tubuhnya disiram air kembang, dilulur dan diberi kemenyan. Rambutnya pun juga dirawat dan diatur sedemikian rupa. Abdi dalem wanita di kediaman itu rata-rata berumur seperti Yu Marsinah -paruh baya. Ada juga yang masih muda dan bahkan yang masih kecil.
Yu Isma adalah abdi dalem wanita yang bertugas khusus untuk merawat dan menemaninya selama di kadipaten itu. Wanita itu berumur sama seperti Yu Marsinah, namun lebih gempal dan lebih serius. Ketika semua persiapan itu selesai, Anjani berjalan jongkok ke arah kamar pengantinnya yang letaknya dekat dengan beranda depan. Anjani menoleh ke belakang dan mendapati Yu Isma masih memantaunya dari jauh.
Anjani berdecak dengan perasaan enggan luar biasa. Saking enggannya, bukannya melanjutkan jalan jongkoknya ke kamar pengantinnya, Anjani malah bersujud di lantai. Yu Isma tampak bingung melihat nyonya baru mereka itu. Nyonyanya itu tetap berdiam di posisi yang sama, membuat Yu Isma semakin kebingungan dan panik di tempatnya.. Yu Isma langsung berlari kecil ke arah nyonya barunya itu. Dirapikannya bunga-bunga di rambut Anjani yang sudah tak beraturan, karena gerakan sujud yang tak terduga itu.
"Ndoro Ayu harus tahan. Hanya malam ini saja," ucap Yu Isma perhatian.
Anjani hanya mengangguk tak berdaya dan kembali berjalan jongkok dengan dituntun Yu Isma. Yu Isma mengira nyonyanya terlalu lelah, makanya bisa bertingkah seaneh itu. Yu Isma mengetuk pintu jati tinggi itu, sebab dilihatnya sang nyonya malah menyandarkan kening gadis itu di pintu tersebut, bukannya mengetuknya. Yu Isma pernah menemui beberapa pengantin wanita yang sama enggannya seperti nyonya barunya itu. Hanya saja wanita lain akan menangis semalaman sampai mata bengkak dan memberontak sebisa mungkin. Namun, nyonya barunya malah terlihat seperti orang yang tidak niat hidup.
Pintu itu terbuka dan menampilkan sang raden yang telah melepaskan blangkonnya. Reksa menatap Yu Isma kebingungan, ketika melihat wanita paruh baya itu juga berjongkok di depan pintu kamarnya. "Ndoro Ayu sepertinya lelah sekali, Raden," ucap Yu Isma.
__ADS_1
"Kamu lelah, Anjani?" tanya Reksa perlahan dengan nadanya yang selembut mungkin, berusaha untuk tidak menakuti gadis di bawahnya. Namun, Anjani tetap diam dan menatap lantai dengan tatapan lemahnya.
Tak adanya jawaban dari Anjani membuat Yu Isma panik, sebab hal itu adalah perilaku yang kurang ajar dan tak beretika. Digenggamnya pundak Anjani dengan lembut, kemudian berbisik pelan, "Raden bertanya, Ndoro Ayu. Sepatutnya untuk dijawab."
Meskipun bisikan, namun Reksa bisa mendengarnya dengan jelas. Karena itu, ia langsung menyela abdi dalemnya itu dengan nada yang pelan, "Ndak usah, Yu"
Reksa tiba-tiba saja membungkuk dan membawa Anjani masuk ke dalam gendongannya dengan mudah. Anjani melebarkan matanya kaget ketika ia menyadari dirinya kini sudah berada dalam pelukan suaminya sendiri. Ia refleks melingkarkan lengannya di leher Reksa dengan gerakan canggung. Pipi Anjani merah padam. Ini terlalu intim. Ia tidak pernah disentuh oleh pria seintim ini. Anjani bahkan bisa merasakan genggaman kuat Reksa di tubuhnya. Belum lagi, wangi pria itu kini juga ikut menempel di tubuhnya.
"Nuwun, Yu," ucap Reksa, sebelum mendorong pintu jati itu kembali menutup.
"Saya bisa jalan sendiri, Raden," ucap Anjani sembari menunduk, tidak berani menatap mata Reksa.
"Kangmas, Ni," balas Reksa, mengoreksi perkataan Anjani dengan lembut. "Kamu sudah resmi menjadi garwa saya."
"Saya bisa jalan sendiri... Kangmas," ulang Anjani sambil berdeham pelan.
"Kamu marah, karena Kangmas terlambat melamar kamu?" tanya Reksa dengan senyuman jenakanya, sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, menyisakan jarak cukup jauh dari Anjani.
"Ndak, Kangmas," jawab Anjani seadanya lagi dengan jantungnya yang berdegup sabgat kencang.
Mau tidak mau, Anjani tahu ia harus tidur dengan suaminya, sebab ia mengemban tanggung jawab untuk melahirkan keturunan. Hanya saja, Anjani masih sangat tidak nyaman, sekaligus ketakutan. Anjani tahu ia akan diperkosa malam ini oleh suaminya sendiri.
Tidak... ia tidak diperkosa.
Orangtuanya menjualnya secara tidak langsung pada pria di depannya, maka dirinya adalah properti pria itu sekarang. Pria di depannya bisa memperlakukannya sesuka hatinya dan Anjani tidak boleh menolaknya. Lagi, saat itu pemerkosaan dalam pernikahan tetaplah sesuatu yang konsensual, hanya karena sudah berstatus jelas.
__ADS_1
Reksa meraih kelingking Anjani kemudian tersenyum menatapnya. "Sentuhan kita memang hanya sebatas ini," gumam Reksa misterius.
Anjani mengerti maksud pria itu. Ia menarik kembali kelingkingnya dengan enggan, kemudian berkata, "Kangmas ndak perlu membuang-buang waktu untuk berbasa-basi seperti ini," ucap Anjani terang-terangan dengan perkataannya yang tajam, namun nadanya begitu lembut.
"Kalau Kangmas ingin meniduri Anjani sekarang, mau sebagaimana pun Anjani melawan, Anjani bukan tandingan Kangmas." gumam Anjani dengan wajah seriusnya, menatap kedua mata tenang pria itu. Mata Anjani mulai berkaca-kaca, dipenuhi ketakutan dan kegelisahan. "Kangmas tentu akan selalu menang. Perlawanan ini sia-sia. Karena itu, Anjani hanya meminta satu hal."
Air mata menitik di pipi Anjani ketika ia berusaha menguatkan dirinya sendiri, mengucapkan kalimat yang terasa begitu pedih di lidahnya. Andai ia memiliki kuasa untuk menolak pria di depannya, Anjani tidak mungkin memohon untuk sesuatu yang memang haknya, sebagai wanita baik-baik.
"Lakukan pelan-pelan," cicit Anjani lagi. "Perlakukan Anjani sebagai manusia dan hargai Anjani sebagai wanita. Anjani ndak akan melawan, karena itu tolong jangan bersikap kasar."
Perkataan Anjani jelas menampar Reksa lebih dari yang ia kira. Reksa tidak pernah menyangka Anjani akan setakut itu padanya dan menganggapnya sebagai pria bajingan yang tidak tahu diri. Sebagai pria normal, Reksa tentu memiliki gairah terhadap Anjani. Ketertarikan natural baik secara seksual maupun jiwa pada istrinya yang sekarang. Namun, sebergairah apa pun Reksa, ia tidak suka memaksa orang lain menurutinya, sebab ia bukan pengecut atau pun hewan tak berbudi di musim kawin.
"Kangmas ndak akan meniduri kamu malam ini, Ni," ucap Reksa, berusaha menenangkan Anjani.
Reksa tersenyum lagi, kemudian mengaitkan kelingkingnya di kelingking kecil Anjani. Menyatukannya, seolah keduanya tengah menjalin janji. Menyentuh Anjani sebatas kelingking saja sudah cukup untuk Reksa. Cukup untuk meyakinkan Anjani jika ia menyayangi gadis itu dan rela menunggunya. Sentuhan yang sederhana itu nyatanya berbicara lebih banyak tentang perasaan Reksa, daripada sekadar perkataan yang keluar dari bibirnya.
"Perlakukan Kangmas sebagai orang yang kamu sayangi, Ni dan hargai Kangmas sebagai suami kamu. Kangmas ndak minta banyak, karena itu, tolong percaya sama Kangmas," ucap Reksa lagi mengulang perkataan Anjani sebelumnya, namun dengan cara yang berbeda. Anjani mendongak dengan wajah terkejutnya. Matanya bertemu dengan tatapan tenang Reksa.
Kaitan di kelingking Anjani terlepas, namun pria itu malah menggenggam tangannya dengan cara yang sangat lembut, seolah tangan Anjani adalah berlian. Reksa menatap punggung tangan Anjani sejenak, sambil menelusurkan ibu jarinya di sana. Reksa menunduk dan memberikan kecupan lama dan lembut di punggung tangan Anjani.
"Selamat malam," ucap Reksa sebelum menarik tangannya dari tangan Anjani, lalu berdiri dari tempatnya duduk. Pria itu langsung berbalik dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Anjani dalam perasaan tidak percayanya.
...----------------...
__ADS_1
Kamera pada akhir abad ke 19. Kamera ini cukup besar untuk dipegang tangan dan ada biasanya ada kakinya sebagai penopang.