
"Ni..." erang Rara melengking, ketika mereka sudah naik ke kereta kuda. "Kan Mbak udah berkali-kali bilang, kita itu masih dipingit, ndak boleh keluar tanpa ditemani. Kalau Rama tahu, kita ndak dibolehin keluar lagi, Ni."
"Maaf, Mbak," ucap Anjani penuh penyesalan.
"Mana Kangmas Surya lagi yang mergokin
kamu," gumam Rara dengan panik.
"Nanti... nanti... Anjani yang bicara dengan Kangmas Surya," balas Anjani sambil memeluk kakaknya erat, karena merasa bersalah. "Jangan marah, Mbak..."
"Kamu ndak tahu, seberapa paniknya Mbak waktu Yu Marsinah bilang kamu kabur," ucap Rara dengan nadanya yang naik satu oktaf.
Anjani menoleh ke arah Yu Marsinah sambil menyipit tajam. Giliran Yu Marsinah yang cengengesan ke arah Anjani.
"Hanya sebentar..." Anjani berusaha membela diri sendiri sambil memeluk erat kakaknya. "Anjani tadi hanya ingin lihat pena."
"Ya tunggu dulu toh, Ni. Setelah Mbak beli benang, kita bisa ke tempat yang kamu mau," gumam Rara berusaha sabar. Rara merasa dirinya bertanggung jawab penuh atas Anjani, sehingga ketika gadis itu menghilang, ia panik setengah mati.
"Maaf, Mbak, maaf," gumam Anjani mengeratkan pelukannya. "Janji ini yang terakhir, Mbak."
Rara menghela nafas panjang, kemudian menepuk lengan adiknya yang memeluk lehernya erat. Meskipun berstatus adik tiri, namun Rara sangat menyayangi Anjani, sebab sejak dulu, ia memang menginginkan adik perempuan yang bisa diajak bermain. Rara juga dekat dengan Laras, hanya saja hubungannya dengan Laras lebih ke hubungan formal, sebab Laras nyatanya kakunya sama seperti Kangmas Surya. Sukar diajak bercanda.
"Setidaknya, Mbak bisa lihat yang ganteng," canda Rara sambil tertawa, membuat Yu menoleh kaget.
"Jaga mata, Mbak. Ganteng sedikit, langsung goyah," balas Anjani dengan tawa hangatnya.
"Ya gimana ndak goyah, kalau Raden Mas Reksanegara. Udah ganteng, baik, terhormat pula," jawab Rara sambil mengandaikan Raden Mas Reksanegara yang merupakan pujaan hatinya sejak dahulu.
"Tahu dari mana, Mbak?" tanya Anjani penasaran. Yu Marsinah pun juga ikut penasaran mendengarnya.
"Sudah bukan rahasia umum lagi, Ni," gumam Rara dengan tawa hangatnya. "Mbak, kenal dengan kakaknya Raden Mas Adipati Reksanegara. Sering bertukar surat juga. Informasinya dari situ juga, Ni."
"Dia anaknya siapa, Mbak?"
"Dia anaknya bupati Sleman, Ni. Sejak ayahnya meninggal, dia yang mengambil alih gelar bupati Sleman itu," balas Rara pelan. "Anehnya, sampai sekarang dia belum melamar siapa pun, padahal udah delapan tahun dia jadi Bupati Sleman."
"Sekarang umurnya berapa, Mbak?" tanya Anjani kaget.
__ADS_1
"Mbak kurang tahu, Ni, mungkin 27 tahun?" gumam Rara menebak-nebak. "Ah... ya... dia juga kabarnya pernah mau dapat beasiswa di perguruan tinggi Belanda."
Anjani melebarkan matanya kaget. "Itu susah ndak sih, Mbak?"
Beasiswa dari pemerintah Belanda sangatlah susah didapatkan. Beasiswa hanya diberikan pada orang-orang yang memang pintar, berpengaruh dan hebat. Anjani selalu bermimpi bisa mendapatkan tawaran tersebut, namun apalah daya, orangtuanya pasti tidak merestuinya. Membaca saja harus dipilah. Tersebarnya berita Kartini yang menulis artikel emansipasi wanita dan kritik konstruksi sosial, membuat orangtuanya menjadi sangat khawatir jika salah satu dari anak perempuannya berubah menjadi Kartini yang lain. Orangtuanya yang konservatif menganggap Kartini terlalu liberalis, terlalu meniru pemikiran londo yang tidak cocok dengan pemikiran ningrat dan kurang ajar sebagai seorang perempuan. Sejak saat itu, orangtuanya menyembunyikan buku-buku yang dianggap 'berbahaya'.
"Mbak kurang tahu susah apa ndaknya, tetapi dengar-dengar dia tolak tawaran tersebut, karena hanya dia saja satu-satunya laki-laki di keluarga Wiryadiningrat," gumam Rara lagi sambil menggidikkan bahunya. "Untunglah, dia tolak tawaran itu, Ni. Kalau bukan karena dia, Sleman ndak mungkin semaju sekarang."
"Bilang saja, kalau Mbak juga ndak ingin dia jauh-jauh, biar bisa lihat yang ganteng terus," goda Anjani yang disambut pukulan lembut di dahinya dengan kipas tangan Rara.
...----------------...
"Kangmas," panggil Anjani pelan ketika Kangmas Surya berpas-pasan dengannya. Keduanya saling bertatapan satu dengan yang lain. Anjani benci situasi ini, namun ia tidak memiliki pilihan lain, sebab pria itu bisa dengan mudahnya mengadukannya pada Rama. Jika Anjani saja yang dipingit selamanya, ia akan menerimanya dengan senang hati, namun masalahnya Anjani juga menyeret Mbak Rara di dalamnya.
"Ke ruang kerja Kangmas," ucap Surya dengan nada datarnya.
"Di.. sini aja, ndak papa, Kangmas," tolak Anjani berusaha sesopan mungkin.
"Kangmas juga ingin bicara sesuatu dengan kamu, Anjani," gumam Surya lagi, sebelum meninggalkan Anjani begitu saja memasuki ruang kerjanya, tanpa menerima penolakan.
"Kenapa?" tanya Kangmas Surya datar.
Anjani menelan ludahnya, kemudian berkata lagi, "Kangmas... Anjani minta tolong untuk... ndak mengadukan yang tadi pada Rama."
Pria itu terdiam di tempatnya. Cukup lama, sampai Anjani mendongakkan kepala, berusaha mencari jawaban. Keduanya bertatapan untuk beberapa lama, membuat Anjani gelisah sendiri.
"Kangmas ndak papa kalau mau lapor soal yang tadi, tapi Anjani mohon jangan seret Yu Marsinah dan Mbak Rara ke dalamnya," gumam Anjani lagi sambil meremas jariknya gelisah.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya singkat, seolah mengerti dengan apa yang diminta Anjani. "Kamu ke sini hanya untuk itu?" tanya Kangmas Surya lagi, membuat Anjani terdiam.
"I-iya, Kangmas. Kangmas sendiri ingin...
bilang apa?" gumam Anjani sambil melirik ke arah kakak sulungnya itu.
Pria itu tampak menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Kangmas rindu..."
Anjani melebarkan matanya kaget. Jantungnya bergemuruh lebih hebat. Inilah mengapa ia selalu menghindari berduaan dengan pria itu. Kangmas Surya sudah menaruh hati padanya sejak ia masih 13 tahun. Pria itu bahkan pernah berjanji akan menikahinya kelak -saat itu Anjani 14 tahun dan Kangmas Surya 23 tahun. Itu tentu saja sangat gila, sebab mereka masih satu darah, meskipun beda ibu.
__ADS_1
"H-hanya itu saja, Kangmas, Anjani pamit ke kamar," ucap Anjani, buru-buru bangkit dari kursinya dan bergegas ke pintu. Namun, sebelum ia sempat membuka pintu itu, tangan pria itu langsung sigap terulur dan menutupnya lagi. Anjani semakin panik dan gelisah. Ia refleks mundur dan tak sengaja tubuhnya membentur tubuh Kangmas Surya yang berdiri di belakangnya.
"Anjani," bisik Kangmas Surya, membuat bulu kuduk Anjani berdiri. Pria itu menggerakkan satu tangannya memeluk tubuh Anjani dari belakang dengan gerakan perlahan-lahan. Anjani berusaha menghindar, namun lagi-lagi ia membentur tubuh pria itu. Tangan Kangmas Surya yang menahan pintu, perlahan turun dan mengunci pintu kayu jati yang tinggi itu.
"Kangmas... ini ndak benar! Kita masih keluarga," gumam Anjani panik, merasakan keintiman yang tidak seharusnya.
"Kamu sendiri yang bilang ingin menikah dengan Kangmas, Ni. Kenapa sekarang kamu mengabaikan Kangmas?" ucap Kangmas Surya dengan nada sakit hatinya sambil memeluk Anjani semakin erat dengan kedua tangannya.
"Itu... itu dulu, Kangmas," gumam Anjani, semakin panik, ketika pelukan itu semakin erat di tubuhnya. "Anjani masih sembilan tahun saat itu."
"Sembilan tahun dan tujuh-belas tahun, apa bedanya, Ni? Umur hanya angka, perasaan kamu tetap sama," balas Kangmas Surya tidak terima, sambil menenggelamkan wajahnya di lekuk leher adik tirinya itu. Anjani berjengit dengan tubuh gemetar, kemudian berusaha terbebas dari pelukan pria itu. Namun, pria itu tidak kunjung melepaskannya dan memeluknya semakin erat.
"Perasaan Anjani sudah beda, Kangmas," ucap Anjani dengan nafas berat, menahan tangis kekesalannya. Ia merasa dilecehkan oleh kakak tirinya sendiri sekarang. Kangmas Surya tidak pernah melakukan hal senekat ini padanya sebelumnya. Apa yang dilakukan pria itu hari ini jelas melukai Anjani, sebagai seorang perempuan yang merasa dilecehkan.
"Kenapa? Karena kita keluarga?" balas Kangmas Surya tidak mau kalah. "Ibu kita berbeda, Ni!"
Anjani mengerahkan tenaganya lebih besar kali ini dan mendorong tubuh Kangmas Surya menjauh darinya. Kali ini, pria itu melepaskannya dan sedikit terhuyung, karena dorongan Anjani.
"Meskipun begitu, kita tetap Tjakradiningrat, Kangmas! Rama ndak mungkin merestui kita! Kangmas harus berhenti... berhenti menyimpan perasaan pada Anjani," seru Anjani dengan nafasnya yang memburu.
"Kamu takut dimarahi Rama, Ni?" tanya Kangmas Surya seolah mengerti letak kegusaran Anjani. "Apa hanya itu saja kegusaran kamu?"
"Kangmas ndak akan ngerti," ucap Anjani lagi, berusaha menjelaskan sebaik mungkin.
Kangmas Surya langsung melangkah mendekati Anjani, membuat Anjani refleks mundur dengan wajah kagetnya. Pria itu mencengkeram kedua pundaknya, kemudian menunduk ke arahnya. Anjani berusaha melepaskan genggaman pria itu, namun Kangmas Surya semakin mempererat cengkeramannya.
"Sekali pun Anjani ingin bersama Kangmas. Anjani ndak akan bisa jadi istri resmi Kangmas," gumam Anjani lagi, berusaha menyadarkan pria itu.
"Ya, kamu akan menjadi istri kedua Kangmas, Anjani," gumam Kangmas Surya sambil menangkupkan tangannya di wajah Anjani dan memaksa gadis itu mendongak ke arahnya. "Kita hanya perlu bersama, Ni. Status ndak penting. Kamu boleh menjadi simpanan atau istri kedua Kangmas, tetapi kamu harus tahu kalau Kangmas hanya sayang pada kamu."
Anjani takut. Ia tidak merasa tersanjung atau apa pun itu, namun ia malah merasakan ketakutan luar biasa pada kakak sulungnya ini. Pria ini seolah terobsesi padanya. Kangmas Surya menariknya masuk ke dalam pelukan pria itu. Tubuh Anjani gemetar hebat saking ketakutannya. Pikirannya membeku untuk sesaat. Kangmas Surya memeluknya sangat erat sampai Anjani bisa merasakan panas tubuh pria itu.
"Kangmas akan berbicara dengan Rama soal kita," ucap Kangmas Surya lagi sambil mengecup puncak kepala Anjani lembut. "Kangmas akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kamu, Ni. Kalau kita harus kawin lari pun, Kangmas bersedia melakukannya. Meninggalkan semuanya untuk kamu. Kita akan hidup bersama, membangun keluarga kecil yang bahagia. Kangmas ndak sabar melihat anak-anak yang mirip seperti kamu, Ni."
Anjani mengerutkan keningnya mendengar perkataan Kangmas Surya padanya. Pria itu begitu terobsesi ingin memilikinya. Tepat di saat yang sama, Anjani sadar.
Pria itu tidak mencintainya. Pria itu hanya ingin menyetubuhinya.
__ADS_1