
Raden Ajeng Anjani tenggelam bersama pikiran sang penulis buku. Ia begitu menikmati buku yang dibacanya. Setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat menciptakan bayangan baru dalam benaknya seolah ia sendiri yang menjadi karakter utama dalam buku itu. Buku itu memberinya pengetahuan baru, luas dan memberinya gambaran akan seperti apa kehidupan di luar sana.
Sebagai seorang gadis yang sudah mendapatkan masa menstruasi, Anjani dipingit oleh keluarganya sendiri. Ia tidak boleh keluar dari area tempat tinggalnya tanpa ditemani atau bahkan tanpa izin ayahnya. Jadilah Anjani mati kebosanan di area tempat tinggalnya. Memang ia masih menjalani beberapa rutinitas bersama kakak perempuannya yang sama-sama belum menikah sepertinya, hanya saja ia terkadang ingin kembali lagi ke masa sebelum dirinya dipingit dan masih diperbolehkan sekolah.
Kakaknya yang bernama Rara itu jauh lebih santun, berbudi dan patuh daripadanya. Anjani sendiri lebih berjiwa bebas, abstrak dan berandalan. Berapa kali ia menyelundupkan buku ke dalam kadipaten atau bahkan mencuri buku dari kamar kakak lelakinya. Tidak hanya itu saja, ia juga beberapa kali menyelinap keluar tanpa pengawalan dan pengawasan orang lain. Kalau ia ketahuan, bisa bisa ia digantung di depan gerbang kadipaten.
Saking tenggelamnya, ia sampai tidak menyadari jika ada langkah kaki yang mendekati kamar pingitannya. Anjani baru sadar ketika mendengar ketukan pintu dari arah luar. Dengan panik, Anjani langsung menyembunyikan buku itu ke balik bantalnya dan berpura-pura berbaring di ranjangnya. Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan kakaknya yang bernama Rara mendekatinya perlahan. Rara duduk di pinggir ranjang sambil meletakkan tangannya di tubuh Anjani yang berbaring menyamping.
"Wanita ndak boleh malas, Ni," ucap kakaknya pelan. "Bersih tubuh dulu, nggih? Setelah itu, kita mbatik di ruang tengah. Mbak udah minta izin Rama supaya kita bisa ke tengah kota minggu ini."
Anjani mengangguk kemudian mengikuti
kakaknya yang sudah berjalan di depannya.
Anjani menoleh ke belakang memastikan
buku selundupannya tetap aman
tersembunyi. Ia menghela nafas lega. Untung
saja tangannya bergerak cepat, jika tidak,
bukunya bisa disita.
Ketika keduanya sampai di ruang mandi, Yu
Marsinah sudah menyiapkan kemenyan, air
kembang dan baju ganti baik untuk Rara dan
Anjani. Yu Marsinah membantu keduanya
untuk melepaskan pakaian hingga tinggal
kemben batik dan jarik saja. Rara dan Anjani
pun duduk saling membelakangi, menunggu
air kembang itu membasuh kulit mereka.
"Mbak..." panggil Anjani pelan.
"Hm?" gumam Rara sambil menutup
matanya, menikmati wangi air kembang yang
kini mengalir di kulitnya.
"Ngapa ya Ibu ndak ngizinin kita baca buku?"
ucap Anjani pelan.
"Ya untuk apa toh," jawab Rara santai.
"Ya, ndak apa-apa, Mbak. Baca buku bisa
nambah wawasan. Siapa tahu nantinya bisa
terpelajar seperti Raden Ayu Kartini, anaknya bupati Jepara," gumam Anjani lagi, sambil menoleh ke arah kakak perempuannya yang tetap menutup matanya dengan santai. Nama Raden Ayu Kartini melejit ketika artikelnya dimuat di salah satu majalah waniga terkenal De Hoandsche Lelie, majalah yang dulu menjadi langganannya, ketika ia masih bersekolah. Artikel Kartini yang ditulis dalam bahasa Belanda itu sangat menggunggahnya untuk mengetahui banyak hal, termasuk isu sosial yang sedang marak saat itu. Ia seolah menjadi haus akan wawasan yang tidak akan pernah habis itu.
"Kamu masih terlalu muda, Ni," ucap Rara lagi. "Kita perempuan, kalau pun pintar, kita bisa apa? Lihat saja Kartini. Dia pintar, berani, namun tetap berakhir menikah dengan Bupati Rembang. Tetap berakhir menjadi seorang istri, pelayan suaminya dan pelayan keluarganya. Dimadu juga pada akhirnya. Mau berwawasan sebagaimana pun, kita ini tetap perempuan, Ni."
Anjani terdiam di tempatnya. Dinginnya air kembang seolah tak mampu menghilangkan betapa berkabutnya pikirannya. "Kita ndak ditakdirkan untuk menjadi berwawasan, Ni. Semakin berwawasan, kodrat kita sebagai wanita pun akan semakin hilang," lanjut Rara lagi dengan suaranya yang sabar.
"Kenapa begini ya, Mbak?" bisik Anjani lagi sambil menundukkan kepalanya. Yu Marsinah tetap menyiramkan air kembang ke tubuh Anjani dan Rara dalam diam, meresapi pembicaraan kedua majikannya.
"Ya ndak apa-apa toh. Jangan terpengaruh sama pemikiran londo, Ni, ndak cocok untuk orang ningrat seperti kita yang masih menjunjung tinggi kodrat dan harga diri," gumam Rara lagi sambil menoleh kemudian tersenyum ke arah adiknya. Rara meraih tangan Anjani kemudian menggenggamnya dengan erat. Anjani membalas senyuman Rara dengan senyumannya yang tipis.
Benar kata kakaknya, mau berwawasan sebagaimana pun, Anjani tetaplah hanya seorang perempuan. Mahkluk tanpa suara.
...----------------...
Sejak perkataan kakaknya, Anjani tidak bisa tidur barang sedetik pun. Hati kecilnya seolah meneriakkan bahwa semua ini tidak adil, namun apa yang bisa ia lakukan? Umurnya bahkan masih tujuh belas tahun. Memang matang untuk menikah, namun tetap saja wawasannya terhadap dunia sangat minim, apalagi fakta bahwa ia dipingit seperti burung dalam sangkar.
Ketika fajar tiba dan keluarganya masih tertidur, Anjani dengan segera memakai kebayanya dan menyanggul rambutnya secepat mungkin. Ia keluar dari kamarnya dengan wajah waspadanya, kalau-kalau Rama, Ibu atau Mbak Rara akan memergokinya pagi buta seperti ini menyelinap keluar.
Ketika dirasa Anjani sudah aman, ia berlari ke halaman belakang rumahnya, tempat dinding putih tinggi yang menjadi pembatas antara rumahnya dengan jalan sempit dan perkebunan kecil. Biasanya jalan sempit itu cukup ramai jika memasuki siang hari, namun saat jam seperti ini, jalanan itu masih sepi. Anjani melepaskan kedua sepatu yang dipakainya, kemudian melemparkannya melewati tembok tinggi itu. Ketika ia berniat untuk memanjat pohon mangga tinggi di samping tembok, tiba-tiba saja, Yu Marsinah menghampirinya dengan wajah paniknya.
"Gusti... Ndoro Ajeng..." ucap Yu Marsinah panik.
Anjani melebarkan matanya kaget ketika
melihat Yu Marsina. Ia menempelkan jari
telunjuknya di bibirnya, menyuruh Yu
Marsinah diam. "Jangan terlalu keras, Yu,
nanti ketahuan," gumam Anjani panik.
"Ndoro Ajeng sudah janji kalau yang kemarin
itu terakhir," gumam Yu Marsinah sambil
memelas. Jika nona kecilnya ketahuan pergi
tanpa pengawasan, ia juga akan dihukum.
"Ini i yang terakhir, Yu. Janji," gumam Anjani
sambil tertawa pelan, kemudian melepaskan
tangan Yu Marsinah pelan-pelan.
"Ndoro..." balas Yu Marsinah lagi dengan
wajahnya yang khawatir luar biasa.
"Janji, Yu. Janji," ucap Anjani, lalu memanjat
pohon mangga itu dengan mudahnya,
padahal ia memakai jarik dan kebaya.
Ketika sampai di atas tembok, Anjani
melambaikan tangannya pada Yu Marsinah,
sebagai ucapan perpisahan, sebelum
merangkak turun dengan bantuan pohon
di balik tembok tinggi tersebut. Ketika ia
menapakkan kakinya dengan selamat sentosa
di tanah, Anjani membersihkan kebaya dan
jariknya dari berbagai kotoran yang mungkin
melekat. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari satu sepatunya yang
ia lempar tadi. Anjani menggaruk kepalanya
kebingungan ketika ia tidak mendapatkan
benda tersebut.
__ADS_1
"Mencari ini?"
Suara tenang itu, membuat Anjani menoleh
kaget. Matanya langsung bertabrakan dengan
mata seorang pemuda priyayi bertubuh tinggi
dengan ageman rapi dan blangkonnya yang
menandakan pria itu adalah golongan ningrat
dan terpelajar. Pria itu memiliki tatapan
yang teduh dan tenang. Perawakannya
juga berwibawa dan tampak jauh lebih tua
darinya. Di tangan pria itu terdapat satu
sepatu yang sempat hilang tadi. Anjani
langsung mengatupkan kedua tangannya di
depan hidung memberi hormat, meskipun ia
tidak mengenal pria di depannya.
"Nggih, itu sepatu milik saya, Raden," ucap
Anjani lagi.
"Kamu... kabur?" tanya pria itu lagi dengan
wajah skeptisnya.
"Ndak... ndak," sergah Anjani cepat dengan
wajah kagetnya.
"Kenapa harus memanjat tembok, kalau begitu?" ucap pria itu sambil mengaitkan
kedua tangannya di belakang tubuhnya.
"Kamu anaknya, Raden Mas Adipati
Harya Tjakradiningrat?" Pria itu kembali
menyerangnya dengan pertanyaan lagi.
"Kamu anak perempuannya yang dipingit?"
"Ndak..." sergah Anjani merasa semakin
tersudut. "Itu... saya abdi dalem di rumahnya
Raden Mas Adipati Harya Tjakradiningrat,
nggih."
Anjani menatap pria di depannya dengan
wajahnya yang bersungguh-sungguh. Pria
itu terus menatapnya dengan tatapan tidak
percaya, membuat Anjani menyunggingkan
senyumannya yang membuatnya terlihat
pria itu tentu saja meningkat tajam melihat
senyuman Anjani yang tampak tidak biasa.
Pria itu menghela nafas pelan, kemudian
mengacungkan satu sepatunya di depan
wajahnya.
"Kamu mencari ini, kan?" gumam pria itu
lagi.
Anjani ingin meraih sepatunya itu,
namun pria itu dengan sigap langsung
menjauhkannya dari jangkauannya. Di luar dugaannya, Anjani mendapat pukulan
lembut -sangat lembut, hingga terasa seperti
usapan- di dahinya. Pria asing itu yang
menghadiahkan pukulan lembut tersebut di
dahinya.
"Ikut saya. Saya akan antarkan kamu kembali
ke kediaman kamu," gumam pria itu sambil
membalikkan tubuhnya dengan gayanya yang
berwibawa dan penuh kelas. Anjani panik
tentu saja. Pertama, jika ia diantar kembali,
tentu saja ia akan ketahuan kabur. Kedua,
ia akan digantung hidup-hidup bersama Yu
Marsinah. Ketiga, pohon mangga di rumahnya
akan ditebang sehingga ia tidak bisa pergi
ke mana-mana lagi. Itu adalah mimpi
terburuknya selama ia tinggal di kamarnya
yang pengap itu.
"Raden!" seru Anjani panik, kemudian
berlari dan menghadang jalan pria itu agar
tidak semakin jauh. Ternyata, pria itu tidak
sendirian di situ. Tak jauh dari mereka
terdapat kereta kuda, lengkap dengan sang
kusir dan asisten pribadi pria ningrat di
depannya.
Pria asing itu refleks menghentikan
__ADS_1
langkahnya agar ia tidak menabrak tubuh
gadis kecil di depannya dan melanggar tata
krama yang
berlaku di Hindia Belanda saat itu. Pria itu hanya menundukkan kepalanya
sambil menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Saya bukan urusan Anda!" seru Anjani
kurang ajar dan penuh amarah, membuat
pria asing itu tampak terkejut dengan tata
krama gadis muda di hadapannya.
"Bagaimana bisa bukan?" jawabnya tenang,
tidak terpancing nada tinggi gadis di
depannya. "Kamu adalah seorang gadis yang
masih dipingit. Kewajiban saya sebagai
seorang pria terpelajar untuk mengantarkan
kamu kembali ke kediaman kamu dengan
selamat. Apa perlu saya juga yang harus
mengajarkan kamu tata krama?"
Anjani mengerutkan keningnya tampak tidak
terima. "Anda bukan siapa-siapa saya," balas
Anjani lagi.
"Apa saya harus menjadi suami kamu dulu
untuk mengajarkan tata krama?" sindir
pria itu dengan nadanya yang tidak pernah
naik barang seoktaf pun, membuat Anjani
gelisah sendiri di tempatnya. Setelah berkata
demikian, pria itu tidak menunggu jawaban
Anjani lagi, melainkan berjalan melewati
gadis itu, seolah tampak sangat keras hati
ingin mengantarkannya pulang.
Anjani dengan penuh amarah, langsung
meninggalkan pria itu dan malah berjalan
ke arah yang berlawanan dengan langkah
yang cepat. Sang kusir tampak kebingungan
melihat Anjani malah berjalan berlawanan
arah dengan raden mereka.
"Nyuwun pangapunten, Raden," ucap sang
kusir sambil mengatupkan kedua tangannya
di depan hidung pada majikannya. "Orangnya
malah pergi berlawanan arah," lanjut
sang kusir sambil menunjuk Anjani yang
menghilang di balik perkebunan kecil dengan
ibu jarinya.
Pria itu membalikkan tubuhnya dan baru
menyadari hal itu. Ia menunduk dan
menyadari sebelah sepatu gadis itu masih
dalam genggamannya. Jadi, gadis itu pergi
hanya dengan sebelah sepatu saja? Tak
pernah sedikit pun ia menduga, orang
pertama yang ditemuinya di Klaten adalah
gadis pingitan yang berani dan menarik.
Senyuman geli tersungging di wajah pria itu
ketika menatap sepatu kecil itu di tangannya.
Baru pertama kali ia bertemu seorang gadis
ningrat seperti ini. Pengalaman yang bagus
untuk diceritakan pada anak cucu, mungkin
juga nantinya bisa menjadi cerita rakyat
tersendiri.
"Ndak apa-apa, Mas. Sepatunya bisa saya jadikan pajangan," canda sang raden yang membuat sang kusir tertawa sopan pada majikan mereka.
...****************...
Catatan:
Raden Ajeng adalah gelar untuk gadis yang belum menikah, sedangkan Raden Ayu adalah gelar untuk yang sudah menikah. Di cerita ini adalah waktu di mana Raden Ajeng Kartini sudah menikah, makanya dipanggil Raden Ayu.
Aku nggak bermaksud merendahkan Kartini. Di sini, aku hanya memposisikan diri sebagai gadis ningrat yabg konservatif dan pandangannya terhadap Kartini yang kontroversial saat itu.
Selamat menikmatiš„³
__ADS_1