Karsa

Karsa
Sepatu


__ADS_3

Raden Ajeng Anjani tenggelam bersama pikiran sang penulis buku. Ia begitu menikmati buku yang dibacanya. Setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat menciptakan bayangan baru dalam benaknya seolah ia sendiri yang menjadi karakter utama dalam buku itu. Buku itu memberinya pengetahuan baru, luas dan memberinya gambaran akan seperti apa kehidupan di luar sana.


Sebagai seorang gadis yang sudah mendapatkan masa menstruasi, Anjani dipingit oleh keluarganya sendiri. Ia tidak boleh keluar dari area tempat tinggalnya tanpa ditemani atau bahkan tanpa izin ayahnya. Jadilah Anjani mati kebosanan di area tempat tinggalnya. Memang ia masih menjalani beberapa rutinitas bersama kakak perempuannya yang sama-sama belum menikah sepertinya, hanya saja ia terkadang ingin kembali lagi ke masa sebelum dirinya dipingit dan masih diperbolehkan sekolah.


Kakaknya yang bernama Rara itu jauh lebih santun, berbudi dan patuh daripadanya. Anjani sendiri lebih berjiwa bebas, abstrak dan berandalan. Berapa kali ia menyelundupkan buku ke dalam kadipaten atau bahkan mencuri buku dari kamar kakak lelakinya. Tidak hanya itu saja, ia juga beberapa kali menyelinap keluar tanpa pengawalan dan pengawasan orang lain. Kalau ia ketahuan, bisa bisa ia digantung di depan gerbang kadipaten.


Saking tenggelamnya, ia sampai tidak menyadari jika ada langkah kaki yang mendekati kamar pingitannya. Anjani baru sadar ketika mendengar ketukan pintu dari arah luar. Dengan panik, Anjani langsung menyembunyikan buku itu ke balik bantalnya dan berpura-pura berbaring di ranjangnya. Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan kakaknya yang bernama Rara mendekatinya perlahan. Rara duduk di pinggir ranjang sambil meletakkan tangannya di tubuh Anjani yang berbaring menyamping.


"Wanita ndak boleh malas, Ni," ucap kakaknya pelan. "Bersih tubuh dulu, nggih? Setelah itu, kita mbatik di ruang tengah. Mbak udah minta izin Rama supaya kita bisa ke tengah kota minggu ini."


Anjani mengangguk kemudian mengikuti


kakaknya yang sudah berjalan di depannya.


Anjani menoleh ke belakang memastikan


buku selundupannya tetap aman


tersembunyi. Ia menghela nafas lega. Untung


saja tangannya bergerak cepat, jika tidak,


bukunya bisa disita.


Ketika keduanya sampai di ruang mandi, Yu


Marsinah sudah menyiapkan kemenyan, air


kembang dan baju ganti baik untuk Rara dan


Anjani. Yu Marsinah membantu keduanya


untuk melepaskan pakaian hingga tinggal


kemben batik dan jarik saja. Rara dan Anjani


pun duduk saling membelakangi, menunggu


air kembang itu membasuh kulit mereka.


"Mbak..." panggil Anjani pelan.


"Hm?" gumam Rara sambil menutup


matanya, menikmati wangi air kembang yang


kini mengalir di kulitnya.


"Ngapa ya Ibu ndak ngizinin kita baca buku?"


ucap Anjani pelan.


"Ya untuk apa toh," jawab Rara santai.


"Ya, ndak apa-apa, Mbak. Baca buku bisa


nambah wawasan. Siapa tahu nantinya bisa


terpelajar seperti Raden Ayu Kartini, anaknya bupati Jepara," gumam Anjani lagi, sambil menoleh ke arah kakak perempuannya yang tetap menutup matanya dengan santai. Nama Raden Ayu Kartini melejit ketika artikelnya dimuat di salah satu majalah waniga terkenal De Hoandsche Lelie, majalah yang dulu menjadi langganannya, ketika ia masih bersekolah. Artikel Kartini yang ditulis dalam bahasa Belanda itu sangat menggunggahnya untuk mengetahui banyak hal, termasuk isu sosial yang sedang marak saat itu. Ia seolah menjadi haus akan wawasan yang tidak akan pernah habis itu.


"Kamu masih terlalu muda, Ni," ucap Rara lagi. "Kita perempuan, kalau pun pintar, kita bisa apa? Lihat saja Kartini. Dia pintar, berani, namun tetap berakhir menikah dengan Bupati Rembang. Tetap berakhir menjadi seorang istri, pelayan suaminya dan pelayan keluarganya. Dimadu juga pada akhirnya. Mau berwawasan sebagaimana pun, kita ini tetap perempuan, Ni."


Anjani terdiam di tempatnya. Dinginnya air kembang seolah tak mampu menghilangkan betapa berkabutnya pikirannya. "Kita ndak ditakdirkan untuk menjadi berwawasan, Ni. Semakin berwawasan, kodrat kita sebagai wanita pun akan semakin hilang," lanjut Rara lagi dengan suaranya yang sabar.


"Kenapa begini ya, Mbak?" bisik Anjani lagi sambil menundukkan kepalanya. Yu Marsinah tetap menyiramkan air kembang ke tubuh Anjani dan Rara dalam diam, meresapi pembicaraan kedua majikannya.


"Ya ndak apa-apa toh. Jangan terpengaruh sama pemikiran londo, Ni, ndak cocok untuk orang ningrat seperti kita yang masih menjunjung tinggi kodrat dan harga diri," gumam Rara lagi sambil menoleh kemudian tersenyum ke arah adiknya. Rara meraih tangan Anjani kemudian menggenggamnya dengan erat. Anjani membalas senyuman Rara dengan senyumannya yang tipis.


Benar kata kakaknya, mau berwawasan sebagaimana pun, Anjani tetaplah hanya seorang perempuan. Mahkluk tanpa suara.


...----------------...


Sejak perkataan kakaknya, Anjani tidak bisa tidur barang sedetik pun. Hati kecilnya seolah meneriakkan bahwa semua ini tidak adil, namun apa yang bisa ia lakukan? Umurnya bahkan masih tujuh belas tahun. Memang matang untuk menikah, namun tetap saja wawasannya terhadap dunia sangat minim, apalagi fakta bahwa ia dipingit seperti burung dalam sangkar.


Ketika fajar tiba dan keluarganya masih tertidur, Anjani dengan segera memakai kebayanya dan menyanggul rambutnya secepat mungkin. Ia keluar dari kamarnya dengan wajah waspadanya, kalau-kalau Rama, Ibu atau Mbak Rara akan memergokinya pagi buta seperti ini menyelinap keluar.


Ketika dirasa Anjani sudah aman, ia berlari ke halaman belakang rumahnya, tempat dinding putih tinggi yang menjadi pembatas antara rumahnya dengan jalan sempit dan perkebunan kecil. Biasanya jalan sempit itu cukup ramai jika memasuki siang hari, namun saat jam seperti ini, jalanan itu masih sepi. Anjani melepaskan kedua sepatu yang dipakainya, kemudian melemparkannya melewati tembok tinggi itu. Ketika ia berniat untuk memanjat pohon mangga tinggi di samping tembok, tiba-tiba saja, Yu Marsinah menghampirinya dengan wajah paniknya.


"Gusti... Ndoro Ajeng..." ucap Yu Marsinah panik.


Anjani melebarkan matanya kaget ketika


melihat Yu Marsina. Ia menempelkan jari


telunjuknya di bibirnya, menyuruh Yu


Marsinah diam. "Jangan terlalu keras, Yu,


nanti ketahuan," gumam Anjani panik.


"Ndoro Ajeng sudah janji kalau yang kemarin


itu terakhir," gumam Yu Marsinah sambil


memelas. Jika nona kecilnya ketahuan pergi


tanpa pengawasan, ia juga akan dihukum.


"Ini i yang terakhir, Yu. Janji," gumam Anjani


sambil tertawa pelan, kemudian melepaskan


tangan Yu Marsinah pelan-pelan.


"Ndoro..." balas Yu Marsinah lagi dengan


wajahnya yang khawatir luar biasa.


"Janji, Yu. Janji," ucap Anjani, lalu memanjat


pohon mangga itu dengan mudahnya,


padahal ia memakai jarik dan kebaya.


Ketika sampai di atas tembok, Anjani


melambaikan tangannya pada Yu Marsinah,


sebagai ucapan perpisahan, sebelum


merangkak turun dengan bantuan pohon


di balik tembok tinggi tersebut. Ketika ia


menapakkan kakinya dengan selamat sentosa


di tanah, Anjani membersihkan kebaya dan


jariknya dari berbagai kotoran yang mungkin


melekat. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari satu sepatunya yang


ia lempar tadi. Anjani menggaruk kepalanya


kebingungan ketika ia tidak mendapatkan


benda tersebut.

__ADS_1


"Mencari ini?"


Suara tenang itu, membuat Anjani menoleh


kaget. Matanya langsung bertabrakan dengan


mata seorang pemuda priyayi bertubuh tinggi


dengan ageman rapi dan blangkonnya yang


menandakan pria itu adalah golongan ningrat


dan terpelajar. Pria itu memiliki tatapan


yang teduh dan tenang. Perawakannya


juga berwibawa dan tampak jauh lebih tua


darinya. Di tangan pria itu terdapat satu


sepatu yang sempat hilang tadi. Anjani


langsung mengatupkan kedua tangannya di


depan hidung memberi hormat, meskipun ia


tidak mengenal pria di depannya.


"Nggih, itu sepatu milik saya, Raden," ucap


Anjani lagi.


"Kamu... kabur?" tanya pria itu lagi dengan


wajah skeptisnya.


"Ndak... ndak," sergah Anjani cepat dengan


wajah kagetnya.


"Kenapa harus memanjat tembok, kalau begitu?" ucap pria itu sambil mengaitkan


kedua tangannya di belakang tubuhnya.


"Kamu anaknya, Raden Mas Adipati


Harya Tjakradiningrat?" Pria itu kembali


menyerangnya dengan pertanyaan lagi.


"Kamu anak perempuannya yang dipingit?"


"Ndak..." sergah Anjani merasa semakin


tersudut. "Itu... saya abdi dalem di rumahnya


Raden Mas Adipati Harya Tjakradiningrat,


nggih."


Anjani menatap pria di depannya dengan


wajahnya yang bersungguh-sungguh. Pria


itu terus menatapnya dengan tatapan tidak


percaya, membuat Anjani menyunggingkan


senyumannya yang membuatnya terlihat


pria itu tentu saja meningkat tajam melihat


senyuman Anjani yang tampak tidak biasa.


Pria itu menghela nafas pelan, kemudian


mengacungkan satu sepatunya di depan


wajahnya.


"Kamu mencari ini, kan?" gumam pria itu


lagi.


Anjani ingin meraih sepatunya itu,


namun pria itu dengan sigap langsung


menjauhkannya dari jangkauannya. Di luar dugaannya, Anjani mendapat pukulan


lembut -sangat lembut, hingga terasa seperti


usapan- di dahinya. Pria asing itu yang


menghadiahkan pukulan lembut tersebut di


dahinya.


"Ikut saya. Saya akan antarkan kamu kembali


ke kediaman kamu," gumam pria itu sambil


membalikkan tubuhnya dengan gayanya yang


berwibawa dan penuh kelas. Anjani panik


tentu saja. Pertama, jika ia diantar kembali,


tentu saja ia akan ketahuan kabur. Kedua,


ia akan digantung hidup-hidup bersama Yu


Marsinah. Ketiga, pohon mangga di rumahnya


akan ditebang sehingga ia tidak bisa pergi


ke mana-mana lagi. Itu adalah mimpi


terburuknya selama ia tinggal di kamarnya


yang pengap itu.


"Raden!" seru Anjani panik, kemudian


berlari dan menghadang jalan pria itu agar


tidak semakin jauh. Ternyata, pria itu tidak


sendirian di situ. Tak jauh dari mereka


terdapat kereta kuda, lengkap dengan sang


kusir dan asisten pribadi pria ningrat di


depannya.


Pria asing itu refleks menghentikan

__ADS_1


langkahnya agar ia tidak menabrak tubuh


gadis kecil di depannya dan melanggar tata


krama yang


berlaku di Hindia Belanda saat itu. Pria itu hanya menundukkan kepalanya


sambil menaikkan sebelah alisnya bertanya.


"Saya bukan urusan Anda!" seru Anjani


kurang ajar dan penuh amarah, membuat


pria asing itu tampak terkejut dengan tata


krama gadis muda di hadapannya.


"Bagaimana bisa bukan?" jawabnya tenang,


tidak terpancing nada tinggi gadis di


depannya. "Kamu adalah seorang gadis yang


masih dipingit. Kewajiban saya sebagai


seorang pria terpelajar untuk mengantarkan


kamu kembali ke kediaman kamu dengan


selamat. Apa perlu saya juga yang harus


mengajarkan kamu tata krama?"


Anjani mengerutkan keningnya tampak tidak


terima. "Anda bukan siapa-siapa saya," balas


Anjani lagi.


"Apa saya harus menjadi suami kamu dulu


untuk mengajarkan tata krama?" sindir


pria itu dengan nadanya yang tidak pernah


naik barang seoktaf pun, membuat Anjani


gelisah sendiri di tempatnya. Setelah berkata


demikian, pria itu tidak menunggu jawaban


Anjani lagi, melainkan berjalan melewati


gadis itu, seolah tampak sangat keras hati


ingin mengantarkannya pulang.


Anjani dengan penuh amarah, langsung


meninggalkan pria itu dan malah berjalan


ke arah yang berlawanan dengan langkah


yang cepat. Sang kusir tampak kebingungan


melihat Anjani malah berjalan berlawanan


arah dengan raden mereka.


"Nyuwun pangapunten, Raden," ucap sang


kusir sambil mengatupkan kedua tangannya


di depan hidung pada majikannya. "Orangnya


malah pergi berlawanan arah," lanjut


sang kusir sambil menunjuk Anjani yang


menghilang di balik perkebunan kecil dengan


ibu jarinya.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan baru


menyadari hal itu. Ia menunduk dan


menyadari sebelah sepatu gadis itu masih


dalam genggamannya. Jadi, gadis itu pergi


hanya dengan sebelah sepatu saja? Tak


pernah sedikit pun ia menduga, orang


pertama yang ditemuinya di Klaten adalah


gadis pingitan yang berani dan menarik.


Senyuman geli tersungging di wajah pria itu


ketika menatap sepatu kecil itu di tangannya.


Baru pertama kali ia bertemu seorang gadis


ningrat seperti ini. Pengalaman yang bagus


untuk diceritakan pada anak cucu, mungkin


juga nantinya bisa menjadi cerita rakyat


tersendiri.


"Ndak apa-apa, Mas. Sepatunya bisa saya jadikan pajangan," canda sang raden yang membuat sang kusir tertawa sopan pada majikan mereka.


...****************...


Catatan:




Raden Ajeng adalah gelar untuk gadis yang belum menikah, sedangkan Raden Ayu adalah gelar untuk yang sudah menikah. Di cerita ini adalah waktu di mana Raden Ajeng Kartini sudah menikah, makanya dipanggil Raden Ayu.




Aku nggak bermaksud merendahkan Kartini. Di sini, aku hanya memposisikan diri sebagai gadis ningrat yabg konservatif dan pandangannya terhadap Kartini yang kontroversial saat itu.




Selamat menikmati🄳

__ADS_1


__ADS_2