
Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya siang itu, Anjani memilih untuk duduk di halaman belakang sambil menggambar Asih yang duduk berlutut tak jauh darinya. Asih terus menundukkan kepalanya dan tak berani melihatnya sama sekali, membuat Anjani menghela nafas pelan. Dahulu, meskipun berstatus abdi dalem, Yu Marsinah tidak pernah sesungkan ini padanya. Yu Marsinah bahkan masih bisa bercanda dengan Anjani dan bahkan Kangmas Arya. Di sini, semua abdi dalem memperlakukannya seolah dia adalah ratu yang bahkan tak boleh dipandang sekali pun.
Anjani ikut duduk di lantai bersama Asih, membuat Asih langsung sungkan bukan main dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. "Lantai terlalu kotor bagi Ndoro Ayu," ucap Asih begitu sungkannya.
"Ini kamu, Sih," ucap Anjani lagi sambil menyodorkan kertas hasil gambaran tangannya pada Asih yang masih membungkuk dalam-dalam.
"Saya ndak pantas menerimanya, Ndoro Ayu," ucap Asih lagi dengan perasaan sungkannya yang semakin menjadi-jadi.
Anjani kembali menghela nafas pelan, lalu meraih tangan Asih dan memberikan kertas itu padanya. "Saya memaksa, Sih," ucap Anjani lembut dengan senyumannya yang membuat Asih tertegun.
Asih menatap gambar wajahnya itu dengan tatapan terharunya. Pemberian majikannya adalah sesuatu yang sangat berharga, meskipun hanyalaj gambar saja. Asih kembali membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan mengucapkan banyak terima kasih pada Anjani. Anjani menyunggingkan senyuman hangatnya pada Asih, lalu beringsut mendekati gadis sepantarannya itu.
Anjani menunjuk huruf tegak bersambung di kertas itu dan mengejanya pelan, "A-sih. Ini kamu."
Asih tampak tertarik melihat tulisan Anjani, kemudian mengikuti ejaan majikannya. "A-sih," gumamnya lagi, membuat Anjani tersenyum karenanya.
"Kamu bisa baca hanacaraka, nggih?" tanya Anjani lagi yang disambut anggukan bersemangat dari Asih.
"Nah, ini namanya huruf latin," ucap Anjani lagi sambil menunjuk goresan nama gadis itu di kertas. "Nama kamu cantik, seperti orangnya."
Asih kembali tersenyum malu-malu dan tampak lebih rileks di sekitar majikan barunya itu. Anjani dengan bersemangat, langsung mengambil kertas baru, begitu pun dengan penanya. Diletakkannya kertas itu di antara keduanya, lalu Anjani menuliskan urutan abjad latin dari a sampai dengan z.
"Ini bacanya 'a'," ucap Anjani, menunjuk huruf 'a' pada kertas itu. Ucapan Anjani pun ditiru dengan baik oleh Asih.
Anjani mengajari Asih membaca huruf latin hanya dengan bantuan kertas lusuh dan pena saja. Ia bahkan mengajari gadis itu cara mengeja dan menulis huruf Romawi yang benar. Anjani tidak pernah sekali pun bermimpi ingin menjadi guru. Cita-citanya adalah menjadi seorang jurnalis, namun ketika melihat Asih tampak sangat antusias dengan pelajaran singkat dan sederhananya sore itu, hati Anjani langsung menghangat.
Anjani menatap Asih yang tampak sedang mencoba menirukan tulisan huruf latinnya di kertas itu. Anjani tersenyum kecil. Ah ya, mengapa ia tidak melakukan ini dari awal? Daripada kabur, lalu menyendiri dan tidak menghasilkan apa-apa, seharusnya Anjani mengajari abdi dalem di rumah lamanya pengetahuan dasar. Anjani sadar ia terlalu egois dan terlalu membuang waktunya.
"Asih..." ucap Anjani pelan.
Asih langsung menghentikan gerakan menulisnya dan menatap Anjani dengan tatapan penuh perhatiannya. "Nggih, Ndoro Ayu?"
"Kamu sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Anjani lagi sambil memeluk kedua lututnya dan memandang abdi dalem yang seumuran dengannya itu.
"Saya sudah bekerja di sini sejak masih di rumah lama, Ndoro Ayu," gumam Asih sopan.
__ADS_1
"Kenapa kamu bekerja di sini?"
"Rama bekerja di sini sebagai abdi dalem, jadi Asih juga diajak untuk mengabdi di sini, Ndoro Ayu," jawab Asih lagi dengan nada pelannya.
"Kamu anak tunggal, Sih?"
Asih menggelengkan kepalanya dengan senyuman tenangnya. "Asih sembilan bersaudara. Asih adalah anak terakhir."
"Di mana kakak kamu?"
"Kakak perempuan Asih semua sudah menikah. Ada yang menikah dengan guru, haji, priyayi dan menjadi gundik," jawab Asih lagi dengan senyuman sabarnya. Asih terlampau sabar untuk anak-anak seumurannya. "Kakak laki-laki Asih semuanya menjadi orang terhormat di kota. Ada yang menjadi juru tulis dan guru."
Anjani tampak mengerutkan kening tidak mengerti ketika mendengar penjelasan Asih. "Apa kakak-kakak kamu ndak membantu kamu sama sekali, Sih? Apalagi mereka telah jadi orang terhormat di kota."
Asih menggelengkan kepalanya dengan mata berairnya. "Orang kota terlalu terhormat untuk orang kampung seperti saya, Ndoro Ayu. Saya ndak pantas bersanding dengan mereka," jelas Asih lagi membuat hati Anjani mencelus.
"Mereka pun ndak mengajari kamu baca-tulis sama sekali?" tanya Anjani kaget.
Asih menggelengkan kepalanya sambil tepekur di tempatnya. "Kata Rama, sia-sia saja mengajari wanita baca-tulis, sebab pada akhirnya mereka akan berakhir di dapur saja."
Terlalu lama Anjani berada di sangkar emas. Terlalu lama Anjani dipingit, hingga ia tidak menyadari kenyataan di luar tembok rumahnya yang nyaman. Masih adanya segregasi yang begitu nyata, bahkan dalam bangsanya sendiri. Antara orang kota dan kampung; antara laki dan perempuan; antara priyayi dan rendahan; antara buta huruf dan yang tidak. Segregasi ini seolah menjadi kebiasaan yang begitu mendarah daging, hingga dipandang lazim bahkan oleh bangsa sendiri.
Asih tersenyum sedih, kemudian meremas jariknya. "Saya, Ndoro Ayu," jawab Anjani tampak sangat sungkan, sekaligus malu.
Belum sempat Anjani menjawab, tiba-tiba saja Narto berlari panik dari area samping rumahnya ke arah undakan tangga yang menghubungkan antara rumah utama dan jalan setapak di kebun belakang. Narto langsung berlutut di undakan terendah tangga itu kemudian memberi salam pada majikannya dengan tergesa.
"Ndoro Ayu Djenar berkunjung ke rumah ini, Ndoro Ayu," ucap Narto dengan tergesa, membuat Anjani syok, sekaligus panik setengah mati.
"Ndoro Ayu Djenar?" ulang Anjani yang mulai gopoh di tempatnya, begitu pun dengan Asih. "Di mana dia sekarang?"
"Ndoro Ayu Djenar sedang menunggu di beranda tamu, Ndoro Ayu," ucap Narto lagi sambil menundukkan kepalanya.
Anjani panik setengah mati, sebab ibu mertuanya sendiri yang mengunjunginya. Anjani bahkan tidak dikabari sama sekali mengenai kunjungan ibu mertuanya. Kangmas Reksa tidak mengatakan apa-apa sebelumnya, bahkan ia tidak menerima surat apa pun mengenai kedatangan tiba-tiba ini. Anjani langsung merapikan dirinya sendiri kemudian bergegas ke beranda tamu. Ketika jaraknya dengan beranda tamu semakin dekat dan terlihat, Anjani langsung berjongkok dan berjalan, menuruti tata krama yang diajarkan padanya sejak kecil. Langkahnya dibuat setenang mungkin dan sebaik mungkin, meskipun kakinya mulai kesemutan.
Ketika sampai di depan ibu mertuanya, Anjani duduk setengah berlutut di lantai, kemudian memberi salam sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Salam, Bu," ucap Anjani sopan dan lembut.
"Ke sini, Nak," pinta Djenar tak kalah lembutnya. Anjani mendekati ibu mertuanya itu, masih dengan berjalan jongkok. Ia melakukan sungkeman pada ibu mertuanya yang dibalas dengan usapan lembut di kepalanya, sebagai tanda berkat dan restu. Setelahnya, barulah Djenar mengizinkan Anjani duduk di sebelahnya.
"Sehat, Nak?" tanya Djenar lagi.
"Berkat pangestu Ibu," jawab Anjani dengan sikapnya yang mencerminkan seorang wanita ningrat yang sempurna.
Djenar tersenyum kemudian meraih tangan Anjani dengan lembut. Diusapnya tangan gadis itu, sebelum berkata, "Sudah hampir sebulan, Nak, Ibu menunggu kabar gembira dari rumah ini."
Anjani tertegun. Ia mulai panik. Anjani tahu kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba itu pasti membahas masalah yang tak jauh dari kehamilannya. "Nggih, Bu," jawab Anjani sopan.
Mendengar jawaban Anjani, Djenar masih merasa sangat tidak puas. "Mungkin kamu ingin makan sesuatu?" tanya Djenar lagi, berusaha mengorek informasi dari menantunya.
"N-ndak, Bu," jawab Anjani kebingungan mendengar pertanyaan itu. Percakapan mereka terhenti ketika Yu Isma berjalan jongkok dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. Setelah pelayanan sempurna Yu Isma itu selesai, Djenar kembali fokus untuk mengorek Anjani.
"Mungkin kamu sering mengantuk?" tanya Djenar mulai tidak sabaran.
Anjani menundukkan kepalanya dalam-dalam kemudian berkata, "Anjani sehat, Bu."
Djenar mengerutkan keningnya tampak sangat tidak puas. Berbagai pikiran negatif mulai berseliweran di otak Djenar. Ia semakin gelisah di tempatnya ketika menghadapi kemungkinan jika menantunya mandul dan tak bisa memberikan Reksa penerus takhta bupati itu.
"Anjani," ucap Djenar lembut, meskipun hatinya sangat gelisah. Dinaikkannya dagu Anjani agar mata menantunya itu menatap langsung ke matanya. "Dengar, setiap wanita hakikatnya harus bisa melahirkan seorang anak untuk suaminya."
Anjani mulai mengerti maksud pertanyaan aneh yang dilontarkan ibu mertuanya padanya. Djenar mengangguk mengiyakan seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Anjani. "Reksa adalah seorang bupati. Dia juga masih memiliki hubungan keluarga yang kental dengan Ngarsa Dalem. Jika Reksa tidak kunjung memiliki anak, wajah keluarga kita akan tercoreng," jelas Djenar lagi sambil mengelus pipi Anjani dengan sikap penuh keibuannya.
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan ibunya dengan wajah polosnya.
"Karena itu, kamu harus menghasilkan anak, Anjani. Paling penting, anak itu harus laki-laki. Perempuan memang baik, tetapi bukan yang utama," gumam Djenar lagi sambil meremas tangan Anjani, seolah memberi gadis itu pengertian. "Sekali kamu melahirkan anak laki-laki, Nak, kamu akan memegang kekuatan yang besar. Eyang sering mengatakan jika anak laki-laki adalah kekuatan ibunya dan itu memang benar."
Anjani merasa seperti disenggol oleh perkataan ibu mertuanya itu. Ia tetap terdiam dengan lidahnya yang kelu luar biasa.
Djenar menghela nafas pelan sambil menatap tangan Anjani yang berada dalam genggamannya. "Sebagai perempuan tentu saja kamu memahami semua yang Ibu katakan," lanjut Djenar lagi sambil mengangkat pandangannya menatap Anjani dengan tatapan serius. "Perempuan yang ndak bisa menjalankan kewajiban dasarnya adalah perempuan yang 'rusak', Nak."
Anjani menggigil di tempatnya. Meskipun nada suara Djenar lembut dan penuh keibuan, namun Anjani tahu wanita itu sedang mengancamnya secara tersirat.
__ADS_1
"Perempuan baik-baik saja bisa dengan mudahnya tergantikan, apalagi yang 'rusak', Nak?" lanjut Djenar lagi, membuat Anjani terpukul hebat. Tubuhnya menggigil hebat mendengar perkataan ibu mertuanya sendiri.
Anjani sudah mempersiapkan dirinya untuk hal seperti ini, namun mengapa hatinya tetap terasa berat?