
Izin sudah diturunkan oleh Rama dengan berbagai persyaratan tentu saja. Pertama, sudah pasti harus dikawal dan ditemani, mengingat mereka masih gadis yang harus dipingit. Kedua, tidak boleh adanya interaksi intim dengan lelaki, meskipun dengan yang ningrat sekali pun atau bahkan dengan londo. Hanya boleh menyapa sopan dan berbincang beberapa menit, lalu pergi. Itu sudah menjadi etika dan tata krama tersendiri bagi keturunan ningrat saat itu.
"Loh, Ni, sepatumu kok cuma tinggal satu?" tanya Rara kebingungan ketika melihat sepatu adiknya hanya tersisa satu di halaman depan rumah.
"Oh itu, Mbak... eh... dibawa anjing kalau ndak salah, ya to mbok?" ucap Anjani sambil cengengesan kemudian menoleh dan menatap Yu Marsinah dengan tatapan penuh isyaratnya.
Yu Marsinah yang untungnya mengerti
dengan kode majikannya langsung tersenyum,
kemudian mengangguk, "Nggih, Ndoro
Ajeng."
"Loh, kok bisa di rumah ada anjing?" tanya
Rara kebingungan, sebab hewan seperti itu
tentu saja haram masuk ke wilayah tempat
tinggal yang terhormat dan terjaga seperti ini.
"Oh, nggih, itu ndoro... eh... Mas Wiryo lupa
kunci gerbang depan waktu sore, terus
anjing liarnya masuk, lalu bawa kabur sepatu
Ndoro Ajeng Anjani," jelas Yu Marsinah agak
terpatah-patah, namun berhasil mengarang
cerita yang sempurna, membuat Anjani
tersenyum penuh persetujuan pada asisten
kadipatennya itu.
Rara tampak terdiam sebentar mengamati
adiknya, lalu Yu Marsinah, sebelum akhirnya
mengangguk. "Lain kali, suruh Mas Wiryo
lebih berhati-hati ya, Yu," gumam Rara
pada Yu Marsinah yang ditanggapi dengan
anggukan patuh dan sopan.
Rara mengalihkan pandangannya pada
adiknya kemudian menghela nafas pelan.
"Pakai sepatunya Mbak Laras ndak papa to,
Ni?"ucap Rara menawarkan.
Laras adalah kakak perempuan tertua di
keluarga itu. Dia sudah menikah dengan
seorang pria ningrat yang merupakan anak
kedua dari Bupati Pasuruan. Anjani sendiri
anak terakhir dari lima bersaudara.
Kakak pertamanya adalah Raden Mas Surya
Tjakradiningrat, yang mana merupakan
kakak tirinya. Kedua adalah Raden Ayu
Larasati yang sudah menikah. Ketiga adalah
kakak laki-laki kandungnya yang bernama
Raden Mas Arya Tjakradiningrat. Lalu,
barulah Raden Ajeng Rara dan dirinya yang
terakhir. Mas Surya, Mbak Laras dan Mbak
Rara berasal dari ibu sah yang mana nyonya
rumah itu juga yaitu Raden Ayu Lasmi
Tjakradiningrat, sedangkan dirinya dan Mas
Arya adalah anak yang berasal dari hubungan
__ADS_1
terlarang ayahnya dengan pembantu di
tempat tinggalnya itu. Ibu kandungnya sendiri
meninggal ketika melahirkan dirinya, akibat
pendarahan hebat.
Anjani tidak sering bertemu dengan Kangmas
Surya, sebab pria itu jarang berada di area
tempat tinggal. Kangmas Surya lebih sering
mengikuti Rama berpergian, sebab dia
adalah penerus takhta Bupati Klaten yang
selanjutnya. Anjani lebih dekat dengan dua
kakak tiri perempuannya dan kakak laki-laki
kandungnya, yaitu Kangmas Arya. Hanya saja Kangmas Arya pun juga membantu Kangmas
Surya, sehingga lagi-lagi jarang berada di
rumah.
Kereta kuda sudah menunggu keduanya
di depan gerbang rumahnya. Anjani
memanjat naik kereta kuda itu, kemudian
membantu kakak dan pembantunya
juga ikut naik. Kereta kuda itu langsung
meluncur meninggalkan rumah ke tengah
kota yang ramai. Perkebunan dan sawah
kecil menjadi pemandangan Anjani sejauh
mata memandang. Ia menikmati hawa
sejuk di sekitar rumahnya sambil menutup
matanya sendiri. Suara serangga saling
perjalanan mereka. Jalanan itu memang mulai
ramai oleh kereta kuda yang mengangkut
hasil panen,
ternak dan terkadang juga
mengangkut bangsawan ningrat, maupun
londo.
Ketika sampai di tengah kota, ketiga
perempuan itu langsung turun dari kereta
kuda. Rara langsung menggandeng Anjani,
meninggalkan Yu Marsinah yang berjalan di
belakang. Mata Anjani bertemu dengan mata
seorang wanita pribumi dengan pakaian
ningratnya. Wanita itu menggandeng balita
dengan wajahnya yang terlihat sekali jika
anak itu ada darah Belanda dalam tubuhnya.
"Apa rasanya ya, Mbak, jadi gundik?" gumam
Anjani ketika mereka cukup jauh dari
perempuan itu.
"Jangan aneh-aneh," tegur Rara marah sambil
memukulkan kipas tangannya ke dahi Anjani.
"Kita ini sudah terlahir baik-baik jadi wanita
__ADS_1
ningrat, Ni, kamu malah pengen jadi gundik."
"Kenapa gundik sebegitu hinanya, Mbak?"
tanya Anjani kebingungan.
"Ya, karena mereka simpanan, Ni. Simpanan
londo pula. Mereka ndak ada bedanya sama
pelacur, Ni," jawab Rara.
"Simpanan ningrat berarti ndak ada bedanya
sama pelacur juga, Mbak?" tanya Anjani lagi.
Ibunya kan... simpanan ayahnya...
"Beda, Ni," ucap Rara sambil menggenggam
tangan Anjani lembut.
Baru saja Anjani ingin bertanya, Rara
sudah menarik Anjani memasuki toko kain
dan benang. Rara langsung melepaskan
genggamannya di tangan Anjani segera
memasuki toko yang sangat disukai Rara
itu. Kakaknya memang suka menjahit dan
merajut. Sprei bantal kepala Anjani saja dibordir manual oleh kakaknya. Di saat Rara sibuk memilah benang, Anjani berjalan mundur sedikit demi sedikit, berniat kabur dari toko itu.
Yu Marsinah yang melihat Anjani langsung menatapnya panik. "Ndoro mau ke mana? Jangan jauh-jauh."
"Cuma di sebelah aja, Yu," ucap Anjani sambil cengengesan.
Tuh kan mulai berulah lagi, nonanya satu ini. Bisa-bisa serangan jantung dirinya menangani sang Ndoro Ajeng bungsu ini.
"Ndak boleh, Ndoro," balas Yu dengan wajah memohonnya. "Ndoro Ajeng statusnya masih dipingit, ndak boleh ke mana-mana sendirian."
"Ndak papa, Yu... sebentar... aja," gumam Anjani lagi sambil menepuk lembut lengan Yu Marsinah, lalu langsung kabur begitu saja. Yu Marsinah berusaha mengejar, namun ia tersadar masih ada satu Ndoro Ajeng-nya lagi yang tidak bisa ia tinggal begitu saja.
Anjani langsung berjalan cepat, melambaikan tangannya pada Yu Marsinah sebagai tanda perpisahan sementara. Senyuman cerah tersungging di wajah Anjani. Anjani tahu sebentar lagi Yu Marsinah akan demam, saking stresnya melihat kelakuannya yang tidak pernah benar. Untuk mencegah stres Yu Marsinah semakin besar, Anjani langsung bergegas memasuki toko buku yang juga menjual kertas, pena dan tinta.
Baru saja Anjani masuk ke toko itu, ia langsung tak sengaja berpas-pasan dengan kakak sulungnya, Raden Mas Surya Tjakradiningrat. Di sebelah Kangmas Surya, berdiri seorang pria familiar yang menatapnya dengan tatapan kaget.
"Ni?" gumam Kangmas Surya kaget.
"Kangmas," ucap Anjani keringat dingin, tertangkap basah, pergi tanpa teman.
"Sendirian, Ni?" balas Kangmas Surya dengan nada tidak senangnya.
"Itu... ada Mbakyu Rara sama Yu Marsinah, Kangmas," jawab Anjani sambil tersenyum manis, berusaha meluluhkan kakak sulungnya itu.
"Di mana mereka?"
"Di sebelah sana."
Kangmas Surya tampak mengerutkan kening marah, ketika mendengar pengakuan Anjani. Namun, ia tersadar di sebelahnya berdiri temannya yang berasal dari golongan ningrat juga. Tidak mungkin, bukan, ia menimbulkan drama keluarga di depan orang yang sangat ia segani itu?
"Ini, adhik saya yang terakhir, Mas. namanya Anjani," ucap Kangmas Surya tiba-tiba saja melupakan kemarahannya dan malah memperkenalkan Anjani pada temannya.
"Ini teman Kangmas, namanya Raden Mas Adipati Reksanegara Wiryadiningrat," lanjut Kangmas Surya, memperkenalkan temannya pada Anjani
Mata keduanya bertemu untuk beberapa saat. Anjani mengumpat dalam hati. Demi apa pun di dunia ini, sekarang nyawanya ada di tangan pria di depannya. Sekali pria itu membocorkan kenakalannya di luar batas itu, katakan sampai jumpa pada pohon mangga, sekaligus dunia bebasnya. Anjani hanya berdoa semoga pria di depannya tidak mengingatnya -kalau pun pria itu mengingatnya, semoga saja ia tidak berulah. Bila perlu Tuhan cabut nyawa pria itu di tempat pun, Anjani rela. Mana sepatunya juga masih dimiliki pria itu.
Anjani menyatukan kedua tangannya di depan hidung kemudian memberikan salam. Di sisi lain pria itu hanya mengangguk kecil sebagai balasan. Tepat pada saat yang sama Yu Marsinah tiba dengan nafas ngos-ngosan, begitu juga dengan Rara yang berusaha sekuat mungkin agar tidak berlari, sebab seorang gadis ningrat yang terpelajar tidak boleh berlari dan urakan -kata ibunya. Anjani menoleh kemudian melebarkan matanya kaget. Hancur lebur rencananya. Anjani menggigit bibirnya gugup.
Rara merapikan penampilannya, sebelum menghampiri ketiganya. Rara tersenyum sopan pada kedua pria di depannya. Kangmas Surya langsung menunaikan tugasnya untuk saling mengenalkan Rara dan Reksanegara.
"Kalau begitu duluan ya," ucap Kangmas Surya berpamitan, memberikan pesan mematikan lewat tatapan matanya pada Anjani. Di sisi lain, Anjani menangkap senyuman tipis dari Raden Mas Reksanegara.
"Semoga kita bisa bertemu lagi," pamit Raden Mas Adipati Reksanegara pada Anjani dan Rara.
Ketika Raden Mas Reksanegara melewatinya, punggung tangan keduanya tak sengaja bersentuhan, membuat jantung Anjani melompat tak karuan. Tak sampai beberapa detik, Anjani merasakan kelingking pria itu sengaja dikaitkan ke kelingkingnya, lalu semuanya berlalu begitu saja, seolah tak ada yang terjadi. Anjani menelan ludahnya dengan seragan jantung mendadak. Itu adalah sentuhan pertama yang ia dapatkan dari pria asing.
Sederhana memang, tetapi mengapa pipinya merona sekarang?
...----------------...
Catatan penulis.
Gundik atau nyai adalah simpanan orang londo (Belanda). Gundik atau Nyai saat itu dipandang rendah, baik oleh pribumi maupun non pribumi. Anaknya yang campuran atau sering disebut Indo, barulah derajatnya sama seperti ayahnya yang keturunan Eropa. Dan pada saat ini segregasi masih sangat kental. Golongan Eropa menduduki kasta tertinggi, golongan timur asing di kasta kedua dan golongan pribumi di kasta terendah. Ya, pada masa kolonial, ibaratnya kita budak di tanah nenek moyang kita sendiri. Tidak bermaksud membuka luka lama, tetapi dijadikan pembelajaran saja🙂
__ADS_1
Jika ada yang salah mohon dikoreksi. Terima kasih sudah mengkoreksi chapter pertama. Akan aku revisi sepenuhnya ketika naskah ini selesai🙏
Selamat menikmati🎉