
Masih berkutat pada gawai, Gelar kembali menyemburkan tawa. Merasa konyol sendiri. Level kebucinan pria itu di atas normal.
Bayangkan! Memori benda pipih itu nyaris habis hanya untuk menyimpan foto wanita yang selama ini dikuntitnya.
Menempatkan mata-mata, membuat jarak antara Gelar dan Gaya begitu dekat. Mata-mata selalu melaporkan semua kegiatan Gaya. Termasuk dengan siapa saja ia berkencan. Singapura-Indonesia bukan jarak yang jauh. Rasa lelah setelah bekerja selalu terobati ketika pria yang sengaja ditempatkan disana memberikan laporan.
Tidak hanya saat Gaya masih menetap di negeri singa, Gelar sudah menguntit Gaya sejak masih sekolah dasar. Bertahun-tahun menjelma menjadi musuh. Siapa sangka! Gelar memendam perasaan begitu dalam. Ketertarikannya kepada Gaya Candana nyaris membuat pria itu gila.
Gelar membuka akun instagram khusus yang digunakannya untuk menyusup. Mengorek informasi apapun lewat postingan Gaya. Betapa terkejutnya ia, mendapati banyak pesan dari wanita yang sangat dicintainya.
Gelar menyamar menjadi pria bijak. Akun bodong yang ia buat, sukses mencuri perhatian Gaya. Cukup lama mereka bersahabat lewat jejaring sosial. Bahkan ketika mereka masih menggunakan Facebook, Gaya dan Gelar sudah berteman baik. Gelar menciptakan sifat kontras dengan dirinya. Membuat Gaya begitu nyaman. Gaya bahkan sering menjadikan Gelar teman curhat.
Tidak ingin membuat Bryan khawatir, Gaya memilih mencurahkan isi hatinya kepada akun yang menamakan diri sebagai Makhluk Astral. Ada disekitar Gaya, namun tidak pernah terlihat keberadaannya. Sama persis seperti perlakuan Gaya kepada Gelar.
Tidak sungkan. Gaya selalu menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Padahal, semenjak Gelar hilang ingatan, pesan yang Gaya kirim tidak pernah dibalas. Gaya masih setia mengirim unek-uneknya kepada teman sosial medianya.
Pernah, suatu hari Gaya mengajaknya untuk videocall. Tawaran menggiurkan itu ditolak mentah-mentah oleh Gelar. Alasannya, dia hanya menggunakan sosial media untuk memberikan konsultasi gratis. Tidak ingin identitas aslinya dikenal publik. Gaya menghormati keputusan teman curhatnya itu.
Gelar membuka dan membaca semua pesan yang dikirimkan Gaya. Rasa bersalah memenuhi relung hatinya. Gelar bermonolog.
"Kau sudah sampai pada pelabuhan yang tepat. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Tidak akan pernah menyakitimu lagi. Tidak akan kubiarkan kau merasakan sakit meskipun hanya setitik. Aku akan menjagamu dengan nyawaku."
Gelar mencium foto Gaya yang dijadikannya sebagai wallpaper. Jari-jarinya bergerak lincah, membalas pesan Gaya.
__ADS_1
Makhluk Astral
[Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Miss Ngeluh. Maafkan aku karena baru bisa membalas pesanmu. Insiden kecelakaan yang aku alami membuat sebagian ingatanku hilang. Sama sepertimu, aku pun tengah berbahagia. Jatuh cinta pada wanita yang sama ketika amnesia bukankah itu sesuatu yang menarik? Terima kasih sudah mencintaiku, menerima segala kekuranganku, selalu ada untukku bahkan ketika aku tidak benar-benar mengingatmu. Aku mencintaimu, Angkuh.]
Gelar kembali tertawa. Geli dengan kalimatnya sendiri. Menutup instagram hanya untuk berpindah pada aplikasi novel gratisan, tanpa koin.
Gelar kembali terbahak. Mengenang dirinya yang memiliki dua akun. Menjadi netizen budiman tidak terasa puas. Gelar mendeklarasikan dirinya sebagai netizen terpedas. Kritiknya kepada Gaya selalu membuat wanita itu jengah. Disisi lain, Gelar juga selalu mendukung Gaya ketika akun pedas itu menyerang wanitanya.
Percayalah! Dia memang gila! Segudang pekerjaan menuntut kesempurnaan, Gelar masih bisa bertingkah demikian.
Fakta kehidupannya yang dituangkan Gaya melalui tulisan, membuat Gelar selalu tertarik mengikuti cerita yang ditulis Gaya. Tidak rajin memang. Gaya hanya menulis ketika dirinya memiliki waktu senggang. Ratu Gaya's Style itu jelas sangat sibuk. Anehnya, penggemar setia tetap menunggu kelanjutan cerita. Memberikan asupan vitamin tersendiri untuk pikiran dan moodnya.
Merasa cukup, Gelar meletakkan gawai yang masih terhubung dengan charger. Menatap smartphone berwarna silver yang tergeletak di sampingnya. Ragu, Gelar mengambil benda itu.
Gagal! Percobaan pertama dan kedua tidak berhasil. Gelar menyerah.
"Untuk apa handphone ini? Apa ini milikku? Apa ini milik orang lain? Sepenting apa benda ini sampai-sampai aku menyimpannya disana?"
Gelar meletakkan gawai di tempat semula. Menjatuhkan kepala di meja kerja. Gelar mengacak rambut kasar. Memberikan pijatan di pelipis. Sambil memejamkan mata, pria itu memusatkan pikiran. Mencoba mengingat sesuatu namun sia-sia.
Gelar menjambak rambut dengan kuat lalu beranjak. Senyum pria itu mengembang dengan sempurna ketika menatap secret room.
"Yang ini boleh tidak ingat. Tapi tidak untuk yang satu itu." Gelar menyeringai.
__ADS_1
Perlahan mendekat. Menghampiri pintu berlapis pengaman.
Tidak seperti sebelumnya, kendala Gelar tidak lagi pada sensor suara. Tapi pada perasaan rindu yang tengah menyergap. Gelar tidak lagi sanggup menahan diri untuk tidak menjejakkan kaki di ruangan itu.
"Gaya Candana Anugerah," ucap Gelar penuh percaya diri.
Pintu pun terbuka. Tetap bersih meskipun Gelar sudah lama tidak memasukinya. Sedikit aneh tapi begitulah yang tertangkap di netra gelapnya.
Masih tercenung di depan pintu. Pandangan Gelar tertuju pada lukisan yang terletak satu garis lurus dengan posisinya saat ini.
Tampak seorang anak kecil. Mengenakan seragam sekolah dasar. Duduk di bawah pohon beringin. Rambutnya hitam, lurus, berhiaskan jepit kupu-kupu berwana putih. Tatanan poni see through bangs membingkai wajahnya begitu lembut. Masih terlihat sangat cantik meskipun tengah menangis.
Salah satu tangannya terulur pada seekor kucing liar yang masih kecil. Terlihat lebih malang dari anak itu. Tidak terurus dan dekil. Telapak tangan mungil itu menyimpan makanan. Mata kucing berbinar. Menikmati suguhan anak berhati mulia.
Gelar tertawa tidak percaya, "Pantas saja, ketika aku menemukan kucing itu, ingatanku langsung tertuju pada Gaya. Seperti ingin melindungi tapi egoku terlalu tinggi untuk mengakuinya."
"Kejam sekali! Bagaimana bisa aku menamai kucing itu dengan nama wanita yang kucintai?" Gelar menggeleng. Menatap sedih lukisan itu. "Maafkan aku sayang, kita akan memikirkan nama untuknya," sambung Gelar kemudian.
Gelar menutup pintu. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Berkeliling, menatap karya seninya yang memenuhi ruangan itu. Gelar menyentuhnya satu per satu. Senyum pria itu tidak pernah surut. Menghiasi paras tampannya.
"Bodoh! Kenapa baru sadar? Kebucinanku jauh lebih parah daripada adikku. Setidaknya, Yuna hanya menuangkan goresan tangan dalam satu bindex. Aku? Si Bodoh ini bahkan melukis perasaannya dalam satu ruangan, ruang rahasia. Mengeluarkan banyak materi demi menyalurkan kegilaannya. Dia memberikan julukan yang tepat. Aku memang Si Gila."
Gelar tertawa hingga suaranya memenuhi ruang tersembunyi yang sangat luas itu. Beberapa detik kemudian, tawa itu terhenti ketika tiba-tiba lampu padam. Gelap! Sangat gelap! Tidak ada setitik cahaya disana. Gelar mulai panik. Kelabakan, berusaha mencari pintu keluar. Sia-sia! Karena aksinya itu justru membuat beberapa lukisan yang ada di ruangan itu terjatuh.
__ADS_1
Kepanikan Gelar berkurang saat sebuah garis merah, menyerupai laser membentuk sebuah pola di tembok.