KARYA KEDUA

KARYA KEDUA
JATUH MISKIN?


__ADS_3

Setengah jam berlalu. Samar-samar, beberapa orang kompak membuka mata. Saling tatap dan masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Kondisi rumah Hartawan sudah kembali seperti sedia kala. Kebingungan mendominasi.


Bangsawan mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang tidak tersorot netra.


"Gelar! Gaya!" teriak pria itu mengagetkan semua bodyguard tidak terkecuali Gempa, Badai, dan Katrina.


Tidak hanya Bangsawan, Leni dan Yuna ikut menyeru, "Gelar! Gaya! Gelar! Gaya!"


Semua mata berkeliling, mencari dua sosok yang tidak diketahui keberadaannya.


Tak berkata, wajah panik penuh kesetanan dari Gempa dan Badai mengiringi tindakan yang akan dilakukannya. Kedua pria itu mengangkat handphone. Sibuk menggerakkan anak buahnya.


"Tuan, maafkan kami. Tapi kita harus segera kembali ke markas," ucap Badai penuh penyesalan.


Ya! Berkunjung ke rumah Hartawan yang juga memiliki standar keamanan yang tinggi, Badai tidak bisa menerapkan cara kerjanya. Ia dan anak buahnya hanya fokus pada keluarga Anugerah. Soal tamu-tamu yang harus melewati pemeriksaan bukan lagi wewenangnya.


Bangsawan mengerti, mengangguk, menyetujui permintaan Badai. Dengan berat hati, ia berpamitan pada Hartawan dan Wibisa. Hartawan pun langsung menghentikan acara. Dengan kuasanya, pria paruh baya itu mengumpulkan semua anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan Gelar dan Gaya. Pernikahan Nino dan Sena berakhir dengan kepanikan.


***


Di tempat lain, Gelar dan Gaya tersadar. Sama-sama terkejut, mendapati diri mereka berada di tempat asing.


"Gelar!" Gaya tersentak mendapati suaminya yang diikat di kursi.


Di samping Gelar, juga ada seorang pria yang juga menjadi tawanan. Sama halnya dengan Gelar, pria yang kepalanya di tutup itu duduk dengan tangan yang terikat ke belakang. Sebuah lubang tepat di bagian hidung seolah memberikan penghidupan bagi pria malang itu.


Tiga pria berbadan tegap, berdiri tepat di belakang Gelar dan tawanan lainnya. Membuat Gelar dan Gaya meningkatkan kewaspadaan.


"Sudah bangun adikku sayang?" tanya Randy, berakting peduli.


Sepasang suami-istri itu menoleh. Mereka menyipitkan mata. Berusaha menebak kemana arah permainan pria itu. Candana Group sudah pasti jawabannya. Tapi apa hubungan mereka dengan pria asing yang kepalanya ditutup itu. Gaya dan Gelar tengah memikirkannya.


Tidak ingin membuang waktu, Randy melempar beberapa berkas. Jatuh tepat dipangkuan Gaya. Randy duduk di depan Gaya dengan gelagat menyebalkan.


"Tanda tangani! Pastikan tidak ada yang terlewat! Aku akan berbaik hati, memberikan kesempatan kepada kalian untuk merasakan kemiskinan. Jangan lupa untuk berterimakasih." Randy tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


Gaya tergelak, "Sudah kuduga." Gaya bangkit menatap kakak tirinya sinis. Melempar kasar dokumen itu ke meja. Gaya mendekat, sedikit membungkukkan tubuh lalu menarik dasi pria itu. "Percuma Randy. Aku bukan Gaya kecil yang bisa kau gertak. Jika kau membunuhku, kau tidak akan mendapatkan apapun. Aku lebih ikhlas mengalihkan kekayaanku untuk negara daripada membaginya denganmu." Gaya menggulung dasi kakak tirinya. Tampak menyesal. "Sudah siap jadi gembel, Randy? Jangan pura-pura lupa. Fasilitas yang kau pakai, milik Candana Group," tutur Gaya dengan suara yang lirih namun meledek.


Gaya menepuk-nepuk pipi Randy, aura mengejeknya semakin menjadi. Gaya melepaskan dasi pria itu. Melangkah menuju tempat duduknya.


"Bebaskan kami! Tidak ada gunanya kau menawan kami! Jangan bermain-main dengan Anugerah Group! Aku memperingatkanmu! Kau tahu, mereka bisa melakukan segalanya. Bahkan mungkin sedang menuju kemari! Ingatlah! Bodyguardku tidak pernah memberikan ampun!" ancam Gelar yang sedari menyimak.


Rahang Randy mengeras, kedua tangannya mengepal. Namun, beberapa detik kemudian ia menyeringai.


"Kau diamlah! Tugasmu disini hanya menonton dan menyesali perbutanmu!" bentak Randy pada Gelar.


Salah satu pria yang berdiri di belakang Gelar, menjambak kasar rambut Gelar. Gelar dipaksa mendongak. Pria tegap lainnya memasang lakban berwarna coklat. Gelar tidak dibiarkan bersuara.


Gaya terperangah. Menatap tajam saudara tirinya. Menghampiri Randy, hampir mencekiknya. "Kenapa kau melibatkannya! Bukankah urusanmu hanya denganku? Lepaskan dia, atau aku akan menggunakan kuasaku untuk memberimu pelajaran!" gertak Gaya dengan mata yang berkobar-kobar.


Randy berusaha melepaskan diri. Pria itu mulai menyadari, Gaya tidak selemah yang ia pikirkan. Randy bisa menangkap satu kelemahan dalam diri adik tirinya. Kehadiran Gelar disana ternyata lebih dari sekedar penonton.


'Aku akan menguji. Seberapa kuat cinta kalian!' gumam Randy di dalam hati. Randy tersenyum miring.


"Masih tidak mau menandatangi? Baiklah! Nikmati pertunjukkanku! Kuyakin setelah ini kau akan mempertimbangkannya," serang Randy.


DOR!


DOR!


Dua tembakan tepat sasaran mengenai dahi salah satu tawanannya. Tubuh Gaya gemetar. Aliran darahnya terhenti. Perlahan ia menoleh ke arah suaminya. Tampak lega karena bukan Gelar yang ditembak. Meskipun demikian, tindakan Randy yang merenggut kehidupan orang lain membuat Gaya meradang.


Sama terkejutnya dengan Gaya. Gelar menatap pria disebelahnya. Posisi menunduk tidak berdaya dengan darah yang mengucur. Sukses menciutkan nyali Gelar.


"Randy! Aku tahu kau bukan pria yang baik. Tapi aku tidak menyangka kau sejahat ini," tuding Gaya menggeram, suaranya berat nyaris tertahan.


Randy tertawa, meniup senjatanya. Menatap Gaya remeh. "Tidak penasaran dengan pria yang baru saja kuhabisi?"


Tidak perlu menunggu perintah. Anak buah Randy membuka penutup kepala pria yang diyakini sudah tewas itu.


DEG!

__ADS_1


Gaya dan Gelar menatap Randy dengan nanap. Kembali mengalihkan pandangannya pada pria malang itu. Seolah tengah membandingkan sesuatu. Ada kemiripan di antara mereka. Gelar dan Gaya saling bertukar pandang. Otak sepasang suami-istri itu kembali dibuat berpikir.


"Dia ayah kandungku! Pria brengsek yang telah berselingkuh dengan ibuku. Sekarang kau tahu alasannya. Kenapa ayah memberikanmu banyak harta! Tapi tidak kepadaku dan Saka. Meskipun kau anak haram, tapi kau memang anak Danu." Randy tersenyum getir. "Aku tidak peduli! Aku lahir dan hidup di keluarga Candana! Candana Group harus jatuh ke tanganku! Aku bisa membunuh ayah kandungku sendiri! Apalagi kalian! Itu sangatlah mudah!" Randy menodongkan senjatanya di kepala Gaya. Pun dengan anak buahnya. Menodongkan dua senjata sekaligus tepat di sisi kanan dan kiri kepala Gelar. "Lakukan tugasmu!"


Gaya tak bergeming. Kenyataan lain di keluarganya membuat wanita itu terguncang. Tidak menyangka, keluarganya begitu rumit. Air mata Gaya jatuh tak tertahan ketika kedua anak buah Randy menarik pelatuk. Siap menyarangkan peluru ke kepala suaminya.


Gelar menggeleng, tapi percuma. Gaya sangat mengenal Randy. Tidak ingin terjadi hal buruk, Gaya meraih dokumen di atas meja. Bersiap untuk menandatangani. Membuat Randy begitu bahagia.


Gaya menatap Randy penuh dendam. Lembaran pertamanya membuat wanita itu hampir sampai diambang batas kesabaran. "Bukankah kau hanya menginginkan Candana Group? Lalu ini apa? Kau juga menginginkan Gaya's Style? Tidakkah kau terlalu serakah, Randy?"


Air mata Gaya berjatuhan. Usaha yang ia rintis dari titik nol juga diincar Randy.


Randy menarik salah satu sudut bibirnya, "Sudah kubilang. Aku ingin kau hidup miskin. Lakukan saja atau...?" Randy mengayunkan dagunya ke arah Gelar. Membuat Gaya mengikuti arah pandangannya. "Kau akan kehilangan pria yang sangat kau cintai itu."


Baik Gelar maupun Gaya tidak berdaya. Gelar masih berusaha menggelengkan kepala. Sia-sia! Tanpa berpikir lagi, Gaya membubuhkan beberapa tanda tangannya di kertas itu. Tubuh Gaya melemas. Jatuh bersimpuh. Kenangan perjuangannya bersama Gaya's Style berputar bagai kaset video.


Gelar merasa tidak berguna. Bukannya menjadi pelindung, ia justru menjadi kelemahan Gaya. Gelar bersumpah akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Gaya.


"Terima kasih adikku sayang." Randy menepuk-nepuk lembut puncak kepala Gaya."Tapi aku masih punya kejutan lain untukmu," sambung Randy sambil menyunggingkan senyum licik.


Gaya menatap Randy penuh kebencian. Cairan bening semakin deras, melewati pipi, menganak sungai.


"Sepertinya setelah ini kau akan menyesali keputusanmu, Gaya. Pria yang kau selamatkan dengan seluruh harta yang kau miliki bahkan telah mengecewakanmu."


Randy meletakkan laptop di atas meja, di depan Gaya. Memutar video yang tampak tidak asing bagi Gelar.


DEG!


Gaya menutup mulut, tangisnya pecah begitu saja. Percakapan Gelar dan Danu membuat Gaya begitu terluka. Di tengah ketidakberdayaan Gaya berkata, "Izinkan aku menghabisinya!"


Randy tersenyum, "Kukabulkan permintaanmu!"


Randy memberikan senjatanya kepada Gaya. Tanpa keraguan, wanita itu meraihnya.


DOR! DOR! DOR! DOR!

__ADS_1


__ADS_2