KARYA KEDUA

KARYA KEDUA
BALASAN SETIMPAL


__ADS_3

Bertumpu pada pembatas balkon, baik Bangsawan maupun Danu tampak bernapas lega. Ada Topan, Tsunami, dan Kilat di bawah sana. Sudah sadar karena diberi penawar.


Dibantu anak buah Danu, mereka melakukan aksi penyelamatan untuk Gaya dan Gelar. Tenda yang dibentangkan itu menyelamatkan anak majikan. Mereka jatuh terpental. Sayang! Aksi nekad itu membuat Gaya kehilangan kesadaran.


"Gaya?" panggil Gelar nyaris tercekat. Melihat darah yang masih mengalir di kaki istrinya, hati pria itu dibuat teriris-iris.


"Gaya bangun! Bangun Gaya! Bagun...!" pinta Gelar, menepuk-nepuk pipi Gaya kemudian memeluk belahan jiwanya begitu erat. Gelar pun meraung, menumpahkan segala rasa yang tengah berkecamuk.


"Gayaaa...!" tangis Gelar pecah saat wanita itu tak merespon usahanya.


Bertepatan dengan datangnya Bangsawan dan Danu, sebuah air ambulance mendarat tidak jauh dari lokasi.


Ketanggapan seorang Badai hanya perlu disampaikan melalui alat komunikasi khusus. Secret room sangat paham dengan instruksi yang diberikan. Mengirim bantuan yang diterbangkan langsung dari Hartawan International Hospital.


"Apa yang kau lakukan!" Danu memukul menantunya yang dirasa membuang waktu. "Angkat dan bawa ke sana! Gaya harus segera mendapatkan pertolongan!" sambung pria itu, menunjuk petugas rumah sakit yang telah menunggu dirinya.


"Topan, tolong bantu Gelar!" imbuh Bangsawan, ikut memberikan perintah.


"Tidak usah," kata Gelar, menolak bantuan yang hendak diberikan Topan.


Topan mengangguk. Membiarkan Gelar mengangkat tubuh istrinya seorang diri. Dengan langkah berat, Gelar bergegas menuju air ambulance.


Gelar, Danu, dan Bangsawan ikut dalam penerbangan darurat. Mengantarkan Gaya menuju rumah sakit. Kecemasan tergambar jelas di wajah mereka. Terlebih Gelar! Terpuruk sampai pada titik terendah dalam hidupnya.


Kondisi Gaya yang memprihatinkan, ditambah calon buah hati yang tidak bisa bertahan, menimbulkan guncangan tersendiri bagi Gelar. Hanya satu kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Sakit! Sungguh sangat sakit!


Tak kalah menyakitkan. Perbuatan Clara terngiang jelas di ingatan Katrina. Meledakkan dendam yang tengah membara. Ketegangan di dalam bangunan konstruksi empat lantai itu pun masih berlanjut.


"Giliranmu!" tunjuk Katrina, melempar tatapan tajam nan menusuk.


Di tempatnya berdiri, Clara melewati detik demi detik dengan gelisah. Hati wanita itu berdesir tak karuan. Tampaknya Clara salah memilih lawan. Jika sudah seperti ini, bodyguard Anugerah Group yang terkenal patuh dengan sederet aturan pun bisa menjelma menjadi tidak kenal ampun.


Katrina mengulurkan tangan, membantu Badai berdiri. Luka lebam di wajah pria itu membuat Katrina merasa bersalah.


"Kenapa pukulan anak kecil ini bisa meninggalkan bekas?" canda Katrina bermaksud pamer kekuatan.


Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk lengkungan bulan sabit. Menerima uluran tangan wanita itu. Badai meletakkan telapak tangannya di atas kepala Katrina.


"Anak sialan!" Badai mengacak-acak rambut Katrina. Masih tidak menyangka, adik yang selalu dijaganya kini sudah dewasa.


"Aku tahu seseorang telah memberimu wewenang. Tuntaskan sekarang, tapi jangan pernah lupakan janjimu kepadaku!" tegas Badai menyambung ucapannya.


Sejenak terpaku, menatap dalam tepat di manik legam pria yang selalu dihormati. Memori Katrina kembali pada saat ia berumur tujuh belas tahun.


Katrina yang telah menguasai ilmu bela diri sejak dirinya masih anak-anak, lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Keamanan Gengtop (AKG). Salah satu sekolah bodyguard terbaik di Indonesia. Berkat Badai, kedua orang tuanya mengizinkan. Katrina pun dituntut untuk bersumpah. Bahwa dia tidak akan membunuh musuh sekalipun lawan yang dihadapi nyaris membuat nyawanya melayang.


"Bagaimana?" tanya Badai, membuyarkan lamunan di masa itu.


"Dia akan mati dalam perjalanan ke rumah sakit. Siksaanku hanya sebatas pengantar ajal," cetus Katrina. Saat berkata, ada kilatan tajam di sepasang bola matanya.


"Seperti Grim Reaper (sang malaikat kematian) saja!" cibir Badai, menjentikkan jari di dahi adiknya.


Katrina mengelus kening, rasa kesal terlukis jelas di parasnya yang sudah penuh dengan luka lebam. Terlihat sepele memang. Tapi jangan salah! Nyeri yang ditimbulkan akibat sentilan jari Badai tidaklah main-main.


Badai kembali ke kursi. Duduk santai, menikmati pertunjukan yang akan disuguhkan oleh Katrina. Tiba-tiba, terlintas dipikiran. Menjadikan permainan lebih menarik.


"Clara, kau ingin bebas? Kau ingin sebuah kesempatan? Kau ingin memperbaiki diri? Kau ingin bertaubat?" berondong Badai.


"Apa maksudmu!" protes Katrina tidak habis pikir.

__ADS_1


Clara meludah, memandang Badai dengan tatapan jijik. "Omong kosong! Kemarilah! Sebelum adikmu mencabut nyawaku, kupastikan dia akan berakhir di neraka!"


Katrina tergelak menanggapi ancaman Clara yang dianggap lelucon.


"Jika kau bisa mengalahkan Katrina, maka aku akan memberikan satu kesempatan. Hiduplah dengan penderitaan," ejek Badai.


"Mas!" Gempa menyeru, keberatan dengan ide Badai. Setelah apa yang dilakukan Clara, bagaimana bisa pria itu memberikan pengampunan? Begitu pikir Gempa.


Mengabaikan protes yang dilayangkan mantan kekasih adiknya, Badai menoleh pada anak buahnya yang lain, "Bawa dia ke rumah sakit! Pastikan Si Malang ini menerima perawatan terbaik."


Awan dan Langit mengangguk, segera memapah Gempa. Menghampiri mobil yang telah disiapkan Topan.


"Aku percaya, kau tidak mungkin membiarkan wanita itu hidup tenang!" teriak Gempa saat Awan dan Langit memaksa pria itu untuk segera mendapatkan pertolongan medis.


Badai menghela napas, perhatiannya terfokus pada Banjir. "Siapkan dua liang lahat! Pastikan batu nisannya bertuliskan nama Clara dan Clary!"


Banjir patuh, "Siap!"


Ketika Banjir hendak pergi, Badai menahannya.


"Aa... kupikir sedikit berbaik hati kepada penjahat tidak masalah. Kubur mereka di tempat pemakaman umum. Jika perlu, pilihlah tempat yang paling tidak terjangkau manusia. Wanita seperti mereka tidak pantas memiliki tetangga di alam kubur!" usul Badai.


Banjir mengangkat satu alis, "Kenapa tidak dikubur di tengah hutan saja bos? Atau di tengah gurun sekalian?"


"Tidak ada anggaran untuk memakamkan penjahat! Jadi, apa kamu siap jika gaji bulananmu aku potong demi mewujudkan ide yang terdengar brilliant?" cicit Badai.


Glek! Banjir menelan getir salivanya. Memilih menunduk lalu pergi, menuruti perintah Badai.


"Kebanyakan drama! Matilah kalian semua di tanganku!" berang Clara. Tampak menata tangan, bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


Katrina tidak tinggal diam, mengumpulkan tenaga, meladeni Clara.


Clara memberikan perlawanan sengit. Pukulan demi pukulan masih dengan mudah dihalau Katrina. Tangan mereka saling beradu. Mencuri satu kesempatan untuk meraih poin-poin kemenangan.


Tamparan yang sangat keras baru saja mendarat di bibir Katrina. Wanita itu kecolongan. Setitik cairan merah mengalir dari sudut bibirnya.


Katrina menyeka darah yang dianggap penghinaan. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menciptakan senyum sinis. Api peperangan semakin membakar Katrina.


"Cuma ini kemampuanmu?" cela Clara.


Para bodyguard yang menyaksikan pun dibuat panik. Dari gerakan cepat yang dilakukan keduanya, mereka tahu. Clara lawan yang tangguh. Akan sangat sulit menumbangkannya. Tapi pria yang bisa memprediksi peta kekuatan, tetaplah santai.


Bagaimana tidak! Badai mengenal Katrina dengan baik. Tidak mungkin seorang bodyguard di bawah naungannya memperoleh predikat sebagai salah satu bodyguard terbaik jika kemampuannya tidak di atas rata-rata.


"Jangan senang dulu!" tampik Katrina.


Katrina memulai serangan. Segala yang diluncurkan masih bisa dikembalikan Clara. Gagal dengan kekuatan tangan, Katrina mulai unjuk kebolehan. Dibalik keindahan kaki jenjangnya, tersimpan kekuatan besi berlapis baja.


Katrina mengayunkan kaki, bermaksud mengincar bagian perut. Sikap kaki kuda-kuda yang kurang sempurna mampu dibaca dengan baik oleh Clara. Clara menangkis serangan Katrina. Ketika tangan Katrina terulur, hendak melayangkan pukulan di wajah, Clara justru menariknya.


Menguasai satu tangan membuat Clara dengan mudah melancarkan serangan. Clara menghajar bagian pinggang Katrina tanpa ampun. Katrina pun terbanting ke lantai. Clara tidak sebaik itu! Masih terus memberikan pukulan demi pukulan yang membabi buta. Beruntung! Katrina masih bisa menghalau. Gerakan berputar 180° yang dilakukan Katrina pada kedua kaki, mampu membuat wanita itu tegak kembali.


"Kau sama sekali tidak pantas untuk menjadi bagian dari kekuatan Anugerah Group. Kenapa kau tidak melamar menjadi guru TK saja! Kau akan terlihat keren di mata anak-anak!" hina Clara sebelum tertawa menggelegar.


Katrina terpancing emosi, "Aku akan menuruti saranmu jika aku tidak mampu mengalahkan iblis seperti dirimu!"


DUAK!


Tendangan sabit baru saja diluncurkan. Menyasar perut musuh. Clara yang tidak siap harus tersungkur. Menahan rasa sakit yang teramat di sekitar area yang terjamah.

__ADS_1


"Anjing!" umpat Clara tidak terima.


Clara bangkit, pembalasan yang dilakukan mampu menggiring Katrina pada situasi yang sulit. Tangan Clara berkuasa penuh, menekan keras leher Katrina. Memberikan cekikan mematikan.


"Nyalimu cukup besar juga! Jika aku boleh menyarankan, menembak mati diriku jauh lebih baik daripada memilih bertarung langsung. Lihatlah dirimu! Kau bahkan tidak bisa berkutik. Seperti mencekik kucing saja!" cemooh Clara dengan kobaran api di matanya.


"Harrrgggg...!" berang Katrina, memutar tubuh, menghadiahi tendangan di kaki Clara. Clara pun terjatuh.


Sambil menata napas yang nyaris tercekal, Katrina mengingatkan sumpahnya, "Mati dengan mudah hanya bagi mereka yang masih memiliki sisi manusia dalam hidupnya!"


Clara beranjak, semakin dikuasai amarah. Pukulan demi pukulan kembali berjatuhan. Sama-sama kuat. Mereka terjatuh, terguling, saling menendang dan membuat jarak. Kemampuan mereka terlihat seimbang.


Sampai pada waktu dimana Katrina dan Clara sudah kehabisan tenaga. Terlihat saling ingin mengakhiri. Menunjukan siapa yang paling kuat di antara mereka.


Clara kembali unjuk prestasi. Kekuatan tangan mampu memberikan sentuhan menyakitkan pada telinga Katrina. Darah segar pun mengalir. Telinga Katrina dibuat berdengung, tidak bisa mendengar sorakan semangat yang diberikan teman-temannya. Penglihatannya sedikit kabur. Beruntung! Beberapa detik memejamkan mata, mata Katrina masih berfungsi dengan baik. Katrina pun murka!


"Iblis terkutuk!" teriak Katrina, menahan sakit yang teramat.


Sepuluh tendangan mematikan yang divariasikan dengan lompatan-lompatan handal, diayunkan Katrina. Mengenai perut, dada, dan kepala Clara. Clara terhempas, tersungkur tidak berdaya.


Dengan sisa-sisa tenaga, Katrina mengambil pisau Badai yang tergeletak di lantai. Ia menghampiri Clara. Menjambak kasar rambutnya. Membenturkan kepala Clara berulang-ulang ke lantai. Cairan merah pekat yang mengalir dari kepala Clara tidak membuat wanita itu puas. Katrina membalikkan tubuh Clara dengan kaki.


"Ingin melihat kesadisanku? Lihat ini!" seru Katrina, duduk di atas perut Clara.


Katrina menodongkan pisau tepat di depan wajah Clara, "Kira-kira bagian mana dulu yang pantas kuberi hadiah?" Katrina menyeringai. Perlahan tapi pasti mulai menggoreskan pisau itu, berjalan lambat di atas tubuh Clara.


Clara ketakutan, raut wajahnya memohon. "Tidak, Katrina! Tolong jangan lakukan!"


Katrina tertawa, "Kenapa kau tidak berpikir seribu kali sebelum bertindak? Aku hanya sedang membalas perlakuanmu kepada Gaya. Bayarlah! Petik buah dari permainanmu!"


Katrina mulai menyayat wajah Clara. Rengekan, tangis, permohonan, pengampunan yang dilempar sama sekali tidak berguna. Seperti wanita yang tengah dirasuki ratu iblis, tanpa ampun ia menguliti wajah Clara. Perih dan sangat sakit. Itu yang sedang dirasakan Clara.


"Masih meragukan ketajaman pisau tua ini?" bisik Katrina bermaksud mengejek.


Clara berteriak histeris. Menyadari wajahnya yang tak lagi berbentuk.


"Tolong hentikan! Toloooonnngg...! Aku berjanji akan bersikap baik," Clara meminta belas kasih.


Lagi! Katrina terbahak, mendengar iblis yang memohon kepada dirinya.


"Sudah terlambat! Ini untuk tangan yang sudah lancang menyiram air keras ke wajah Gaya. Untuk tangan yang sudah berani memukuliku!"


"Tidak! Tidak! Tidaaaakkkk...!" jerit Clara seiring dengan jari-jarinya yang mulai patah. Dipotong oleh pisau berjenis fairbairn skykes fighting.


Merasa cukup, Badai bangkit. Menarik Katrina dari atas tubuh Clara. Merampas dan mengamankan pisau miliknya.


"Kini gilaranku!" tegas Badai.


Katrina sedikit kecewa. Namun, apa yang dibawa Topan dan Tsunami membuat wanita itu tersenyum puas.


Tsunami memegangi Clara, sementara Topan mencekal mulut wanita itu. Menuangkan sebuah cairan berbahaya ke mulutnya. Tak berselang lama, Clara merasakan sensasi terbakar di dalam perut. Clara menjerit dan merintih kesakitan.


"Apa ini? Apa ini? Kalian—"


"Hampir mirip dengan caramu mengambil anak Gaya. Hanya saja, aku memang lebih kejam. Jika beruntung, jika kau selamat, maka kau hanya akan mengalami kemandulan yang permanen!" potong Badai, membuat Clara seketika terguncang.


"Apa?" tanya Clara nyaris tak terdengar.


"Ini hadiah terakhir dariku," seloroh Badai sebelum...

__ADS_1


BYUR!


Air keras yang sama disiramkan Badai ke wajah Clara. Menciptakan sebuah rasa yang pernah dirasakan Gaya. Semua orang tertawa jahat. Menanggapi perempuan yang tengah menyesali perbuatannya.


__ADS_2