KARYA KEDUA

KARYA KEDUA
PERMAINAN BIG BOSS?


__ADS_3

Gaya sedang berada di ruang kerja Bryan. Duduk angkuh, menunggu sahabat sekaligus sekretaris pribadinya yang tengah memimpin meeting.


Gaya menatap layar gawai yang tengah menampilkan foto Bryan. Senyum berbeda tersemat di paras cantiknya. Aneh! Tidak biasanya Gaya berperilaku demikian. Apa dia sedang ngidam? Entahlah!


Sepuluh menit berlalu, Bryan masuk ke ruangannya. Sedikit terkejut mendapati Gaya di sana.


"Gay?" sapa Bryan. Mengerutkan dahi sejenak, heran melihat penampilan wanita itu. "Sudah berganti pakaian? Apa perlu staffku mengisi lemarimu dengan baju berdesign nyaman? Benarkah ibu hamil sering merasa gerah?" tanya Bryan sedikit menyunggingkan garis di sudut bibir.


Gaya tidak menjawab. Pancaran manik itu sangat tak biasa. Gaya mendekat ketika Bryan baru saja duduk di kursinya. Menyalakan kembali laptop di atas meja.


DEG!


Bryan membeku. Mendapati perlakuan Gaya yang tampak aneh. Duduk di pangkuan Bryan. Gaya mengalungkan tangannya di leher pria itu. Tingkah manjanya memberi efek getaran jantung yang tak biasa.


"Urus secepatnya! Lusa, kepemimpinan Candana Group yang baru harus diumumkan," tutur Gaya dengan suara lembut. Mengandung mantra pemikat.


Bryan bergeming ketika sentuhan tangan mungil Gaya menjamah rahangnya yang tegas. Memaksa Bryan untuk menatap mata indah wanita itu.


Berada pada posisi yang sangat dekat, Bryan tersihir dengan kecantikan Gaya yang nyaris tanpa cela. Bahkan ketika Gaya melabuhkan bibir tepat di bibirnya, Bryan masih diam namun wajahnya jelas terkejut. Pagutan lembut yang memabukkan nyaris membuat pria itu lupa bernapas.


Hanya beberapa detik setelah Bryan mengakhiri ketidaknyamanannya. Menahan Gaya sambil menata hati.


"Ini tidak benar!" tegur Bryan. Memindahkan tubuh Gaya lalu beranjak.


Gaya menarik tangan Bryan. Menahan langkah pria itu.


"Kita bisa membuatnya menjadi benar," rayu Gaya masih dengan suara yang lembut.


Bryan menggeleng pelan, masih dengan ekspresi tercengang. "Hentikan!" pinta Bryan.


Gaya mendekat, memeluk pria itu dari belakang. "Kenapa? Tidakkah itu hanya akan menyakiti dirimu?"


Bryan memejamkan mata, menelan salivanya yang terasa pahit. Bryan kembali bersuara, "Apa yang membuatmu berubah?"


"Karena aku tidak bisa memilih di antara kalian. Aku baru sadar bahwa aku mencintai Gelar tapi juga tidak ingin kehilanganmu," papar Gaya. Tangannya mulai merayap, menyapa dada bidang sekretaris kebanggaannya.


Bryan tertawa miris, "Cukup! Jangan membual! Jika kau ingin aku tetap berada di sampingmu, tetaplah menjadi Gaya yang kukenal!"


Bryan menyingkirkan tangan Gaya yang sudah berhasil membuka salah satu kancing kemejanya. Berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. Mengabaikan seruan Gaya.

__ADS_1


"Bry! Bry! Bry!"


Gaya tidak mengejar. Aura kelicikan terpancar nyata.


Sial! Di depan pintu ruangan yang tidak tertutup rapat, Bryan justru bertemu Gelar. Pria itu berdiri bodoh. Tatapannya kosong, jiwanya seolah tak lagi di tempat. Gelar shock sekaligus kecewa. Mendapati istrinya berbuat demikian.


Sepasang bola mata Bryan melebar. Merespon kehadiran suami sahabatnya. Kepanikan terpancar jelas di wajah pria yang terkenal baik hati itu.


Berbeda dengan Gelar yang sedang merasakan patah hati. Gempa mengibarkan bendera peperangan. Tatapannya sungguh tidak ramah.


Baru saja Bryan membuka mulut, hendak menyapa Gelar, Gempa menariknya. Menyudutkan teman seperguruan ke tembok. Cengkraman di rahang itu cukup menyakiti Bryan.


"Bisakah kau menjelaskan apa yang baru saja terjadi?" tuntut Gempa lirih namun geram.


Bryan mengedipkan mata. Menutup rapat pintu ruangannya lalu kembali fokus pada Gempa.


"Kita bertemu nanti malam. Pastikan kau berada di tempat yang kuinfokan," ucap Bryan lirih namun meyakinkan.


Tidak langsung percaya, Gempa dengan wajah bengisnya masih tidak melepaskan tatapan mengancam pada Bryan. Cukup lama hingga kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Bryan menjadikan Gempa luluh.


"Aku tetaplah Bryan yang kau kenal begitu pula Gaya."


"Percayalah!" pinta Bryan. Sulit diterima akal sehat Gelar.


Gelar pergi tanpa menyapa istrinya terlebih dahulu. Ia kembali ke kantor. Pikirannya kalut. Belum lagi hati yang terasa perih. Gelar memilih menghindar.


Melihat kepergian tuan mudanya, Gempa melunak. Cengkramannya mengendur.


"Aku menunggumu!" geram Gempa sebelum mengekor bosnya.


Bryan menghela napas. Menatap kepergian Gelar dengan rasa bersalah.


Tak berselang lama, Bryan ikut meninggalkan Gaya's Style.


Sudah berada di dalam mobil, Bryan merogoh ponsel di saku celana. Seseorang yang diberi nama "Big Boss" dihubungi.


Bryan belum sempat menyampaikan maksudnya namun seseorang disebrang sana justru sangat bersemangat meledek pria itu.


["Apa jantungmu masih bersarang di tempatnya? Jangan bilang itu yang pertama untukmu? Woa... sepertinya adik kecilmu itu menegang? Jika kuperhatikan, permainan bibir Gaya tidaklah buruk. Dia cukup handal. Lihatlah dirimu! Kau bahkan hanyut dalam permainannya,"] cibir Big Boss sudah bisa menebak jalan pikiran Bryan.

__ADS_1


Bryan hendak mengumpat. Tapi jiwa santun yang tersisa di dalam diri, berhasil menahannya. Bryan hanya melakukannya di dalam hati.


'Sialan! Berani sekali dia menyadap ruang kerjaku!'


Bryan memukul kemudi sebagai pelampiasan. Tentu! Hal itu sukses membuat lawan bicaranya terbahak penuh kemenangan.


["Bagaimana? Dia memintaku melakukan seperti dugaanmu,"] adu Bryan tanpa basa-basi.


["Kabulkan keinginannya! Sungguh, aku senang memiliki kesempatan memenuhi impian seseorang,"] cetus Big Boss tanpa beban.


["Kau yakin?"]


["Tidak akan ada yang berubah. Candana Group memang hak Gaya. Apa yang kamu takutkan?"]


["Dengan kekuasaan, dia bisa melakukan segalanya. Tidakkah itu terlalu berbahaya?"] Bryan tampak khawatir.


["Banyak bicara!"] sungut Big Boss.


Bryan tanggap. Sebelum pria berkuasa itu memutus sambungan telepon, Bryan memastikan sesuatu.


["Bagaimana keadaan mereka?"]


["Dalam pengawasanku!"] jawab Big Boss terdengar malas.


["Semoga kau tidak salah langkah! Aku—"]


["Kenapa? Mengkhawatirkan Gelar? Merasa tidak enak?"] Big Boss tertawa. ["Bocah tengil itu juga sering menunjukan kemesraan di depanmu. Padahal aku sangat yakin bahwa dia tahu kau memiliki perasaan kepada Gaya. Untuk apa kau mempedulikan orang yang sama sekali tidak bisa menjaga perasaan orang lain? Tidakkah kau terlalu baik, Bryan?"] tanya Big Boss bermaksud menghasut Bryan.


Bryan tidak terpengaruh. Mencoba mengalihkan perhatian pria itu.


["Jika apa yang aku khawatirkan terbukti, aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu!"] ancam Bryan, tidak main-main.


["Kau mengancamku? Sungguh?"] Big Boss tertawa mengejek. Detik berikutnya, tidak kalah mengancam. ["Bagaimana jika terbukti? Sanggupkah kau menerima tantanganku?"]


["Aku menyesal berurusan denganmu!"] keluh Bryan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Bryan menggenggam handphone miliknya begitu erat. Otot-otot di wajahnya menegang. Bryan berulangkali membenturkan kepala pada setir. Penyesalan terlihat jelas di wajah tampannya.


"Haarrgg...!" teriak Bryan masih sambil mengadu kepala dengan kemudi ketika perlakuan manis Gaya beberapa menit yang lalu memenuhi pikiran.

__ADS_1


__ADS_2