KARYA KEDUA

KARYA KEDUA
KEBAHAGIAAN DATANG?


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa, sudah sebulan sejak insiden penculikan yang disutradarai oleh Randy Candana bergulir. Pria itu telah mendekam di balik jeruji. Bersiap menghadapi tuntutan Bangsawan yang sudah diambang batas kesabaran.


Ketika Randy di rawat, Bangsawan menjenguknya. Menimbang sosok Danu Candana, kedatangan pria yang terkenal bijaksana itu bermaksud memberikan kesempatan kepada Randy. Tapi apa yang dilakukan pria itu justru tidak tahu diri.


Randy menyerang Bangsawan dengan pisau buah yang ada di atas nakas. Beruntung Tsunami dan Topan bisa mencegahnya. Bangsawan pun tidak sampai terluka. Randy sesumbar. Bersumpah akan membalas perbuatan mereka. Sudah dinasehati tapi tetap pada pendirian, Bangsawan dengan berat hati mengirimnya ke pihak berwajib.


Kebodohan Randy menjadi pelajaran berharga bagi dua sosok wanita cantik yang juga tengah mengincar kekayaan Anugerah Group, Gaya Style, dan Candana Group. Rencana demi rencana disusun dengan matang. Mereka tidak membiarkan setitik cela pada strategi yang hendak diterapkan. Kebiasaan Gelar dan Gaya pun tidak luput dari sorotan mereka.


Sempat meninggalkan pekerjaan demi bulan madu di dalam negeri. Gaya's Style kembali mengulang prestasinya. Di bawah sosok paling berpengaruh, Bryan mengantarkan perusahaan itu memetik hasil kerja keras mereka. Produk body wash yang telah diluncurkan pun sukses menambah pundi-pundi kekayaan pewaris takhta Candana Group. Semakin Gaya kaya, semakin sejahtera karyawannya.


Seiring dengan popularitas, pernikahannya dengan putra mahkota Anugerah Group pun tercium awak media. Pasangan muda penuh pesona dan prestasi itu bahkan menjadi trading topik diberbagai media sosial. Gelar pun semakin diidolakan kaum hawa. Tidak hanya Gelar, semua mata memandang Gaya takjub sekaligus iri. Mau bagaimana lagi! Mereka memang pasangan serasi. Gaya pantas bersanding dengan Gelar. Begitu pula sebaliknya.


Nama Gaya dan Gelar semakin dikenal publik. Terlebih iklan yang mereka bintangi sendiri. Mendapat sambutan positif dari masyarakat.


Tepat pukul tujuh pagi, Gelar terbangun. Salah satu lengannya menghalau cahaya matahari yang menyusup melalui celah-celah vitras. Pelan tapi pasti, matanya mulai menyesuaikan. Gelar tersenyum tipis mendapati istrinya yang masih terlelap. Tubuh mereka masih polos. Percintaannya semalam membuat keduanya kelelahan.


Gaya masih dalam posisi memunggungi suaminya. Gelar memeluk dan mengecup pipi Gaya. "Bangun, sayang!"


Gaya tidak merespon, terlalu nyaman dengan alam mimpi yang tengah dijelajahi.


Melihat hal itu, senyum jahil terpatri di paras rupawan pria itu. Gelar menggerakkan tangannya. Merayap lembut ke tempat-tempat yang ia suka. Bibirnya tidak tinggal diam. Bekerja sama memberikan sentuhan. Lihatlah bagaimana usaha pria itu membuahkan hasil!


Gaya mulai menikmati perlakuan suaminya. Masih sambil memejamkan mata, Gaya melenguh. Merespon terpaan hangat yang disusul gigitan lembut di ceruk wanita itu. Geli tapi nikmat.


Gaya mengubah posisi tidurnya, mendekap tubuh kekar, hangat, nan menggoda itu. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Gelar. Awalnya, napas wanita itu kembali teratur. Membuat Gelar semakin gemas ingin menggodanya. Namun, belum sempat pria itu melakukannya, bibir dan lidah Gaya perlahan mulai bermain di sekitar p*ting Gelar. Menyapu, melukis, mencecap, dan menghisapnya sangat mesra.


Gelar tertawa geli, mengecup puncak kepala istrinya lalu berbisik, "Selamat ulang tahun, Nyonya Gelar."


Gaya tersentak. Kegiatannya seketika itu terhenti. Sepasang matanya terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Gaya mendongak. Menatap Gelar sambil mengkedip-kedipkan bulu mata lentiknya.


Gelar mengulas senyum, aksi istrinya itu begitu menggemaskan. Gelar melabuhkan bibirnya di bibir Gaya. Satu tangannya membuka laci nakas. Gelar meraih sesuatu yang tampak berkilau. Memasangkannya di leher Gaya. Gaya bahkan tidak menyadari tindakan suaminya itu. Terlalu terbuai dengan permainan bibir Gelar.


"Terlihat indah jika dikenakan oleh istriku. Happy birthday, kesayangan." tutur Gelar mengulangi perkataan sebelumnya, sesaat setelah pagutan bibir itu terlepas.


Gelar mengarahkan tangan Gaya pada hadiah yang baru saja dipasangkan. Sebuah diamond necklaces dengan design asimetris, melingkar indah di leher Gaya. Kombinasi kulit Gaya yang putih, memberi efek kilauan yang mengagumkan. Aura kecantikan seorang Gaya Candana terpancar dengan sempurna.


"Gelar...?" panggil wanita itu masih tidak percaya.


Gelar duduk. Menarik tubuh mungil istrinya ke pangkuan. Gelar mengecup singkat bibir Gaya.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika hari in..."


CUP!


Gelar tidak membiarkan istrinya melempar pertanyaan. Secepat kilat ia kembali menyambar bibir mungil Gaya.


"Huh, benar ya? Sepertinya cintaku ke kamu jauh lebih besar. Bahkan yang tidak akan pernah terpikirkan olehmu pun aku perhatikan," keluh Gelar sambil mengacak-acak rambut istrinya.


Di tengah kebingungan yang menyergap, Gaya mengernyitkan dahi.


"Beri aku hadiah!" seru Gelar sedikit kesal sambil meletakkan sebuah kotak berwarna putih.


"Ha-hadiah? Ka-kamu mau hadiah?" Gaya menatap kotak itu semakin bingung.


"Hmm..."


Gaya mengerucutkan bibirnya, "Bukannya aku yang ulang tahun? Kenapa kamu juga minta hadiah?" Gaya sedikit berpikir, berusaha menerka isi kotak itu. Gagal! Perhatiannya teralihkan pada berlian bening yang berkilau. Gaya menyentuh kalung pemberian Gelar. "Ini hadiah untukku? Lalu ini apa?" Gaya menunjuk kotak yang tengah dipegangnya.

__ADS_1


Gelar merapikan rambut Gaya. Menyelipkannya ke sudut telinga. "Beri aku hadiah!" Gelar mengulang kembali ucapannya. Kali ini lebih tegas.


Gaya merasa tidak enak. Terlalu banyak hadiah. Begitu pikirnya. Gaya pun mengembalikan kotak itu kepada Gelar. Menatap suaminya lalu menggeleng pelan, "Ini cukup, Gelar!" Gaya mencium kalung yang melingkar di lehernya. Senyumnya terus mengembang. "Bagus! Sangat bagus! Aku suka." Gaya menatap suaminya dengan mata berbinar. "Terima kasih suamiku. Aku sangat... sangat mencintaimu," ucap Gaya sebelum memeluk manja pria itu.


Gelar membalas pelukan Gaya, menghujani wanita itu dengan banyak kecupan di beberapa bagian tubuhnya.


"Mana hadiahku!"


Lagi! Pria itu menagih sesuatu yang diinginkannya. Kembali meletakkan kotak putih di tangan Gaya.


Gaya menjauhkan tubuhnya namun masih dalam jangkauan Gelar. Sedikit memiringkan kepala. Masih tidak mengerti dengan permintaan suaminya.


Gelar mendorong-dorong dahi Gaya, "Hei...! Ulang tahunku sudah lewat tiga hari yang lalu! Kau tidak memberiku hadiah? Aa... kau bahkan tidak tahu! Boro-boro merayakan! Mengucapkannya pun tidak!" sungut Gelar penuh kekesalan.


Gaya menutup mulut, matanya membulat. Nyaris loncat dari tempatnya. "A-apa! Ka-kamu ulang tahun? Ti-ti-tiga hari yang lalu?"


Gelar menghela napas, "Mungkin hanya istriku yang tidak tahu tanggal lahir suaminya."


Gelar menurunkan wanita itu dari pangkuannya. Kembali berbaring. Gelar menarik selimut, menutupi tubuhnya. Pura-pura ngambek.


Gaya terbahak, berulang kali mengguncang tubuh suaminya. "Gelar, maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Ok! Mulai hari ini, aku pasti akan mengingatnya. Maaf ya?" Gaya merayu tapi tetap diabaikan.


"Gelar? Kamu marah?" Gaya berusaha menarik selimut namun Gelar justru mempertahankannya. "Gelar, maaf. Ayo kita cari hadiah buat kamu. Kamu mau apa? Ayo cari!" Gaya membujuk.


Gelar masih acuh. Tidak tertarik menjawab istrinya. Gaya semakin diliputi rasa bersalah.


"Sayang, maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Bagaimana jika sekarang kita cari hadiah buat kamu? Ayo, jalan-jalan! Kamu mau apa?"


Tidak terpengaruh. Si Otak Karang tetap pada pendiriannya.


Gaya mulai putus asa. Wanita itu diam. Cukup lama. Gaya memandang sendu tubuh suaminya yang tertutup selimut. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk mata.


Satu kata yang sama keluar dari bibir Gaya. Suara wanita itu mulai melemah.


Gaya menunduk, air matanya bercucuran. "Aku janji, ke depan, aku tidak akan melupakannya. Maafkan aku, Gelar. Kuharap kali ini kau memaklumi. Hubungan kita pada awalnya tidak seperti ini."


Gelar masih nyaman bersembunyi dibalik selimut. Tapi siapa sangka. Pria itu justru tertawa tanpa suara. Dasar Si Jahil!


"Gelar, jangan marah." Gaya semakin putus asa.


Mendengar wanitanya sesenggukan, Gelar tidak tega. Pria itu menarik selimut. Membiarkan wajahnya terlihat oleh Gaya.


Gelar bangkit, duduk menghadap istrinya. Gelar menepuk-nepuk puncak kepala Gaya.


"Kenapa kau jadi cengeng? Sejak menikah, aku jadi sering melihatmu menangis. Sebelum itu aku bahkan tidak pernah melihatmu menangis. Hanya wajah angkuh yang selalu kau perlihatkan. Oh, angkuhku..." Gelar menarik Gaya ke dalam pelukan. Pria itu terkekeh geli dengan panggilannya sendiri. "Aku suka melihat sisi lain dari dirimu. Bahkan untuk yang satu ini."


Gaya menarik dirinya, menyeka air mata lalu menatap Gelar. "Kamu ga marah?"


Dengan santainya Gelar menggeleng. Wajahnya sangat datar.


"Beneran?" Gaya tidak percaya.


Gelar mengangguk santai, "Kamu nangisin apa sih?" Gelar pura-pura bodoh.


Gaya membuang pandangan, tertawa hampa. Tak lama kemudian ia menghujani pria itu dengan pukulan-pukulan guling.


"Dasar ga peka! Aku nangisin kamu, dan kamu masih tanya aku nangisin apa?" Gaya terus menyerang.

__ADS_1


Serangan itu harus berhenti ketika Gelar mengukung tubuh Gaya. Gelar mengecup singkat bibir Gaya. Tatapannya menyihir.


"Buka kotaknya dan beri aku hadiah! Hadiah ulang tahunku ada di dalam. Cuma kamu yang bisa memberikan sesuatu yang kuinginkan." Gelar menarik tubuh Gaya. Mengajaknya duduk.


Ragu! Tapi Gaya tetap membukanya. Wajah Gaya merona hebat ketika ia berhasil membuka kotak itu.


"Gelar, bagaimana jika...?"


Gelar menaruh jari telunjuknya di bibir Gaya. Tidak mengizinkan wanita itu menyuarakan dugaannya.


Gelar menggeleng pelan, menarik tangan Gaya. Menuntunnya ke kamar mandi.


"Aku tunggu ya, cantik?" ucap Gelar sambil mengelus lembut pipi Gaya.


Jantung Gaya berpacu cepat. Takut, gugup, tapi juga penasaran.


"Aku coba, tunggu sebentar."


Gelar mengangguk. Gelar memilih menunggu di depan kamar mandi. Bersandar santai pada dinding di dekat pintu.


CEKLEK!


Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Senyum Gelar tertangkap mata Gaya yang tengah berkaca-kaca. Gaya menutup mulut. Bahunya naik turun seiring dengan cairan bening yang mulai menetes. Gelar merentangkan kedua tangannya. Siap menangkap Gaya. Wajah Gelar semakin terlihat bahagia.


"Gelar...?" panggil Gaya.


Wanita itu mendekat, memeluk erat suaminya. Tangisnya pecah.


Gelar mengusap punggung Gaya, "Ini kado terindah untukku. Terima kasih Gaya. Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anakku." Gelar menjatuhkan satu kecupan di puncak kepala Gaya.


Gaya menarik diri. Menatap suaminya penuh selidik, "Darimana kamu tau? Aku kan belum bilang apa-apa."


Gelar terkekeh, menjentikkan jarinya di kening Gaya. "Sudah kubilang. Saking cintanya aku sama kamu, aku bahkan sampai tahu kapan terakhir kamu datang bulan. Ga kepikiran kan kamu?"


Gaya menyeka sisa-sisa air matanya. Manik kecoklatan itu tampak mengkristal. "Benarkah?"


Pria itu mengangguk. Gaya pun semakin bahagia. Gaya mengeratkan pelukannya. "Gelar, aku hamil! Aku hamil! Aku hamil!" seru Gaya kegirangan. Gaya melepas pelukan hanya untuk menutup mulutnya. Masih tidak menyangka. "Secepat ini?" tanya Gaya. Air mata bahagia pun kembali berjatuhan.


"Satu lagi! Kebahagiaan Anugerah Group semakin sempurna," ujar Gelar.


"Ada lagi? Apa?" Gaya penasaran.


"Keponakan kembar kita sudah lahir. Ulang tahunnya sama kaya kamu, sayang." Gelar mencubit hidung Gaya.


"Sungguh?" Gaya sangat antusias. Menggenggam erat kedua tangan pria itu. "Ini hari yang membahagiakan, Gelar."


Hanya sesaat senyum itu bertengger. Jiwa kepelitannya kembali nampak. "Huh, pengeluaranku di bulan ini pasti membengkak."


Gaya mencubit perut Gelar. "Kau ini tetap saja pelit!" protes Gaya.


Gaya melangkah menuju kamar mandi, ingin segera membersihkan tubuh lalu menemui keponakan-keponakannya yang sudah pasti sangat lucu.


"Hei! Pelit dimananya coba? Apa kau tidak tahu? Tabunganku terkuras banyak demi wanita yang sangat aku cintai?" teriak Gelar membuat Gaya menahan tawa.


Gaya kembali keluar. Menarik Gelar masuk. Gaya mulai menggoda Gelar. Tubuh mereka yang sudah polos semakin membakar jiwa. Percintaan singkat sambil mandi pun tak terhindarkan.


***

__ADS_1


Selingan biar ga tegang terus. Sudah siap ke puncak konflik? Ada yang mau bonus chapter kisahnya Yuna dan Eric? Aku ada lima chap kalo mau 😂


***


__ADS_2