
Sepasang mata Bryan menajam. Jantungnya berpacu lebih cepat. Pada saat yang sama, aliran darah terasa berhenti. Bryan membatu. Menoleh ragu, masih dengan ekspresi terkejut. Batin pria itu tengah berkecamuk.
'Sejak kapan Gaya berdiri disana? Kuharap dia tidak mendengar apapun. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal itu. Hanya tidak ingin melihatnya terluka. Apakah setelah ini kami masih bisa bersahabat?' (Bryan)
"Bry?" Gaya mengulang panggilannya. Membuat pria itu tersadar.
Bryan mengerjapkan mata. Segera menata hati dan pikiran.
Di belakang Bryan, Orlando berusaha bangkit dengan susah payah. Pria paruh baya itu tampak kelihangan pijakan. Nyaris terjatuh kembali ketika tubuhnya gemetar hebat. Menelisik wanita cantik yang mewarisi wajah Fina dengan tatapan tidak percaya. Keringat dingin mulai mengembun di celah kulit. Orlando kembali kehilangan keseimbangan. Beruntung, Bryan mengulurkan tangan. Menjaga ayah biologisnya agar tidak sampai ambruk.
"Kita ke rumah sakit. Jantung ayah nampak tidak sehat," usul Bryan. Tidak bermaksud mengabaikan Gaya.
Orlando menggeleng. Memegang letak jantung tanpa mengalihkan perhatiannya pada Gaya.
Tidak kalah tercengang, Gaya pun masih tidak menyangka. Apa yang didengarnya benar-benar membuat wanita itu membeku. Tapi tidak dengan Gelar, Gempa, dan Katrina. Mereka sudah mengetahui kebenaran yang disembunyikan Bryan selama ini.
Ya! Berkat alat penyadap yang dipasang di sekitar Orlando dan Bryan, Gempa mengetahui jika Bryan akan mengungkap sebuah fakta. Untuk itu, Bangsawan menyuruh Gelar dan Gaya berkunjung ke peristirahatan abadi Fina. Gelar yang tidak tahan dengan rasa penasaran yang ditimbulkan Bangsawan, menyambangi secret room milik Badai. Mengorek informasi sedalam mungkin.
"Bry? Be-benarkah apa yang kudengar?" tanya Gaya dengan bibir bergetar. Cairan bening tergelincir melewati kedua pipi.
Bryan menoleh. Sakit sekali rasanya melihat wanita yang memiliki hatinya itu menangis. Ingin menghapus namun tidak mampu. Bryan tahu diri. Ada pria di samping Gaya yang lebih berhak daripada dirinya yang hanya berstatus sahabat. Gelar pun melakukan perannya dengan baik. Menimbulkan rasa perih yang teramat di hati Bryan. Pria yang pandai menyembunyikan perasaannya itu memasang wajah datar.
Sempat mengalihkan pandangan sejenak. Bryan menatap Gaya. Sorot matanya memancarkan penyesalan.
"Maaf, aku tidak bermaksud...."
"Benar atau tidak!" sentak Gaya memotong ucapan Bryan.
Bergeming sejenak, menatap Gaya tepat di manik coklatnya. Bryan kembali berkata, "Seperti yang kau dengar."
Di luar dugaan! Gaya justru berlari, mendekap erat pria yang selama ini menemani perjalanan hidupnya.
"Terlepas dari masa lalu, aku bahagia mendapatimu sebagai saudara. Mungkin kenyataan ini terdengar kejam atau bahkan tidak adil untukmu. Sungguh, aku senang menjadi saudara sekaligus sahabatmu Bry," tutur Gaya sambil terisak.
Bryan mengulas senyum pahit. Dunia tak berpihak kepadanya. Perasaan yang mendalam itu harus dibentengi setinggi langit karena sebuah hubungan darah. Bryan tahu, hari ini pasti datang. Tapi pria yang terkenal ramah itu masih tidak menyangka, sahabat terbaiknya harus mengetahui masalah itu dengan cara seperti ini.
Bryan membalas pelukan Gaya. Satu tangannya masih digunakan untuk membantu Orlando. Bryan memberikan usapan lembut dipunggung Gaya.
"Jangan membebani pikiranmu dengan perasaanku. Sudah kubilang, aku hanya butuh waktu. Jaga dirimu. Aku tidak ingin calon keponakanku terganggu. Pastikan dia lahir dengan sehat, hem?"
Gaya berulang kali mengangguk, menarik diri sejenak, menatap Bryan dengan linangan air mata.
__ADS_1
"Berada di dekatku tidaklah mudah untukmu. Jika kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu. Dari hatiku yang terdalam, aku ingin kau bahagia Bry."
Bryan menyunggingkan sudut bibirnya, menyapu air mata Gaya dengan sapu tangan yang ia sematkan di saku celana.
"Gaya?" panggil Bryan sambil melempar senyum mengejek pada Gelar.
Gaya tidak menjawab. Namun, gerakan tangannya menghentikan Bryan yang masih sibuk menyeka cairan bening di pipi wanita itu.
"Apa kamu ingin tahu kenapa dulu aku bisa menggagalkan aksi Randy yang hampir menodaimu? Tidakkah dirimu penasaran? Padahal dulu aku sudah berpamitan hendak liburan ke luar kota? Apa kamu tidak merasa janggal? Darimana aku tahu semua penderitaan yang kau alami di rumah Candana? Hingga pada akhirnya kalimat ikrar keluar dari mulutku, bahwa aku akan melindungimu, berdiri di sampingmu sebagai sahabat, dan selalu membantumu? Kenapa aku tidak menahanmu ketika kau meminta saran untuk menikah dengannya? Kamu tidak ingin tahu?" Bryan menghujani Gaya dengan banyak pertanyaan.
Gaya menoleh ke belakang, menatap suaminya yang tengah memperlihatkan wajah sengit.
"A-apa karena dia?" duga Gaya sedikit ragu.
Bryan mengangguk, tatapannya tidak ramah pada Gelar dan Gempa. "Pecundang tengik itu terlalu gengsi menunjukan perasaannya kepadamu. Dia menyulut api peperangan ketika tidak sengaja melihatmu diseret Randy. Caranya meminta tolong tetap saja sombong. Jangan lupakan tingkah tengilnya yang menyebalkan!" cibir Bryan, merasa sangat kesal.
Gaya terbahak, menutup mulut, menatap suaminya geli. "Benarkah? Bisa kau ceritakan kepadaku?"
Bryan pun mengajak Gelar dan Gempa bernostalgia. Mengenang hari dimana ketiganya secara tidak langsung terlibat keakraban.
SET!
Napas Gelar yang terengah, hampir tidak bisa berkata-kata.
Bryan memicing penuh selidik. Gelar kehabisan tenaga. Berlari cukup jauh, menuju parkiran tempat Bryan hendak memacu motornya.
Gelar mengatur napas lalu menyeringai. "Oh, ayolah! Apa kau masih menaruh dendam kepadaku? Sebaiknya lupakan! Selamatkan musuh bebuyutanku. Aku tidak ingin kehilangan Si Angkuh yang menyebalkan secepat ini. Hidupku bisa hampa tanpa menjahilinya. Aku melihat wanita itu digiring oleh harimau gila yang kelaparan. Jangan sampai menyesal. Dia bisa kehilangan mahkotanya," bisik Gelar setengah meledek. Menunjuk ke arah Randy yang tengah menarik kasar tangan Gaya. Cukup jauh dari lokasi mereka saat ini.
Bryan tidak bisa menutupi kekesalannya. Bagaimanapun, Gelar menjadi penyebab kandasnya hubungan pria itu dengan Gaya. Tanpa bertanya lebih lanjut, dan karena panik, dengan bodohnya Bryan justru berlari. Menyeret Gelar, meninggalkan motornya. Padahal mereka bisa saja menaiki motor Bryan. Akan lebih mempersingkat waktu. Tapi mereka tidak melakukan hal itu.
Kemarahan Bryan tidak terkendali ketika Gaya nyaris kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Bryan menghajar Randy tanpa ampun. Sementara dibalik semak, Gelar bernapas lega. Mendapati wanitanya baik-baik saja. Benar! Gelar terlalu pengecut! Tapi tetap saja! Berkat Gelar, Gaya selamat.
Dari jarak aman, seorang murid yang juga masih mengenakan seragam putih abu itu juga tak kalah lega. Di atas pohon, sambil memakan mangga yang kebetulan matang, Gempa menyaksikan bagaimana teman seperguruannya memberi Randy pelajaran.
Keberadaan Gempa disana tentu saja bukan untuk memata-matai Bryan maupun Gaya. Memantau sekaligus menjaga anak majikannya sudah dibebankan Bangsawan kepada Gempa. Meskipun Gelar juga dibekali bodyguard bayangan, Gempa tetap berguna. Melaporkan apa saja yang dilakukan Gelar. Termasuk kelakuan nakalnya kepada Gaya. Tidak mungkin Bangsawan tidak tahu jika Gelar menyukai Gaya sejak lama.
Bryan menghentikan taxi, menarik bodyguard bayangan yang ditunjuk Bangsawan untuk mengikuti Gelar. Pria yang pura-pura asing itu tidak punya pilihan. Beruntung, identitasnya tidak dibuka di depan Gelar.
Tentu Bryan tahu. Pernah menaruh dendam pada Gelar pasca putus dengan Gaya, ia diam-diam menyelidiki latar belakang saingannya.
"Jangan takut! Dia bodyguard temanku. Akan mengantarkanmu sampai ke rumah. Memastikan dirimu baik-baik saja. Kakakmu yang tidak waras itu tidak akan berani bertingkah. Percayalah!" seru Bryan.
__ADS_1
Gaya yang masih ketakutan hanya bisa mengangguk pasrah.
Tak berselang lama setelah Gaya pergi, Gelar justru ditodong pencopet. Merasa terancam, Gempa hendak turun, menyelamatkan Gelar. Namun, aksi memukau yang ditunjukan Bryan membuat Gempa kembali menontonnya. Saking senang dan bersemangatnya, Gempa bahkan lupa pegangan pada ranting pohon yang tengah dijadikan tempat persembunyian.
BRUK!
Gempa terjatuh, kedua lututnya berdarah. Bukan rasa sakit yang tengah Gempa sesalkan. Namun, wajahnya yang terkena kotoran hewan menimbulkan penyesalan terdalam.
Melihat hal itu, Gelar dan Bryan tidak tinggal diam. Menghampiri Gempa, bermaksud menolong.
Dasar tidak tahu diri! Bukannya senang karena mereka peduli, Gempa justru berulah. Berbagi kotoran ayam pada wajah Bryan dan Gelar. Memancing kemurkaan singa jantan. Gempa menjadi bulan-bulanan Gelar dan Bryan. Meskipun kesal, tapi mereka tetap membawa Gempa ke klinik terdekat. Sambil menunggu Gempa di tangani, Gelar kembali mengajak Bryan berperang.
Gelar melempar sebuah amplop coklat berukuran sedang ke pangkuan Bryan, "Kupastikan kau tidak mengetahui hal ini. Menyedihkan! Pria sepertiku justru mengetahuinya. Semoga dia panjang umur. Sungguh aku belum pernah menemukan lawan yang sepadan di segala bidang seperti dirinya. Asal kau tahu, aku pernah memergoki Si Angkuh hampir bunuh diri. Tentu saja aku mendukungnya! Kau pikir aku tidak senang?"
Amplop berisi foto Gaya yang tengah disiksa itu sebenarnya diberikan Gelar dengan tujuan agar Bryan mau mengajarkan ilmu bela diri kepada Gaya. Darimana Gelar mendapatkan bukti kejahatan Siska, Randy, dan Saka? Tentu saja dari orang dalam yang dibayar dengan uang sakunya.
Awalnya Gelar hanya ingin tahu keseharian Gaya. Di luar pemikiran Gelar! Salah satu ART yang dipercaya justru melaporkan perbuatan tidak menyenangkan itu.
Bryan kembali meradang. Tidak terima dengan perlakuan keluarga Candana. Bryan bersumpah akan mendidik Gaya menjadi tangguh.
Gaya tidak sanggup lagi menahan tawa, terlebih melihat wajah suaminya yang sudah seperti kepiting rebus. Menahan rasa malu yang tengah membelenggu.
"Dia sangat mencintaimu. Aku pikir sudah sejak lama. Kebiasaannya yang selalu menguntitmu membuatku risih. Aku bahkan pernah menangkap basah mata-matanya. Selama mereka tidak menyakitimu, aku memilih diam. Mereka juga berguna. Secara tidak langsung menjagamu dimanapun kamu berada," ucap Bryan.
Gaya masih tertawa, "Ah... manis sekali." Langkah manja mengantarkan Gaya pada pelukan Gelar.
Gelar tersenyum miring, "Papah benar-benar menunjukan obat jantung dan hatiku. Mereka saudara? Woah, itu kemenangan yang hakiki."
Gempa yang sedari tadi menyimak, tiba-tiba melayangkan protes. Mendorong kepala Gelar hingga terhuyung ke depan.
"Tidak bisakah kau menjaga ocehanmu? Kau tahu persis bagaimana perasaan Bryan, tapi kau masih saja berkata demikian!" tegur Gempa.
"Hei, aku hanya bercanda!" kilah Gelar sambil mendorong Gempa.
"Sudah! Sudah!" Bryan menjadi penengah di antara mereka. "Oh iya Gay, ini ayahku." Bryan mengenalkan Orlando kepada sahabatnya.
Orlando yang masih shock, reflek melempar senyum ramah. Gaya pun membalas senyum itu tak kalah ramah.
"Uncle?" sapa Gaya hendak mencium tangan pria paruh baya itu. Namun, tiba-tiba ranting pohon yang cukup besar jatuh termakan usia. Hampir mengenai wanita itu andai Gelar tidak melindungi Gaya.
Sayang! Batang ranting menciderai kepala Gelar. Cairan merah pekat mengalir dari kepala pria itu. Gelar berusaha menahan rasa sakit yang teramat. Sebisa mungkin tidak menunjukannya. Bukan luka di kepala yang terasa sakit. Tapi otaknya tengah memutar ulang insiden kecelakaan yang merenggut nyawa Danu Candana.
__ADS_1