KARYA KEDUA

KARYA KEDUA
REUNION?


__ADS_3

Satu jam sebelum kedatangan Gempa dan Katrina, Bryan menemui Badai di kediamannya.


Gagal memberitahu teman seperguruan, Bryan memberanikan diri untuk menemui bosnya para bodyguard di keluarga Anugerah.


"Maaf telah membuatmu menunggu," ucap Badai, menyapa Bryan yang sudah duduk di ruang tamu selama dua puluh menit. "Pekerjaan membuatku berpindah rumah ketika orang masih berjelajah di alam mimpi," papar pria itu bermaksud memberi alasan.


"It's okay," jawab Bryan.


Tanpa basa-basi, Bryan menyodorkan gawai miliknya. Sebuah rekaman yang diambil lewat kamera tersembunyi pada mobil yang terparkir di depan rumah selingkuhan Orlando tengah di putar. Memperlihatkan dua wanita cantik yang tampak satu misi.


Cukup terkejut! Badai menatap Bryan, menuntut penjelasan.


"Siapa mereka? Dia bukan adikku! Wanita ini juga bukan Gaya." Badai menganalisa. Suara mereka yang asing membuat Badai meyakini opininya.


Bryan mengangguk, "Kau benar. Dia Clara, mantan Gelar. Memilih merubah wajahnya menyerupai Gaya. Sementara yang ini—" Bryan menghentikan video, memperjelas wanita yang dimaksud. "Kembaran Clara. Menyamar menjadi Katrina."


Badai memicing, "Apa yang membuatmu begitu yakin?"


Bryan mengalihkan pandangan. Lidahnya terasa getir. Malu sangat malu.


"Kembaran Clara adalah peliharaan ayahku. Aku menyelidiki wanita itu cukup lama. Ayahku mantan kekasih ibu Gaya. Sesuatu yang rumit terjadi di keluargaku. Kau bisa menanyakan hal itu kepada Gempa. Intinya, aku dan Gaya bersaudara. Tante Fina adik ayahku. Fakta itu membuat hubungan mereka kandas. Ayahku tidak bisa move on. Memilih mencari pelampiasan. Menyalurkan obsesinya dengan mendanai wanita itu sampai bertransformasi menjadi Fina," papar Bryan.


Badai mengembalikan gawai kepada pemiliknya. Tampak tidak terkejut, "Soal keluargamu, kami sudah tahu. Untuk itulah tuan Bangsawan memerintahkan Gelar dan Gaya berkunjung ke makam waktu itu. Mendengar sendiri apa yang kalian bicarakan."


Sama halnya dengan Badai, Bryan tidak terkejut. Bodyguard keluarga Anugerah jelas bukan orang sembarangan. Semua yang berhubungan dengan keluarga itu tak luput dari pengamatan.


Badai bersedekap. Hanya sesaat sebelum lelaki itu menopang dagu, tampak berpikir.


"Jika dia meniru wajah Fina, tidakkah dia sudah menyerupai Gaya? Kenapa harus repot-repot melakukan bedah ulang demi memiliki wajah Katrina? Kenapa tidak dia saja yang menyamar menjadi Gaya? Merepotkan sekali!"


"Kupikir motifnya sama. Kekayaan dan kekuasaan. Pria yang mereka sukai dianggap sebagai bonus tambahan," ungkap Bryan.


Badai menaikkan satu alis, "Aku tidak heran jika itu Clara. Semenjak kemunculannya, dia memang menginginkan Gelar. Tapi aku tidak yakin dengan motif kembarannya."


"Sejak dulu, dia tergila-gila pada Gempa. Tapi Gempa dan aku justru tertarik pada Clara. Dulu! Itu dulu!" Bryan menekankan kalimat terakhir.


Badai melempar senyum mengejek, "Lucu sekali! Kalian punya paras lumayan. Wanita juga bertebaran. Kenapa harus terjerat pada satu pesona?"


Mengabaikan pertanyaan Badai, Bryan kembali fokus pada pokok masalah.


"Clara lebih licik daripada saudara kembarnya. Bukan tidak mungkin Katrina palsu hanya dijadikan umpan saja. Memecah kekuatan Anugerah Group. Karena aku yakin, setengah kekuatanmu ada pada Gempa," tukas Bryan.


Badai diam. Meskipun demikian, hati pria itu tidak memungkiri. Gempa dan Katrina memiliki peran penting di dalam kepemimpinannya.


"Aku juga telah menemui Big Boss. Dia mendukung keinginan Gaya palsu. Entahlah! Aku tidak mengerti pola pikirnya. Dia bilang Gaya dan Katrina dalam pengawasan. Tapi tetap saja! Hatiku tidak tenang," sambung Bryan.


Badai menatap nanar lawan bicara, tangannya mengepal erat diiringi rahang yang menguat. "Dia tahu hal ini tapi tidak memberitahuku?"


"Kupikir mereka yang bekerja untuk Big Boss adalah orang-orangmu," duga Bryan.

__ADS_1


"Benar, aku yang menyeleksi mereka. Tapi mereka tidak bekerja di bawah naunganku. Murni atas perintah Big Boss. Lagi pula Big Boss tidak melakukan pergerakan apapun. Memilih bersembunyi, menonton drama kehidupan. Apa yang ingin dibuktikannya sudah terjawab oleh waktu," sanggah Badai.


"Kau membutuhkan akses CCTV Gaya's Style?" tanya Bryan, bermaksud membantu.


"Itu hal yang mudah," sahut Badai dingin.


Bryan mengangguk, "Aku telah memeriksa semua rekaman. Seperti kejadian di inner ring road, CCTV telah diretas. Hanya menampilkan saat Gaya dan Katrina makan siang lalu tertidur. Sudah jelas bahwa Clara dan kembarannya memanfaatkan momentum itu untuk bertukar identitas. Pasalnya, kucing peliharaan Pak Satpam yang memakan sisa makanan mereka juga tertidur. Bukan tidak mungkin makanan itu telah diberi obat tidur."


Badai nyaris hilang kendali, memukul sandaran sofa dengan ekspresi menakutkan.


"Tsunami!" panggil Badai, lantang. Membuat anak buah patuh, segera mendekat.


"Beritahu tuan Bangsawan tentang hal ini. Aku akan mengulur waktu. Menyambut tamu spesial. Tuan Bangsawan akan percaya jika dia melihatnya sendiri!" seru Badai.


"Baik," Tsunami menunduk lalu pergi menuju rumah Bangsawan.


Badai mengaktifkan alat komunikasi yang tampak seperti jam tangan. Perintah penting dikirim pria itu ke secret room.


["Periksa CCTV tersembunyi di Gaya's Style! Laporkan kepadaku jika kalian melihat kejanggalan yang berhubungan dengan Gaya dan Katrina!"]


Tanpa menunggu jawaban, Badai kembali mematikan alat khusus.


***


Di bawah pohon rindang, tampak sudah lanjut usia. Bangsawan, Badai, dan Bryan baru saja keluar dari pintu rahasia. Menyusuri lorong panjang yang berujung.


Sebuah pintu yang tertutup dedaunan rambat itu masih membuat Bangsawan tercengang. Terkesan seperti tembok kotor yang tidak terurus. Siapa sangka! Tembok itu justru menjadi penghubung antara dirinya dengan sosok yang sangat dirindukan.


Mendengar suara yang tidak asing, Bangsawan menoleh. Pria paruh baya itu tergelak, menyaksikan di depan mata sosok yang telah lama menemani perjalanan hidupnya.


Bangsawan berkacak pinggang. "Turun!" seru Bangsawan penuh emosi. Menunjuk remeh si penunggang kuda.


Big Boss tertawa. Memancing kudanya agar menaikkan kedua kaki depan sambil mengeluarkan suara mengejek. Bangsawan pun dibuat ketakutan. Nyaris terkena kaki kuda andai Badai dan Bryan tidak sigap menarik pria itu.


"Kau benar-benar keterlaluan! Bercandamu sungguh kelewatan!" maki Bangsawan, semakin kesal.


Lompatan lincah yang ditunjukan membuat Bangsawan muak. Big Boss sudah turun. Menyerahkan kudanya pada anak buah.


"Tidak merindukanku, Bangsawan?" goda Big Boss.


"Cih!" Bangsawan meludah. Menjangkau pria itu dan...


BUG!


Satu pukulan mengenai perut Big Boss. Pria itu pasrah, sengaja tidak melawan.


"Hadiah dariku karena berani membohongi seorang Bangsawan Anugerah!"


BUG!

__ADS_1


Pukulan selanjutnya mengenai salah satu pipi. Meninggalkan bercak kemerahan di sudut bibir.


"Sandiwara apa yang sedang kau mainkan! Cepat katakan!"


Big Boss tertawa, enggan menjawab pertanyaan Bangsawan.


BUG!


"Kenapa kau bersembunyi? Memalsukan kematianmu? Kau pikir itu lucu? Apa kecelakaan itu sengaja dibuat olehmu? Apa kau tidak sadar? Putraku nyaris kehilangan nyawa! Kau masih bisa sesantai ini?" berondong Bangsawan dengan mata merah nan tajam.


Penuh kesetanan, Bangsawan tidak melepas pria itu.


"Jawab!" hardik Bangsawan menuntut penjelasan.


BUG! BUG! BUG!


Big Boss ambruk disusul Bangsawan yang juga ikut tersungkur. Menindih tubuh pria paruh baya itu.


Di tengah ketidakberdayaan, Big Boss menggeleng, "Tidak Bangsa! Bukan aku dalang dibalik kecelakaan itu. Berkat Badai dan Katrina kami selamat."


"Kenapa kau harus menyembunyikannya dariku! Kau anggap aku ini apa! Kau mengenalku cukup baik! Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini kepadaku!" teriak Bangsawan di depan wajah Big Boss.


Big Boss merangkul Bangsawan, "Maafkan aku. Aku tidak ingin melibatkanmu. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membahayakan putramu. Kau tahu aku juga menyayanginya. Mana mungkin aku sanggup bertindak demikian."


"Danu...!" raung Bangsawan. Air mata yang berusaha ditahan, lolos begitu saja.


Bangsawan melemah. Tenaganya seakan terkuras habis. Membalas pelukan pria itu tak kalah kasar.


"Aku berjanji, setelah ini kita akan melangkah bersama. Menyelamatkan Gaya dan Katrina," bujuk Danu.


"Jika terjadi apa-apa dengan mereka, kau harus bertanggungjawab!" tuntut Bangsawan sambil menghempaskan tubuh Danu.


Danu mengangguk, kembali memeluk Bangsawan. Menyalurkan kerinduan yang terpendam. Setelah sekian lama, Danu bisa kembali pada sahabatnya.


"Jika Hartawan tahu, dia pasti akan menyuntik mati dirimu!" cela Bangsawan.


Danu tergelak, "Benar! Dia akan membunuhku." Danu menjauhkan tubuh Bangsawan sejenak. Menatap tulus sahabatnya. "Terima kasih telah memenuhi permintaanku."


Bangsawan kembali dikuasai amarah. Sandiwara yang dimainkan Danu pada detik-detik kematiannya membuat Bangsawan murka.


Menikahkan Gelar dan Gaya saat pria itu hilang ingatan bukan pilihan yang baik. Sekalipun sudah menimbang matang, kekhawatiran Bangsawan tetap besar. Beruntung karena pernikahan yang diimpikan setiap orang hinggap dalam rumah tangga Gelar dan Gaya.


BUG! BUG! BUG!


"Besan sialan! Kenapa kau menyatukan mereka dengan cara seperti ini!" teriak Bangsawan, sangat kesal.


Tidak jauh dari lokasi, Gelar berjalan sempoyongan. Memegang dua botol minuman beralkohol. Penampilannya sangat kacau.


"Kenapa kalian bertengkar? Cukup aku saja yang patah hati. Kalian harus bahagia," racau Gelar sedikit tidak jelas sebelum pria itu ambruk. Jatuh, dan tertidur di aspal. Pria yang tengah mabuk berat itu, tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Gelar!" teriak semua orang, segera memberi pertolongan.


***


__ADS_2