
Gelar merasa semakin bersalah melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah di atas tempat tidur.
Selang infus yang terhubung pada tangan wanita itu menambah duri yang menghujam di jantungnya. Suhu tubuh Gaya yang belum turun seolah membakar hati Gelar. Wajah dan bibir Gaya yang pucat menampar pria itu. Membuatnya kelu, tak sanggup berkata-kata.
Gelar menggenggam erat tangan Gaya, perhatiannya tercurahkan penuh. Menatap pilu wanita yang telah disakitinya.
Ribuan kali Gelar berbisik, memohon pengampunan pada istrinya. Tampak sia-sia! Gaya tidak merespon. Masih memejamkan mata, melupakan sejenak rasa sakit yang digoreskan pria itu.
Gelar hampir sampai pada titik dimana pria itu ingin membawa Gaya ke rumah sakit, ketika tiba-tiba tangan Gaya yang tengah digenggamnya mulai bergerak. Gelar bahagia bukan main. Menyambut wanitanya kembali siuman.
"Gaya?" panggil Gelar penuh kekhawatiran.
Bangsawan dan Leni mendekat. Turut senang melihat Gaya mulai sadarkan diri.
Gaya mencoba membuka mata. Sayup-sayup di penglihatan, orang-orang disekitarnya perlahan mulai terlihat jelas.
DEG!
Gaya tak bergeming, fokus matanya tertuju pada pria yang tidak ingin ditemui. Masih terguncang, cairan bening mulai menganak sungai. Gaya menarik tangannya, tidak mengizinkan pria itu menggengamnya. Ketika Gelar hendak menghapus air mata Gaya, wanita itu justru memunggungi pria yang masih berstatus suaminya.
"Gaya?"
Suara Gelar terdengar berat. Sangat sakit mendapatkan penolakan wanita itu.
"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu!" seru Gaya tanpa menoleh. Ia menarik tangan, menutupi mulutnya. Meredam isak tangis yang keluar. Sungguh, melihat pria itu hatinya terasa perih.
Gelar tidak menyerah, masih berusaha membujuk istrinya. Gelar membelai rambut Gaya.
"Gay, kamu sal..."
Belum sempat pria itu melengkapi kalimatnya, Gaya beranjak. Menangkis kasar tangan Gelar. Gaya mengambil bantal memukuli Gelar, membabi buta. Melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan.
"Pergi kamu! Pergi! Pergi dan jangan pernah kembali! Aku tidak mau melihatmu! Aku membencimu! Aku jijik dengan pria yang mudah disentuh wanita lain! Sangat jijik! Pergi kamu! Pergi! Pergi! Pergi! Pergi!" teriak Gaya.
Air matanya jatuh berhamburan. Infus stand yang menopang cairan berisi air, elektrolit, dan glukosa itu jatuh seiring dengan gerakan Gaya yang tidak terkendali.
Gelar tidak menghalau serangan Gaya. Diam membeku. Membiarkan Gaya menghukum dirinya.
"Pergi! Pergi! Pergi!" sambung Gaya dengan suara melemah.
Bantal itu terlepas, jatuh ke lantai. Gaya menjambak rambut. Merasa sangat kacau. Tangisnya pun pecah. Gaya melepas selang infus ditangannya. Membuat semua orang khawatir.
Gelar menatap Gaya dengan mata yang berkaca. Ia hedak memeluk istrinya. Mencoba menenangkan. Tapi lagi-lagi emosi Gaya meledak.
Gaya mendorong pria itu, membuat tubuh Gelar terhuyung ke belakang. "Jangan menyentuhku! Pergi sebelum kau menyesal!" ancam Gaya sambil menunjuk pintu keluar.
Bangsawan dan Leni tidak bisa lagi tinggal diam. Leni menatap Bangsawan, sorot matanya seakan-akan tengah memperdebatkan sesuatu. Pada akhirnya, Bangsawan mengangguk. Menyetujui apa yang ingin Leni lakukan untuk membantu anak-anaknya.
"Gaya, aku akan tetap mengatakannya. Kamu salah paham dan harus mendengarkan penjelasanku. Aku dan Sena..."
Gaya menggeleng-gelengkan kepala, matanya terpejam rapat. Mendengar nama wanita itu disebut, Gaya menutup telinga.
"Pergi! Pergi! Kumohon pergi! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu! Sudah cukup Gelar! Sudah cukup! Hatiku tidak setahan yang kamu kira! Pergi! Kumohon pergi!" potong Gaya, mengiba.
Bangsawan menatap Gempa dan Badai. Tanpa diberi perintah, mereka tahu harus berbuat apa. Badai dan Gempa menggandeng Gelar, membawanya ke luar kamar. Pria itu terus meronta. Gelar enggan menyerah. Berusaha menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka. Sayang! Gaya tetap pada pendiriannya, tidak mau mendengarkan penjelasan Gelar.
"Lepas! Lepaskan! Lepas mas! Lepas! Aku harus mengakhiri kesalahpahaman ini! Lepaskan!" protes Gelar pada kedua bodyguardnya.
Badai dan Gempa tidak tertarik mengabulkan permintaan tuan mudanya. Mereka tetap menjalankan perintah. Dengan kekuatan yang dimiliki kedua bodyguard terbaik Bangsawan, tubuh Gelar mengawang di udara. Diapit Badai dan Gempa.
Dalam keadaan seperti itu, si otak karang tetap pada tujuannya.
__ADS_1
"Gaya! Percayalah padaku! Aku dan Sena hanya bersahabat! Tidak ada hubungan spesial diantara kami! Aku sangat menyayangimu! Aku mencintaimu! Hanya kamu Gaya! Hanya kamu pemilik hatiku! Aku memang salah! Caraku kelewatan! Aku hanya ingin kau menyadari perasaanmu kepadaku! Tidak ada tujuan lain! Kumohon maafkan aku! Maafkan aku Gaya! Beri aku kesempatan! Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi! Maafkan aku Gaya! Maafkan aku!"
BRAK!
Bangsawan yang kesal dengan kelakuan putranya membanting pintu tepat ketika Gelar sampai di depan pintu kamar Gaya.
Bangsawan berbalik, menghampiri menantunya yang tengah meraung di dalam pelukan Leni.
"Papah akan memberi pengertian kepadanya. Beristirahatlah." Bangsawan mengecup puncak kepala Gaya. Mengelus mahkota rambut itu penuh kasih sayang. Pria paruh baya itu keluar kamar. Menemui Gelar.
"Mamah?" rengek Gaya pada Leni. Tangisnya masih belum berhenti.
"Iya sayang, tenanglah." Leni memeluk Gaya, mengusap-usap punggung wanita itu. Menyalurkan ketenangan.
"Ma-maafkan Gaya sudah sangat keterlaluan pada Gelar mah?" ucap Gaya ketika ia merasa sudah lebih baik.
Leni menggeleng, mencakup kedua pipi Gaya. "Tidak sayang, Si B*doh memang salah. Kau boleh menghukumnya. Sudah ya, fokus dengan kesembuhanmu dulu. Jangan memikirkan anak b*doh itu!"
Gaya mengangguk, merasa tidak enak. Gaya mengeratkan pelukannya. "Terima kasih mah, terima kasih telah menerima Gaya dengan segala kekurangan Gaya. Gaya beruntung memiliki mamah."
Leni mengulas senyum, menjauhkan tubuh Gaya sejenak. "Diinfus lagi ya?"
Gaya dengan cepat menggeleng, "Gaya ga suka diinfus mah."
Leni terkekeh, tingkah menantunya itu mengingatkan ia pada Gelar. "Kalian memang cocok!" Leni mencubit hidung Gaya, gemas. "Ya sudah, tapi makan terus minum obat!" perintah Leni terdengar tidak ingin dibantah.
Gaya mengangguk pasrah. Leni mengambil nampan berisi bubur, minuman, dan obat Gaya. Dengan telaten wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menyuapi menantunya.
Gaya menutup wajahnya dengan telapak tangan ketika suapan kedua diarahkan kepadanya. Gaya menggeleng-gelengkan kepala. Tangis Gaya kembali pecah ketika bayangan Gelar tengah membuka resleting Sena melintas di ingatannya.
Leni menghela napas, meraih ponsel di atas nakas. Sudah tidak tahan melihat Gaya terus menerus menangisi putranya.
Gaya semakin histeris ketika disuguhi sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. "Mamah, tolong jangan diputar. Gaya ga mau lihat. Gaya ga mau dengar. Gaya ga kuat mah."
Leni kembali menghela napas, menghentikan video yang tengah berputar. Meletakkan nampan di atas nakas lalu kembali fokus pada Gaya.
Leni menyampirkan kedua tangannya di bahu Gaya, "Percaya sama mamah. Kamu salah paham. Kamu harus melihatnya. Kamu harus mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Atau, kamu akan menyesal seumur hidupmu."
Gaya menarik tangan yang menutupi wajahnya. Leni menyambutnya dengan senyum hangat. Perlakuan Leni begitu lembut. Leni menyapu air mata Gaya penuh kasih sayang. Wanita itu memberikan gawai miliknya kepada Gaya. Gaya menguatkan hati untuk melihatnya.
Tawa kecil Gaya terdengar di telinga Leni ketika durasi video yang diputarnya habis. Gaya mengusap sisa-sisa air matanya yang hampir mengering. Semakin menunduk ketika Leni berusaha menggodanya.
"Kenapa Gaya? Tadi kamu menangis? Kenapa sekarang wajahmu merona?" ledek Leni.
"Jadi, Gelar tidak selingkuh mah?" tanyanya malu-malu.
"Tidak sayang. Mamah akan menggantungnya di Monas jika dia berani berbuat seperti itu!" tegas Leni.
Gaya terkekeh, "Mah, Gaya lapar."
Leni tersenyum sambil menggeleng, kembali mengambil bubur dan menyuapinya.
Gaya mengambil ponsel. Mengintip pria yang dicintainya itu dari kamera tersembunyi yang terhubung ke handphone.
Melihat Gelar tengah uring-uringan di ruang tengah, membuat hati Gaya berbunga-bunga. Terlebih Bangsawan juga terlihat sedang kehabisan kesabaran melihat kebodohan putra sulungnya. Sungguh, tontonan itu memberikan kesembuhan pada hatinya yang sempat lara.
Leni menahan tawa ketika dengan lahap Gaya menyantap makanannya. Wanita itu seolah lupa dengan sakit yang tengah menyerang tubuhnya. Gaya begitu senang. Wajahnya ceria. Senyumnya terus mengembang. Sesekali Gaya merebut sendok di tangan Leni, bergantian menyuapi wanita itu. Leni cukup senang dengan perlakuan Gaya.
"Sudah memaafkan Gelar, sayang?" tanya Leni setengah meledek.
Seketika garis lengkung di bibir Gaya tertarik ke dalam. Memudar begitu saja. Gaya diam, menatap Leni sambil berpikir.
__ADS_1
Gaya menunduk, "Gaya butuh waktu mah. Maaf... Gaya masih kesal dengan cara Gelar yang sengaja membuatku cemburu. Kenapa harus seperti itu sih? Dia jahat banget." Gaya kembali terisak.
Leni memberikan pelukan hangat, "Mamah mengerti. Tapi jangan berlarut-larut ya? Mamah minta maaf untuk semua kelakuan Gelar yang sudah menyakiti hatimu."
"Kenapa mamah jadi minta maaf, jangan seperti ini mah, Gaya mohon. Gaya sudah memaafkan Gelar. Hanya masih sedikit kesal saja." Gaya mengeratkan pelukannya.
"Ayo, lanjutkan makannya! Abis itu minum obat! Kamu harus sehat untuk menghukum Si B*doh yang sudah berani menyakiti hatimu," tutur Leni bermaksud menghibur.
Gaya kembali bersemangat, meraih gawai, mengintip Gelar. "Ya ampun mah, Gaya malu. Bucin Gaya kebangetan ya? Rasanya pengin lihat Gelar terus. Rasanya jadi ga pahit kalo makan sambil lihat dia. Tapi Gaya masih belum mau bertemu dia mah. Ga papa kan mah?"
Leni terkekeh, "Ga papa sayang."
Gaya menghabiskan makanannya tanpa beban. Setelah minum obat, wanita itu patuh ketika Leni menyuruhnya untuk beristirahat. Tidak butuh waktu lama, Gaya bahkan sudah terlelap mengarungi alam mimpi.
***
Suasana di kamar milik pria yang menjuluki dirinya sebagai jomblo terhormat itu jauh dari kata rapih. Nino mendengus frustasi, tidak suka dengan kamarnya yang berantakan. Pria yang sudah mengenakan stelan rapi itu membuka gorden, menampilkan pemandangan ibu kota dari sudut apartementnya.
Sinar matahari yang membias melalui kaca itu mengenai wajah Sena yang masih terlelap. Sena merasa terganggu. Wanita itu mengulet, berusaha menghindari sengatan sang surya yang mengenai paras cantiknya. Sepasang kelopak mata Sena mendadak terbuka ketika pergerakannya merasa dibatasi.
Sena tersentak dengan keadaan dirinya. Kedua tangannya terikat di headboard. Pun dengan kedua kakinya yang juga dalam keadaan terikat. Sena panik, ia pun berteriak, "Aaaa... kenapa aku diikat?"
Nino terkekeh, mendekat, melepaskan semua dasi yang ia gunakan untuk mengikat Sena.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku hanya sedang melakukan pembelaan diri. Kau hampir memperkosaku! Kau benar-benar gila! Jangan pernah mabuk-mabukan lagi! Beruntung kau bertemu pria sebaik diriku! Jika tidak, habislah masa depanmu!" gerutu Nino dengan nada sangat kesal.
Sepasang bola mata Sena melebar, reflek menutup mulut. "Ja-jadi, semalam hanya mimpi? Bukankah sore ini kita akan menikah? Bukankah kita telah melakukannya berulang kali?" Sena mengelus perutnya yang rata. "Jadi kita tidak benar-benar berhubungan badan? Jadi kau tidak menanamkan benihmu di rahimku?" berondong Sena sebelum tangisnya menggelegar.
Bukannya kasihan, Nino justru semakin kesal. Nino menyentil dahi Sena. "Beraninya kau menjadikanku obyek fantasi! Kau benar-benar gila!" Nino bangkit meninggalkan Sena.
"Tunggu!" seru Sena.
Nino menghentikan langkah, tanpa menoleh pria itu menjawab ocehan Sena.
"Aku mencintaimu, Nino!" ucap Sena lirih.
Nino mengulas senyum, "Aku tahu."
"Aku tergila-gila kepadamu."
"Aku juga tahu," jawab Nino dingin.
"Aku ingin kau menjadi suamiku."
"Itu terlihat sangat jelas."
"Menikahlah denganku!" pinta Sena.
Nino menoleh, menyunggingkan senyum sinis. "Jangan mimpi!"
Nino menyelipkan kedua tangannya di saku celana, dengan tega meninggalkan Sena begitu saja.
"Huaaaa.... kamu jahat Nino! Kamu jahat!" Sena meraung, menenggelamkan wajahnya ke bantal. Layaknya anak kecil yang tengah ngambek. Kedua kakinya ia bentur-benturkan ke kasur. Membuat seprei di bawahnya semakin berantakan.
"Harusnya aku tahu, jomblo terhormat sepertinya mana mungkin menyentuh tubuh perempuan semudah itu huhuhu..." sesal Sena masih terdengar di telinga Nino.
Siapa sangka, di luar kamar Nino tengah tertawa tanpa suara. Mendengar setiap kata yang keluar dari wanita yang mampu menggetarkan hatinya itu.
Benar, jika mereka telah berciuman. Benar mereka hampir melakukannya. Beruntung! Kesadaran Nino kembali ketika pria itu hampir melakukan penyatuan. Nino sempat frustasi dengan perbuatannya. Ia mengutuk kebodohan yang sudah dilakukan. Nino merasa bersalah. Nino tetap akan bertanggung jawab. Nino bersumpah akan meminta Sena pada Hartawan dengan cara yang baik.
***
__ADS_1