
Di bawah kukungan pria itu, Sena tersenyum lalu menggeleng mantap.
"Aku tidak menyesal. Aku sangat mencintaimu, Nino."
Nino tersenyum, satu kecupan lembut dijatuhkannya tepat di kening Sena. Air mata Sena mengalir melalui kedua sudut matanya seiring dengan usaha Nino menerobos inti kenikmatan. Malam yang panjang penuh gairah pun dilalui. Menggapai kenikmatan dunia yang tiada tara.
***
Tanpa terasa, matahari telah sampai pada seperempat perjalanannya. Sena masih bermanja-manja di pelukan Nino. Entah sudah berapa kali mereka bercinta. Bangun tidur, mereka kembali mengulangnya. Seolah tidak ada rasa bosan. Keduanya saling menikmati. Terlebih Sena, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapat pengakuan cinta dari Nino. Ya! Nino sudah tidak segan membisikkan kata cinta pada Sena.
Nino menarik tangan Sena, menciumnya lembut. Sena tersenyum bahagia lalu mendongak. Satu kecupan lembut mampir di bibir Sena. Sena masih membeku, menatap paras Nino yang tampan.
Nino mengusap pipi Sena, "Aku pikir kau sudah pernah melakukannya."
Sena menggeleng, tampak merasa bersalah. "Maaf, aku sudah sering berciuman dengan mantan-mantanku. Tapi kupastikan kaulah pria pertama yang memilikiku seutuhnya."
Nino terkekeh, mengacak-acak rambut Sena. "Sama! Dan kaulah satu-satunya wanita yang merenggut keperjakaanku," ucap Nino tanpa beban.
Sena tersentak, mendorong tubuh Nino. "Bohong! Kau begitu ahli, menguasai banyak permainan! Mana mungkin belum pernah melakukannya!" tuduh Sena, ngambek.
"Hei!" Nino memeluk dan mengecupi seluruh wajah Sena. Sena masih merajuk. "Pengetahuan seperti itu kan bisa didapat dari banyak hal. Kamu tahu maksudku, aku tidak perlu menjelaskannya. Kau bahkan ahli dalam hal itu," imbuh Nino.
Sena tertawa kecil. Meraih tangan Nino, mengarahkannya ke perut Sena yang rata. Dengan gerakan pelan Sena menuntun tangan Nino untuk mengelusnya.
"Aku ingin yang semalam itu jadi," kata Sena terdengar penuh harap.
DEG!
Nino tersentak. Sepasang kelopak matanya melebar. Secepat kilat Nino menarik tangannya. Memindahkannya ke bahu Sena. Nino mengguncang bahu wanita itu. "Apa semalam aku mengeluarkannya di dalam?" tanya Nino dengan jantung yang berdebar-debar.
Sena mengangguk riang, "Kita berulang kali mengeluarkannya di dalam. Aku bahkan sendang dalam masa subur."
Nino memejamkan mata lalu menepuk jidatnya. Ia juga menjambak-jambak rambutnya sendiri. Merasa sangat kacau.
'Gawat! Bagaimana ini? Bagaimana? Aku harus bilang apa sama papi? Aku harus ngomong apa sama tante? Bagaimana menjelaskannya pada Nando? Nando akan sangat terluka. Bagaimana dengan orang tua Sena? Oh Tuhan... aku telah menggali kuburanku sendiri! Jomblo terhormat tidak lagi pantas untukku!' (Nino)
Sena mengerucutkan bibirnya, "Kenapa? Menyesal melakukannya denganku? Tidak ingin memiliki anak dariku? Hanya menjadikanku sebagai patner ranjang, begitu?"
Nino berusaha menata hati dan pikirannya. Nino harus tanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya. Nino kembali menyampirkan tangannya di bahu Sena. Tatapannya serius.
__ADS_1
"Menikahlah denganku! Mari menikah sore ini! Resepsi menyusul! Aku tidak ingin kau hamil di luar nikah!" ajak Nino tanpa keraguan.
Sena kegirangan bukan main, beranjak dan langsung duduk dipangkuan Nino. Sena memeluk Nino begitu erat.
"Aku mau! Aku mau! Aku mau!" sorak Sena membuat kegundahan di hati Nino menghilang.
"Bagaimana jika kita rayakan resepsinya di atas tempat tidur? Aku sama sekali tidak masalah jika kita tidak melakukan resepsi," usul Sena sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Nino.
"Baiklah! Kita rayakan sekarang!"
Tubuh mereka yang masih polos membuat mereka kembali memanas. Nino kembali mengajaknya bertempur.
***
Di apartement mewah nan megah, Gaya masih meringkuk, menangis sesenggukan. Meratapi kisah cintanya yang teramat menyedihkan.
Bangsawan dan Leni sudah berada di depan unitnya. Berulangkali mereka menghubungi Gaya namun wanita itu mengabaikan panggilan masuk. Badai dengan segala kemampuannya berhasil membuka pintu berpengaman tinggi itu.
Para bodyguard menyisir setiap sudut ruangan. Leni dan Bangsawan ikut mencari keberadaan Gaya. Leni menghela napas lega ketika mendapati seseorang yang dicarinya.
"Sayang...?" panggil Leni sangat khawatir.
Gaya bangkit, terkejut dengan kedatangan mertuanya. "Mamah?" Gaya memeluk erat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Gaya melepaskan pelukan Leni, beralih memeluk Bangsawan. "Papah?" rengeknya manja.
"Maaf, kami baru bisa mengunjungimu." Bangsawan mengecup puncak kepala Gaya.
Gaya mengangguk, "Maafkan Gaya membuat kalian khawatir. Maafkan Gaya sudah pergi tanpa pamit."
Bangsawan dan Leni menggeleng, merasa tidak enak karena kelakuan putranya.
"Si B*doh memang keterlaluan. Tapi jika ada masalah di dalam rumah tangga kalian, jangan langsung pergi dari rumah ya? Kamu masih punya mamah dan papah. Kamu bisa mengadukan semua kelakuan Si B*doh kepada kami," saran Leni bermaksud menasehati menantunya.
Gaya kembali menenggelamkan tubuhnya dipelukan Leni, "Maafkan Gaya mah? Gaya ga sanggup lihat mereka. Hati Gaya sangat sakit."
Leni bertukar pandang dengan Bangsawan. Senyum bahagia tersemat di bibir masing-masing. Bangsawan dan Leni bersyukur, cinta putranya tidak bertepuk sebelah tangan.
Sebenarnya, urusan Gelar sudah clear. Gelar telah menunjukan rekaman dari kamera tersembunyi di kamarnya lengkap dengan percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Sena. Membuat kedua orang tua mereka merasa lega. Namun, Bangsawan dan Leni memilih diam. Menyuruh Gelar untuk menjelaskannya pada Gaya. Leni tidak mau tahu, Gelar harus bisa membujuk Gaya dan mendapatkan maafnya. Bagaimanapun cara Gelar memang salah.
__ADS_1
Menyadari ada yang janggal dengan menantunya, Leni menjauhkan tubuh Gaya sejenak. Mengecek suhu tubuh wanita itu.
"Kamu demam!" seru Leni mendiagnosa.
Gaya menunduk, "Gaya hanya sedikit tidak enak badan mah."
"Kau tidak bisa membohongi seorang dokter, Gaya! Jangan bilang dari kemarin kamu ga makan, terpapar AC sedingin ini? Tidak bisa tidur, hanya menangis dan memikirkannya?"
"Pah!" seru Leni pada Bangsawan kemudian.
Bangsawan beranjak, "Peralatan medis ada di mobil, Badai akan mengambilnya. Makanan untuk Gaya juga sedang disediakan."
Leni tersenyum, senang memiliki suami yang begitu tanggap.
"Thanks pah," ucap Leni penuh kekaguman.
Bangsawan hanya mengangkat alis. Meninggalkan kamar, menemui Badai di luar.
Gaya masih menunduk, tidak berani menjawab ibu mertuanya. Tebakan Leni memang benar. Jangankan makan, bernapas saja rasanya enggan.
"Sebentar ya, sayang? Mamah akan segera memberimu obat," Leni menenangkan Gaya.
"Maaf... Maaf jadi merepotkan mamah," lirih Gaya berucap.
Leni menaruh jari telunjuknya di bibir Gaya, "Huss... jangan ngomong seperti itu. Kamu sama sekali ga ngerepotin. Kamu, Yuna, Gelar, dan Eric anak mamah dan papah. Jangan pernah berpikiran seperti itu."
Gaya patuh, kembali memeluk Leni. Tiba-tiba, Gaya merasakan hal yang tidak enak di perutnya. Wajah Gaya pucat, suhu tubuhnya semakin meningkat.
Gaya menarik tubuhnya. "Mah, Gaya mual," ucap Gaya lemah.
"Kamu ingin muntah? Ya Tuhan... Ayo mamah bantu ke kamar mandi," Leni mengajak Gaya beranjak, memapahnya menuju kamar mandi.
Baru setengah jalan, suara pintu yang terbuka keras dan seruan seseorang yang tidak asing menghentikan langkah mereka.
BRAK!
"Gaya!" seru seseorang sambil terengah-engah. Ada perasaan lega namun juga sedih.
Gaya dan Leni menoleh. Cukup terkejut! Gaya mengumpat dibalik punggung Leni. Masih mengintip pria itu tapi penglihatan Gaya sedikit demi sedikit mulai kabur. Dan...
__ADS_1
GEDEBUK!
Gaya pingsan! Membuat semua orang panik.