
Hampir menggelap. Matahari tengah unjuk gigi. Memamerkan keindahan yang membuat ratusan pasang mata menatapnya takjub. Sunset di Pantai Jimbaran semakin menambah keromantisan bagi pasangan yang tengah berbulan madu.
Berdiri tegak disana, tujuh buah obor menjulang tinggi. Membentuk lingkaran, mengelilingi dekorasi meja dan sepasang kursi. Nuansa putih membuat suasana menjadi elegan dan berkelas.
Berada di antara obor, temaram lilin semakin menambah kehangatan. Sisi dalamnya dihiasi bunga. Taburan bunga di atas pasir, memanjakan mata. Beberapa seafood bakar yang paling recomended telah memenuhi meja.
Gaya tampil mempesona dalam balutan slip dress dengan material satin yang mewah. Senada dengan warna yang dikenakan istrinya, Gelar semakin rupawan berkat kemeja putih berlengan pendek yang dipadukan dengan celana selutut berwarna cream.
Sesuai ekspektasi, Gaya dan Gelar berterima kasih kepada Gempa. Pria yang malam ini menjelma menjadi bos itu mengangguk dingin. Otaknya tengah menghitung pengeluaran yang digelontorkan malam ini.
Bukan hanya kedua majikannya yang ia traktir. Enam anak buah yang ia bawa pun ikut merasakan berkah. Merayakan syukuran Gempa atas pembalasan cinta wanitanya.
Tak kalah sexy, dress material ringan yang Katrina kenakan menarik perhatian sesama bodyguard. Hanya sesaat mereka mencuri pandang! Para bodyguard kompak bersiul, mengalihkan pandangannya ketika tatapan Gempa terlihat membunuh.
"Disini?" tanya Katrina, menatap tidak percaya. Sempat tergelak, mengumpat kekasihnya di dalam hati.
Di luar dugaan wanita itu. Meja yang dipilih Gempa untuk mereka berdua berbeda dengan meja para bodyguard.
Gempa tersenyum tipis, menarik lengan Katrina. Menyuruhnya duduk.
"Aku hanya sedang mengabulkan permintaan kekasihku. Kau bilang tidak ingin dinner mewah. Kau juga ingin yang sederhana. Lalu letak kesalahanku dimana?" datar, pria itu mencari penjelasan.
Katrina menggeleng pelan, tampak sedikit kecewa. Bagaimana bisa Si Datar itu menyedikan tikar lusuh tanpa meja. Sangat jauh dari kesan romantis tapi sederhana yang sudah dibayangkan oleh Katrina.
"Tapi tidak seperti ini juga, Gempa...!" geram Katrina, nada suaranya meninggi. "Lihat!" Katrina menunjuk tikar yang berlubang, lapuk dan tak layak. Membuat yang lain menahan tawa.
"Setidaknya seperti itu, Gempa!" Katrina menempelkan tangannya di pipi Gempa. Memberi sedikit dorongan, mengarahkan pada pandangan yang dimaksud. Sepasang muda-mudi yang tampak romantis hanya dengan tikar dan sebuah meja tanpa dekor. Sebuah keinginan yang sederhana. Tapi tidak tertangkap oleh Gempa.
"Atau seperti itu!" keluh Katrina lagi. Mengarahkan pandangan Gempa pada sepasang suami-istri paruh baya yang sedang duduk di atas tikar, saling menyuapi. "Setidaknya tikar mereka jauh lebih layak!" gerutu wanita itu penuh kekesalan.
Masih tak berekspresi, datar tanpa dosa. Gempa menanggapi aksi protes kekasihnya, "Tikar dan meja sudah dibooking orang. Hanya ini yang tersisa. Pemilik meminjamkannya secara gratis. Kupikir menguntungkan. Tabunganku tidak terlalu terkuras."
"Dasar pelit!" sembur Gaya, Gelar, dan Katrina bersamaan dengan suara mengusik.
Gempa menutup telinga. Laksana petir yang menggelegar, suara mereka memecah gendang telinga. Anak buah Gempa nampak prihatin namun juga menahan tawa.
"Setidaknya mas Gelar tak sepelit dirimu," cibir Katrina.
Gelar tersenyum bangga. Terlebih ketika satu kecupan mesra mendarat di pipinya, Gelar semakin bahagia. Membusungkan dada lalu menepuknya.
"Ternyata ada yang lebih pelit dari suamiku," sindir Gaya pada Gempa.
"Makan, atau kalian bayar sendiri!" ancam Gempa membuat semua orang diam dan patuh.
Makan malam pun berjalan romantis. Baik Gelar maupun Gempa memanjakan pasangannya. Membangkitkan jiwa iri pada benak para bodyguard yang hanya mampu menelan ludah. Menyaksikan mereka memadu kasih.
Alunan romansa music yang menemani semakin membuat mereka larut. Taburan bintang di angkasa, memeriahkan suasana. Mereka terlihat bahagia. Pancaran matanya penuh cinta.
Sudah selesai! Mereka hendak bangkit, agenda berikutnya jalan-jalan di Pantai Kuta. Letaknya yang dekat dengan hunian, menjadi pertimbangan. Kedatangan seorang pengamen menahan langkah mereka.
Gelar mengeluarkan dompet. Menarik dua lembar uang pecahan lima puluh ribu. Memberikannya pada pengamen. "Maaf... kami buru-buru," kata Gelar terdengar ramah.
Pengamen pun mengerti. Berterima kasih atas uluran tangan Gelar.
"Tumben?" Gaya, Gempa, dan Katrina kompak memiringkan kepala. Memandang Gelar penuh keheranan.
Gelar menyunggingkan sudut bibirnya, "Aku memang dermawan. Sudahlah! Aku tidak butuh pujian." Gelar menggandeng Gaya, mengajaknya ke parkiran.
"Padahal biasanya mas Gelar cuma ngasih lima ribu," ucap Katrina masih terheran-heran.
Pasalnya, selama Katrina mengawal Gelar, ia sering menukarkan uang pecahan lima ribu hanya untuk tukang parkir, pengamen, dan pengemis yang ditemui Gelar.
Gaya tertawa, menghentikan langkah, menoleh ke belakang. "Benarkah?"
__ADS_1
Katrina mengangguk, "Sepertinya julukan Si Pelit lebih cocok untuk Gempa. Dia bahkan selalu memberi pengamen dan pengemis seribu rupiah."
Gelar dan Gaya menyemburkan tawa. Bukan hal aneh untuk Gelar. Sering menghabiskan harinya bersama Si Datar, tentu ia sudah tau kelakuan sekretarisnya itu.
Gempa tetap pada ekpresinya. Tidak tertarik membela diri. Sementara para bodyguard memilih menjadi pendengar yang baik. Mengunci mulut rapat-rapat, tidak ingin mencari masalah.
"Ah, benar! Dialah Si Pelit yang sesungguhnya," ejek Gaya tertawa sarkastik.
Gempa menatap Gelar dingin, "Andai kalian tahu."
Gelar ngakak, hingga tubuhnya condong ke depan. Gelar menegakkan tubuhnya kembali. Menepuk bahu Gaya dan Katrina.
"Dengar! Ini memang tidak seperti yang kalian pikirkan," tutur Gelar membuat kedua wanita itu kompak menoleh. Mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan ucapannya.
"Benar! Aku memberi mereka lima ribu. Tapi aku tak sebaik itu. Aku meminta kembalian Rp. 4.500,-. Jadi, menurut kalian siapa yang lebih pelit?"
"Apa! Si Pelit!"
Gaya dan Katrina tersentak, melotot, menginjak salah satu kaki Gelar lalu kompak memutar tangan Gelar. Merasa belum puas, mereka menendang bagian belakang lutut Gelar. Pria itu tumbang. Berdiri di atas pasir dengan kedua lutut menopang berat tubuh.
Gempa terbahak. Pria yang biasa datar itu tampak puas. Anak buahnya masih tetap mencari aman. Berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Sayang! Sayang! Sayang!" teriak Gelar pada istrinya. Sialnya, Gaya justru mengabaikannya.
Gaya dan Katrina berbalik, menjulurkan lidah mengejek Gelar.
"Katrina...! Awas kau! Berani sekali menindasku!" Gelar meraung penuh ancaman.
Gempa mendekat, memukul kepala sahabatnya. "Dia wanitaku! Jangan coba-coba menyentuhnya!" Gempa memberi peringatan.
"Cih! Si Bucin!" maki Gelar merasa sangat kesal. "Aku akan menghukum kalian!" serunya kemudian.
Gempa menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan wajah Gelar. "No! No! No! Kau tidak bisa menghukum kami. Kau sendiri yang menjadikanku bos malam ini. Bawahan harus patuh! Bangkit dan segera susul mereka! Sungguh, kau membuang waktuku yang berharga!" ucap Gempa penuh kesombongan.
"Kampret sialan!" umpat Gelar sebelum naik ke punggung Gempa. Seperti anak kecil yang meminta gendong kepada ayahnya.
Gelar mengabaikan pria itu, menjambak-jambak rambut Gempa seolah tengah menaiki kuda jantan.
***
Tanpa terasa, sudah empat hari Gelar dan Gaya menghabiskan waktu di Bali. Hari kedua, mereka memilih rute Timur. Berangkat pagi buta, menyaksikan sunrise di Pantai Sanur. Berada di pesisir pulau Bali bagian timur, membuat pemandangan matahari terbit di pantai itu sangat indah.
Berpindah ke Desa Batubulan, rombongan Gelar menyaksikan pertunjukan budaya Tari Barongan, Kecak, dan Legong. Mampir ke Pasar Sukawati, hanya untuk beradu kehandalan dalam hal menawar barang. Tentu! Gelar ahlinya! Si Pelit dan Perhitungan itu bisa membeli beberapa barang dengan harga murah.
Melewati desa Ubud, mata mereka dimanjakan dengan terasering persawahan dan hutannya yang masih sangat asri. Seni dan budaya yang berkembang pesat menarik perhatian mereka.
Kintamani menjadi tujuan terakhir mereka di hari itu. Panorama kawasan pegunungan yang unik dan menakjubkan, mampu mengobati rasa lelah. Kombinasi antara Gunung Batur dan bebatuan hitam dengan Danau Batur berbentuk bulan sabit berwarna biru di sebuah kaldera, membuat Gelar dan pengikutnya tidak pernah bosan mengabadikan liburan mereka.
Di hari ketiga, Gelar dan Gaya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Berangkat pukul 14.00 WITA, mereka mengambil rute Utara. Mengunjungi kawasan Bedugul. Mata mereka dibuat takjub dengan pemandangan Pura Ulun Danu Baratan yang berbatasan langsung dengan Danau Baratan Bedugul. Spot favorit para wisawatan untuk mengambil gambar.
Berlanjut ke Pura Tanah Lot. Menunggu matahari terbenam di tempat itu. Penantian mereka terbayar dengan keindahan sunset yang menawan.
Hari keempat, rute Selatan merupakan rute kesukaan Gelar dan Gaya. Pantai Tanjung Benoa menjadi tempat yang paling ingin dikunjungi mereka. Beragam wahana air seperti banana boat, scuba diving, parasailing, rolling donut, seawalker, flying fish, snorkeling, dan lain sebagainya tidak luput mereka coba. Pasangan Gelar dan Gaya benar-benar bahagia. Pun dengan Gempa dan Katrina. Sambil bekerja, sambil berkencan. Paket plus plus. Bisa liburan gratis, gaji besar. Siapa yang tidak mau!
Puas dengan wahana air, mereka melanjutkan perjalanan ke Pura Uluwatu. Namun, mereka lebih dulu mampir ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Pantai Pandawa.
Meskipun sebentar, kunjungannya di Pantai Pandawa menghasilkan karya yang menggelitik hati Gelar.
Ada satu foto yang diabadikan pria itu disana. Membuat Gelar kembali mengganti wallpaper ponselnya. Gaya tampak memukau dengan kaos polos berwarna putih, mempertontonkan perutnya yang rata. Perpaduannya dengan rok mini hijau beraksen bunga kecil membuatnya semakin menarik. Belum lagi terpaan angin laut yang membuat rambutnya menari-nari di udara. Mampu menggetarkan hati suaminya.
Seolah tidak ada habisnya. Pesona pulau yang mendapat julukan The Island Of God itu sulit dilupakan. Pura Uluwatu yang terletak di anjungan batu karang yang terjal dan tinggi, serta menjorok ke laut, memanjakan mata dengan pemandangan laut tanpa batas. Hamparan biru yang menyatu dengan cakrawala semakin membuat rombongan Gelar terkagum-kagum. Sayang! Keberadaan monyet liar, mengganggu kemesraan yang sedang dibangun oleh Gaya dan Gelar.
Seolah bisa memilih, monyet-monyet jantan silih berganti menghampiri Gaya. Mereka tahu, kecantikan Gaya di atas rata-rata.
__ADS_1
Gelar sedang mengukung Gaya. Bersandar pada tebing yang menjulang, pria itu hendak melabuhkan bibirnya di bibir Gaya. Berlatar samudra, Katrina telah siap mengambil foto mereka. Tiba-tiba, sesuatu yang ditakutkan Gelar pun terjadi.
Seekor monyet jantan merambat, naik ke bahu Gelar. Menutup mulut Gelar ketika jarak bibir mereka hanya menyisakan tiga centimeter saja. Pada saat yang bersamaan, monyet lainnya merampas kamera Katrina. Monyet itu mengabadikan kegagalan Gelar mencumbu istrinya.
Monyet lain bersorak ria. Memangil kawanannya untuk berkumpul. Monyet-monyet kepo dengan foto yang diambil temannya. Kompak melihat dan langsung menyemburkan tawa. Sumpah demi apa! Wajah Gelar merah padam! Rasa malu bercampur kesal itu menjadi satu.
Gelar memukul kepala monyet, "Turun nyet!" perintah Gelar pada monyet yang tengah duduk di bahunya.
Monyet membalas kelakuan Gelar. Memukul dan berulang kali mendorong-dorong kepala Gelar ke depan. Monyet kembali tertawa ketika Gaya juga tertawa. Si monyet mengajak Gaya tos high five. Membuat Gelar semakin kesal.
Tidak habis akal, Gelar merayu monyet. Gelar mengelus tangan si monyet, sedikit mendongak, menatap si monyet. "Mau pisang? Turunlah! Aku bisa memberikanmu banyak pisang. Kalau perlu, kubuatkan hutan pisang untukmu. Bagaimana?" Gelar memberi penawaran menarik.
Si monyet nampak berpikir. Menatap teman-temannya. Kawanan monyet itu kompak menggeleng lalu kembali tertawa.
Masih belum menyerah, pria itu sudah membuka mulut. Hendak meluncurkan rayuan jitu. Tapi belum sempat pria itu berkata, monyet menunjuk jam tangan keluaran terbaru dari salah satu brand ternama.
"Oh, kau mau jam ini?" Gelar bisa menebak kemauan si monyet.
Si monyet mengangguk. Gelar merasa kali ini akan berhasil.
"Mau kupakaikan? Turunlah! Aku akan memakaikannya untukmu. Asal kau tahu, aku memiliki banyak seri di rumah," ucap Gelar terdengar menyebalkan.
Gelar melepas jam tangannya. Baru beberapa detik arloji itu terlepas, si monyet sudah menyambarnya. Sekawanan yang serupa bertepuk tangan.
Gelar menghela napas, mulai sedikit kesal. Terlebih Gaya, Gempa, dan Katrina juga mentertawakannya.
Lagi! Si monyet yang banyak maunya itu berulah. Menarik-narik kaos yang dikenakan Gelar.
"Oh, astaga...? Kau juga mau pakaianku?" Gelar mencubit si monyet merasa sangat gemas. "Turun! Aku bisa memberikanmu banyak baju. Kau bisa membuangnya setelah kau merasa bosan. Ganti setiap hari juga ga masalah. Sekali pakai juga terserah. Ayo turun! Bajuku tidak akan nyaman di tubuhmu. Ini terlalu besar. Aku tahu, tubuhku menawan. Tidak hanya manusia. Bahkan kau pun iri. Apa yang kupakai memang selalu mencuri perhatian. Aku memang terlahir rupawan dan terlanjur kaya. Tidak usah memuji," canda Gelar lumayan tengil.
Si monyet mulai muak. Ia menarik kaos Gelar lebih keras. Membuat istrinya menyemburkan tawa.
"Ya! Ya! Ya! Ambil! Ini untukmu, ambillah!" seru Gelar mulai sulit menahan kekesalan. "Turun! Bagaimana bisa aku melepas pakaianku jika kau masih saja duduk tidak sopan disana?" caci Gelar.
Tidak ada pergerakan, si monyet semakin menjadi-jadi. Rambut Gelar dijambak-jambak.
Gelar memejamkan matanya singkat. Menahan kekesalan yang menyergap. Gelar menyeringai, melihat Gaya yang puas mentertawakannya.
Gelar kembali mengajak si monyet bernegosiasi, "Bagaimana jika kalian berfoto dengan istriku yang cantik itu? Aku akan menyimpan foto kalian dan akan memberikan banyak pisang sebagai hadiah. Bagaimana?"
Semua monyet kembali bersorak kegirangan. Turun dari bahu Gelar, meminta gendong di punggung Gaya. Wanita bertopi itu menyambut mereka dengan senang hati.
Kawanan monyet silih berganti menjadi model. Salah satu dari mereka mengambil gambar dengan kamera yang berhasil mereka rebut.
Entah sudah berapa lama Gaya meladeni mereka. Wajah Gelar sudah ditekuk. Cemburu melihat kedekatan Gaya dan monyet-monyet itu. Gelar hanya bisa pasrah. Selama monyet itu sopan pada istrinya, Gelar masih memberikan toleransi.
Kesialan justru menghampiri Gempa. Pria yang sedari tadi tertawa itu justru diserang sekawanan monyet betina. Jam tangan, dompet, handphone, kamera, bahkan pakaian yang melekat di tubuh tegapnya pun ikut disikat si monyet.
Gempa tidak melawan. Ia tahu, monyet dianggap hewan keramat oleh penduduk setempat. Gempa menghargai kepercayaan yang telah mendarah daging itu.
Beruntung! Meskipun terlambat, beberapa pawang monyet datang. Meminta secara hormat barang-barang milik pengunjung. Setelah negosiasi dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh rombongan Gelar, monyet-monyet itu mulai jinak. Menyerahkan barang rampasannya, lalu pergi. Kawanan monyet jantan pergi setelah memeluk dan mengecup pipi Gaya.
Jika mereka manusia, sudah pasti mereka hanya akan tinggal nama. Berani sekali menyentuh Nyonya Gelar. Begitu mungkin yang ada dibenak pria tampan itu.
Semua barang sudah dikembalikan. Gelar dan rombongan berterima kasih. Gelar juga menggelontorkan sejumlah uang untuk kesejahteraan si monyet. Selembar cek yang diberikannya sudah mampu membuat sang pawang menatapnya tidak percaya. Sekali lagi! Gelar menunjukan sifatnya yang dermawan. Membuat Gaya semakin jatuh hati kepadanya.
TING!
Sebuah pesan WhatsApp serempak masuk ke ponsel Gelar dan Gempa. Mereka pun membacanya.
"Si Goblok!" maki Gelar dan Gempa bersamaan.
__ADS_1
"Siapkan pesawat! Kita harus segera kembali ke Jakarta!" seru Gelar meluap-luap penuh emosi.
Gelar menarik tangan Gaya, mengajaknya berlari. Menuju parkiran. Pun dengan Gempa. Ia juga melakukan hal yang sama pada kekasihnya. Kedua pria itu mengabaikan seribu pertanyaan yang dilempar pasangannya.