
Di sebuah bangunan tua, tampak terbengkalai dari luar. Proyek konstruksi empat lantai itu menjadi markas anak buah penguasa.
Berhenti di pelataran. Mobil sport berwarna gelap membuat jejak roda. Kecepatan tinggi yang sengaja dihentikan menjadi penyebabnya.
Detik berlalu, seorang wanita cantik membuka mobil. Menaruh sebatang nikotin di bibir, menyalakan pemantik, lalu menyesapnya. Kepulan asap pun berterbangan. Menemani kekecewaan yang tengah dirasakan. Clara datang dengan segudang dendam membara.
Masih menikmati tembakau. Mata Clara menyipit. Menatap nanar sejauh mata memandang. Manik indah itu kini dipenuhi percikan api. Mengenang penolakan Gelar yang dianggap penghinaan.
Sebatang pelampiasan yang nyaris habis itu dibuang ke sembarang arah. Clara mengepalkan tangan.
"Brengsek!" umpat wanita itu, memukul kemudi cukup keras.
"Harrgg...!" raung Clara kemudian, masih menjatuhkan kepalan tangan ke setir.
Clara mengacak-acak rambut, merasa sangat kacau. Cairan bening lolos di tengah-tengah amarah yang sedang membuncah. Clara mencengkram erat kemudi. Menjatuhkan kepalanya di sana.
"Berani sekali kau menolakku! Berani sekali!" geram Clara lirih, terdengar menyayat hati. Air matanya menganak sungai.
Tangis histeris wanita itu memecah kesunyian. Luka yang ditinggalkan Gelar terasa sempurna. Tidak ada sedikitpun ruang di hatinya yang tidak terisi kepedihan.
Clara mendongak, terlihat tidak berdaya. "Bagaimana bisa kau masih mengabaikanku! Bagaimana bisa!" teriak Clara, tidak terima. Tubuhnya menegang menepis segala perlakuan pria itu.
"Bahkan setelah aku merubah wajah menjadi dirinya, kau masih tidak bisa kusentuh dan malah mengusirku?" sambungnya, menggeleng tidak percaya.
"Keterlaluan! Kau benar-benar keterlaluan!" maki Clara, terisak sesak akibat luka yang menghujam hingga ke palung hati.
"Kau pikir dirimu sempurna? Kau pikir dirimu pantas mendapatkan pengorbananku sejauh ini?" Clara kembali menggeleng pelan. "Tidak Gelar! Kau sama sekali tidak pantas! Kau tidak pantas mendapatkan cintaku! Apalagi tubuhku!" cemooh Clara semakin tidak tahu diri.
Clara kembali menangis. Meratapi cintanya yang tidak terbalas. Anak buah yang menyaksikan tidak berani mendekat. Memilih mengamankan diri sendiri. Membiarkan wanita itu berbuat semaunya.
Butuh beberapa menit untuk Clara bisa mengendalikan kesedihan yang tengah dirasakan. Saat jiwa iblisnya kembali, Clara menyeringai. Masih berurai air mata ia bersumpah, "Akan kubuat kau menangis darah! Seumur hidupmu haruslah dalam penyesalan! Tidak akan ada maaf bagimu Gelar! Tidak akan ada! Semua sudah terlambat, nikmatilah pembalasanku!"
Perhatian Clara teralihkan ketika ledekan seseorang yang sangat dikenalnya sampai di indra pendengaran.
"Ups... sepertinya rencanamu tidak berjalan sesuai harapan," ucap Clary, kembaran Clara yang menyamar menjadi Katrina.
Wanita yang satu jam lalu menghangatkan ranjang Gempa itu berjalan elok menghampiri saudaranya.
Clary bersandar di badan mobil. Bersedekap, menatap prihatin wanita yang masih duduk di kursi kemudi. Senyum licik penuh ejekan tersungging di bibir mungilnya.
Tanpa sepengetahuan Clary, Clara mengepalkan tangannya di tempat tersembunyi.
'Dia merasa menang? Cih! Bodoh sekali! Dia lupa siapa diriku! Aku... Clara Bramasta! Tidak akan membiarkan dirimu satu level dengan diriku! Apalagi berada di atas pencapaianku! Bermimpilah selagi kau masih bisa!' cela Clara di dalam hati.
Clary mencondongkan tubuh. Mendekatkan bibir lalu bertutur pelan tepat di samping telinga Clara, "Tidak masalah! Jangan lemah hanya karena seorang pria. Sungguh, harta dan takhta lebih menarik daripada cinta."
__ADS_1
Clara menoleh, menatap jijik penampilan saudaranya yang terlampau sexy. Memperlihatkan banyak tanda kepemilikan Gempa.
Clary mendorong kepala Clara, "Hei! Aku peduli denganmu! Meskipun kita tidak pernah akur tapi kali ini aku benar-benar prihatin!"
Clara tergelak, "Sialan! Aku tidak butuh belas kasihan!"
"Yayaya... terserah!" Clary memutar bola mata. Merasa lelah sendiri. "Geser!" perintah wanita itu terdengar sarkas.
Malas meladeni saudara kembarnya, Clara memilih patuh.
"Mau kemana?" protes Clara saat Clary menyalakan mesin mobil miliknya.
"Isi perutmu! Kau butuh tenaga! Mainanmu sudah menunggu!" Clary tersenyum menakutkan.
Clara terbahak, menyeka air matanya begitu anggun.
"Benar! Gaya harus merasakan sakit yang teramat! Melebihi apa yang kurasakan! Dengan begitu, Gelar hancur dengan sendirinya!" cetus Clara. Matanya memancarkan kilauan berbahaya.
Clary tampak setuju. Segera melajukan mobil, mencari tempat makan.
***
Di tempat berbeda, semua orang tengah menelan kekecewaan. Operasi rahasia yang direncanakan Badai gagal. Tempat yang semula dijadikan Clara untuk menawan Gaya dan Katrina telah kosong. Meninggalkan dua manusia yang terikat tidak berdaya.
Badai membuka penutup kepala. Dua sosok itu tampak tidak asing. Mereka adalah mata-mata Danu yang dikirim untuk menguntit keberadaan Gaya.
"Mereka tertangkap. Clara pasti memilih tempat lain untuk menyembunyikan Gaya dan Katrina," ujar Danu, menahan amarah.
"Kita terlambat tuan," kata Badai pada Bangsawan. "Sial! Benar-benar sial!" umpatnya sambil menendang udara hampa.
Bangsawan mencengkram Danu, sorot matanya penuh tuntutan. "Ini yang kau bilang dalam pengawasanmu? Kenapa tidak kau katakan sejak awal? Kenapa?" cecar pria itu.
Bangsawan yang terkenal sabar bahkan sampai hilang kendali. Mengkhawatirkan nasib Gaya dan Katrina membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Kupikir—"
Belum sempat Danu menjawab, Bangsawan sudah menyerangnya kembali.
"Kau menganggap remeh penjahat. Hatimu memang terlalu baik. Tidak bisa memprediksi apa yang bakal mereka lakukan," ucap Bangsawan dengan nada rendah penuh penekanan.
Tak berselang lama, api yang tengah menguasai pria paruh baya itu kembali membara.
"Dia iblis! Dia berdarah dingin! Clara bisa lebih sadis daripada istrimu! Dimana otakmu, Danu! Dimana!" hardik Bangsawan, menghempaskan tubuh Danu. Membuat pria paruh baya itu nyaris tersungkur andai Bryan tidak sigap menangkapnya.
"Kembali ke markas!" ajak Bangsawan pada anak buahnya.
__ADS_1
Semua menurut tidak terkecuali Danu. Pria itu tampak menyesal. Benar! Danu terlalu berprasangka baik kepada para penculik. Berpikir bahwa Gaya dan Katrina hanya ditawan. Salah! Jelas salah! Clara dan kembarannya tak sebaik itu.
***
Sudah berada di secret room. Bangsawan tidak lagi menyembunyikan peta kekuatannya. Danu dan Bryan pun berada di sana. Tercengang dengan apa yang tengah terpampang di depan mata.
"Badai, sesulit itukah melacak keberadaan Gaya?" tanya Bangsawan, duduk di kursi kebesaran. Memijat kepalanya yang terasa pening.
"Mohon maaf tuan. Sepertinya Clara mempelajari kesalahan yang dilakukan Randy. Wanita itu cukup cerdas. Apapun yang melekat di tubuh Gaya dan Katrina tidak terdeteksi. Clara jelas tahu, bahwa kita menempatkan banyak alat tersembunyi," papar Badai.
Bangsawan menghela napas berat, memejamkan mata sambil berpikir.
"CCTV rahasia yang kupasang di Gaya's Style pun terjamah olehnya. Diretas tanpa ampun. Tidak ada informasi apapun yang bisa kita gunakan," sambung kakak Katrina.
Bangsawan membuka mata, tatapannya tajam. Suara berat itu seolah menegaskan keseriusannya, "Kau yakin tidak ada cara lain?"
Badai diam, masih berpikir. Menatap satu per satu pekerjaan bawahannya. Para staf intelijen tengah sibuk memeriksa semua data yang berhubungan dengan Clara dan Clary. Sebagian mengamati CCTV di sekitar lokasi tempat penyanderaan.
"Aset tak bergerak," usul Badai membuat semua anak buah menoleh. "Pastikan kalian memeriksa semua aset milik keluarga Bramasta. Apapun itu! Tidak jarang pelaku kriminal menggunakan tempat yang jauh dari pemukiman untuk menawan korbannya!" cetus pria itu.
Staf intelijen mengangguk, kembali disibukkan dengan segudang pekerjaan.
"Besok adalah pengumuman kepemimpinan Candana Group yang baru," ucap Bryan mencuri perhatian Bangsawan, Badai, dan Danu.
"Di-dia sempat menggodaku," ragu-ragu Bryan menyampaikan.
"Jika dia masih tertarik padamu, layani! Kau bisa mencuri waktu untuk memasangkan benda ajaib ini di barang yang selalu di bawanya," Badai melempar benda kecil pipih berbentuk bulat. Tampak mengandung medan magnet.
Bryan tertawa bodoh, "Kau menjualku? Baiklah! Pastikan Gaya dan Katrina selamat tanpa luka sedikitpun! Itu bayaran mahal yang pantas kuterima!"
Badai mengangguk, "Aku sedang berusaha."
Kedatangan Gelar, menambah pikiran Bangsawan dan Danu. Pria yang uring-uringan dan tak bersemangat itu membuat mata tidak nyaman.
"Kenapa berkumpul di sini? Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Gelar, malas. Cukup terkejut melihat keberadaan sekretaris Gaya's Style di sana.
"Duduklah!" Bangsawan menyeru. "Kau harus mengetahui sesuatu tentang—"
"Cukup!" potong Gelar masih di depan pintu. "Jika itu tentang Gaya, sebaiknya tidak usah! Jangan pernah menyebut namanya lagi! Aku tidak ingin mendengar apapun tentang dirinya!" seru Gelar memberikan tatapan sengit pada Bryan. Perbuatan mereka membuat Gelar kembali terluka.
"Gelar, kamu salah paham. Gaya tidak—"
BRAK!
Gelar muak. Membanting pintu, mengabaikan Bryan yang tengah menjelaskan pokok permasalahan.
__ADS_1
Bangsawan dan Danu menghela napas. Sakit hatinya masih berlanjut. Tidak mudah menjadi Gelar. Tidak mudah mengajaknya bicara dalam keadaan seperti ini. Namun, jauh di lubuk hati Bangsawan bersyukur. Gelar tidak jatuh dalam permainan yang diciptakan Clara.
***