
Tidak jauh berbeda dengan Gelar yang tengah patah hati. Di apartemen miliknya, Gaya meluapkan kemarahan. Benda apapun yang berada di dekatnya tak luput dari amukan.
Bak kapal pecah. Dalam sekejap apartemen mewah itu menjadi tidak layak huni. Dipenuhi barang yang berjatuhan.
Gaya tidak terima. Perlakuan Gelar malam ini dianggap penghinaan. Gaya bersumpah akan membalas kelakuan pria itu.
Gaya menatap cermin yang sudah retak akibat ulahnya. Kedua telapak tangan wanita cantik itu mengerat pada tepi meja. Memandang bayangannya sendiri. Sorot mata Gaya penuh kebencian.
"Mari kita lihat! Seberapa kuat kau bisa menerima cobaan hidup dariku!" geram Gaya.
"Aku membencimu Gelar! Aku sungguh membencimu! Dasar pria sialan! Beraninya kau menolakku! Haarrgg...!" teriak Gaya, melampiaskan amarah yang tengah membuncah.
Gaya menggulingkan meja rias penuh kesetanan. Emosinya tidak terbendung. Masih berusaha menjangkau apapun yang berada di dekatnya.
***
Matahari telah menggapai seperempat perjalanan. Pasangan yang tidak ingin terpisahkan itu memutuskan untuk menemui Badai di kediamannya.
Duduk di sofa. Katrina menemani kekasihnya. Gempa tertunduk penuh rasa bersalah. Sudah lima belas menit Badai menunggu. Namun, pria itu enggan memulai pembicaraan. Keberanian Gempa menguap begitu saja ditelan oleh kelakuannya sendiri.
"Ingin mengakui dosa besar? Meminta restuku agar mau menikahkan kalian sesegera mungkin?" tanya Badai dingin, membuyarkan keheningan yang sempat tercipta.
Gempa tersentak. Secepat kilat mengangkat kepala. Mulutnya seakan terkunci. Lidah pria itu juga terasa kelu. Sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Badai jika ia mengangguk.
Gempa mengumpulkan tekad. Bagaimanapun dia tidak ingin lari dari tanggung jawab.
"Kami—"
Belum sempat Gempa menyampaikan maksud kedatangannya, Badai beranjak. Kedua tangan diselipkan ke saku celana. Tanpa menatap lawan bicara, Badai memotong ucapan Gempa.
"Pergilah! Kau bukan adikku! Katrina yang kukenal tidak mungkin berbuat demikian. Dia wanita baik-baik."
"Mas!" Gempa keberatan. Sementara Katrina memilih diam. Seakan-akan itu adalah senjata melindungi diri yang paling ampuh.
"Katrina tidak bersalah. Ini murni karena kesalahanku. Aku tidak bisa mengendalikan diri," sambung Gempa dengan suara melemah.
Masih membelakangi tamunya, Badai memejamkan mata. Kekecewaan terpancar jelas di wajahnya. Badai menoleh, dan...
BUG!
Satu tonjokan melayang tepat di wajah Gempa, "Benar! Adikku memang tidak bersalah! Hanya menjadi korban kelicikan seseorang."
Masih sambil menunduk, sepasang kelopak mata Katrina melebar. Bukannya khawatir kekasihnya di hajar Badai, Katrina justru tercengang dengan kata-kata pria itu. Kegugupan pun menyergap dirinya. Merasa dalam bahaya.
'Sialan! Dia tidak bisa dikelabuhi? Sepandai itukah?' batin Katrina.
__ADS_1
"Maaf," kata Gempa merasa terpojok. Salah menafsirkan maksud Badai.
Badai menggeleng pelan. "Jangan mengharap restuku! Sekalipun kau bersujud di kaki, aku tidak akan melepaskan salah satu bodyguard terbaikku untuk wanita ular sepertinya!" tunjuk Badai pada Katrina dengan tatapan tajam.
Tidak terima kekasihnya di rendahkan, Gempa melayangkan pukulan mematikan. Sayang! Pergerakan Gempa tertahan oleh tangan Badai yang reflek menghalau serangan. Gempa ambruk, terpental ke sofa ketika sebuah dorongan diberikan Badai.
"Kau lebih mencemaskanku daripada adikmu sendiri?" Gempa menggeleng tidak percaya. "Dia adikmu mas! Bagaimana bisa kau berkata kotor seperti itu!" tegur Gempa meluap-luap.
Badai memasang wajah bengis. Membungkukkan tubuh, mencengkram kerah Gempa begitu kuat.
"Libur dan berpikirlah! Aku memberhentikanmu sampai waktu yang tidak ditentukan! Akan sangat berbahaya mempercayakan sebuah pekerjaan pada pria yang sedang tidak waras!" seru Badai lirih dengan suara berat.
Gempa tersenyum masam. Tidak mau kalah, Gempa melakukan hal serupa. Menarik kasar kerah Badai, memberi jarak yang sangat tipis, "Terima kasih atas kebaikanmu! Aku meminta izin untuk membawa Katrina bersamaku!"
"Bawa saja! Bahkan jika kau tertarik untuk melenyapkannya dari muka bumi ini, aku akan berterima kasih kepadamu!" jawab Badai, melirik Katrina penuh kebencian.
Gempa melepaskan diri. Membalas serangan Badai tak kalah sengit. Namun, pertahanan Badai yang kuat, tidak sampai melukai bosnya para bodyguard. Sebaliknya, Gempa justru semakin tak berdaya.
BUG! BUG! BUG!
Lagi! Tiga pukulan mendarat di tempat yang sama. Tidak hanya ingin menyadarkan Gempa. Nalurinya sebagai kakak kandung Katrina keluar begitu saja. Seolah bisa merasakan sakit hati Katrina, Badai memberi Gempa pelajaran.
Merasakan sakit yang teramat di area hidung, Gempa menyekanya. Senyum getir tercetak jelas di wajah datar pria itu saat cairan merah pekat yang tertinggal di tangan tersorot nyata oleh indra penglihatan.
"Aku tidak menyangka kau seperti ini. Untuk pertama kalinya aku kehilangan hormat. Kau bukan Badai yang kukenal," keluh Gempa.
"Lalu bagaimana jika Katrina yang bersamamu, bukan Katrina yang kami kenal?" imbuh Bryan, baru saja keluar dari kamar mandi. Berjalan santai. Mimik wajahnya menebar ejekan.
Mendengar suara yang tidak asing, Gempa menoleh ke sumber suara. Mata pria itu menyipit diiringi dengan alis yang berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan, "Apa maksudmu!"
Pada saat yang bersamaan, Katrina melotot. Segera bangkit, menarik tubuh Gempa.
"Kita pergi!" bisik Katrina. Sadar jika rencana busuknya sudah tercium.
Katrina memeluk lengan kokoh kekasihnya. Tatapan wanita itu memabukkan. Membuat Badai dan Bryan muak.
"Woa... pantas saja kau mengabaikan janji temu denganku. Ternyata dia memang ahli menyihir mangsa," cibir Bryan.
Gempa menatap Bryan tidak ramah, kecurigaan yang sempat hinggap kembali menguap. Tergantikan oleh emosi yang menguasai jiwa.
"Tutup mulutmu! Katrina bukan wanita penggoda! Jangan menyulut api! Kita tidak punya masalah apapun!" bela Gempa.
Bryan mengulas senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Selamat bersenang-senang. Menikmati sensasi yang semalam baru dirasakan. Tapi jangan lupa! Jaga burung itu agar tidak beranak pinak. Atau seumur hidupmu akan dalam penyesalan." Bryan menepuk bahu Gempa. Mengedipkan mata jenaka.
Kesal dengan ledekan yang dikeluarkan teman seperguruan, Gempa menepis kasar tangan Bryan.
__ADS_1
Katrina semakin tidak nyaman. Menyelipkan jari-jari mungil ke tangan Gempa lalu menariknya. Pria itu dibuat patuh. Masih berprasangka baik kepada kekasihnya bahwa Katrina hanya tidak ingin terjadi keributan.
Baru selangkah mereka pergi, Badai menarik tangan Katrina. Mengunci erat leher wanita itu.
"Dimana kau menyembunyikan adikku! Dimana kalian membawa Gaya!" geram Badai lirih namun terdengar menakutkan.
Melihat kekasihnya dalam bahaya, Gempa tidak tinggal diam. Menarik senjata api lalu menodongkannya pada Badai.
"Kau semakin tidak waras! Lepas dia atau—"
"Badai! Gempa!" seru Bangsawan memangkas ancaman Gempa. Cukup terkejut melihat adegan mereka. Pria paruh baya yang masih berdiri di depan pintu itu mendekat.
Tidak menghiraukan peringatan Bangsawan. Lelaki yang tengah dikuasai amarah itu kembali fokus pada Katrina.
"Dimana!" bentak Badai semakin tidak terkendali. Suara bariton itu hampir memecahkan gendang telinga Katrina.
"Mas!" Gempa bersiap menarik pelatuk.
"Cukup! Lepaskan dia!" perintah Bangsawan terdengar tidak untuk dibantah.
"Tuan!" Badai tidak ikhlas.
Bangsawan menggeleng, tatapannya penuh perintah. Badai tahu batasannya. Memilih mengalah dan melepas Katrina. Pada saat itu juga, Gempa menurunkan senjata. Menarik Katrina ke dalam pelukan. Ekspresi ketakutan yang dibuat-buat sukses menjerat Gempa menjadi iba.
Bangsawan bergeming, tidak nyaman dengan pertunjukan di depan mata. "Aku memberimu cuti. Gunakan sebaik mungkin. Untuk bisa membedakan, kau harus berpikir jernih," cetus Bangsawan. Memandang Katrina dengan tatapan sulit diartikan.
Gempa menunduk sopan, "Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kalian bahas. Tapi aku akan memikirkannya." Gempa mengangkat kepala. Memandang sejenak Bangsawan, "Terima kasih untuk hari libur yang tuan berikan."
Bangsawan mengangguk ramah, mempersilahkan Gempa dan Katrina untuk meninggalkan tempat itu.
Mendapat kesempatan yang sangat langka, Katrina tidak menyia-nyiakannya. Wanita itu bergegas, mengajak Gempa keluar dari sarang singa jantan.
Siapa sangka! Dibalik keramahan yang ditunjukan Bangsawan, pria paruh itu tengah menguji.
Bangsawan menarik salah satu sudut bibir, menatap Badai dan Bryan. "Hampir saja aku tidak mempercayai berita yang dikirim Tsunami. Operasinya nyaris sempurna. Aku bahkan tidak bisa membedakan apakah dia Katrina asli atau palsu. Tapi perilaku yang dia tunjukan jelas tidak mencerminkan Katrina yang kukenal. Badai Katrina selalu sopan. Lihatlah bagaimana betina berbisa itu pergi!"
Badai mengangguk, "Dia tidak berani bersuara. Wajah bisa dia tiru, tapi pita suara?"
Bangsawan memilih duduk. Mengatur dadanya yang terasa sesak. "Segera temukan mereka! Balasannya akan tergantung bagaimana kondisi Gaya dan Katrina ketika kembali!"
"Secret room sedang bergerak. Memeriksa CCTV Gaya's Style yang pernah diminta Gempa. Karena dari sanalah Gaya dan Katrina mulai berubah," jawab Badai mengandung penyesalan. Merasa kecolongan.
Bangsawan menggerakkan tangan. Memberi isyarat agar Badai mendekat. Pria itu pun patuh.
Bangsawan memejamkan mata. Hatinya terasa sakit namun dari rasa yang terdalam, juga terpancar secercah kebahagiaan. Sebuah perpaduan rasa yang sulit digambarkan. Bahagia dan kesedihan bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Bangsawan menyampirkan salah satu tangannya di bahu Badai. "Bawa aku menemui Big Boss!" seru Bangsawan lirih sambil menitikkan air mata.