
Segerombolan orang berbadan tegap dengan penampilan yang terlihat biasa itu sudah tiba di depan salah satu unit apartement mewah milik Saka Candana.
Siapa sangka! Dibalik penampilan yang tampak umum, para pria itu membekali diri mereka dengan rompi anti peluru. Beberapa senja api bersarang aman dibalik pelindung tubuhnya.
Bangsawan dan Gelar turut dalam misi penyelamatan. Tentu saja mereka tidak mengabaikan standar keselamatan yang diterapkan Badai pada anak buahnya. Keduanya dikawal ketat oleh bodyguard terbaik milik Anugerah Group.
Nama besar Bangsawan memuluskan jalan mereka. Apartement dengan tingkat privasi yang tinggi itu dengan mudah dimasuki olehnya. Bahkan sang penanggung jawab apartement turut mengantarkan salah satu orang terkaya di negeri ini sampai pada tujuan. Beberapa bantuan pun ditawarkan.
Belum sempat karyawan apartement membuka unit yang disinyalir digunakan pemiliknya untuk menyembunyikan menantu Bangsawan, pintu sudah otomatis terbuka.
Duduk di sofa, Saka dengan tingkah khasnya menyambut para tamu tak diundang itu.
"Hai, om? Hai, adik ipar?" sapa Saka pada Bangsawan dan Gelar.
Api, Topan, dan Tsunami lebih dulu masuk ke ruangan. Menyisir setiap sudut, memastikan keamanan. Saka tidak keberatan. Membiarkan para bodyguard itu menjalankan tugas mereka.
Ketiga pria itu mengangguk, mempersilahkan Bangsawan dan Gelar setelah dirasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kami tidak menemukan keberadaan Gaya, Tuan," ucap Tsunami mewakili rekan kerjanya.
Mendengar hal itu, kemarahan Gelar tak tertahan. Gelar mencengkram kaos Saka, tatapannya tajam, penuh dengan kobaran api.
"Dimana istriku!" bentak Gelar kesetanan.
Saka tersenyum miring, "Oh, ayolah! Duduk dulu adik ipar. Kita bisa membicarakannya baik-baik."
Ucapan Saka justru semakin membuat emosi Gelar memuncak.
"B*jingan! Dimana istriku!" teriak Gelar lebih lantang tepat di depan wajah Saka.
"Gelar!" Bangsawan memberi peringatan. Membuat Gelar menoleh. Masih dengan raut iblisnya.
"Apa kau melupakan permintaanku tempo hari?" tanya Bangsawan kemudian.
Gelar mengeratkan cengkramannya, "Aku tidak bisa mengampuni siapapun yang telah menculik istriku!"
"Gelar!" Bangsawan kembali menyeru.
Bukannya melepaskan Saka, pria yang tengah dikuasai emosi itu justru memberi tekanan pada leher Saka. Menimbulkan efek sulit bernafas. Saka memberontak, membela diri. Mendorong begitu keras hingga pria itu terhempas, duduk di sofa yang kosong.
"Uhuk... Uhuk..." Saka terbatuk.
"Hei!" Saka menunjuk Gelar masih sambil mengatur napasnya yang sempat tersendat. "Kau salah paham. Tapi aku tidak tertarik menjelaskannya kepadamu." Saka mengusap bajunya yang sempat kusut akibat ulah Gelar.
"Silahkan duduk om, kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin," usul Saka terdengar sopan.
Bangsawan mengangguk, menghargai tawaran anak sahabatnya. Bangsawan duduk di single sofa. Badai berdiri tegap disampingnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau tidak membuang waktu kami, Saka! Kau jelas tahu maksud kedatangan kami yang tidak sopan ini," ujar Bangsawan dingin.
Segaris senyum tercipta di bibir Saka, sebagai respon dari ucapan pria paruh baya itu.
"Benar, lima belas menit yang lalu Gaya masih disini. Hampir satu jam setengah dia disini. Membuatku muak karena hanya melihatnya menangis. Aku bahkan bertanya-tanya apakah dia adikku? Si Angkuh yang kukenal tidak seperti itu."
Gelar bangkit, mencekal rahang Saka. Kilatan di manik hitam itu menebar ancaman. "Kau apakan istriku!" tuduhnya menuntut penjelasan.
Saka tergelak, memancing Gelar mengepalkan tangan hendak menonjok Saka.
"Kaparat!" umpat Gelar. Satu tonjokan nyaris mengenai wajah Saka andai saja pria itu tidak melawan.
Dengan dorongan keras, Gelar kembali terduduk di tempat semula. Saka bangkit, membalas apa yang Gelar lakukan kepadanya.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu! Kau apakan adikku!" geram Saka, tidak main-main.
Gelar membeku, kembali mengingat kesalahpahaman di antara mereka. Gelar merasa sangat bersalah.
"Kau apakan adikku!" hardik Saka, mengulang pertanyaannya.
"A-aku..."
Kata-kata Gelar tertahan di kerongkongan. Lidahnya kelu, tertempel di langit-langit. Membayangkan Gaya menangis karena dirinya, sungguh mencabik hati.
Saka bisa menebak apa yang terjadi diantara Gelar dan Gaya.
Gelar tertunduk lesu, mengangguk mengakui perbuatannya.
"Anjing!" maki Saka sambil mengayunkan satu tonjokan.
Gelar pasrah, memejamkan mata. Bersiap menerima hukuman. Beruntung! Gempa menahan tangan Saka. Menyebabkan Saka menatap pria datar itu tidak suka.
Saka menepis tangan Gempa. Melepaskan cengkramannya lalu kembali menegakkan tubuh. Saka berkacak pinggang. Tingkah menyebalkan kembali ia tunjukan.
"Apa yang kau lakukan? Bermaksud melindunginya, begitu?" Saka melengos, tertawa hampa. Saka kembali menatap Gempa, "Tidak bisakah kau membaca gerakan lawan? Kupikir kau salah satu yang terhandal sampai-sampai ditugaskan untuk mendampingi adik iparku."
Gempa menyunggingkan senyum sengit, bersedekap santai menatap Saka.
"Itu hal yang mudah. Apa kau sedang bermaksud menakut-nakututinya?"
Saka terkekeh, mendorong tubuh Gempa. Pria itu kembali berkata, "Apa terlalu mudah ditebak?"
Gempa tidak menjawab, memilih mengalihkan pandangannya. Perhatian Saka kembali tertuju pada Gelar yang masih sibuk menyalahkan diri sendiri. Bangsawan dan lainnya memilih menyimak.
Saka membungkukkan tubuhnya. Menjambak rambut Gelar. Gelar dipaksa mendongak. Mata mereka saling beradu.
"Dengar!" Saka menepuk pipi Gelar. Tak lama kemudian ia memindahkan tangan ke bahu Gelar. Cengkramannya kuat. Pancaran mata Saka tampak serius. Gelar bisa melihat ada kesedihan yang tersirat di netra pria itu.
__ADS_1
"Aku bukan kakak yang baik. Seumur-umur aku tidak pernah memikirkan keadaannya. Hari ini aku bisa melindungi Gaya. Tapi besok dan untuk waktu yang lama, aku tidak bisa menjaga adikku. Adikku telah menikah. Tanggung jawab yang tidak pernah aku jalankan sudah berpindah kepadamu. Gaya tidak menceritakan masalahnya. Kami tidak sedekat itu. Kuharap hanya masalah kecil. Atau bahkan hanya sebuah kesalahpahaman. Tolong jaga adikku. Aku percaya kau mampu menjaganya dengan baik," sambung Saka kemudian. Saka menepuk bahu Gelar lalu kembali menegakkan tubuh.
"Dimana Gaya?" lirih kata itu keluar dari bibir Gelar.
Mulut Saka yang sudah terbuka mendadak terkatup ketika ponsel Bangsawan berdering.
Bangsawan menyipitkan mata, nomor yang tidak dikenalnya masih menari-nari di layar ponsel. Menunggu sang pemilik mengangkatnya. Suasana hening ketika pria paruh baya itu mulai meletakkan ponselnya di telinga.
["..............................................................................................................................."]
Sepanjang si penelepon berbicara, tatapan Bangsawan tertuju pada Gelar. Gelar bisa melihat bahwa pria itu tengah menahan amarah.
["Papah akan membereskannya. Jaga dirimu, sayang."] ~ Bangsawan
["..............................................................................................................................."]
["Baik. Papah mengerti."] ~ Bangsawan
Panggilan telepon berakhir. Perhatiannya hanya tertuju pada Gelar. Ditatap mengerikan, Gelar langsung panik.
"Gelar!" Bangsawan setengah geram.
"I-iya pah," jawab pria itu terbata, wajahnya tegang.
"Bawa Sena ke rumah! Hartawan dan Sela juga harus tahu kelakuan kalian! Pastikan mereka semua datang! Papah tunggu malam ini!" seru Bangsawan.
"Ta-tapi pah? I-ini ti....." Gelar keberatan.
Bangsawan menggeleng. Memotong ucapan putranya, tidak mau mendengar apapun. Gelar pun pasrah.
Bangsawan beranjak, menepuk punggung Saka. Senyum tulus terukir di bibir pria itu, "Semoga cita-citamu terwujud. Aku akan mengirim orangku untuk menjagamu disana."
Saka tercengang, rasa bersalah kembali hinggap. Setelah apa yang ia lakukan pada anak perusahaan Anugerah Group, Bangsawan masih memperlakukannya dengan baik.
"Om...?" Kalimat Saka tertahan. "Maaf," sambungnya sebelum menunduk. Merasa sangat malu.
Bangsawan mengangguk, wajah ramah itu terlihat berkharisma. "Bahkan jika kau tidak mengembalikan uang perusahaan, aku tetap mendukung keputusanmu. Selamat berjuang, Saka!" Bangsawan menepuk punggung anak sahabatnya.
Saka tersentak. Secepat itu Bangsawan bisa tahu bahwa ia telah mengembalikan uang perusahaan. Sempat heran, Saka memilih mengangguk.
"Terima kasih om," ucap Saka.
Bangsawan mengulas senyum pada Saka namun senyum itu memudar ketika ia kembali menatap Gelar. Bangsawan pamit, diikuti anak buahnya. Menyisakan Gelar, Gempa, dan Saka.
"Pah?" rengek Gelar hendak menjelaskan tapi tidak digubris.
"Pah! Papah! Ini tidak seperti yang papah dan Gaya pikirkan! Papah! Pah! Papah...!" teriak Gelar tampak sia-sia.
__ADS_1