
Industrial Style, meja nomor 17. Gelar tengah berkumpul disana bersama para sahabat. Menantikan tamu undangan yang sedang terjebak traffic jam. Melihat Gaya melamun, Gelar menghela napas.
"Sudah, jangan dipikirkan! Dia tidak akan berani bertingkah. Percayalah!" ujar Gelar sambil mengelus rambut Gaya yang halus. Menjatuhkan satu kecupan sayang di puncak mahkotanya.
Gaya menoleh, kekhawatiran terbaca jelas di wajahnya. Tak ingin membahas Saka di depan umum, Gaya memilih mengangguk.
"Ada apa sih?" Rian kepo.
Eric dan Katrina sibuk dengan permainan di ponsel masing-masing. Tidak tertarik dengan topik yang tengah dibicarakan Gelar dan Gaya. Lagi pula, Katrina sudah tahu.
Lain dengan Nino dan Gempa. Mereka sibuk mengawasi pergerakan Katrina. Entah itu hanya sebatas bulu matanya yang bergerak-gerak seiring dengan kedipan mata. Atau bahkan jari lentiknya yang tengah menari-nari di atas layar ponsel. Sesuatu yang bisa dibilang sederhana tapi mampu membuat duo bersahabat itu menatap Katrina dengan tatapan berbeda.
"Hanya hal kecil," jawab Gelar enteng. Membuat jiwa ingin tahu Rian mendadak sirna, merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hening! Suasana di meja itu kembali sepi. Sudah memesan menu tapi belum datang. Pengunjung cafe malam ini membeludak. Sahabat Gelar tidak ingin diprioritaskan. Tetap antri sesuai pesanan yang masuk.
Rian mengedarkan pandangan ke sekitar. Menyusuri setiap sudut cafe megah itu. Mengusir kejenuhan yang menyergap. Bosan dengan sosial media yang berulang-ulang dipantaunya.
Tidak di sangka, pandangan pria itu terhenti pada satu titik. Parkiran yang tidak jauh dari tempat duduknya saat ini. Dimana seorang wanita dengan penampilan terlampau minim baru saja turun dari mobil sport berwarna kuning. Rian reflek merangkul Nino dan Gempa. Membuat kedua pria itu ikut menoleh, menikmati panorama surgawi.
"Oh my God!" seru mereka sambil kompak memiringkan kepala seakan-akan sedang berusaha mengintip sesuatu yang tersembunyi di balik rok mininya ketika sang wanita membungkukkan tubuh hendak mengambil sesuatu yang terjatuh.
Merasa ada yang tidak beres dengan ketiga sahabatnya, Gelar dan Eric menyelidik. Mengikuti arah pandang mereka.
"Si g*blok!" maki Gelar dan Eric, memukul kepala Rian cukup keras.
Rian mengaduh, mengusap kepalanya yang terasa nyeri. Tatapannya tidak suka pada kedua pria itu. "Ck! Kenapa cuma gue yang di pukul sih?" protes Rian.
Gempa dan Nino acuh, masih terfokus pada hal yang menarik. Tampaknya Nino belum menyadari, siapa wanita yang tengah diintipnya.
"Lo udah nikah Rian!" Gelar dan adik iparnya mengingatkan. Berteriak cukup keras di depan wajah Rian.
Rian mendorong kepala mereka lalu menutup kedua telinganya. Sungguh, suara mereka bahkan sanggup memecahkan gendang telinga. Rian tidak tahan.
"Ya elah... cuma cuci mata, ga boleh?" kelakar Rian.
"Cuma?" Gelar dan Eric mengulang ucapan Rian dengan penuh ancaman. Ingin sekali rasanya mencongkel sepasang mata pria itu.
"Eh, iya! Iya! Jangan diaduin ke Via dong," pinta Rian terdengar memohon.
"Repot juga kalau punya istri tapi bersahabat sama sahabat sendiri," sambung Rian mengeluh lirih.
Sayang! Gelar dan Eric masih mampu mendengarnya. Gelar morogoh ponsel Gempa di saku jas yang ia kenakan. Pria tampan itu menarik tangan Gempa. Mengaktifkan sensor jari agar bisa menggunakan benda pipih yang tengah digenggam. Gelar mencari kontak Via. Menunjukannya pada Rian bahwa pria itu tengah menghubungi Via.
Sepasang bola mata Rian mendadak melebar. Secepat kilat ia menyambar ponsel Gempa. Panggilan pun dimatikan.
"Gila! Lo pengin gue sama Via ribut lagi!" sentak Rian.
Gelar tersenyum tipis. Eric kembali memukul kepala Rian, "Jaga mata lo!"
Rian mendengus, "Kalian bawelnya melebihi wanita."
Eric kembali fokus dengan permainan di handphone. Sementara Gelar tidak lagi menggubris Rian, lebih tertarik menikmati perubahan ekspresi Gaya ketika tidak sengaja tertangkap oleh ekor matanya tengah memandang iri wanita yang ada di parkiran. Mempertemukan Gaya dengan wanita itu menjadi sangat berarti baginya. Gaya tidak bisa menutupi kecemburuan yang ia rasakan. Membuat hati Gelar begitu bahagia.
Nino yang tengah asik menikmati mata keranjangnya harus membeku sesaat ketika wanita itu berbalik. Menampakkan parasnya yang cantik dan familiar.
DEG!
Nino tak bergeming ketika wanita yang tengah diamati ternyata seseorang yang ia kenal. Wanita berbaju kuning, dengan perut rata yang terekspos, menampilkan lekuk tubuh yang indah, berjalan elok penuh percaya diri. Rambutnya menari-nari terkibas angin malam yang dingin. Menyita perhatian setiap pasang mata yang memandang.
'Sebenarnya, kemana hatiku ini berlabuh? Kenapa aku merasakan getaran yang sama pada kedua wanita itu. Ingin sekali memiliki mereka. Sungguh aku tidak sanggup kehilangan salah satunya. Apa jomblo terlalu lama membuat otakku tak lagi waras?' (Nino)
Nino semakin membatu tatkala wanita yang sedang mencuri perhatian pengunjung cafe itu justru menghampiri mejanya.
__ADS_1
"Oh sayang, maafkan aku membuatmu menunggu," ucap wanita itu dengan logat kebule-buleannya.
DEG!
'Sayang? Seakrab itukah Sena dengan Gelar? B*doh! Om Bangsawan kan bersahabat dengan Om Hartawan! Tentu saja dia mengenal Gelar!' (Nino)
"Tidak perlu meminta maaf," Gelar bangkit, merentangkan kedua tangan, menyambut Sena dengan pelukan hangat. Senyumnya terus mengembang. Gelar tidak segan mengecup puncak kepala Sena ketika wanita itu berjinjit, menghadiahi kecupan rindu di pipinya.
Sena mengalungkan kedua tangannya di leher Gelar. Sedikit mendongak, menikmati wajah Gelar yang rupawan. Tatapan Sena penuh cinta.
"Kenapa? Apa kau sedang menyesal?" goda Gelar.
Sena mengangguk manja, kembali menenggelamkan diri ke dalam dekapan pria itu. Sena mengeratkan pelukannya.
"Aku menyesal! Menyesal tidak langsung menemuimu. Aku lebih menyesal, mendapati dirimu yang semakin tampan. Seumur hidupku menyesal, menolak dijodohkan dengan dirimu," tutur Sena sedikit terisak.
Gelar terkekeh, menjauhkan tubuh mungil Sena sejenak namun masih dalam jangkauannya. Gelar menyapu lembut sisa cairan bening yang sempat terjatuh, "Kenapa harus menyesal? Ayo, duduk!"
Sesuai prediksi Gelar, Gaya diam. Bahkan dengan jelas ia bisa melihat istrinya tengah mengepalkan kedua tangan di bawah meja. Menahan amarah yang tengah membelenggu. Tidak seperti biasanya, kepercayaan diri seorang Gaya Candana sirna begitu saja ketika lawannya adalah Sena Hartawan. Padahal jika dibandingkan dengan Gaya, Sena jelas belum selevel dengannya.
Ya! Sama-sama memiliki bisnis di bidang fashion, Sena mempelajari bagaimana Gaya's Style menggapai kesuksesannya. Sena menjadikan Gaya's Style sebagai tolak ukur karena Gaya's Style adalah satu-satunya perusahaan dalam negeri yang produk fashionnya mampu bersaing di kancah Internasional.
Sena mengikuti jejak Gaya yang suka mengencani pria-pria populer. Pendekatan mereka pun terbilang sama. Penampilan Sena yang fashionable menjadikannya sebagai selebgram hit bahkan saat dirinya masih menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth.
Online shop Sena sudah dimulai ketika ia masih duduk di bangku SMA. Dengan bantuan Hartawan, ia memiliki perusahaan di bidang serupa. Belum sebesar Gaya's Style memang.
Sena tidak puas. Ingin terlepas dari bayang-bayang Hartawan. Untuk itu, sekembalinya dari Inggris, Sena merintis dari titik nol. Mendirikan butik mandiri. Menjadikan dirinya sendiri sebagai brand ambassador untuk produk yang ia ciptakan. Dari hari ke hari, penjualan dari butik dan online shop Sena Collection meroket tajam seiring dengan tingkat popularitasnya.
"Bisa geser?"
Sebuah permintaan baru saja keluar dari bibir Sena, ditujukan kepada Gaya. Terdengar pantang untuk tidak dilakukan. Dalam hati, Gelar tertawa puas melihat Gaya sampai pada puncak kemarahannya.
Gaya bangkit, mendorong kursi yang ia duduki sangat keras. Gaya menatap tajam suaminya.
"Apa kau sedang meminta izin untuk mendua? Begitu? Dengan dia?" Gaya menunjuk Sena remeh.
"Jadi, apakah boleh?" tanya Gelar tanpa beban.
Gaya tergelak, setitik air mata jatuh tak tertahankan. Gaya menatap Gelar dengan mata yang berkaca-kaca, "Lakukan sesukamu!" Gaya meraih tasnya lalu pergi.
"Terima kasih sayang," ucap Gelar setengah berteriak.
Gaya tidak peduli. Meninggalkan tempat itu dengan segenap luka di hati.
Katrina bangkit, sigap mengejar Gaya. Langkahnya tertahan ketika Nino menarik tangannya.
Jantung Nino bekerja ektra. Membeku sesaat, tidak menyangka cintanya nyata untuk Katrina.
"Apa yang kau lakukan!" protes Katrina dengan tatapan membunuh.
Gempa geram bukan main, tidak suka wanita yang beberapa jam lalu diciumnya disentuh pria lain.
Nino mengerjapkan mata, tersentak dengan seruan Katrina. Beruntung Nino punya alasan yang masuk akal. Nino membalikkan tangan Katrina, meletakkan handphone milik wanita itu di tangan Katrina.
"Sebaiknya kau tidak meninggalkan benda sepenting ini," saran Nino sebelum akhirnya melepaskan tangan Katrina.
Katrina langsung tersenyum kecil, mencubit pipi Nino, gemas. "Maaf, karena telah mencurigaimu. Thanks Nino."
Katrina pergi menyusul Gaya. Mengabaikan Nino yang tengah sibuk menata getaran hati. Menelantarkan Gempa yang sedang menampakkan kegusarannya.
DEG!
Sena tersentak, baru menyadari keberadaan Nino disana. Setiap gerak-gerik Nino kepada Katrina tak luput dari pengamatannya. Sena tahu, bahwa Nino menatap wanita itu sama seperti Nino menatap dirinya. Sena segera mengendalikan diri. Menutupi rasa panas yang membakar hatinya. Sena tetap pada tujuan awal.
__ADS_1
Pada saat yang bersamaan, Eric dan Rian mengadili Gelar. Kedua pria itu menarik kasar pria yang pernah menjadi atasannya. Gelar duduk bagai terdakwa yang siap disidang.
"Gelar, ini tidak benar!" Eric menatapnya dingin penuh peringatan.
"Gelar, aku tidak menyangka kau bahkan lebih br*ngs*k daripada diriku!" Rian tak kalah memojokkan.
Gelar tetap santai, tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang putih. Membuat Eric dan Rian kesal. Mereka kompak memukul kepala Gelar.
"Gelar, sepertinya kau berubah. Kau bukan seseorang yang kukenal," Eric kecewa.
Rian kembali memukul kepala Gelar, kali ini cukup keras. Rian mencengkram kerah sahabatnya, "Hei! Cuci mata saja kau permasalahkan! Lalu apa yang kau lakukan ini bisa dianggap benar?" Rian menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak Gelar! Hentikan niatmu itu sebelum kau menyesal karena aku yakin Gaya lebih memilih meninggalkanmu daripada bertahan dengan penderitaan!"
Gelar menghela napas kasar, membalas perlakuan Eric dan Rian. "B*doh! Ini namanya proyek membuat istri cemburu!"
"Apa!" Eric dan Rian tercengang, tidak percaya bahwa semua yang dilakukan Gelar hanya sandiwara.
Gempa tidak kaget. Tentu saja ia tahu maksud Gelar yang memintanya mengatur pertemuan dengan Sena. Sementara Nino justru terkejut dengan hal lain. Membuat Gaya cemburu adalah ide Nino. Tapi Nino tidak menyangka, wanita yang diajak bekerja sama justru Sena.
"Ja-jadi....?" Eric dan Rian masih berusaha mencerna apa yang sulit diterima akal sehatnya.
Gelar mengangguk, memotong kalimat mereka. "Aku sangat yakin Gaya juga mencintaiku, tapi dia masih saja mengingkari perasaannya. Aku hanya membantunya menyadarkan apa yang sedang dia rasakan."
Sunyi! Eric, Rian, Nino, dan Gempa saling pandang. Tawa mereka menyembur bersamaan ketika otak joroknya tampak satu pendapat.
"Hahahahaha... Jangan bilang kalian berbulan-bulan menikah tapi belum pernah melakukannya," duga keempat pria itu, masih satu pemikiran.
"Tunggu! Tunggu! Tunggu!" Rian memicing penuh curiga, "Tapi ko aku ga yakin dia belum menyicil. Secara Gaya cantik banget. Ga mungkin dianggurin begitu saja. Kecuali dia ga normal."
Eric terkekeh, mendorong keras kepala Rian yang isinya kadal mesum. "Sekitar wilayah dada aku yakin sudah."
"Hahahaha sekwilda, itu kan lo banget! Kampret!" seru Rian, Nino, dan Gempa heboh. Menghujani Eric dengan pukulan persahabatan. Eric pasrah dikepung para menantu idaman.
Gelar tersenyum tipis, memori indahnya bersama Gaya mendadak berputar-putar di kepala. Gelar sengaja membiarkan para sahabatnya berasumsi. Tidak tertarik membahas privasinya bersama Gaya.
Keempat sahabatnya mengerubungi Gelar. Lirih mereka berbisik, "Sabun dan shampoo lo pasti cepat habis. Berujung solo karir kan lo?"
"Ingat! Sekali dapat kesempatan, buat dia hamil secepatnya! Akan lebih kuat ikatanmu jika ada anak," Rian menasehati.
Eric dan Nino mendorong Rian, "Yang kaya gitu ga usah diajarin, b*go!"
Gelar terkekeh geli mendengar celotehan demi celotehan receh yang dilempar para sahabatnya. Tapi ketika Gempa bersuara, senyum Gelar memudar.
Gempa mengarahkan kepala Gelar pada pemandangan yang menguras emosi. Gaya yang tidak sengaja menabrak dan bertemu Bryan di tempat itu mendadak memeluknya erat. Menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan pada sahabatnya. Bryan memilih mengamankan Gaya dari tempat itu. Tidak ingin sahabat terbaiknya menjadi tontonan publik. Bryan merangkul Gaya, mengajaknya ke mobil. Katrina tetap mengekori.
Gelar hendak beranjak namun buru-buru ditahan oleh keempat sahabatnya. Baik Gempa, Eric, Nino, dan Rian biasa melihat amarah yang tak terkendali dari Gelar.
Eric menyodorkan semua minuman dingin yang ada di meja. "Minum dulu. Biar api di hati lo cepat padam. Gue takut hati lo gosong, membuat diri lo tak berhati," ucapnya setengah meledek.
Dengan penuh emosi Gelar menyambar minuman itu. Menghabiskannya tak bersisa.
Sena yang sedari tadi menyimak, menebak hubungan Gelar dan Nino pun akhirnya urun bicara.
"Dasar b*doh! Kau yang membuatnya cemburu tapi pada akhirnya kau juga ikut-ikutan cemburu?" Sena tidak habis pikir. Ia bangkit, menarik tangan Gelar, "Ikut aku! Kita harus bicara empat mata!"
Sena menarik Gelar, mengajaknya ke lantai dua. Mau tidak mau Gelar mengikutinya.
"Miss Bulo, mau diajak kemana dia?" tanya Nino lantang.
Sena menoleh, tatapannya sinis. "KUA! Sebaiknya kau jangan menangisiku!"
Nino menggelengkan kepala, tersenyum dengan tingkah wanita itu. Gelar, Gempa, Eric, dan Rian langsung menatap Nino dengan tatapan mengejek, "Jadi ini bule lokal yang lo maksud?"
Nino menggaruk tengkuknya, tersenyum hambar. Membuat Sena begitu kesal. Sena mendekat, menarik dasi Nino. Bukan untuk memperingatkan pria itu tapi...
__ADS_1
CUP!
Nino tak berdaya. Menghadapi serangan Sena yang tiba-tiba. Keempat sahabatnya bahkan menganga, menyaksikan pertunjukan di depan mata mereka.