
Di suatu pagi Rianti mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke pesantren, jarak yang akan dia tempuh lumayan memakan waktu jadi dia mempercepat pergerakannya.
"Mas, kamu sudah selesai belum mandinya?" tanya Rianti di depan pintu kamar mandi.
"Bentar lagi," sahut Avan.
Terdengar suara gemericik air dari dalam sana. Rianti yang sudah mendapat jawaban pergi menuju ruang tengah, wanita yang masih menginjak usia 25 tahun tersebut memainkan ponselnya.
Sekian menit menunggu, Avan tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Merasa ada yang aneh dan takut terjadi apa-apa kepada sang suami, Rianti beranjak dari tempat duduk dan berjalan menghampiri lagi sang suami yang masih mandi.
"Mas ...," panggil Rianti seraya mengetuk pintu.
Jangankan jawaban, suara air saja tidak dia dengar. Hal itu membuat Rianti semakin khawatir bukan main, lagi-lagi Rianti memanggil Avan dengan suara yang semakin meninggi.
"Mas!" teriak Rianti.
"Apa?" jawab Avan.
Sontak wanita itu menoleh ke belakang dengan mata yang membulat sempurna.
"Ada apa teriak-teriak?" tanya Avan dengan tangan yang mengusap-usap kedua kelopak matanya.
Dengan perasaan yang ragu Rianti menoleh ke pintu kamar mandi, dengan kasar dia menelan salivanya.
"B-bukannya k-kmu tadi mandi, Mas?" kata Rianti tergagap-gagap sambil menunjuk ke arah pintu kamar mandi.
"Ngacok kamu! Orang aku baru bangun," ujarnya seraya meraih handuk yang ada di bahu kanan Rianti.
"Kamu jangan nakut-nakutin aku, Mas!" ucap Rianti sembari memeluk lengan suaminya.
"Kenapa emang? Kamu lihat aku mandi di dalam?" Pertanyaan Avan terdengar mengejek.
"Iya, aku memang lihat kamu masuk ke dalam. Bahkan kita sempet ngobrol," katanya dengan suara bergetar.
Bukannya menenangkan istrinya, Avan malah menggoda Rianti.
Dengan suara parau-nya Avan berbisik, "Aku ada di belakangmu ...."
Sontak Rianti menjerit, hingga suaranya itu melengking di gendang telinga Avan.
"Mas!" pekik Rianti pelan sambil memukul punggung suaminya.
Avan tertawa setelah meringis menahan sakit akibat pukulan tangan Rianti.
"Enggak ada apa-apa di rumah ini, Sayang." Mengelus lembut kepala Rianti.
"Tapi ...."
Avan tersenyum lalu mengecup ujung kepala Rianti.
"Aku dulu ya, yang mandi!" cetus Rianti menyerobot masuk ke kamar mandi.
"Astagfirullah ... kamu ini seperti anak kecil aja," keluh Avan yang mau menutup pintu, tapi dicegah oleh istrinya.
__ADS_1
"Jangan di tutup, aku takut!" rengeknya sambil terus memasang wajah memelas.
Avan menyerah dia jongkok tepat di depan pintu, menunggu sang istri selesai mandi. Setelah selesai dengan ritual bersih-bersih, sepasang suami istri tersebut melakukan sholat subuh berjamaah.
Namun, tiba-tiba saja Rianti merasakan ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya, tapi dia tidak begitu menggubris hal itu dan Rianti kembali memfokuskan diri untuk salat. Saat dia sujud sosok itu terasa nyata berdiri tepat di hadapannya, rasa takut itu kembali datang dan menyelimuti hatinya.
Bulu kuduknya meremang dan tubuhnya terasa panas. Keringat dingin mengucur dari keningnya dan karena takut melihat hal yang aneh, Rianti memejamkan kedua kelopak matanya sambil terus melakukan ibadah salat.
Ya Allah ... tolong maafkan hamba yang tidak khusyuk dalam salat.
Setelah salam, Rianti duduk bersebelahan dengan Avan. Sontak suaminya terkejut hingga tubuhnya tersentak.
"Kenapa?" tanya Avan lirih.
"Enggak apa-apa," tukas Rianti celingukan.
"Yakin enggak apa-apa?" ujar Avan sambil merangkul bahu istrinya.
Rianti mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya, tapi dia sangat yakin melihat seseorang tengah berdiri di hadapannya tadi. Namun, dia diam tidak menceritakan hal itu kepada sang suami. Ini bukan kali pertama, tapi ini sudah berulang kali dia alami.
****************
Sang surya telah menampakkan diri dan jarum jam telah menunjukkan pukul 07.15 menit, Rianti telah selesai siap-siap. Dia menunggu Avan duduk di depan teras rumah, sambil sesekali dia melirik ke dalam memastikan kemunculan sang suami.
"Ya Allah, apa sih yang dia lakukan di dalam sana?" tanya Rianti pada dirinya sendiri, "ayah lama ya, Dek?" katanya dengan kepala yang mengangguk-angguk melihat wajah bayinya yang masih menikmati asi.
Tidak tahan menunggu Rianti meneriaki Avan dari depan rumah, "Mas cepetan!"
Pria berkumis tipis tersebut berjalan sambil menenteng tas yang berisikan keperluan Tari—adik kandung Rianti.
"Ngapain aja di dalam sana, Mas?" tanya Rianti merajuk.
"Itu ... aku cari jam tanganku yang kamu beliin waktu lalu." Avan membelokkan motornya dan memakaikan helm untuk Rianti.
"Oh, jamnya aku letakkan di laci dalam lemari," sahut Rianti sembari membenarkan posisi tubuhnya.
Avan hanya menganggukkan kepala, lalu dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan mereka tidak mengobrol sama sekali. Rianti tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan dia suka suaminya tidak bicara karena menurutnya mengobrol saat berkendara akan mengurangi kefokusan.
Namun, samar-samar dia mendengar suara bariton di gendang telinganya.
"Putar balik!"
Sontak Rianti mendekatkan kepalanya di bahu sang suami.
"Yah, tadi kamu bilang apa?" tanya Rianti sedikit teriak.
"Enggak!" bantah Avan dengan kepala yang menggeleng cepat.
"Serius! Tadi aku dengar kamu ngomong kok," kata Rianti kekeh.
Avan menolehkan kepalanya sebentar lalu berkata, "Aku enggak ngomong apa-apa, Sayang."
Rianti menoleh ke belakang lalu kembali menatap suaminya dari spion.
__ADS_1
Apa aku salah dengar, ya. Tapi suara itu benar-benar aku dengar kok, gerutu Riani dalam hati.
Kali ini Avan melajukan motornya sedikit ngebut karena nanti siang dia memiliki janji pada temannya yang baru datang dari luar negeri. Selang beberapa saat kemudian, motor matic tersebut masuk ke kawasan pesantren Al-fatah.
Nampak kang santri melakukan gotong royong membersihkan halaman pondok pesantren ternama di daerah Jawa timur. Santri yang mengenali Avan meraih tangannya lalu bersalaman seraya menanyakan kabar suami Rianti tersebut.
Hal biasa yang biasa di saksikan oleh Rianti. Sebelum Avan bekerja di kantor desa, dia mengabdi di pesantren ini selama kurang lebih 7 tahun itu sebabnya sebagian santri mengenalnya bahkan akrab dengan sosok Avan yang humoris.
Melihat suaminya asyik bercanda, Rianti masuk ke dalam asrama perempuan. Kedatangannya disambut bahagia oleh sang adik, dengan senyum sumringah Tari memeluk kakaknya lalu mencium pipi sang keponakan yang masih tertidur.
"Mbak bawa pepes ikan kesukaanmu," ujar Rianti lirih sambil mengangkat tas yang dia bawa.
"Asyik." Tari mengulas senyum bahagia.
Kunjungan pagi ini terasa kurang nyaman bagi Rianti, pasalnya hati seorang ibu muda itu terus dilanda was-was. Terlebih kejadian tadi subuh dan suara yang dia dengar tadi menambah kekhawatiran di hatinya.
"Habis ini mbak pulang, ya." Rianti tidak melihat adiknya malahan dia sibuk melirik ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Baru juga nyampe Mbak. Tari juga masih kangen sama Adnan," kata Tari yang masih memeluk gemas bayi mungil yang masih berusia 3 bulan.
"Mas Avan ada janji sama temannya. Jadi, enggak bisa lama-lama di sini," tutur Rianti kalem.
"Mau lama juga enggak apa-apa. Ferry menunda pertemuan kita," sahut Avan yang baru masuk.
"Tapi aku mau cepat pulang, Mas." Rianti menatap sayu wajah suaminya.
Tari yang mendengar pernyataan sang kakak hanya bisa diam, tapi remaja itu memasang wajah yang cemberut. Dia benar-benar merindukan kakak dan juga keponakannya.
Avan tersenyum dan menarik ponselnya yang ada di saku jaket. Belum sempat membaca chat dari atasannya, Rianti berdiri dan mengajaknya untuk pulang.
"Baru juga 15 yang lalu kita sampai, Dek. Masa iya pulang!" protes Avan dengan kening yang berkerut.
"Pokoknya kita pulang sekarang, Mas!" ucap Rianti bersikeras.
"Jangan seperti Mbak-mu ya, Tar!" pesan Avan pada adik iparnya.
Remaja berkerudung biru itu hanya tersenyum masam mendengar Abang iparnya mengejek sang kakak.
"Hati-hati, jangan pacaran!" perintah Rianti yang selalu dia ucapkan untuk Tari.
"Iya Mbak ...," jawab Tari penuh penekanan.
"Yo wes. Assalamualaikum," pamitnya seraya mengucapkan salam.
Ketika Avan mau menarik gas motornya, Rianti minta pulang ke rumah ibu Avan yang tidak jauh dari rumahnya yang baru 2 bulan mereka tempati.
"Kenapa ke sana? Katanya capek," cetus Avan yang sedikit bingung.
"Aku pingin aja ke rumah Bunda," jawabnya tanpa ragu-ragu.
Avan menghela napas panjang seraya melajukan motor matic yang dia tunggangi. Sesampainya di pertigaan Rianti merasa pundak sebelah kanannya terasa berat dan dia juga merasa telinganya ada yang meniup.
Rianti semakin mengeratkan pelukan tangannya, "Mas bisa lebih cepat?"
__ADS_1