Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 11


__ADS_3

Orang-orang yang berada di dalam sana tidak sadar bahwa Satri yang baru keluar dari sana tidak pergi, dia masih terpaku ketika melihat lima temannya yang kesurupan datang dengan ekspresi wajah yang garang dan langkah kaki mereka sangat cepat seakan hendak menantang seseorang.


Benar saja, ketika santri pria tadi menepi ke lima temannya masuk tanpa menghiraukan orang yang tengah hikmat mendengarkan lantunan surat ruqyah.


“Buyar! Ojo ngesroh ratuku melebu! Bubar! Jangan ganggu ratuku masuk!” ucap kelima santri yang kesurupan tersebut dengan lantang.


Mereka berucap dengan berkacang pinggang, kelima santri itu selalu serempak mengucapkan sebuah kalimat larangan.


“Pergi dari sini! Jangan mengganggu kami!” titah Gus Zaini kalem.


Putra Kyai Abasari itu terkenal dengan kesabarannya, tidak pernah sekalipun dia marah ataupun membentak orang. Dia selalu bertutur kata lembut nan sopan, sehingga membuat lawan bicaranya sungkan.


“Sopo koe? Kok wani-wani ngongkon aku,” ketus santri yang paling besar tubuhnya.


Gus Zaini meraih tasbihnya lalu dia lemparkan kepada kelima santrinya, bagai disihir. Kelima santri itu jatuh pingsan dan digotong ke pojok ruangan yang di gunakan untuk meruqyah Rianti.


“Sak derenge kulo nyuwun pangapunten sing katah. Kulo mboten sanggup nerusaken ruqyah niki,” akunya dengan nada yang sangat lembut dan kalem.


Tentu saja Rianti, Avan dan Rahmat saling menatap satu sama lain. Mereka tidak menyangka orang tersohor di berbagai daerah menyerah untuk melakukan ruqyah terhadap Rianti.


Istri Avan tidak terima dengan pengakuan Gus Zaini, dia langsung menodong putra Kyai tersebut dengan berbagai pertanyaan yang memohon.


“Berapa yang Gus minta? Insyaallah saya bayar. Apa Gus berpikir kami tidak akan membayar mahal atas jasa Gus,” cibir Rianti, mungkin saat ini urat malu wanita itu telah putus sehingga dia menghina seorang putra Kyai.


Atau mungkin isi kepala Rianti saat ini tengah eror sehingga tidak bisa berpikir positif.


“Bukan masalah itu, Mbak. Saya tidak sanggup karena santri saya kena imbasnya juga,” jawab Gus Zaini dengan seulas senyum.

__ADS_1


“Saya juga perlu memikirkan ketenteraman pesantren ini, jika saya masih meneruskan menruqyah sampean bisa-bisa semua santri saya kesurupan. Apa Mbak tidak kasihan melihat mereka seperti itu?” tanya Gus Zaini disela penjelasannya.


Rianti menatap iba kelima santri Gus Zaini yang tergeletak di dekat pintu keluar. Hatinya teriris sakit menyadari kedatangannya berobat kemari memberi dampak negatif bagi orang lain.


“Mohon maafkan saya, Gus. Saya sungguh manusia tidak tahu diri,” ungkap Rianti dengan tangan yang menyatu.


Putra Kyai Abasari itu tersenyum lalu menanggapi perkataan Rianti.


“Enggak apa-apa. Wajar saja jika Mbak seperti ini saya paham dengan sikap Mbak,” balasnya sambil menulis tulisan Arab di secarik kertas.


“Silakan amalkan ini setelah salat fardhu!” pesan Gus Zaini untuk Rianti yang telah menangis.


“Matur nuwun,” ucap Rianti seraya menyekat air mata yang terus berderai.


“Empun Mbak, mboten perlu ditangisi! Sudah Mbak, tidak perlu ditangisi!” tegur Gus Zaini.


“Kalian benar-benar tidak melihat mereka dan beliau?”


Lagi-lagi santri-santri itu melempar pandangan, mereka bingung mau menjawab apa. Karena kenyataannya mereka tidak melihat orang yang disebutkan Rianti, yang mereka lihat di belakang Gus Zaini hanya ada lukisan almarhum Romi Kyai dan Gus Zaini.


“Kulo panci mboten ketingal nopo-nopo Mbak, saya memang tidak melihat apa-apa Mbak,” aku santri tertua di antara ke empat santri lainnya.


Rianti menatap wajah mereka semua satu per satu, benar-benar tidak masuk akal. Cuma dia seorang yang melihat penampakan 7 orang mengenakan pakaian serba putih dan 10 lainnya mengenakan baju adat Jawa, mereka berdiri bersaf layaknya orang hendak melakukan salat berjamaah.


“Apa mungkin yang mbak itu lihat santri ghaib Romo Kyai yang biasa diceritakan Gus Fikri?” gumam Samsul lirih, tapi dia tidak berani menimpali ucapan Rianti.


Selepas perbincangan tanpa ujung Rianti memutuskan untuk kembali ke rumah, tapi di sepanjang perjalanan wanita itu terus mengoceh tiada henti tentang penampakan yang dia lihat.

__ADS_1


“Sudah jangan dibahas terus! Lebih baik kamu beristigfar agar dijauhkan dari mereka (makhluk ghaib)” saran Avan yang terus melirik wajah istrinya dari kaca spion.


Pria itu menarik gas motornya dan motor matic injeksi tersebut melaju cepat membelah keramaian jalan. Setelah sampai di persimpangan jalan ke dua Rahmat dan Avan berpisah, karena rumah mereka berlawanan arah.


“Mas aku lapar,” kata Rianti yang mengelus perutnya yang keroncongan.


Avan bertanya sambil memfokuskan diri mengendarai kuda besi berwarna abu-abu.


“Apa saja, yang penting jangan bakso.” Ucapan syarat itu dipenuhi oleh Avan.


Pria itu mengendurkan genggaman tangannya di setir sambil melirik ke kanan ke kiri mencari rumah makan terenak. Di rasa sudah menemukan rumah makan yang enak Avan menyalakan lampu sen dan menepi ke kiri jalan.


Kuda besi tersebut diparkirkan tepat di sebelah musholah.


“Kamu yakin makan di sini, Mas?” Pertanyaan Rianti membuat Avan sedikit bingung plus jengkel.


“Sudah jangan cerewet! Kamu mau makan enggak sih?” ketusnya tanpa melihat Rianti yang membuntutinya.


“Mas!” pekiknya sambil menarik tangan sang suami.


“Apa?” Alis Avan terangkat, bisa ditebak pria itu tengah marah.


“Ada apa lagi kali ini, heum?” Pria itu berkacak pinggang dengan kening yang mengerut.


Rianti menjinjit untuk berbisik di telinga suaminya yang memiliki penyakit ngeyel.


Mata Avan mendelik dan mulutnya menganga tidak percaya dengan ucapan Rianti. Lantas netranya menyapu halaman parkiran dan dalam rumah makan yang dipadati pengunjung yang sudah tidak sabar menyantap makanan warung Bu Leny yang cukup terkenal di Jalan Beroto sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2