
Pria yang menyandang status sebagai suami Rianti itu memalingkan pandangannya. Entah kenapa dia merasa takut tatkala menatap bola mata istrinya yang menukik ketika memandang ke arah Gus Zaini.
“Ada apa Mbak?” tanya Gus Zaini tanpa menghiraukan telunjuk Rianti yang sibuk mengacung ke sana kemari.
“Kenapa mereka mengelilingiku?” kata Rianti masih dengan wajah bingungnya.
“Jawab pertanyaan saya saja tidak perlu menghiraukan mereka!” perintah Gus Zaini yang sedikit menjauh dari Rianti.
“Apa Mbak masih sadar ketika mendengar suara air?” imbuhnya meminta pengakuan jujur dari istri Avan.
Mendengar Gus Zaini menyinggung suara air, Rianti tidak mengindahkan makhluk tidak kasat mata itu. Dia lebih fokus dengan pertanyaan yang keluar begitu saja dari lisan putra Kyai Abasari.
“Bagaimana Gus tahu? Apa jangan-jangan ... saya benar-benar dibawa ke kamar mandi tadi?” Rianti sedikit mendesak Gus Zaini.
Avan dan Rahmat tidak berucap, tapi mereka berdua mulai mendekat dan memegang erat pergelangan tangan Rianti.
“Loh, apa-apa ini? Kenapa tangan Ria dipegangi kaya gini?” Wanita berjilbab hitam tersebut kebingungan dengan sikap suami beserta pamannya.
Dia sungguh tidak memahami tujuan dua pria yang duduk di samping kiri kanannya. Sedangkan pria yang duduk di hadapannya mulai membacakan ayat-ayat Alquran lagi, kali ini Rianti tidak begitu mendengar jelas Gus Zaini mengaji, yang dia dengar hanya suara berisik dan dengungan cukup memekakkan telinga.
“Mas, bantu aku!” pinta Rianti dengan tubuh yang meronta-ronta.
“Kamu tahan dulu! Jangan sering-sering melawan kaya gini!” titah Avan yang hampir saja melepaskan genggaman erat tangannya.
Sesungguhnya dia tidak tega melihat Rianti kesakitan seperti ini. Ketika dia hendak mengelus kepala istrinya Gus Zaini memberi aba-aba agar melonggarkan pegangan tangan Rianti, setelah itu dia menyiratkan air yang telah dibacakan doa-doa. Rianti yang awalnya diam anteng kini meronta tidak karuan, suara tawanya menggema dan membuat bulu kuduk merinding.
Dengan mata yang mendelik sempurna dia berucap.
“Sopo koe sopo isun, ojok gawe hang arane weling dadi bubrah! Siapa kamu siapa aku, jangan membuat yang namanya nasihat jadi ancaman!” Itulah titah Rianti.
__ADS_1
Bukan, itu bukan Rianti—melainkan makhluk yang singgah di tubuh wanita bersuami itu.
“Ngapunten, menopoo teng meriki? Melas lare niki, maaf, ngapain di sini? Kasihan anak ini,” tanya Gus Zaini seraya meraih tangan Rianti, tapi segera di tepis dengan kasar oleh Rianti.
Memang benar sebelumnya Avan memegangi tangan istrinya, tapi tenaga Rianti seakan bertambah sehingga tangan besar Avan tidak mampu mencekal lagi. Mendapati Rianti akan mengamuk lagi, Gus Zaini kembali meneruskan ruqyah dan kali ini Gus Zaini dibantu kedua santrinya.
“Maaf Gus, sepertinya ini lebih berat.” Salah satu santri berbisik lembut.
Gus Zaini mengangguk dengan mulut yang terus komat-kamit membaca surat Al-Baqarah.
“Ngaleh! Minggir!” jerit Rianti sambil memandangi semua orang satu per satu.
Seakan menjadi harimau Rianti mencakar-cakar lantai hingga karpet yang menjadi alas duduknya robek, kelakuan Rianti semakin menjadi-jadi tatkala dia menatap pintu sebuah ruangan di sana.
“Sayang diem dulu di sini!” perintah Avan sambil memegangi pundak Rianti.
“Minggat soko kene! Pergi dari sini!” tolak wanita itu sambil mendorong tubuh kekar Avan.
Tatkala dia sampai di depan pintu yang dia perhatikan sejak tadi, perlahan tubuh Rianti melemas sampai dia jatuh terduduk tepat di samping aquarium kecil.
“Mas,” panggil Rianti lembut.
Segera Avan berlari menghampiri istrinya yang terlihat lemah tidak memiliki tenaga.
“Kamu lelah?” Menatap sayu wajah sang istri.
Rianti mengangguk kecil lalu dia meminta Avan untuk memapahnya kembali ke tengah-tengah Gus Zaini dan kedua santrinya duduk. Sungguh miris melihat istrinya dipermainkan oleh makhluk ghaib, ingin rasanya Avan memukul semua makhluk itu hingga mereka terkapar tidak berdaya.
Namun, apa daya dia hanya manusia yang hanya bisa berharap dan berusaha membebaskan istrinya dari belenggu ini.
__ADS_1
Ragu-ragu Avan bertanya kepada sang istri yang tampak seperti ikan sekarat.
“Kamu yakin mau melanjutkan ini?”
“Insyaallah yakin,” jawab Rianti dengan napas yang tersengal-sengal.
“Lihat dirimu! Sudah sangat lelah,” tunjuk Avan dengan dagunya.
Rianti terdiam sejenak dan sedetik kemudian wanita itu menegakkan tubuhnya sambil menarik napas panjang.
“Aku ingin kembali seperti dulu, Mas.”
Mendengar tekad Rianti yang sangat kuat Avan pasrah dia hanya bisa mengikuti keinginan sang istri tercinta.
Belum sampai berdiri seorang santri datang tergopoh-gopoh mengejutkan mereka semua.
“Assalamualaikum!” Terdengar sangat lantang ucapan salam itu.
Serempak semua orang menjawab, “Wa ’alaikumsalam.”
Terdengar suara napas yang menderu dan dengan sisa tenaganya santri laki-laki itu masuk dengan lutut yang dia gunakan untuk menopang tubuhnya.
“Ada apa Kang?” tanya Gus Zaini seraya menyekat keringat dengan punggung tangannya.
Santri tersebut maju dan berbisik sangat lirih sehingga tidak ada yang mendengar ucapannya.
“Sudah dibacakan doa Munjiad?” ujar Gus Zaini yang masih memperhatikan Rianti.
“Sampun, Gus. Sudah, Gus." Santri tersebut melirik ke arah Rianti.
__ADS_1
“Sampean bawa air ini,” katanya seraya menyodorkan air mineral.
Santri tersebut pun menerima air kemasan tersebut, lalu dia merangkak mundur ingin meninggalkan Ndalem kulon. Baru saja menginjakkan kaki di teras, santri tersebut menepi dengan wajah yang ketakutan. Entah apa alasannya dia terdiam dan menepi dari ambang pintu.