
"Rianti ... Sayang!" Menepuk lembut pipi Rianti seraya melirik orang yang berdiri di belakangnya.
Perlahan kedua alis Riyanti bergerak, lalu kedua kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit.
Rianti Panik, melihat banyak orang yang mengerumuninya. Tercetak jelas ketakutan di wajah istri Avan tersebut, Dengan penuh kesadaran dia mendorong kasar Avan sampai suaminya itu jatuh terduduk.
"Ada apa Sayang?" tanya Avan bingung, sesekali dia melihat kedua orang tuanya dan beberapa tetangga.
Rianti hanya mengerutkan kening tanpa mengucapkan sepatah kata dan yang membuat Avan semakin bingung istrinya bagai orang bisu. Dia cuma bisa mengeluarkan suara yang tidak jelas, persis difabel.
"Kenapa dengannya?" bisik wanita yang berdiri dekat pintu.
"Yo Iki dampake kecepet! Ya ini dampak masuk alam ghaib!" ungkapnya penuh penekanan.
"Bisa diem enggak?" sahut wanita lain yang risih dengan percakapan mereka.
Wanita bertubuh bongsor tersebut menoleh lalu angkat bicara lagi.
"Memang benar to, ini akibatnya jika digondol makhluk halus." Melirik ke sana kemari memastikan tidak ada keluarga Rianti atau Avan yang mendengar ucapannya.
"Wes meneng! Ojo nambahi bingunge Avan, melas. Sudah diam! Jangan menambah kepanikan Avan, Kasihan." Penuturan Bulek Tutik membuat wanita di sebelahnya diam.
Bulek Tutik masih mengamati tingkah laku Rianti yang ketakutan, wanita muda itu meringkuk di sudut kamar dan terlihat tangannya gemetar. Semua orang melihat tingkah aneh Rianti, dari yang teriak-teriak dan menunjuk beberapa titik di kamarnya yang cukup luas ini.
Bulek Tutik yang tidak tahan melihat Rianti langsung masuk membelah kerumunan orang.
"Permisi!" kata Bulek Tutik menyela sebagai orang yang berdiri di ambang pintu.
"Maaf sebelumnya, Mbak Mar." Menarik tangan mertua Rianti ke pojok kamar.
Marini mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa Bulek Tutik meminta maaf dan membawanya sedikit menjauh dari Avan.
"Wonten nopo, Mbak? Ada apa, Mbak?" tanya Marini kebingungan.
"Ngapunten sanget ... aku mohon! Kamu jangan tersinggung dengan perkataan ku ini," pinta Bulek Tutik setelah meminta maaf.
__ADS_1
"Ada apa to Mbak? Jangan sungkan! Ayo, ngomong saja!" ucap Marini meyakinkan tetangga anaknya.
Rumah Bulek Tutik tepat di sebelah rumah kontrakan anaknya dan beliaulah yang menemukan Rianti tergeletak di atas genteng rumahnya, lebih tepatnya Rianti berada di genteng bagian belakang. Saat itu Bulek Tutik tengah mencari kucingnya yang tidak kunjung pulang, tanpa sengaja Bulek Tutik mengarahkan senternya ke arah rumah yang ditempati Rianti dan juga Avan.
Lagi-lagi Bulek Tutik menatap wajah Rianti.
"Bawa dia ke kyai atau semacamnya. Ini sudah tidak wajar Mbak," ujarnya sembari menggenggam tangan Marini.
"Iya, Mbak. Itu Mudi sudah berangkat ke sini," jawab Marini lirih.
"Mudi?" Bulek Tutik mengerutkan keningnya, dia tidak paham maksud perkataan Marini—mertua Rianti.
"Mudi adik ipar, saya. Dia mengerti hal beginian Mbak," timpal Marini seraya mengulas senyum.
Bulek Tutik mengangguk mengerti, walau dalam hatinya dia meragukan apa yang Marini ucapkan.
Rianti yang semula tenang kini dia kembali menunjuk ke arah tetangga yang berkerumun. Dia melihat sosok wanita berambut panjang bermuka hitam dengan mata yang merah menatapnya tajam, lalu sosok hitam itu meringis menunjukkan semua giginya yang runcing mirip seperti gergaji.
Sontak Rianti berteriak-teriak sambil menunjuk dan sesekali dia mengibaskan tangannya, mencoba memberitahu agar semua orang menjauh dari wanita tersebut. Bukan sosok itu saja yang Rianti lihat, dia juga melihat beberapa makhluk lain selain itu.
Melihat hal mengerikan itu suara Rianti keluar begitu saja dan dia loncat dari ranjang memeluk Neni, anak Bulek Tutik.
"Jangan ganggu dia!" pekik Rianti sambil menunjuk ke arah wanita tua yang memiliki tangan berkuku panjang tersebut.
Wajahnya hancur hampir tak berbentuk, sebelah matanya hilang dan sebelah lagi dipenuhi belatung. Sosok wanita tua itu tampak marah, dia menjulurkan kedua tangannya ingin mencekik leher Rianti. Dengan keberanian yang ada Rianti menepis tangan itu.
"Pergi kalian dari sini ...!" jerit Rianti sembari menangis.
Kala itu semua orang ketakutan melihat Rianti menjerit histeris. Sebagian dari mereka milih untuk pergi dan sebagian lagi berjalan mundur sedikit menjauhi Rianti dan juga Neni yang masih berada di pelukan menantu Marini.
"Bunda, bantu Neni! Mbak Rianti memeluk Neni terlalu kuat," keluhnya di sela rintihan menahan sakit di bagian dada.
Bulek Tutik dan juga Avan membantu melonggarkan pelukan erat Rianti, tapi sayang pelukan itu semakin kuat tatkala Rianti melihat wajah suaminya. Dia masih mengingat Avan yang memboncengnya tadi di alam ghaib, benar-benar dampak yang sangat luar biasa dan mampu membuat seorang Rianti takut bukan main.
Kali ini Bulek Tutik yang membujuk Rianti dengan suara lemah lembut, beruntung wanita itu mau melepaskan pelukan eratnya. Keadaan Rianti layaknya orang yang menderita depresi, sebentar-sebentar dia marah sebenarnya lagi dia menangis.
__ADS_1
Puncaknya saat di mana dia berkacak pinggang berdiri membelakangi Neni—putri Bulek Tutik.
"Kalian tidak boleh menyentuh janin Neni, Kalian mengerti!" benaknya menggelegar sampai ke luar rumah.
Sontak saja semua orang terkejut bukan main, seisi rumah yang semula menatapnya kini menggulirkan bola mata mereka ke arah Neni yang notabene masih beberapa bulan menjalani biduk rumah tangga bersama Fendy.
Begitu pula Bulek Tuti, dia kaget bukan main. Perasaannya kini bercampur aduk antara senang dan bingung, bagaimana tidak bingung? Dari mana Rianti tahu kalau anak perempuannya tengah mengandung? Sedangkan Neni tidak memberitahunya tentang kehamilan itu.
Mendengar pernyataan Rianti, serta-merta Bulek Tuti langsung menodong anak perempuan dengan pertanyaan.
"Memangnya kamu beneran hamil, Nduk?" Menatap intens wajah sang putri.
Neni menjawab pertanyaan ibunya sedikit lirih, tapi kata-katanya seakan meyakinkan ibunya bahwa dia tidak sedang mengandung.
Belum sempat bertanya lagi, Rianti kembali berteriak histeris mendapati sosok wanita tua yang menggerayangi perut Neni kembali muncul dengan lidah yang menjulur pajang. Sosok itu tersenyum jahat melihat Rianti tidak dapat berbuat apa-apa ketika dia melihat kuku hitam panjang itu masuk ke dalam perut Neni dan dalam hitungan detik anak Bulek Tutik tersebut memegangi perutnya lalu dia merintih kecil pada sang ibu.
"Ma ... perut Neni sakit banget," keluhnya seraya memegangi perut.
"Tolong jangan sakit bayi itu," pinta Rianti dengan isak tangis yang menjadi-jadi.
Avan hanya bisa memeluk istrinya yang mencoba mendekati Neni.
"Biadab kau setan!" Lagi-lagi Rianti berteriak menyebut mahluk tersebut.
Bukannya menghentikan perbuatannya, sosok itu semakin cepat memutar tangannya yang masuk ke dalam perut Neni. Bulek Tutik melihat Rianti sekilas lalu dia membawa Neni pergi dari sana, sosok wanita berlidah panjang itu ikut serta keluar dari kamar Rianti; terlihat wanita tua bermuka hancur itu menempel dipundak Neni sambil tertawa bahagia telah mendapati janin Neni.
Detik itu juga Neni terkulai lemas dan kesadarannya hilang, Darwin dan tetangga lainnya membopong Neni untuk dibaringkan di sofa. Tatkala tubuh Neni dibaringkan, Bulek Tutik mendapati telapak tangannya basah Ketika dia melihat telap tangannya dilumuri darah sontak wanita berusia 30 akhir tersebut berteriak dan menangis.
Dia baru sadar bahwa ucapan Rianti benar, anaknya tengah mengandung. Dia sungguh menyesal tidak membiarkan Rianti terus memeluk anak perempuannya.
"Sungguh kurang ajar kau yang mengganggu anakku!" pekik Bulek Tutik seraya mendongak menatap langit-langit ruang tengah.
Entah apa yang membuat Bulek Tutik melihat sosok hitam besar bertaring meringis menatap Bulek Tutik, seakan bersiap ingin menerkam.
"Argh ... tolong!"
__ADS_1