Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 8


__ADS_3

Sang surya menampakkan dirinya dan suara kicauan burung membuat Rianti terbangun dari tidurnya yang lelap. Netra wanita berkulit kuning lasat tersebut menyapu ruangan yang tidak asing, setelah puas menelisik sudut ruangan dia bangkit dan duduk di pinggir ranjang.


“Assalamualaikum istriku,” sapa Avan seraya menyuguhkan senyuman termanisnya.


Rianti membalas senyuman suaminya lalu menjawab salam, “Waalaikumsalam Mas.”


Sekian detik dia menelisik, akhirnya dia sadar bahwa suaminya itu tidak mengenakan seragam kerja.


“Kamu mau kerja?” tanya Rianti sembari mencari ikat rambut.


“Do not lovely, tidak sayang,” jawab Avan singkat.


Betul dugaanku, dia ambil cuti di awal bulan. Batin Rianti yang tidak suka melihat suaminya mengambil cuti di waktu yang tidak tepat.


Sambil menyembunyikan rasa kesalnya Rianti membuka korden jendela, betapa terkejutnya dia melihat matahari telah tergantung tinggi.


“Astagfirullah ...!" ucap Rianti terkejut sambil menolehkan kepala ke arah Avan yang masih sibuk membenahi tempat tidur.


Sontak Avan meletakan sisir lalu menghampiri istrinya.


“Ada apa? Kamu sakit? Apa kamu lihat hal aneh lagi?” berondong Avan seraya memutar tubuh istrinya, “ayo jawab! Kenapa diam saja?” timpal Avan kesal melihat keterdiaman Rianti.


“Aku baik-baik saja kok Mas. Aku kaget lihat matahari,” jelasnya sambil menunjuk ke luar.


Avan membuka jendela dan mengintip ke luar.


“Memang kenapa mataharinya, Sayang?” Avan masih memperhatikan langit biru yang cerah tanpa debu.


“Sudah tinggi. Ini jam berapa Mas? Kenapa kamu enggak bangunin aku?” protes Rianti sembari mengikat rambutnya yang bergelombang.


“Aku sengaja biarin kamu tidur,” jawab Avan santai.


Alih-alih senang Rianti malah semakin jengkel dengan jawaban sang suami.


“Imam macam apa kamu, Mas yang ngebiarin istrinya enggak salat subuh!” Emosi Rianti meledak-ledak, dia tidak suka dengan keputusan Avan yang membiarkannya tidur sampai siang begini.


Avan menarik napas hingga bahunya turun, “Sini!” Pria berkumis tipis tersebut menarik pergelangan tangan istrinya, lalu dipeluk mesra wanita halalnya itu.


“Kamu lupa ingatan atau apa sih, Dek?” Mengangkat dagu Rianti dan dikecupnya ujung kepalanya, “setelah kamu ngoceh enggak karuan, tiba-tiba saja kamu keluar rumah dan berjalan sangat cepat pulang ke rumah ibu. Aku, bapak dan Paman manggil-manggil enggak kamu hiraukan,” ungkap Avan sambil menyodorkan sebuah selebaran.


Rianti melihat dengan saksama kertas berwarna yang diberikan suaminya.


“Sore nanti kita ke sana, kamu keberatan enggak?”


Rianti mendongak menatap intens Avan.

__ADS_1


“Enggak, lebih baik sekarang saja kita ke sana. Adnan sama ibu ‘kan?” saran Rianti sambil menanyakan keberadaan sang anak.


“Hmm,” gumam Avan sambil mengangguk kecil, “kamu enggak marah aku ajak ke sana?” timpal Avan dengan alis yang terangkat sebelah.


“Kenapa marah? Aku juga perlu tahu kenapa aku begini. Sudah deh Mas, aku mandi dulu, Mas tunggu di sini!” tutur Rianti yang sudah berlalu pergi meninggalkan kamarnya.


Melihat Rianti sudah menghilang dari pandangannya, Avan meraih ponsel dan menghubungi Rahmat.


“Waalaikumsalam,” jawab Avan yang masih menatap daun pintu.


“Rianti minta sekarang berangkat ke rumah Gus Zaini,” kata Avan menjelaskan apa tujuan dia menelepon Rahmat.


Avan terdiam mendengarkan penjelasan Rahmat di seberang telepon sana, sekian detik pria itu diam, tapi untuk kali ini gilirannya angkat bicara.


“Alhamdulillah, kalau Paman ada waktu. Ya sudah, nanti kita ke temuan di gang Kesemek,” usul Avan sambil menilik beberapa pesan yang belum dia baca.


Pria itu duduk dengan tenang menanti sang istri bersiap untuk pergi, sekian menit berlalu wanita yang memiliki nama Rianti Almira Puteri sudah keluar dengan dandanan yang sangat rapi nan elegan.


“Yuk, berangkat Mas!” ajak Rianti yang masih sibuk mengaitkan bros bunga.


Avan hanya mengangguk mengiyakan ajakan sang istri, satu hal yang membuat Rianti terheran rumahnya terasa sepi rengekan Adnan yang biasa memenuhi gendang telinganya tidak ada. Mata wanita itu terus bergulir mencari ibu dan juga ayah mertuanya.


“Ibu sama bapak ke mana, Mas? Dari tadi rumah ini terasa kosong,” tanya Rianti yang tergerus rasa penasaran.


“Bapak ngajak ibu jalan-jalan, entah ke mana?” sahut Avan yang sudah menunggu Rianti naik ke atas motor.


Avan mengangguk kecil sambil menatap sekilas wajah sang istri.


“Biar cepet. Kalau naik mobil lama,” jawab Avan seraya turun dari motor untuk mengenakan helm di kepala Rianti.


“Ya, sudah kalau gitu.” Jelas betul kalau Rianti tidak begitu berkenan dengan perkataan Avan tadi.


Dalam pikiran Rianti, kalau naik mobil akan lebih nyaman. Dia bisa tiduran dan terlindung dari sinar matahari, bagaimana pun Rianti seorang wanita dia juga memikirkan kecantikan kulitnya.


Ketidak setujuan Rianti berangsur-angsur pudar, wanita itu kini menikmati suasana pagi yang sangat cerah. Bibir lip tint yang dihiasi dengan liepcream maroon tersebut tidak pernah berhenti mengucapkan istighfar, sesekali kelopak mata Rianti tertutup rapat seakan tidak ingin melihat sesuatu yang ada di hadapannya.


“Masih jauhkah Mas?” Tangannya mencengkeram lebih kuat jaket yang dikenakan Avan.


“Sepuluh menit lagi sampai, nah Paman juga sudah nunggu kita.” Avan membuka flat visor dan menepikan motornya di sisi jalan.


Mereka berhenti tidak lama, hanya untuk berbincang sebentar lalu Avan dan Rahmat kembali menyalakan mesin motor. Dua motor tersebut melaju menyusuri gang Kesemek menuju rumah Gus Zaini. Kurang lebih 10 menit mereka sampai di kediaman orang tersohor itu, baru saja mereka menginjakkan kakinya di teras hawa panas menyesap telapak kaki Rianti.


Segera dia menarik baju Avan lalu berbisik sangat lirih.


“Aku kurang nyaman di sini Mas.”

__ADS_1


Avan yang awalnya menatap lurus ke dalam rumah kini menggulirkan bola matanya menatap wajah sang istri yang sudah pucat pasi.


“Kenapa? Apa yang kamu rasakan? Tadi kamu yang meminta datang ke sini lebih awal,” berondong Avan sambil menolehkan kepalanya ke belakang.


Rahmat menyadari ada suatu hal yang tidak beres antara Rianti dan Avan. Segera dia menyelesaikan basa-basinya pada seorang santri yang mondok di pesantren ini.


“Monggo dilanjutken ro’ane! silakan dilanjutkan kerja baktinya" kata Rahmat yang sudah berlalu pergi.


Kehadiran Rahmat membuat Rianti sedikit terkejut.


“Ada apa?”


“Astagfirullah!” cicit Rianti dengan tangan yang memegangi dadanya.


Kesal? Tentu saja Rianti kesal, tapi dia lebih menahan rasa jengkelnya terhadap paman suaminya.


“Ria mau pulang, Paman,” sahut Rianti sambil berusaha membuka jemari besar Avan yang memegangi pergelangan tangannya.


“Apa karena lihat mereka!” tunjuk Rahmat dengan dagunya.


Sontak Rianti menoleh ke arah dagu Rahmat.


“Jangan dihiraukan! Lebih baik kita masuk,” saran Rahmat dengan senyuman yang selalu terbingkai di bibirnya.


Kedua pria itu pun mengucapkan salam seraya masuk ke kediaman putra almarhum Yai Abasari.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” sahut Gus Zaini.


“Monggo pinarak! Silakan masuk ” sambut Gus Zaini yang masih bersila menghadap kiblat.


Benar, beliau memposisikan dirinya selalu menghadap barat. Meski tidak berdiri atau bergerak, beliau sudah menolehkan kepala ke arah dua pria dan satu wanita.


Tanpa dituntun ataupun disuruh, sekonyong-konyong Rianti maju dan duduk di hadapan Gus Zaini yang hanya berjarak 3 jengkal.


Avan dan Rahmat ketar-ketir, mereka berdua takut Rianti akan melakukan tindakan yang tidak terpuji (secara kasarnya akan melakukan hal buruk).


Ava berjalan santai dan menyuguhkan senyuman tipis. Pria itu mengatakan minta maaf untuk mewakili Rianti sang istri.


“Sayang!” kata Avan sedikit disentak, tapi tidak sampai membuat orang lain tidak nyaman.


“Biarkan! Tidak perlu khawatir. Biarkan dia berusaha melakukannya,” usul Gus Zaini.


Suami Rianti yang tampan tapi super duper ngeyel itu tidak mendengarkan nasehat Gus Zaini.

__ADS_1


"Pangapunten, Gus! Mohon maaf, Gus!”


Gus Zaini menatap intens Avan dari ujung kaki sampai ujung kepala.


__ADS_2