
Teriakan Bulek Tutik membuat semua orang terbengong dan bertanya-tanya. Kenapa dia meminta tolong dan di saat kesibukan para tetangga membawa anaknya ke klinik. Bulik Tutik tertawa terbahak-bahak dan tawa itu tidak terdengar seperti tawa Bulek Tutik seperti biasanya.
"Koe kabeh gawe ketentreman ku musno! Kalian semua membuat ketentraman ku hilang!" ungkap Bulek Tutik sarkasme.
Tentu saja pernyataan Bulek Tutik membuat semuanya bingung dan saling melempar pandangan. Wanita paru baya yang terkenal ramah itu masih mengomel dengan segala keluhannya terhadap para tetangga termasuk Rianti, selaku pembuka gerbang alam ghaib.
Ketika Bulek Tutik hendak beranjak, Rahmat masuk dengan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Pria kurus itu masuk dengan sorot mata yang tajam memandangi Bulek Tutik, bukannya takut atau minder Bulek Tutik malah menantang Madi—paman Avan yang sedari tadi ditunggu kedatangannya.
"Wes ndang metu! Sudah cepat keluar!" perintah Rahmat seraya menepuk bahu Bulek Tutik.
Terlihat sepele dan tidak bertenaga saat menepuk bahu itu. Namun, tepukan itu mampu mengentakkan sosok yang merasuki Bulek Tutik. Setelah kepergian genderuwo, Bulek Tutik menatap sekeliling dengan sorot mata yang bingung.
Mencoba memahami keadaan, tapi dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada saat ini dan tiba-tiba saja dia mengingat Neni—anak perempuan yang tadi tidak sadarkan diri setelah terlepas dari dekapan Rianti.
"Anak saya ke mana?" tanya Bulek Tutik pada Marini.
"Sing sabar ya, Mbak! Yang sabar ya, Mbak!" pesan Marini sambil menuntun Bulek Tutik untuk duduk di sofa.
"Apa yang terjadi pada Neni, Mbak?" Bulek Tutik kembali bertanya.
"Saya juga kurang paham, tapi saat ini Yudo sama Gandi membawa Neni ke klinik." Marini menepuk lembut punggung tangan Bulek Tutik.
Karena khawatir dengan keadaan anaknya, Bulek Tutik pamit menyusul putrinya ke klinik Tunas harapan. Kepergian Bulek Tutik diikuti tetangga yang lain. Setelah rumah terasa sepi Rahmat bertanya tentang keadaan Rianti—ibu Adnan Pramana.
Marini yang sedari tadi berdiam diri kini angkat bicara tentang menantunya.
__ADS_1
Ketika Avan berhenti memeriksa telinga Rianti, dia mendengar bahwa istrinya itu meminta untuk dibelikan cenil yang ada di sebelah sekolah SMP negeri Harjamukti. Tanpa menolak Avan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan dia melirik wajah istrinya yang terlihat pucat dan sesekali dia merasakan tangan Rianti mencengkram perutnya.
Avan yakin merasakan kuku Rianti menancap di perutnya, tapi saat dia menggulirkan bola matanya ke bawah dia mendapati bahwa kuku istrinya tidak panjang. Namun, dia sangat merasa kesakitan saat Rianti menggenggam erat bajunya.
Merasa ada yang tidak beres, Avan membacakan surat an-nisa dan ayat kursi. Tatkala membaca basmallah Rianti berbisik untuk mengurungkan niat Avan.
"Jangan berdoa! Aku kepanasan." Setelah berbisik Rianti memandangi bayinya yang masih terlelap.
Mendengar larangan itu, Avan yakin bahwa saat ini Rianti tengah ketempelan. Itu sebabnya dia memilih mengebut demi sampai di rumah orang tuanya lebih cepat.
"Cenil Ku mana?" tanya Rianti yang masih terduduk di atas motor.
"Nanti aku belikan, sekarang kita turun dulu!" kata Avan mengambil anaknya dari dekapan sang istri.
"Aku mau sekarang!" ucapnya murka.
Mendengar mantunya memekik, Marini keluar demi memastikan keadaan.
"Cepat bawa aku ke sana!" tunjuk Rianti dengan mata yang melotot.
Marini cukup bingung melihat Rianti membentak anaknya. Selama 2 tahun menjadi menantunya belum pernah wanita itu berkata kasar, tapi pagi ini dia melihat menantunya bersikap arogan bahkan berani menuding wajah Avan.
"Kalian punya masalah apa sampai bertengkar?" Ujar Marini dengan menatap Rianti dan Avan secara bergantian.
Rianti tidak mengindahkan pertanyaan mertuanya, bahkan dia bersikap acuh tak acuh kepada wanita paru baya tersebut. Lagi-lagi Marini dibuat tercengang, dia sungguh tidak memahami situasi ini.
Tidak mau ibunya salah paham atau membenci istrinya, Avan memberi penjelasan agar ibunya tenang dan bisa menyikapi keanehan Rianti.
"Mosok? Memang kalian lewat mana tadi ...?" kata Marini sedikit memekik tidak percaya.
__ADS_1
Avan menjawab seraya mengembuskan napas beratnya, "Yo ... lewat nang embong biasane toh, Bu. Ya, lewat jalan biasanya, Bu."
Marini melirik ke dalam rumah dengan kedua bahunya yang mengedik, tanpa di beri aba-aba bulu kuduknya merkidik dan aliran darahnya sekaan mengalir lebih cepat.
"Coba lihat istrimu! Takut dia melakukan hal aneh di dalam sana," titah Marini langsung dilakukan Avan.
Langkah lebar lelaki itu menyusuri ruang tamu hingga dia berdiri tepat di depan pintu kamar. Selang beberapa detik Marini mengekori anaknya lelakinya.
"Piye? Bagaimana?" tanya Marini sedikit berbisik.
"Tidur dia, Bu." Melirik ibunya serta kembali menilik Rianti yang tengah terbaring di atas ranjang.
"Ya wes, jarno turu! Ya sudah, biarin tidur!" ucap Marini sembari mencium pipi cucunya yang gembul.
Berjam-jam lamanya Rianti tidak kunjung bangun ataupun keluar dari kamarnya, Avan yang telah pergi sejak jam 10 pagi juta tidak kunjung pulang sampai jam 1 siang. Dengan terpaksa Marini menelepon anak kebanggaannya tersebut, bukan apa-apa Marini sudah terlalu bingung dengan Adnan yang menangis tidak kunjung berhenti dan terlebih lagi menantu pertamanya itu tidak keluar kamar.
Meski sudah dipanggil berulang kali dan Marini sudah mengetuk sambil menelepon nomor ponsel Rianti. Namun, lagi-lagi tidak ada jawab sama sekali.
"Oallah, cup-cup! Adnan jangan nangis lagi, ya! Mbah uti sudah bingung banget, he." Marini terus bergoyang ala ibu-ibu yang tengah menggendong bayinya.
Entah kenapa? Bayi itu semakin kencang mengeluarkan rintihan kesedihannya. Mungkin karena kangen dengan Rianti.
Terdengar suara deruman motor dan selang beberapa detik salam Avan menggema di ruang tamu.
"Waalaikumsalam," sahut Marini dari dalam, "Nih lihat!" sambung Marini sambil menunjukan bayinya yang masih menangis.
Avan menggeleng tidak mengerti dengan maksud Rianti yang membiarkan anaknya menangis menjadi-jadi. Marini mengisyaratkan anaknya agar tidak menanyakan hal-hal yang menyinggung.
Ketika pintu terbuka dan menghasilkan decitan Avan dengan saksama memperhatikan isi kamar tersebut dan seper detik lagi mata Avan melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Bu ...!"