
Bukan karena apa-apa, Gus Zaini hanya ingin melihat siapa yang menghentikan ucapannya.
“Monggo!” Dipersilakan 3 orang tersebut duduk.
“Apa yang mengganjal di hati sampean?” tanya Gus Zaini seraya mendorong nampan berisikan buah-buahan.
"Silakan bertanya!" lanjut Gus Zaini yang seakan-akan mengetahui isi hati Rahmat dan Avan.
“Begini Gus, istri keponakan saya ini mengalami kesurupan. Bahkan, sempat menghilang beberapa jam.” Menoleh sekilas Rianti yang menatap Gus Zaini dengan tatapan teduh.
Putra Kyai Abasari mengangguk kecil memahami arah pembicaraan Rahmat.
“Semalam dia kesurupan sampai dia pulang ke rumah mertuanya,” ungkap Rahmat panjang lebar.
“Tapi saya sadar dengan apa yang saya lakukan.” Penuturan Rianti membuat Avan dan Rahmat terkejut, pasalnya wanita itu tidak menceritakan perihal ini.
“Yang benar kamu, Sayang?” Avan menatap serius wajah istrinya.
Rianti mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami.
“Lantas kenapa kamu enggak cerita sama aku? Tapi ... tadi kamu marah-marah sama aku karena enggak bangunin kamu,” ujar Avan yang tidak memahami cerita Rianti.
Gus Zaini terdiam dengan mata yang tertutup rapat, sedangkan Rahmat menghela napas panjang. Lain lagi dengan sepasang suami istri itu, mereka masih berdebat tentang pernyataan Rianti.
“Kamu serius dengan pernyataanmu?” Avan memastikan kembali ucapan Rianti, dia benar-benar tidak percaya.
__ADS_1
Selama ini semua orang tahu, bahwa orang kesurupan tidak mungkin sadar. Namun, ini kali pertama Avan, Rahmat dan juga Gus Zaini mendengar bahwa Rianti dalam keadaan sadar dan mengingat segala ucapan dan perilakunya.
“Aku mengingatnya Mas. Saat Neni keguguran dan Bulek Tutik kesurupan genderuwo, aku sadar.” Rianti bersih kukuh dengan pernyataan awalnya.
Gus Zaini yang sudah membuka mata angkat suara atas apa yang istri Avan alami.
“Apa yang sampean rasakan saat mengalami hal ini? Apakah sampean mendengar bisikan atau apa gitu? Atau sampean sering mengalami peristiwa ini?” Runtutan pertanyaan yang Gus Zaini lontarkan.
“Tidak, saya belum pernah kesurupan. Dan ... ini kali pertama saya melihat makhluk halus,” tegas Rianti tanpa ragu-ragu.
“Sebaiknya kita ke belakang untuk melakukan ruqyah,” saran Gus Zaini sambil berdiri.
“Apakah saya bisa sembuh setelah melakukan ruqyah?” tanya Rianti memastikan.
Wanita itu tidak bermaksud meremehkan orang yang tengah berdiri di sebelahnya, melainkan dia hanya ingin memastikan saja jika bisa terhindar dari makhluk ghaib.
Gus Zaini masih menunggu respons dari Rianti, tidak menunggu lama wanita berjilbab hitam tersebut langsung mengangguk dan ikut berdiri.
Prosesi ruqyah dimulai, Gus Zaini menggunakan sensi gloves agar bisa leluasa saat melakukan ruqyah. Terkadang peng-ruqyah menyentuh kepala atau tengkuk pasien dan itu sebabnya mereka menggunakan sensi gloves untuk menghindari kontak kulit secara langsung.
Pertama Gus Zaini melantunkan surat Al-Fatihah lalu surat Al-Baqarah ditambah Ayat Kursi dan Surat Al-Mu’minun. Sekian lama Gus Zaini membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tapi Rianti tidak merespon seperti pasien lainnya.
Bahkan, wanita itu terlihat biasa saja dan tidak ada tanda-tanda ada jin atau setan yang mengganggu. Cukup mencengangkan, tapi inilah kenyataan bahwa Rianti tidak kerasukan seperti orang-orang lain yang meronta atau menjerit saat diruqyah.
Semua santri menatap penuh penasaran, begitu pula Rianti sendiri. Dia tidak merasakan hal aneh ataupun sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, bahkan ayat suci Al-Qur’an membuatnya tenang, nyaman dan mengantuk.
__ADS_1
“Mas, aku mengantuk,” bisik Rianti di sela Gus Zaini mengaji.
“Tahan jangan tidur!” Kalimat inilah yang Rianti dengar, selebihnya dia sudah tertidur begitu saja.
Namun, pendengarannya masih cukup baik untuk mendengar percakapan suami, paman dan juga Gus Zaini. Entah kenapa kedua kelompok matanya tidak dapat terbuka meski Rianti berusaha sekuat tenaga untuk melek.
Ya Allah, ada apa lagi dengan hamba ini? Tanyanya dalam hati.
Di sini Rianti sudah tidak mendengar jelas percakapan 3 pria tersebut karena gendang telinganya dipenuhi suara gemericik air.
Apa lagi ini? Apa aku dibawa ke pancuran air? Atau aku mau dimandikan air kembang? Mustahil! Mana ada seorang putra kyai melakukan hal musyrik, sangkal Rinti dan berbagai pertanyaan melintas dibenaknya yang membuat dia lelah menerka-nerka keadaan saat ini.
Tatkala Rianti menunggu, ada suara lelaki yang cukup familier membentaknya sehingga gendang telinga wanita itu berdengung.
“Cepat bangun!”
Sontak kelopak mata Rianti terbuka dia melihat Gus Zaini, Rahmat berserta suaminya tengah memandangi dia dengan tatapan khawatir.
Rianti duduk tegap dan berkata, “Jangan gusar! Aku baik-baik saja.”
Pengakuan Rianti mendapat respons cepat dari Gus Zaini.
“Masih ingat apa yang terjadi?”
Alih-alih menjawab Rianti menunjuk sesuatu yang berada di belakang Gus Zaini dan tatapan mata yang nyalang itu menimbulkan gejolak di hati Avan.
__ADS_1
"A-apa?" tanya Avan gugup.