Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 12


__ADS_3

Avan kembali menatap istrinya yang sudah memalingkan wajahnya ke jalan raya.


“Aku enggak lihat apa-apa. Kamu serius lihat genderuwo sama pocong, Sayang?” Avan menatap penasaran.


“Kita makan di rumah saja, Mas. Enggak Sudi aku makan ilernya setan,” cibir Rianti dengan nada jijik.


"Pelankan suaramu! Kalau nanti ada yang dengar gimana?" Avan sedikit memundurkan motornya untuk mendekati Rianti, lalu Avan mendorong motornya tanpa turun untuk berbelok.


Tukang parkir yang bekerja di sana siang malam hanya menatap penuh tanya, kenapa sepasang suami istri tersebut ingin pergi padahal mereka baru sampai beberapa detik yang lalu.


Untuk mengusir rasa penasarannya juru parkir tersebut bertanya dengan nada jenaka.


“Salam sayang dari saya untuk Tuan dan Nyonya,” sapa juru parkir tersebut dengan wajah sumringah.


Avan yang sudah siap membelokkan setir motornya terpaksa berhenti dan menurunkan standar motor


“Ada apa Pak?”


Perkataan Avan menuai kernyitan dari juru parkir seakan balik bertanya.


“Dari mana mau ke mana dan kenapa tidak jadi masuk?” cecar juru parkir itu dengan nada lagu Bollywood dan pria berkepala plontos itu menggoyangkan kepala persis orang India.


Avan melirik Rianti yang sudah tidak tahan menahan isi perutnya yang hendak keluar.


“Dari rumah kerabat Pak. Ini saya mau pulang karena istri saya mual,” jawab Avan mengelabuhi juru parkir yang ngeyel mau tahu alasan Avan berbalik arah.


“Lagi ngidam, ya?” Bola mata orang itu bergulir ke wabah menatap sekilas perut Rianti.


Avan segera beranjak menutupi sang istri dengan berdiri tepat di hadapan Rianti duduk.


Juru parkir itu tersenyum kecut seraya memberi jalan kepada Avan untuk meninggalkan rumah makan terlaris sepanjang jalan Beroto.


Sesampainya di rumah Rianti berlari masuk tanpa mengucapkan salam. Sepele, tapi itu perbuatan tidak terpuji.


Ya Allah dia kenapa lagi? Batin Marini susah.


“Assalamualaikum.” Avan melepas jaket dan helm.


“Wa 'alaikumsalam.” Marini dan Burhan menatap Avan seakan menuntut penjelasan.


“Avan makan dulu ya, Bu. Laper, jadi jangan bertanya apa-apa dulu!” izin Avan dengan tangan mengelus perut.


Marini mengangguk saja tanpa bersuara, selepas kepergian Anaknya Marini mengintip cucunya yang tertidur lelap di ayunan.


“Melase putune mbah uti, kasihannya cucu mbah uti,” ujar Marini lirih seraya mengayun pelan tempat tidur cucunya.


\*\*\*\*


Hari pun terus berlalu tanpa ada kejadian apa pun. Setelah kepulangan Avan dan Rianti dari rumah Gus Zaini, tidak pernah menantunya itu kesurupan ataupun ketakutan seperti hari lalu.

__ADS_1


Seluruh anggota keluarga Marini berpikir kalau menantunya telah sehat dan bisa menjalani hidupnya seperti dulu lagi.


Burhan yang baru pulang dari masjid memanggil Rianti sedikit berteriak.


“Ria ... tolong buatkan bapak kopi!” perintah Burhan dari ruang tengah.


Mendengar perintah dari sang mertua, Rianti bergegas membuka pintu dan langsung pergi ke dapur. Lima menit setelahnya dia datang dengan nampan berisikan secangkir kopi, saat hendak menyuguhkan kopi dia melihat bahwa mertuanya tidak sendirian.


Burhan kala itu kedatangan dua temannya yang dari jauh, entah dari mana asalnya orang asing tersebut yang jelas Rianti malu ketika membawa kopi itu keluar.


“Oh, wonten tamu. Oh, ada tamu.” Meletakan cangkir kopi dengan rasa canggung.


“Bapak tadi tidak bilang sama kamu kalau ada temen bapak?” jelas Burhan dengan wajah senang.


Rianti tersenyum dibarengi dengan gelengan, demi menghilangkan rasa malu Rianti bergegas bertanya.


“Kerso kopi nopo teh benterane Pak? Mau kopi atau teh minumannya Pak?” tanya Rianti yang masih berdiri menantikan jawaban dua tamu mertuanya.


“Nopo-nopo mpun Mbak kulo manut, apa saja Mbak saya nurut,” celetuk pria yang duduk paling pinggir.


Sontak saja Rianti menyuguhkan senyuman lebarnya.


“Sekedap enggeh, sebentar ya,” tutur Rianti yang memeluk nampan kosong.


Wanita itu pergi ke dapur dan menyalakan kompor, sembari menunggu air mendidih Rianti meracik kopi. Samar-samar dia mendengar suara ibu mertuanya dari belakang rumah.


“Nduk, ambilkan pisau!” Itu yang Rianti dengar.


Kening Rianti mengernyit sambil menelisik halaman belakang rumahnya, masih saja dia tidak melihat sang mertua. Tiba-tiba saja dia mengingat kalau Marini pergi ke pengajian di desa sebelah tadi pagi dan akan pulang nanti setelah jam makan siang berlalu.


“Astagfirullah!” Rianti berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.


Napasnya memburuh dan jantung Rianti berdetak sangat cepat sampai-sampai dia merasa bahwa jantungnya itu akan meledak saat ini juga.


Sekian detik dia mengatur ritme pernapasan dan menetralkan rasa takut yang melanda, Rianti tidak pernah berhenti komat-kamit.


Bukan membaca mantra, melainkan dia tengah melantunkan sholawat tibbil qulub untuk menenangkan hati. Sholawat yang dibaca Rianti dipercayai dapat menjaga kesehatan tubuh dan menjadi obat segala penyakit dzahir ataupun batin.


Itulah sebabnya dia membaca sholawat tibbil qulub demi mendapatkan ketenangan. Merasa batinnya tenang dia menungkan air panas dan membawa dua cangkir kopi tersebut ke ruang tamu.


“Subhanallah!” Mata Rianti mendelik tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Burhan yang curiga langsung mengambil nampan yang dibawa menantunya dan dia menyuruh Rianti untuk kembali ke dalam kamar.


“Sudah biar bapak saja, kamu masuk ke kamar lagi!” usir Burhan sambil tersenyum masam.


Wanita yang mengenakan daster cokelat itu berbalik, tapi langkahnya terhenti dan kembali menolehkan kepalanya ke arah teman sang mertua. Lelaki yang mengenakan peci merah langsung melontarkan pertanyaan karena penasaran.


“Apa yang Mbak lihat dari saya?”

__ADS_1


Orang yang datang bersamanya menyikut lengan lelaki itu.


“Opo sing mbok tekoni? Apa yang kamu tanyakan?”


“Ada seorang wanita yang bergelayut di pundak Bapak,” tutur Rianti tanpa menolehkan kepalanya.


Sontak ketiga lelaki itu saling menatap, tapi Burhan segera berdiri dan menghampiri menantunya yang tidak berkedip.


“Sudah jangan dilihat, sebaiknya kamu ke kamar temani Adnan!” perintah Burhan yang tidak mau menantunya mengalami hal yang sama seperti tempo hari.


Rianti bergerak karena dorongan tangan Burhan. Melihat wanita itu akan pergi, Pangi berdiri dan mencekal tangan Burhan.


“Biarkan dia di sini dulu, Han! Aku mau minta tolong dan mau tahu apa tujuan setan itu ikut denganku terus,” kata Pangi dengan sorot mata putus asa.


Burhan tidak dapat menolak permintaan sang teman, karena dia tahu beberapa bulan terakhir temannya itu tengah sakit. Pangi telah berobat ke mana-mana, tapi tidak satu dokter ataupun orang pintar yang bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Pangi.


Bahkan lelaki itu sampai melakukan ritual membersihkan rumah dan segala macamnya, tapi hasilnya nihil.


“Ayo, Nak katakan! Apa yang dia lakukan dan apa yang dia mau?” bujuk Pangi, berharap mantu temannya mengerti apa yang makhluk ghaib itu inginkan darinya.


“Pak, saya bukan orang pintar. Dan ... saya tidak paham apa yang dia mau dari Bapak. Yang jelas saya melihat bahwa wanita itu memiliki rasa terpendam dengan bapak,” ungkap Rianti secara gamblang.


Pangi melihat adik sepupunya yang datang bersamanya, awalnya dia mampir kemari hanya ingin Silahturahmi. Namun, dia merasa datang ke rumah Burhan adalah takdir dari Allah untuk bertemu Rianti—orang yang bisa memahami keinginan makhluk yang ikut bersamanya.


“Tapi kamu bisa lihat bahwa dia ada rasa dengan saya. Coba Nak, tanyakan pada makhluk itu! Apa yang dia inginkan?” pinta Pangi memohon.


“Aku sudah bosan berobat ke sana kemari tanpa hasil,” keluh lelaki itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Rianti yang notabene-nya tidak tega-an langsung menuruti permintaan Pangi.


Istri Avan tersebut tidak melakukan apa pun, dia hanya diam sambil terus memandangi Pangi yang berdiri di depannya.


“Dia bilang, Bapak mengambil miliknya saat Bapak datang ke desa Y. Dia mau Bapak mengembalikannya bersama dengan batu yang saat ini ada di dompet bapak,” jelas Rianti sama persis dengan yang dikatakan makhluk tidak kasat mata tersebut.


Tentu saja Pangi terheran-heran, kenapa bisa Rianti mengetahui apa yang ada di dompetnya. Namun, dia merasa harus menguji ucapan mantu temannya itu.


Dia sedikit tidak percaya akan perkataan Rianti.


“Dia bilang gitu, Nduk?” tanya Pangi memastikan.


Kepala Rianti mengangguk mengiyakan ucapan Pangi.


“Kalau begitu, coba kamu kasih tahu bapak! Apa saja yang bapak bawa saat ini?”


Ayub berdiri, dia tidak percaya bahwa kakak sepupunya itu malah memberi pertanyaan konyol terhadap Rianti.


“Apa-apaan kamu, Kang!” desah Ayub tidak terima dengan perilaku Pangi.


“Sudah Mbak, jangan dijawab pertanyaan konyol dia!” kata Ayub menghentikan Rianti.

__ADS_1


Ayub menarik Pangi untuk duduk kembali, tapi suara Rianti membuat Pangi menarik tangannya dan menatap dengan tajam wanita muda yang tidak bergerak sejengkal pun dari tempatnya berdiri.


__ADS_2