Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 5


__ADS_3

Bagaimana dia tidak terkejut. Istrinya sudah tidak lagi berada di kamar itu, tentu Avan dan Marini bergegas mencari keberadaan Rianti. Namun, pencarian mereka tidak membuahkan hasil.


"Kamu yakin, Rianti tidur tadi?" tanya Marini memastikan keberadaan Rianti sebelum maghrib.


"Iya, Bu. Avan benar-benar lihat Rianti terbaring di atas ranjang dengan jilbab yang masih melekat di kepalanya, Masak iya, Avan salah lihat?" tukasnya meyakinkan sang ibu.


"Tapi ke mana dia pergi, Van? Di dapur ruang tengah dan semua kamar kita periksa nyatanya ... Rianti tidak berada di rumah. Semua jendela dan pintu tertutup dan terkunci," jelas Marini dengan penuh heran.


Avan sungguh melihat istrinya terbaring di atas ranjang dengan kepala yang masih terbalut jilbab dan lagi wanita itu tertidur dengan tubuh tiarap. Padahal seumur-umur Rianti paling benci tidur dengan posisi demikian, tapi entah kenapa Avan tidak begitu menghiraukan dan dia mengira Rianti tengah mencari posisi yang pas dan nyaman.


"Tadi, saat Avan mengintip kamar. Rianti tu tidurnya tiarap Bu," ungkap Avan sembari menelisik setiap sudut ruangan.


Kening Marini berkerut dan berdecak lirih, "Memang enggak boleh tidur tiarap, Van?" Menatap penuh penasaran.


"Bukan gitu, Bu."


Belum sempat Avan menimpali omongannya lagi Marini sudah menyerobot.


"Itukan hal biasa yang dilakukan banyak orang," cetus wanita paru baya tersebut.


Avan menghela napas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar.


"Rianti tu enggak suka tidur tiarap, Bu."


"Lalu?" tanya Marini jengah.


"Entahlah Bu. Avan bingung," kata Avan dengan kedua bahu yang terangkat.


Di sela kebingungan Avan dan Marini, ponsel Avan berdering berulang kali.


"Assalamualaikum, ada apa Bulek?" tanya Avan dengan nada dibuat setenang mungkin.


[Ini tadi bulek lihat, istrimu terbaring di atas genteng. Kamu cepat ke sini! Bulek takut terjadi apa-apa sama Rianti,] sahut Bulek Tutik panik tanpa menjawab salam Avan.


"Astagfirullah ... makasih Bulek. Ini Avan langsung ke sana, Avan minta tolong lihatin Rianti terus!" Seketika Avan menutup sambungan teleponnya lalu menyambar kunci motor.


Melihat anak lelaki ya terburu-buru Marini menghampirinya dengan sejumlah pertanyaan yang terus bersarang di kepalanya sejak tadi.


"Kamu mau ke mana?" Menelisik setiap inci wajah anaknya.

__ADS_1


"Rianti, Bu ...." Perkataan tergantung membuat ibunya semakin penasaran.


"Kenapa Rianti? Kalau ngomong yang jelas jangan buat ibu jantungan karena penasaran!" desak Marini dengan nada yang terdengar dramatis.


"Rianti ada di rumah dan dia terbaring di atas genteng," jelas Avan sambil mengenakan jaket.


"Astagfirullah ... yang benar saja kamu?" Marini mengeratkan selendang yang membalut tubuh Adnan.


Ibu dan anak tersebut jalan beriringan keluar dari rumah, sebelum pergi dari situ Avan mengecup pipi sang anak.


"Avan berangkat, Bu," pamitnya seraya membuka pintu gerbang.


Berulang kali dia memikirkan cara istrinya keluar dari rumah. semua jendela dan pintu masih terkunci, bagaimana caranya dia menyelinap keluar dari rumah besar Marini, tidak mungkin jika dia memanjat atap rumah.


Semakin aku memikirkannya semakin aku pusing, gumam Avan yang masih mengendarai kuda besi berwarna hitam.


Sedetik setelahnya pria itu tersentak saat seekor kucing melintas begitu saja di hadapannya.


"Astagfirullah ...," kata Avan terpekik karena terkejut.


Kepalanya menggeleng dan tangan kirinya terlepas dari stang motor mengusap kasar wajahnya.


"Matur nuwun, ya Allah." Hanya kalimat ini yang terlontar lirih di bibir pria berambut cepak itu.


Namun, pertanyaan terhenti tatkala manik hitamnya melihat sang istri tengah melenggang tenang di atas genteng.


"Astagfirullah ...."


Avan membuka gembok pintu gerbang rumahnya, entah kenapa kunci yang hendak dia buka terasa sulit dan tidak mudah dia buka.


"Kamu habis dari mana tadi siang, Van?" tanya Bulek Tutik lirih.


"Dari pesantren Bulek," jawab Avan yang tangannya masih sibuk mencoba gembok pintu gerbang.


Setelah berusaha payah, akhirnya pintu itu terbuka dan dengan segala kepanikan Avan meneriaki Rianti dari bawah. Wanita yang menyandang status sebagai istri Avan tersebut tidak mengindahkan teriakan suaminya, bahkan dia asyik menyenandungkan lagu Jawa yang terdengar menyeramkan.


...Sinten sinambhat ing wewangi iki amung siro yekti...


...Eseme kang manis madu duh wong ayu...

__ADS_1


...Tresno lir tirto gumanti dahono awit siro marang roso...


...Endah rumembyak rekmamu dadyo angenku saben dalu...


...Wengi kadyo setro kegowo lungane baskoro...


...Peteng tanpo condro tanpo kartiko...


Gerakan tangan dan kaki yang lembut sangat seimbang bahkan kakinya sesekali menjinjit untuk menari dengan lemah gemulai.


"Ya Allah ... cah iku ora wedi dawah opo, Yo? Anak itu tidak takut jatuh apa, ya?" pekik seorang ibu-ibu bertubuh tambun.


"Di doain aja! Semoga Avan dan bapak-bapak lainnya bisa membawa Rianti turun dengan selamat," kata Bulek Tutik yang masih menatap serius menantu Marini tersebut.


Di sana Avan, Romi dan juga Pak Bagio saling bahu-membahu untuk naik ke atas tidak menggunakan tangga.


"Van, kamu cari tangga aja! Kalau hanya kaya gini istrimu bisa jatuh," saran Pak Bagio yang terlihat sangat gusar.


Avan tidak bersuara, tapi kepalanya mengangguk mengerti. Selepas kepergian Avan yang mengambil tangga di dalam rumah, Romi berteriak.


"Rianti!"


Pria itu sangat terkejut ketika Rianti—istri Avan meloncat sangat tinggi di udara. Seper detik kemudian wanita itu mendarat dengan mulus di tempatnya berdiri semula, sebelum dia memutuskan untuk meloncat-loncat layaknya anak TK sedang bermain trampolin.


"Astagfirullah," ujar para ibu-ibu serempak.


Ini fenomenal langkah plus aneh. Mana ada wanita yang berani melakukan hal ekstrem seperti Rianti barusan.


"Bagaimana ini Pak? Saya takut dia terjun bebas dari atas sana," cetus Romi dengan mata yang masih menatap intens wanita berambut panjang di atas sana.


"Hus, tangan sembarangan kalau ngomong!" cegah Pak Bagio, pria itu sungguh tidak suka dengan kata keterpaksaan.


Apa lagi malam ini, situasinya sangat berbahaya dan tidak biasa. Itu sebabnya Pak Bagio sensitif akan perkataan kotor ataupun kata-kata yang mengandung toxic, itu akan menimbulkan rasa sakit hati yang dan susah mencari obatnya.


Avan melangkahkan kakinya sedikit perlahan agar tidak kentara kegugupannya yang sedari tadi dia tutupi setenang mati. Ketika kakinya menapak di genteng Rianti memelototkan matanya dan berdesis tidak begitu jelas.


"Lungo!" Suara berat itu bukanlah milik Rianti dan bukan Avan saja yang terkejut mendengar suara Rianti.


Mereka juga saling melempar pandangan, memastikan apa yang gendengan telinga mereka tangkap benar adanya. Avan menepis pikiran semrawutnya dan kembali fokus pada sang istri tercinta.

__ADS_1


"Ayo, kita turun!" bujuk Avan lembut.


Bukannya menurut kelakuan Rianti semakin menjadi-jadi. Ketika Avan berhasil meraih pergelangan tangan Rianti, Bulek Tutik dan para wanita lainnya menjerit hingga suara mereka mengundang para tetangga lain yang kediaman merek tidak begitu jauh dari rumah kontrakan Avan.


__ADS_2