Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 6


__ADS_3

Sekian menit Marini dan Avan saling menceritakan kejadian yang mereka alami dan di waktu yang bersamaan, Rianti yang semula tertidur kini kembali bangun dengan makhluk yang tidak kasat mata yang duduk di sebelahnya.


Dari sudut matanya dia dapat melihat jelas rupa keriput dan mulut yang lebar. Pakaiannya lusuh dan rambut yang acak-acakan menambah kesan mencekam dari sosok wanita tua tersebut.


Wanita yang mengaku sebagai sinden tersebut berkata lirih dan merintih, "Tolong aku!"


Alih-alih membantu Rianti malah menjerit histeris bahkan istri Avan tersebut menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tentu saja Avan, Marini, Burhan dan juga Rahmat berlari masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Avan khawatir, pria berkulit sawo matang tersebut memeluk dan mengelus kepala Rianti penuh kasih sayang.


"Mas ...," panggil Rianti lembut.


Avan menundukkan kepalanya mencoba menatap mata Rianti.


"Iya, ada apa?" Suami Rianti kembali bertanya.


Sedangkan Rahmat menatap nyalang sosok wanita yang duduk di sebelah kiri Rianti.


"Avan, ajak istrimu wudhu!" perintah Rahmat tanpa menatap Rinti ataupun Avan sang keponakan.


"Iya," sahut Avan seraya menuntun Rianti keluar kamar.


Rahmat masih menatap tajam ke arah ranjang tempat tidur keponakannya. Pria yang memiliki postur tubuh tinggi kurus tersebut berdiri tegap tanpa bersuara, dalam keadaan hening itu terdengar samar-samar bahwa dia tengah berbincang. Namun, suaranya tidak begitu jelas sehingga Burhan dan juga Marini membiarkan adiknya berdiam diri di dalam kamar.


Ketika berjalan beriringan Marini berbisik, "Dia lagi apa sih, Pak?"


"Diam! Jangan banyak berkata!" cetus Burhan yang tidak berniat mengintip sang adik.


Rahmat berdiri tepat di ambang pintu dengan kedua tangan yang menyilang di dada.


"Sebelum kau menjawab pertanyaanku, kau tidak adan bisa keluar sejengkal saja dari rumah ini!" ucap Rahmat sarkasme.

__ADS_1


Selepas berucap, pria itu menghentakkan kakinya 3 kali. Sosok itu seakan tidak peduli sehingga dia berdiri, tapi tubuhnya yang tidak kasat mata itu tidak dapat bergerak walaupun se-cm sekali pun.


Rahmat menunjukkan smirk-nya dan tatapan tajam itu masih tercetak jelas. Tatkala sosok wanita yang mengenakan kebaya kuning lusuh itu menangis, Rianti berlari kecil menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"Melas. Jangan sakiti dia, Man!" pinta Rianti tanpa ragu.


"Dia akan menyusahkan kamu, Ti. Wes ngaleh o ojok gawe emosi ae! Sudah pergi jangan buat emosi saja!" usir Rahmat yang geregetan dengan sikap baik Rianti dan di mana kebaikan itu menuntun mahkluk ghaib berdatangan padanya.


Benar, setelah Rianti membela sinden tersebut rumah minimalis ini dikepung berbagai macam makhluk menyeramkan. Suasana malam yang tadinya terasa biasa saja kini berubah drastis, angin kencang datang sampai membuka pintu utama dan setelahnya pintu tertutup, angin pun pergi begitu saja.


Kali ini hawa panas melanda rumah ini, semua orang merasakan tubuh mereka terpanggang bahkan bayi 4 bulan itu menangis sejadi-jadinya. Namun, Rianti tidak merasakan hal itu.


Air keringat bercucuran, mereka berempat seperti melakukan lari maraton. Suara decakan lirih membuat Rianti menolehkan kepalanya, dari luar kamar tepatnya di ruang tengah ada sebuah benda yang jatuh dari atas bufet.


Rianti memperhatikan betul benda apa yang bergelinding mondar-mandir dan pada akhirnya Rinti mengetahui bahwa benda yang bergulir ke sana kemari tersebut adalah kepala manusia berambut gondrong. Benar, hanya kepala dengan kepala yang diikat sebuah kain persis penampilan seorang pendekar.


"Laillahaillah Paman ...!" seru Rianti dengan mata yang mendelik.


Seakan mengejek kepala buntung itu melayang-layang sambil menyuguhkan wajah seramnya. Rahmat yang tidak mau mantu keponakannya melihat hal seram lainnya, langsung merapalkan doa untuk mengusir dedemit yang datang entah dari mana saja.


Rahmat bergerak dari kamar Rianti menuju dapur dan masuk ke kamar mandi, setelah itu pria itu menggebrak meja cukup kuat. Dari dalam sumur terdengar cukup jelas raungan macan dan jeritan wanita.


"Van, suarane opo kui? Kono, ditiliki Paman Rahmat! Van suara apa itu? Sana, dilihat Paman Rahmat! titah Marini yang khawatir setelah mendengar raungan dan jeritan menakutkan itu.


Rianti berlari memeluk ibu mertuanya dan berkata, "Bu, Ria takut!"


Mendengar menantunya mengucapkan kalimat itu, Marini mengelus kepala Rianti.


"Sudah enggak perlu takut. Banyak-banyak baca istighfar dan sholawat!" kata Marini menasehati mantu perempuannya.


Rianti mengangguk dengan isak tangis yang masih terdengar. Rahmat mengedarkan pandangannya ke ruangan yang cukup luas ini, pria itu sudah tidak merasakan eksistensi makhluk tak kasat mata—bahkan dia sangat yakin para dedemit yang berdatangan sudah kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.

__ADS_1


Namun, langkah Rahmat terhenti tatkala daun telinganya mendengar seseorang berdaham dari kamar mandi.


Mau main-main rupanya, gumam Rahmat dalam hati sembari bersiap melempar sebuah krikil dari saku jaketnya.


Kenapa ada krikil? Bukankah sejak tadi Rahmat berada di dalam rumah? Catatan Rahmat selalu membawa batu krikil dari rumahnya yang sudah didoain dan pria itu selalu mengantongi krikil dengan jumlah ganjil. Kerikil-kerikil itu dia gunakan untuk menyerang dedemit yang menurutnya susah diatur.


Satu sentilan krikil sudah cukup untuk mengusir setan yang bersemayam dalam kamar mandi.


"Cukup yo ojok ngerusuhi neh! Cukup ya jangan ganggu lagi!" pesan Rahmat pada segerombol makhluk yang berdiri tepat di belakang bangunan ini.


Pria tinggi kurus tersebut meninggalkan area dapur dan melangkah pelan menuju ruang tengah.


"Piye Mat? Gimana Mat?" tanya Burhan yang sejak tadi hanya diam tanpa kata.


Bukan tidak, Burhan lebih memikirkan semua tindakannya sebelum melangkah ataupun berbicara. Itulah sebabnya, Burhan lebih diam dan memperhatikan segala peristiwa yang dialami anak berserta menantunya Rianti.


"Wes enggak opo-opo Kang, sudah tidak apa-apa Kang" sahut Rahmat kalem yang membuka kopiah hitam.


Bersamaan dengan kopiah yang ditaruh di atas meja, Rahmat angkat suara.


"Sejak kapan kamu diganggu sama penunggu kamar mandi?" Pertanyaan Rahmat membuat Avan tercengang, tentu saja pria itu langsung mengarahkan pandangannya kepada sang istri tercinta.


"Aku enggak yakin, tapi sejak kami tinggal di sini mereka selalu datang." Rianti melirik ke sana kemari, dia benar-benar takut akan kemunculan mereka.


"Sudah pergi," kata Rahmat percaya diri.


"Aku sudah berpura-pura tidak tahu, bahkan aku memiliki bersikap seperti manusia tuli dan buta agar ...." Rianti memberhentikan ucapannya karena rasa takut yang masih menyelimuti hati dan pikirannya.


"Semakin kamu takut semakin mereka meraja lela dan akan terus bahagia tinggal di sini," tutur Rahmat sembari menyeruput kopi susunya.


"Bisakah hal ini dihilangkan? Rianti capek diteror mereka," ungkap Rianti tentang kelebihannya yang saat ini dia miliki.

__ADS_1


Selain Avan ada Burhan dan Marini yang terkejut dengan pernyataan Rahmat yang sungguh-sungguh tidak bisa diterima dengan akal sehat.


"Tidak mungkin! Kamu tidak bersungguh-sungguh bukan ... dengan kata-katamu barusan?"


__ADS_2