
Rahmat yang masih menikmati hangatnya kopi susu menghentikannya sejenak dan kembali menenggaknya hingga tandas minuman hangat nan nikmat tersebut. setelah puas dia meletakan cangkir di atas meja.
"Jangan dianggap ada." Dengan entengnya Rahmat meminta Rianti untuk tidak menghiraukan makhluk tak kasat mata tersebut.
Istri Avan mengedipkan kelopak matanya berulang kali, dia sungguh-sungguh tidak percaya dengan ucapan paman suaminya.
"Terus Rianti harus diam saja jika mereka mengganggu Rianti ataupun orang lain?" tanya Rianti meski tidak begitu yakin dengan pertanyaannya sendiri.
"Tentu saja, buatlah mereka yakin bahwa kamu tidak dapat melihat! Itulah jalan terbaik untukmu," ujar Rahmat dengan alis yang terangkat.
"Rianti mau Paman buat Rianti tidak bisa melihat mereka," pintanya penuh yakin.
Avan menghela napas panjang seraya mengangkat pecinya, "Enggak bisa. Ibarat perabotan kamu itu mangkok."
Lagi-lagi Rianti mengernyitkan keningnya, "Apa maksud Paman?"
"Kamu itu punya bagian dan tidak semuda membalikan telapak tangan untuk menutup kelebihanmu."
Selain Avan dan Burhan, Marini ikut terkejut dengan penuturan Rahmat yang sungguh-sungguh tidak masuk akal.
"Bagian apa?" Kali ini Avan yang melontarkan pertanyaan.
"Gini lo, istrimu ini memiliki kelebihan melihat hal ghaib dan itu dia dapatkan dari kakek buyutnya. Kenapa aku bisa tahu? Itu karena beliau selalu ada di sisi istrimu," ungkap Rahmat sambil menunjuk sebelah Rianti duduk.
__ADS_1
Tentu saja semua orang mengarahkan padangan mereka ke kursi kosong di sebelah kiri sofa.
"Rianti enggak mau berurusan dengan mereka, Paman. Rianti mau jadi wanita biasa seperti dulu," ujar Rianti bersih kukuh.
"Itu maumu, tapi pada kenyataannya kamu sudah melakukan hal yang membuat beliau selalu ada." Rahmat membuka satu kancing bajunya lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kamu suka baca doa yang diberikan mbahmu to?" tuduh Rahmat dengan wajah biasa saja.
Wanita yang diberi pertanyaan itu hanya diam, seakan mengingat-ingat. Tiba-tiba saja, mata Rianti terbelalak dan mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk.
"Iya, Rianti memang diberi amanat untuk mengamalkan suatu doa. Tapi ... kata Mbah doa itu untuk keselamatan saja," bantah Rianti selepas menjelaskan.
"Yo iku, sing marai sampean mbulet terus. Iya itu, yang membuat kamu terikat terus." Mengangguk ujung kepalanya yang terasa gatal.
"Nek iso ditutup ae moto batine Ria, melas nek koyo kui terus. Opo ora melas nyisan nyawang aku? Kalau bisa ditutup saja mata batinnya Ria, Kasihan kalau kaya gitu terus. Apa tidak kasihan juga melihat aku?" kata Burhan yang memijat pangkal hidung.
"Ngene lo Kang, are iki dewe wadah ora iso sembarangan. Terus opo sing kate tak tutup? Begini lo Kang, anak ini punya wadah tidak bisa sembarangan. Terus apa yang mau aku tutup?" jelas Rahmat apa yang dia lihat di diri menantu perempuan kakaknya.
"Tidak mungkin! Kamu tidak bersungguh-sungguh bukan ... dengan kata-katamu barusan?" tanya Marini yang sedikit memahami maksud ucapan adik iparnya.
Rahmat semakin frustasi dengan keadaannya saat ini, tidak semua hal ghaib bisa dijelaskan secara gamblang. Apa lagi mereka orang awam yang tidak paham akan hal-hal seperti ini, ketika Rahmat hendak menjelaskan kembali ucapannya Rianti merubah posisi duduknya dan terbatuk-batuk tidak jelas.
"Wes ora usah podo geger! Sudah jangan pada ribut!" pesan Rianti dengan suara berat menyerupai suara pria yang sudah berumur.
__ADS_1
"Ada apa lagi ini? Enggak sanggup aku lihat dia seperti itu terus, Man!" tunjuk Avan kesal bercampur sedih.
"Pangapunten, niki sinten? Mohon maaf, ini siapa?" Rahmat mendekatkan diri.
Rianti berdeham kemudian dia tersenyum sangat tipis, lalu mengusap dagunya seakan mengelus jenggot.
"Lali? Lupa?" ucapnya singkat seraya melihat wajah Rahmat.
pria itu mengangguk seperti mengiyakan ucapan Rianti. Namun, wanita itu diam membuat Rahmat menantikan jawaban Rianti begitu juga Avan, Burhan dan Marini. Empat orang dewasa tersebut saling melempar pandangan mereka.
"Pangapuntene, mohon maaf," ucap Rahmat selembut mungkin.
Ucapan lembut itu dijawab dengan kasar oleh Rianti, suaranya itu membuat suami dan mertuanya terbelalak kaget.
"Liunan metaken! Banyak tanyak!" bentak Rianti menggunakan bahasa Bali.
Tentu saja mereka terkejut dengan bahasa ini, pasalnya Rianti tidak pernah ke Bali ataupun belajar bahasa sana. Lantas bagaimana dia bisa mengucapkan kalimat itu? Tentu saja itu ulah makhluk yang merasukinya dan bagaimana bisa demit Bali nyasar ke sana.
"Biang Redep," cetus Burhan tiba-tiba.
"Arah dewa ratu ...." Selepas berucap Rianti tertawa kecil seraya menatap teduh Burhan.
"Bapak sok tahu," cibir Avan.
__ADS_1
"Bapak hafal betul dengan tawa dan geriknya," ucap Burhan dengan matanya yang terus tertuju padanya.
"Auk ah, bisa stres di sini terus." Avan beranjak meninggalkan ruang tengah menuju teras depan.