
Pangi menempatkan darah ayam cemani ke dalam batok kelapa, dia juga menyiapkan beberapa dupa, kemenyan dan kembar setelon. Sebelum dia melakukan ritual ilmu hitam, pria itu memastikan aksinya tidak diketahui oleh orang.
Sekian lama berdiri memerhatikan alam sekitar, Pangi duduk bersila sambil membakar dupa dan kemenyan yang dia bawa tadi. Tidak lupa dia menaburkan kembang setelon di atas boneka jerami buatan tangannya sendiri, disebutkan nama Rianti dan dilanjutkan dengan mantra ilmu hitam.
Di sini aku tidak menuliskan mantranya, aku takut jika mantra yang aku tulis dikira beneran mantra santet.
Mulut Pangi berkomat-kamit dan setelah itu matanya terbuka lebar menatap tajam boneka jerami tadi, tangannya bergerak memutar di atas boneka tersebut sambil sesekali mengusap lembut seluruh permukaan boneka.
Setelahnya dia memanggil setan yang sama dia perintahkan untuk mengganggu adik iparnya kala itu. Suara tawa yang melengking membuat bulu kuduk berdiri, mata merah melotot dan tubuh mahluk itu dipenuhi bulu hitam yang sangat lebat.
Bisa dibilang bulu makhluk tersebut sebesar sapu lidi, bau busuk menyertai kedatangan makhluk tak kasat mata tersebut. Pangi yang semula duduk tegap kini sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu mulai mengucapkan perintahnya kepada makhluk hitam tinggi besar tersebut.
“Bantu aku membungkam mulut wanita yang bernama Rianti menantu Burhanuddin Muhtadi,” katanya enteng menyebut nama sahabat.
Makhluk itu hanya mengangguk dengan suara geraman persis seperti macam yang tengah kelaparan.
Sekejap mata makhluk yang dikenal betorokolo tersebut menghilang masuk ke dalam boneka yang Pangi pegang. Seakan ditimpa batu, Pangi mengangkat boneka tersebut susah payah.
Di genggam sekuat tenaga dan tanpa berkedip pria itu menatap penuh benci boneka jerami itu. Seperti dia menatap Rianti tadi siang di rumah Burhan, rasa bencinya mewujudkan Rianti dalam genggamannya kala itu.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Burhan makhluk itu telah datang dan berjalan santai di ruang tamu menuju kamar Rianti, saat dia menemukan Rianti tengah salat malam dia berdiri agak jauh dan memperhatikan wanita itu sedang berdzikir dengan tubuh yang gemetar hebat.
Ya Allah aku serahkan segala sesuatu dalam hidup ini. Jika aku mati karena-Mu saat ini aku ikhlas ya Allah, tapi ... jika aku mati bukan karena penyakit yang engkau berikan aku tidak ikhlas dunia akhirat.
Doa Rianti dalam dzikirnya, wanita itu bisa merasakan kedatangan makhluk kiriman Pangi dan dia tahu betul apa yang akan dilakukan utusan manusia biadab itu. Begitu Rianti menyelesaikan dzikirnya, dia mengubah posisi duduknya menghadap ke makhluk tak kasat mata itu.
“Apa yang akan kau lakukan? Aku tahu siapa yang mengutusmu ke sini. Tolong jangan ganggu aku!” kata Rianti dengan suara bergetar.
Makhluk itu diam mendengar semua ucapan Rianti, tapi dia tidak mengurungkan niatnya meski Rianti mengatakan mengetahui siapa yang menyuruhnya datang ke rumah itu.
Seakan gempa bumi, maklumlah itu berjalan dengan segala kekuatannya. Matanya molot dengan taringnya terlihat sangat runcing, di dalam ketakutannya Rianti memohon perlindungan sang Khaliq.
Dia dekap tubuh kecil Rianti sampai tubuh itu ambruk dan napas wanita bermukenah putih itu tersengal akibat dekapan kuat dari betorokolo.
Mulut Rianti tidak kunjung bisa mengucapkan tasbih ataupun dzikiri lainnya, dia hanya bisa membuka mulut tanpa mengeluarkan suara. Matanya mendelik pupilnya melebar, kerongkongannya seakan mengecil tatkala makhluk itu semakin menguatkan dekapan tangannya.
Paru-paru sehat Rianti tidak dapat menampung oksigen yang dia hirup, bahkan gerakkan tubuh Rianti kini semakin melemah. Tenaganya terasa terkuras habis setelah meronta-ronta.
Sekuat tenaga Rianti menggerakkan bibirnya dan sedikit terdengar kalimat takbir dari bibir tipis itu.
__ADS_1
“A-Allahu ... Aa-kbar,” ucapnya sangat pelan.
Hampir tidak terdengar jelas dan dengan segala kekuatannya dia mengulang lagi.
“A-Allahu Akbar!” teriak Rianti dalam dekapan kematian rajanya setan.
Bagai dihantam gada besi makhluk itu terpental jauh hingga menabrak pilar yang kamar, meski demikian raja setan itu masih kuat untuk berdiri dan menghampiri Rianti yang masih terkulai lemah di sajadahnya.
Detak jantung yang tidak beraturan membuatnya semakin lemas, paru-paru wanita itu seakan menyempit sehingga napasnya memburuh. Dengan sisa tenaga yang ada Rianti merangkak mendekati ranjang tidurnya.
Namun, belum sampai di tempat termaram itu makhluk jahanam tersebut menarik rambut Rianti yang masih ditutupi mukena, sehingga kepala terdongak ke atas dan makhluk yang memiliki taring besar tersebut menatap Rianti penuh amarah.
Tubuh lemah Rianti dihantamkannya ke tembok dan didekap muka Rianti menggunakan telapak tangannya yang besar, tentu saja wanita itu kelabakan.
Tangannya berusaha menyingkirkan tangan besar itu, tubuhnya kembali meronta-ronta karena tidak mampu bertahan dalam bekapan tangan besar tersebut.
Dalam hatinya Rianti meminta agar diberi kematian yang Husnul khatimah dan dia memasrahkan ini kepada sang pencipta alam semesta.
Kuserahkan semua kehidupan ini kepada-Mu ya Allah, jika memang garis kematianku seperti ini aku ikhlas lahir batin ya Allah.
__ADS_1
Rianti melepaskan tangannya dan wanita itu mengatur tangannya seperti orang yang telah wafat, di detik-detik terakhir Rianti memejamkan mata sambil mengucapkan dua kalimat syahadat meski terbata-bata.