
Awalnya dia hanya merasa ditiup, tapi semakin lama tiupan angin itu semkin besar dan merasuk ke dalam sana. Reflek Rianti masukkan dua jarinya ke sela helm yang dia kenakan, Avan yang melirik istrinya dari spion melontarkan pertanyaan.
"Ada apa?"
"Seperti ada yang masuk ke dalam telingaku, Mas." Masih menggerakkan kedua jarinya sambil memiringkan kepala.
Avan yang masih memperhatikan tingkah aneh Rianti, segera menepikan motornya di bahu jalanan.
"Buka sedikit jilbabmu! Biar aku bisa lihat dalam," perintah Avan sembari mengintip sebentar.
"Enggak ada apa-apa," sambungnya seraya memperbaiki tampilan jilbab yang dikenakan sang istri.
Rianti diam dia tidak merespon, lalu Avan kembali tancap gas agar segera sampai di kediaman orang tuanya.
Kenapa Mas Avan lewat jalan ini? Bukannya ini jalanan menuju desa K, batin Rianti seraya melirik jalan yang dipilih suaminya.
Meski masih siang, jalanan itu tampak sepi tidak ada satu kendaraan yang lewat.Tatkala netra Rianti melirik ke sisi kanan jalan, dia melihat ada seorang wanita mengenakan baju kebaya kuno dan rambut panjang wanita itu tergerai.
Entah kenapa hati Rianti penasaran dengan wajah wanita tersebut. Ingin rasanya dia memanggil dan menegur sapa. Seakan mendengar isi hati Rianti, wanita yang mengenakan kebaya kuning bermotif bunga menolehkan kepalanya ke arah Rianti.
Mata Rianti melotot dan tubuhnya sedikit tersentak saat melihat wajah wanita itu yang hancur dan dipenuhi belatung.
"Mas!" panggil Rianti seraya menepuk bahu suaminya.
__ADS_1
Masih shock dengan wajah wanita berkebaya itu, kini dia dikejutkan kembali dengan kepala suaminya yang berputar menatapnya dengan mata yang mendolo keluar.
Sontak Rianti menjerit dan tubuhnya jatuh terguling. Dengan susah payah Rianti bangkit dan berusaha berjalan meski kakinya pincang. Menyadari bayinya tidak dalam dekapannya, Rianti kembali menoleh kebelakang mencari anak semata wayangnya.
Samar-samar gendang telinganya mendengar suara tangisan yang dia yakini bahwa itu tangisan anaknya. Bergegas dia mencari sumber suara yang berasal di petakan sawah.
"Tunggu mama, dek!" pekik Rianti lirih sambil terus berjalan menyusuri pematang sawah.
Ketika Rianti sampai di tengah sawah, dia mendapati anaknya tengah digendong wanita yang dia lihat di ujung jalan tadi. Meski takut dia memberanikan diri untuk merebut bayinya dari tangan wanita bermuka hancur itu.
"Kembalikan anakku!" sembur Rianti seraya menarik bayinya.
Rianti terus berlari tanpa berhenti ataupun melihat kebelakang dan tiba-tiba dia mengingat Avan—sang suami.
Rasa letih membuat langkah Rianti melambat dan terdengar suara napas yang tersengal-sengal. Dia benar-benar tidak memahami situasi ini, suaminya juga menghilang begitu saja dan kini dia harus berjalan sendirian menyusuri jalanan yang sepi.
Sesekali Rianti menghela napas panjang seraya merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak mengikuti usulan sang suami. Pada malam itu Avan mengajak Rianti pergi besoknya pada hari sabtu, tapi dia kekeh meminta suaminya untuk mengantarnya hari ini dan apa yang terjadi padanya saat ini adalah kesalahannya sendiri yang tidak mendengar ucapan Avan.
Suara tangisan terdengar lagi. Namun, suara tangisan itu terdengar ganda. Iya, selain suaranya sendiri yang dia dengar, ada suara lain yang mengiri tangisannya.
wajah Rianti semakin menegang ketika suara tangisan tersebut semakin terdengar jelas di telinganya, bahkan dia mendengar jeritan bayi.
Sontak wanita itu berhenti melangkah dan menelisik sekitar, memastikan siapa yang telah iseng kepadanya saat ini. Alih-alih marah Rianti malah ketakutan ketika bola matanya bergulir ke bawah memperhatikan wajah Adnan yang pucat dan bayi berusia 4 bulan tersebut memiliki gigi yang sangat tajam.
__ADS_1
Bahkan bayi itu dapat berbicara dengan lancar dan lantang.
"Aku anakmu, Ma ...," ujarnya menyeringai.
Sontak Rianti melempar bayinya ke udara, tanpa disangka-sangka bayi itu dapat melayang bahkan bayi itu tertawa. Suara tawanya yang lantang menimbulkan lengkingan di dalam gendang telinga Rianti.
"Tolong ... hentikan siksaan ini!" jerit Rianti dengan tubuh yang melemah.
"Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja," kata bayi yang memiliki suara berat nan serak.
Sekuat tenaga Rianti mendongakkan kepalanya dan melafalkan ayat kursi. Kendati demikian bayi iblis itu tertawa semakin terbahak-bahak mendapati mangsanya hendak mengaji.
Alih-alih membaca dengan lantang, Rania tidak bisa membuka mulutnya dan sudah berusaha sekuat tenaga suara Rianti tidak dapat keluar bahkan sekedar mengucapkan huruf a saja tidak mampu.
Ya Allah kenapa dengan hamba-Mu ini ya Allah? tanya Rianti dalam hati.
Muka wanita itu pucat pasif sungguh miris melihatnya ketakutan, terlebih dia tidak dapat berbicara.
Meski Rianti dalam keadaan bisu, dia berusaha dengan keras melepaskan belenggu yang melilit lehernya dan lafad Allah yang bisa dia ucapkan hanya.
"Allahuakbar, Allahuakbar ...." Hanya ini yang bisa dia ucapkan.
Ketika dia melantangkan suaranya menyebut asma Allah, terdengar jelas teriakan makhluk itu dan terdengar lagi suara orang yang tersengal-sengal kehabisan napas.
__ADS_1
"Ri-anti ...."