Kau Dan Aku Sama

Kau Dan Aku Sama
Chapter 13


__ADS_3

Ini“Dua jimat. Satu terbalut kain kafan dan yang satunya dibalut dengan plastik berwarna hitam,” ucap Rianti dengan tatapan kosong.


“Bagaimana Bapak akan sembuh jika memelihara setan dan jin seperti itu?” tegur Rianti, tapi kali ini sorot mata wanita itu menajam dan membuat Pangi semakin emosi.


Rianti menebak masa lalu Pangi yang banyak orang tidak diketahui termasuk keluarganya sendiri.


“Bapak pernah mendalami ilmu hitam dan mempraktikkannya pada adik ipar Bapak sendiri, bukan?” cetus Rianti tanpa ragu ataupun takut.


Ayub menarik Pangi untuk duduk kembali, tapi suara Rianti membuat Pangi menarik tangannya dan menatap dengan tajam wanita muda yang tidak bergerak sejengkal pun dari tempatnya berdiri.


“Kurang ajar!” Telunjuk Pangi mengacung, dada pria itu naik-turun akibat menahan amarah.


“Maafkan mantuku! Dia salah berucap,” rayu Burhan seraya menarik temannya untuk menjauh dari Rianti.


Alih-alih berhenti berbicara, menantu Burhan tersebut malah membuka suara lagi yang membuat pria berusia 52 tahun tersebut semakin terkikis emosi.


“Manusia serakah dan jahat sepertimu tidak akan mengaku salah. Lagi pula dua hari lagi kau akan menyusul Kholis,” tandas Rianti sembari mengusap wajahnya.


“Niatku ke sini silahturahmi bukan untuk mendapat hinaan seperti ini!” seru Pangi dengan tangan yang menggebrak meja.


“Jangan dengarkan Rianti! Dia mungkin sedang tidak sadar saat ini,” saran Burhan agar Pangi bisa lebih tenang.


“Tidak! Hari ini ... sampean karo aku duduk konco neh! ... kamu dan aku duduk teman lagi!” bentak Pangi sembari keluar tergesa-gesa.


Ayub yang masih berdiri di sana langsung menjabat tangan Burhan.


“Maafkan kakang saya, Kang!” pinta Ayub dan sekilas dia melihat wajah pucat Rianti.

__ADS_1


“Aku juga minta maaf atas nama mantuku, bilang sama Pangi bahwa ini salah paham.” Burhan mengantar Ayub samai di pintu utama.


Pria yang lebih muda dari Pangi tersebut, berlari kecil agar bis mengejar langkah kakaknya.


“Kang tunggu!” teriak Ayub yang masih berada jauh dari Pangi.


Pria itu menolehkan kepalanya, sorot matanya yang tajam membuat langkah Ayub melambat.


“Kenapa berhenti? Cepat!” pekiknya tidak terima dengn berdiamnya sang adik.


Perjalanan mereka tidak diwarnai dengan gelak tawa ataupun percakapan. Setelah kejadian di rumah Burhan membuat Pangi pendiam dan dia lebih memilih tidur untuk menghabiskan waktu perjalanan pulang ini.


Ayub mengira bahwa kakaknya hanya mengantuk dan perlu istirahat, nyatanya Pangi tengah mengatur rencana untuk membungkam Rianti. Bukan membungkam dengan ucapan pedas melainkan dengan perilaku yang sangat kejam, bisa dibilang tidak terpikir nalar.


Perjalanan menuju rumah mereka lumayan jauh, sehingga mereka sampai di rumah pukul 18.45 seperti tidak memiliki rasa capek Pangi mengambil cangkul menuju halaman belakang rumahnya. Kepalanya celingukan melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang melihatnya menggali.


“Apa yang kau lakukan di sini!” bentak Pangi tidak terima dengan kedatangan sang adik.


Kening Ayub mengerut dan matanya membulat melihat respons kakaknya.


“Aku hanya mau bilang, kalau emak sudah menyiapkan makanan untuk kita berdua.”


“Aah, sudah sana masuk! Tidak perlu mencariku!” ucapnya bersungut-sungut.


Alis Ayub terangkat dan pria itu kembali masuk ke rumah tanpa bertanya apa yang akan dilakukan oleh kakaknya itu.


Selepas kepergian Ayub, Pangi mengambil cangkulnya dan menggali tanah di sebelah pohon randu. Lumayan dalam Pangi menggali tanah itu sampai ujung cangkul mendarat di sebuah kotak.

__ADS_1


“Akhirnya aku menemukanmu,” katanya sembari mengusap keringat yang jatuh bercucuran.


Diambil kotak coklat tersebut, lalu Pangi membungkus kotak itu dengan kantong plastik berwarna hitam. Senyum jahat tercetak di bibir pria berusia 54 tahun tersebut, tapi senyum itu musnah tatkala sosok perempuan menghampirinya.


“Kamu ini ngapain malam-malam di sini? Cepat masuk!” Wanita itu memukul pelan punggung Pangi.


Wanita tua itu adalah ibu tiri Pangi, wanita yang selalu mengurus segala keperluan Pangi dan Ayub. Dulu Pangi memiliki istri, tapi setelah menikah sekian lama mereka tidak kunjung memiliki momongan dan karena perkara ini Pangi menjatuhkan talak kepada sang istri.


Sekian tahun bercerai, Pangi mendengar kabar bahwa istrinya telah menikah dan dikarunia seorang putri. Rupanya suami dari mantan istrinya itu menikah dengan sepupu dari suami adik ragilnya dan alasan ini dia buat mendalami ilmu hitam.


Setelah mantap akan ilmunya, dia praktikan kepada sang adik ipar. Ritual penyantetan dia lakukan seorang diri di tengah persawahan, kenapa tempat ini? Menurut Pangi; sawah jarang dikunjungi orang di tengah malam dan ini tidak akan menimbulkan kecurigaan dari keluarganya.


Ingatan kala itu lenyap tatkala tengkuknya meremang, bulu kuduk pria itu berdiri dan rasa dingin menjalar dan merambat ke seluruh tubuh. Seakan disiram dengan air es, tapi rasa takutnya dia ke samping demi mendapat darah ayam cemani yang dimiliki Dayat—tetangga sebelah rumahnya.


Perlahan, tapi pasti. Pangi mendekap ayam tersebut menggunakan karung basah. Tentu saja dia ketakutan dan merasa sangat bersalah telah mencuri barang dagangan teman sekaligus tetangganya sendiri, tapi hal itu tidak membunuh niatnya untuk mengambil ayam cemani tersebut.


“Lihat saja, kau akan tersiksa setelah ini!” ancam Pangi yang masih merasa sakit hati atas ucapan Rianti.


Di kegelapan malam, Pangi loncat mencari perlindungan atas kejaran warga.


"Kalian ke sana! Aku sama yang lain ke arah sana," ujar salah satu warga yang mengarahkan tempat penggeledahan.


Napas Pangi tersengal-sengal akibat berlari tanpa henti, ketika telinganya mendengar suara para warga dia membekap mulutnya sendiri agar tidak diketahui. Sekian jam bersembunyi akhirnya dia lolos dari kejaran para warga.


"Kebaikan masih berpihak kepadaku. Maafkan aku Wanto," kata Pangi lirih.


Netranya menatap tajam pada ayam yang sedari tadi dia bopong.

__ADS_1


__ADS_2