
Aku dan Celestia menghabiskan kue tersebut dan pergi ke kota yang ada di arah barat. Kota yang yang kami tuju itu adalah kota yang besar dengan perdagangan.
Sebelum kami berangkat, aku bertanya sesuatu tentang pernikahan. Kata Celestia kalau orang biasa menikah, mereka cukup memasangkan cincin pernikahan dan berjanji satu sama lain.
Kalau di dunia aku yang dulu, mengurus pernikahan itu ribet sekali, belum mengurus undangan, menyiapkan tempat, mencari baju pernikahan yang cocok belum lagi soal makanan. Kalau aku mengingat kembali tentang pernikahan para kerabat yang aku kunjungi, itu cukup memusingkan dan merepotkan.
"Haa.." Aku menghela napas sedemikian rupa.
"Kamu kenapa Zero?" Celestia yang berjalan di depan menghadap ke belakang.
"Cuma.. mengingat kembali tentang hal-hal yang merepotkan"
"Memangnya apa itu?" Celestia mundur sampai dapat berjalan di sampingku.
"Sudah jangan dipikirkan lagi" Aku menepis pertanyaan Celestia.
"Oke"
"Hei Celestia, apakah ada orang kamu suka" Aku menanyakan sesuatu yang mungkin membuat orang malu.
"Ada" Celestia menaruh tangannya di dagu.
"Siapa itu?" Aku bertanya lagi.
Muka Celestia memerah dan tanpa sadar aku juga merasa ada sesuatu yang hangat di dalam.
Celestia berlari kecil lalu melambai ke arahku
"Cepat, sudah hampir mau malam"
Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa dia katakan, tapi.. tetap saja aku penasaran tentang dia, masa lalu dia seperti apa dan apa yang dulu dia alami sehingga dia sampai melarikan diri. Meski dia mengatakan dengan jujur dulu, pasti masih ada yang dia rahasiakan.
"Iya, tunggu aku" Aku mengejar Celestia dan berjalan disampingnya.
Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah malam dan untungnya sebelum pergi, aku membawa jam tangan.
Sekarang menunjukkan baru pukul delapan malam.
"Celestia, apakah kamu tidak lapar" Aku bertanya ke Celestia yang sedang mempersiapkan tempat bermalam.
"Sedikit lapar sih, kalau kamu" Celestia memandang ke arah aku yang sedang memungut kayu bakat untuk dijadikan api.
"Tapi, apakah bener kita menginap di sini? Di hutan dan tanpa perlindungan" Coba kalian lihat sendiri, kami tidak mempunyai tenda ataupun tempat yang bisa untuk di tiduri. Celestia hanya membawa selimut, sementara aku. Kasihanilah aku ini yang tidak membawa apa-apa kecuali diriku sendiri.
"Ketimbang kamu melamun, setidaknya cari hewan untuk kita makan malam ini"
__ADS_1
"Oke" Aku membawa kayu-kayu itu ke satu tempat lalu menyalakannya.
Sebelum aku pergi, aku membayangkan pelindung yang tidak bisa dilihat oleh mata di sekitar Celestia. Kalau ada orang atau hewan yang mendekati Celestia, mereka akan terbakar hidup-hidup kecuali aku dan Celesetia dan kami bisa keluar masuk tanpa terbakar hidup-hidup.
Aku pergi ke hutan dekat dengan tempat kami bermalam. Sebenarnya, kalau Celestia membiarkan aku melihat ingatannya tentang kota itu dan tinggal membayangkan kota itu, pasti sudah sampai dalam sekejap seperti teleportasi. Kalau pun dia ingin membiarkan aku melihatnya dan sesekali aku juga ingin merasakan seperti apa rasanya petualangan yang dialami oleh penduduk di dunia ini.
Aku berada di sekitar hutan, hutan yang luas, pohon yang tinggi dan menjulang dengan suasana malam yang dingin, itu mengingatkan aku tentang film horror yang berlokasi di hutan. Aku mendengar suara air di sebelah kanan dalam hutan "Mungkin air itu bisa untuk di minum"
Aku pergi ke sumber air tersebut, yang aku lihat adalah sungai yang berisi air bersih berbeda dengan sungai tempat aku tinggal yang sudah tercemar akibat ulah para manusia.
Aku mebgambilnya dengan tangan lalu mencobanya apakah bisa di minum atau tidak. "Air ini tidak berasa dan tidak berbau seperti air pada umumnya"
Yang terpenting bagaimana cara agar membawa air ini. Aku melihat sekitar sungai tempat aku berdiri dan yang aku lihat hanyalah pohon, batu dan tanah.
"Bagaimana caranya ini" Lalu aku memandang pohon yang di depan mataku dan kepikiran sebuah ide.
Aku menebang pohon itu dengan membayangkan angin yang tipis tapi setajam pisau yang baru diasah.
Aku memotong dahan dan rantingnya dengan angin seperti menebang pohon dan yang tersisa hanyalah batang yang memiliki panjang kira-kira 50 cm dan lebar 25 cm. Aku melubangi batang tengahnya sampai menyentuh kulit kayu.
"Fyuuh.. akhirnya jadi ember kayu sederhana dan cepat" Aku memandangnya dengan perasaan yang senang "Ciptaan pertama aku yang sukses, hahaha"
Aku membersihkannya di sungai lalu mengambil air tersebut dan membayangkan sihir dan menaruhnya.
Fyuuh.. dengan ini selesai masalah yang pertama, mulanya aku ingin menciptakan air dengan sihir dan menyaringnya. Kata Celestia air yang tercipta dari sihir itu beracun.
"Krusuk.. krusuk"
"Krusuk.. krusuk" Suara yang aneh itu semakin mendekat. Secara tak sadar, bulu kudukku berdiri dan aku mengingat beberapa adegan dari film horror.
"Siapa itu!!" Dengan suara yang kencang.
"Krusuk.. krusuk" Suaranya semakin mendekat dan mendekat.
Arah asal suara itu di sebelah kanan. Dengan rasa ketakutan dan penasaran, aku secara perlahan melihat suara itu. Dan boom, ternyata itu rusa
"Fyuuh" Aku pikir itu hantu atau semacamnya.
Aku membayangkan sihir tanah yang berupa seperti anak panah dan menembak rusa itu.
Rusa itu kena tepat di lehernya. Akumengambil panah yang menancap di leher rusa itu lalu memasukkan rusa itu ke .
"Yuhuu.. aku sudah mendapatkan makanan dan minuman, saatnya kembali"
"P.. paman.. bisakah anda membagi makanan anda"
__ADS_1
Aku terkejut lalu membalikkan badan dan melihat anak kecil yang memakai pakaian yang lusuh dan kedua tangannya ada borgol.
Fyuuh.. ternyata anak kecil, aku pikir tadi hantu yang meneror orang.
"Kenapa ada anak kecil di sini, mana ayah dan ibumu dek.." Dia menundukkan kepala.
"S.. saya hanyalah seorang budak"
Kok.. aku kaget, padahal sudah terbiasa kalau soal budak-perbudakan. Kalau di anime biasanya ada yang namanya budak tapi, mendengar dan melihatnya secara langsung itu rasanya berbeda, rasanya seperti kaget tapi bukan, marah juga bukan dan rasa seperti apa ini!? memusingkan sekali.
"Siapa namamu" Aku memandangnya.
"S.. saya tidak punya nama"
Aku memandangnya sejenak, wajahnya seperti ada goresan mungkin bekas dicambuk begitu pula dengan badan sampai kakinya.
Aku sedikit kasihan dengannya, kenapa mereka tega sekali membuat budak anak kecil seperti ini!? Tapi, yah.. aku tidak bisa menghentikannya minimal, setidaknya aku bawa anak ini.
"Ikut aku"
"..."
"Celestia aku membawa makanan!" Aku melihat Celestia sedang berada di dekat api unggun.
"Sekarang kamu baru datang, aku sudah lama lapar"
Aku membayangkan pelindung yang melindungi Celestia anak ini bisa masuk tanpa terbakar lalu mengeluarkan rusa dan air dari .
"Nih.. aku mendapatkan air juga"
Anak yang aku bawa tadi bersembunyi di belakang aku.
"Siapa anak ini?" Celestia memandang anak ini dengan seksama.
"Dia anak kita" Aku tersenyum sementara Celestia muka Celestia memerah.
Imutnya.. pengen ku peluk dia.
"Bercanda.. haha" aku memajukan anak itu ke depan agar di lihat oleh Celestia.
"Seperti yang kau lihat"
Aku meletakkan air dan rusa ke tanah.
Celestia mengambil pisau dari tas dan memguliti rusa tersebut "sebenarnya aku membawa dua selimut, mulanya aku mau mengejutkanmu tadi, jadi kau tidur di atas tanah"
__ADS_1
Oh.. Tuhan kenapa kau sekejam ini terhadapku. Huhuhu...
"Baiklah, terserah kau saja"