
Malam telah berganti hari, kami melanjutkan perjalanan kami dengan ditambah seorang anak kecil. Celestia, aku dan seorang anak kecil?? Hmm….
“Hei nak…”
Anak itu melihat ke arahku.
“Apakah sebelum kau menjadi budak, apakah kau punya nama atau keluarga??”
Celestia yang memimpin dan berjalan paling depan memelototiku dengan tatapan yang tajam sampai-sampai bagian punggungku terasa seperti ingin meregang.
Yaaa…. Aku tahu bahwa kata BUDAK dan kata KELUARGA pasti itu akan menyakiti hatinya.
“Kalau kau tidak mau jawab pun, aku tidak masalah asalkan jangan kamu pendam sendirian karena, sendirian lebih sulit ketimbang bersama” Aku merhatikan anak itu lagi, dia menundukkan kepalanya lalu matanya sudah berkaca-kaca.
Apakah perkataan-ku sudah keterlaluan?? Atau dia merindukan kehidupan yang dulunya, aku tidak bisa mengetahuinya.
“Anu…”
“Kalau kau tidak mau menceritakannya, tidak usah dipikirkan karena kami akan mendengarkan kapan pun itu saatnya” aku dan Celestia memandang anak itu, kemudian perlahan-lahan dia mulai menunjukkan wajahnya.
Wajahnya yang putih serta memiliki rambut hitam, lalu matanya yang berkaca-kaca seperti orang yang sudah menahan air mata yang begitu lama.
“A.. APAKAH KALIAN BEGITU PERCAYA KEPADAKU?! APAKAH KALIAN TIDAK MENCURIGAIKU?! O… ORANG SEPERTIKULAH YANG HARUSNYA KALIAN WASPADAI!! B… BIASANYA ORANG SEPERTI KALIAN INI YANG SERING MENJADI INCARAN…!! APAKAH KALIAN TAHU ITU?!”
Ohh…. Tidak, dia menangis aku tidak tahu cara menenangkan anak kecil. Bagaimana ini… Celestia maju lalu memeluk anak itu.
“Sudah sudah, kami percaya padamu kok karena kau sudah mengatakan yang sejujurnya dan kami tahu kalau kamu tidak akan bicara begitu kalau kamu punya niat yang jahat seperti yang kau katakan”
Saat itu, sosok Celestia seperti malaikat bagi anak itu. Zero memandangi anak itu dengan rasa iri karena dia tidak dapat pelukan.
__ADS_1
“Apa sudah baikkan?” aku bertanya pada anak itu
“Hmm…”
Aku melepaskan pelukanku.
“Ayo kita melanjutkan perjalanan kita” aku kembali memimpin jalan.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Aku melihat tembok yang sangat besar melintang di depan kami, aku tahu bahwa kami sudah hampir sampai. Tak kusangka aku bisa kembali ke kota ini, ah…. Sudah sangat lama yaaa…
“Zero… lihat lihat, kita sudah hampir sampai…!”
“Wah… inikah kota yang kau maksud tadi?”
“Hm.. hm.. yap inilah kota yang ku maksud, bagaimana?! Indah kan?”
Anak itu menggeleng.
“Aku lupa”
Dia menunduk.
“Hei Zero, sebelum kita masuk kota, sebaiknya kita perlu menamainya dulu!”
“Ohh… oke, aku tidak punya pilihan nama yang bagus. Bagaimana kalau kamu saja yang menamainya?”
Aku mengangguk, mencoba memikirkan nama yang bagus untuk dia.
__ADS_1
“Bagaimana kalau… Arion, artinya dapat memikat orang. Bagaimna Zero?”
“Kalau kamu bilang gitu sih, aku setuju dan suka dengan nama itu”
“Bagaimana nak? Kau suka dengan nama Arion?”
“Zero, cara tanyamu keterlaluan!”
“Arion?! Arion!! Yaa… aku suka, terima kasih sekarang aku punya nama”
“Zero, apakah kau punya uang?” aku berbisik ke telinga Zero, agar tak terdengar oleh Arion.
“Yaa ada”
“Nanti setelah sampai ke kota, maukah kau membeli beberapa pakaian”
“Tentu, karena itu rencanaku”
“Ohh.. ya nak, sekarang kau sudah bisa bicara dengan tidak terbata-bata lagi”
“Jangan panggil aku nak, sekrang namaku Arion”
“Pff…”
“Yaa…”
“Jangan ketawa Celestia, aku malu nih”
“Ohh.. ayolah begitu saja kau sudah malu, astaga”
__ADS_1
Sudah berapa lama yaa… aku tak merasakan perasaan ini? Ini seperti ketika aku dan orang tuaku belum meninggal, oh… astaga perasaan kangen ini sudah lama aku tak merasakannya. Tertawa bersama, bahagia bersama, susah senang bersama, aku tak pernah merasakannya lagi ketika orang tuaku meninggal, mungkin ucapan terima kasih belum cukup untuk mengungkapkan perasaan ini.