
Ketika aku terperangah oleh naga merah yang nampak gagah tersebut, Celestia yang merinding menarik-narik ujung bajuku dari samping.
"H...Hei, b~bagaimana k~kalau kita kabur dari pintu belakang"
Celestia yang berada disampingku merinding dan terbata-bata akibat melihat naga itu.
'Meskipun benar kita bisa kabur. Tapi... kalau aku kabur, aku takut rumah ini bisa terlihat dari luar dan pelindungnya melemah !'
"Celestia kamu kabur sendiri, biar aku yang mengurus naga ini !"
"Apakah kamu gila !! itu adalah naga kuno. Seingatku naga kuno terakhir kali muncul 250 tahun yang lalu. Satu semburan apinya saja bisa menghancurkan satu gunung dan satu kota !!"
"Tenanglah, nanti bisa gawat kalau barang-barang yang ada dirumah ini ketahuan dari dunia luar. Lagipula aku ini kuat"
"Baiklah, terserah kamu saja !!. Aku akan menunggumu didalam !"
Aku memberi kunci pintu cadangan kepada Celestia.
"Kalau terjadi apa-apa, kamu bisa keluar dari pintu mana saja !"
"Semoga kamu baik-baik saja"
"Akan kupastikan itu !"
Celestia yang berada dismpingku mencium pipiku.
Mukaku memerah.
"Akan kuhajar naga itu !"
Aku membuka pintu depan, mematikan penghalang rumah dan berteriak ke arah naga itu.
"Hooooy, naga !!!"
Naga itu mendengarku dan melihat ke bawah serta memandangku.
"Manusia rendahan !!. Berani sekali kau berteriak ke arahku !!"
"Akulah yang seharusnya bertanya !! kenapa kau berada di halaman rumahku !?!?"
Aku bertanya kepada naga itu.
"Aku mendeteksi mana yang sangat mengerikan di hutan ini !"
"Itu aku, kalau kau ada urusan denganku. Aku akan memberimu waktu !"
"Bertarunglah denganku !"
__ADS_1
'Ehh.... apa yang dia bilang tadi ?? bertarung !!"
"Baiklah kalau kau menantangku !!"
Aku bersiap-siap dan memasang kuda-kuda.
'Untungnya dulu... aku pernah ikut seni bela diri'
"Seranglah aku manusia rendahan !!!"
Aku berlari ke arah naga itu sambil membayangkan pijakan udara sampai seluruh badanku terlihat oleh naga itu. Lalu aku memukulnya sekuat tenaga sambil membayangkan gunung yang mengeluarkan lava. Naga merah itu terpental jauh oleh pukulanku.
Aku turun perlahan-lahan ke tanah.
Naga itu yang sudah terpental jauh, terbang mendekat.
"Lumayan juga kau manusia, sekarang giliranku ! cobalah bertahan sekuat tenaga !!"
"Baiklah !!. Serang aku dengan serangan terkuatmu !!!"
Naga yang masih terbang tersebut menghembuskan napas api.
Api merahnya mirip seperti lava yang meleleh.
'uhh... panasnya !!. Baru sedikit yang keluar. Tapi panasnya terasa panas sekali !!"
Naga itu terus menerus menghembuskan api yang panasnya mirip seperti lava yang meleleh sampai dia kelelahan.
'Sepertinya naga merah itu kelelahan. Sekaranglah giliranku untuk membalas serangannya'
Aku yang berada di atas tanah. Membayangkan lubang putih dan mengeluarkan api panas yang telah disemburkan oleh naga itu.
"Heey naga ! sekarang giliranku untuk menyerang balik. Rasakanlah ini !!"
Aku menyerang naga itu dengan semburan api yang terhisap dari lubang hitam.
Naga itu jatuh ke tanah dan kepanasan oleh api lavanya sendiri.
"S~stop !! B~berhenti !! A~aku menyerah !!"
Aku menghentikan seranganku ketika aku mendengar suara naga itu.
Kalau aku tidak menghentikan seranganku. Mungkin naga itu sudah mati karena meleleh oleh api lava itu.
"A~aku menyerah, tolong ampuni aku !"
"Baiklah. Sebagai gantinya jangan lagi menyerangku !!"
__ADS_1
Aku menyembuhkan naga itu dengan membayangkan tubuhnya sebelum aku menyerangnya.
"Apa ini ? seluruh tubuhku rasanya ringan ?? dan bagian tubuhku yang sakit sembuh ???"
"Aku yang menyembuhkanmu !"
Aku menyahutnya.
"Sekarang kau boleh pergi. Oh ya... siapa namamu ?"
"Aku belum punya nama. Kalau boleh, bisakah kau memberiku nama ?"
'Nama ya ? hmm.... pochi ? tidak itu nama untuk anjing !. Hmm... ah.... !!'
"Bagaimana kalau namamu... Draken!!. Ya... sekarang namamu adalah Draken !!!"
"Draken ya... nama yang bagus ! aku suka nama itu !!"
Draken mengorek sisiknya sampai lepas.
"Ini adalah sisikku. Kalau kau butuh bantuan dari seekor naga sepertiku, kau tinggal menyalurkan manamu ke sisik itu dan nanti aku tahu keberadaanmu !!"
Lalu Draken mengepakkan sayapnya dan pergi terbang. Semakin lama semakin jauh.
Celestia yang mengintip pertarunganku di belakang pintu akhirnya keluar lalu memelukku dan menangis tersedu-sedu.
"Hey... Celestia apakah kau menangis ??"
'Sial... ! dia imut sekali'
"Aku~aku kira kita bakal mati !!!"
'Ohh... dia mengira aku akan mati'
"Tenanglah, semuanya sudah aman sekarang"
Aku menenangkan Celestia yang menangis.
"Hey... Celestia bisakah kau melepaskanku ?? aku akan memperbaiki hutan ini !"
Celestia melepaskan pelukannya.
Aku membayangkan dan mengembalikan kondisi hutan seperti sedia kala sebelum pertarunganku dengan Draken dimulai.
Aku memegang pundak Celestia yang sudah mulai baikan.
"Ayo kita pergi ke dalam. Semuanya sudah aman sekarang"
__ADS_1