KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 10


__ADS_3

Eggy mendatangi Omen ke studio nya setelah ia mendapat kabar dari Imam bahwa ia di tuntut kembali oleh Pak Suwandi dan kali ini benar - benar serius.


Sebelumnya Imam ragu untuk menceritakan masalah Omen pada Eggy, mengingat Omen semakin putus asa, terpaksa Imam memutuskan untuk memberitahu Eggy masalah itu kecuali masalah Omen dan Widya.


Omen sempat kesal pada Imam karena ia memberitahu Eggy. Namun nasi sudah menjadi bubur, Omen tak dapat mencegahnya dan bersiap untuk menyambut bala bantuan yang akan menghampirinya.


" Ini enggak bisa di diamkan Men. Kau harus membela diri kau. Ini jelas - jelas namanya fitnah". Eggy merasa cemas pada sahabatnya itu.


"Mau bagaimana aku membelanya? Toh satu - satu nya yang bisa membela aku itu orang yang sudah memfitnah aku". Omen hanya bisa pasrah.


" Ya kan masih ada karyawan kau, masih ada Imam dan Widya untuk di jadikan saksi kalau itu semua fitnah". Eggy mengingatkan akan mereka.


Omen /"Percuma Gy. Mereka pasti enggak bakalan percaya. Mungkin mereka berpikir karyawan aku dan Widya sudah bersekongkol untuk membela aku".


"Tapi kau enggak bisa diam dan pasrah gitu saja. Kau mana boleh putus asa kayak gini. Kau harus mencari bukti juga kalau kau enggak bersalah. Memang ya si Suwandi itu sudah tua tapi licik nya minta ampon. Tenang saja kau Men! Aku pasti bakalan ngebantuin kau. Aku bakalan ngasi pelajaran sama si Suwandi itu". Eggy merapatkan giginya karena geram harus berurusan kembali pada Pak Suwandi.


"Terimakasih Bro, tapi enggak seharusnya kau terlibat dalam urusan ini. Sudah sering kali aku nyusahin kau. Biarin saja aku yang menyelesaikannya sendiri". Omen terlihat segan padanya.


" Gigi kau lah Men! Kau anggap apa aku ini? Aku sama sekali enggak merasa di susahkan sama kau. Justru aku merasa susah kalau kau jadi terpuruk kayak gini. Sekarang kau enggak usah banyak cakap lah kalau kau masih belum punya jalan keluarnya. Enggak usah pakai nolak kalau tolongin, kau cukup berpikir positive dan semangat ngadepin si Suwandi itu. Terus kita kasi pelajaran juga sama wanita simpanan nya itu, si Rania. Enak saja dia main fitnah - fitnah orang segala. Bisa kelar entar karir nya kalau aku bertindak". Eggy benar - benar kepalang emosi.


Omen tertawa kecil melirik Eggy.


"Thanks bro". Dan tak ada kata lain selain kata itu yang di ucapkan oleh Omen pada sahabat karib nya yang selalu ada untuk nya.


Tak lama Widya pun muncul seperti biasa yang selalu menghampiri Omen setiap hari nya.


" Hai". Ia menyapa sembari mencium pipi Omen.


Sejak saat itu Omen membiarkan Widya begitu saja. Dia pun belum bisa memikirkan masalah hubungan nya bersama Widya, dia memutuskan untuk menyelesaikan masalah nya bersama Pak Suwandi terlebih dahulu. Bahkan mungkin nanti dia akan pasrah jika ia harus kembali bersama dengan Widya, sebab bukti yang ia dapat mengarah bahwa ia memang benar melakukan hal itu bersama Widya dan ia harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Meski ia masih tidak mengingat apa pun pada malam itu.


Eggy mengerutkan dahinya serta menaruh rasa bingung melihat gelagat Widya begitu mesra pada Omen.


"Eh... Ada Bang Eggy! Sudah lama datang Bang?". Widya bertanya pada Eggy sembari tersenyum.


" Hem... Lumayan lah. Umm... Men! Kayak nya aku langsung balik saja lah. Lagian bentar lagi mau masuk waktu magrib. Pokoknya kau kabari aku langsung berita berikutnya, oke. In Sya ALLAH di mudahkan ALLAH urusan ini, Aamiin". Eggy melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 06 sore kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.


Omen menganggukkan kepalanya.


"Hmm... Aamiin. Sekali lagi Terimakasih banyak ya Bro. Sorry, karena selalu merepotkan kau".


Eggy menepuk bahu Omen cukup keras.


" Ahh... Biasa saja. Lebay kali kau, enggak usah bikin aku emosi lagi. Ya sudah aku balik. Wid, aku balik ya. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam". Keduanya menjawab salam Eggy secara serentak sembari melihat kepergian Eggy.


...


Di dalam kamar sepasang insan yang paling romantis sejagat raya, seperti biasa keduanya saling mengobrol sebelum tidur sembari saling membelai satu sama lain di atas tempat tidur.


" Kasihan kali ya Bang Omen di fitnah kayak gitu. Enggak selesai - selesai urusan nya sama Bapak itu". Almira turut bersedih atas musibah yang terjadi pada Omen.


"Hu uh! Besok Suam harus menemani nya untuk bertemu sama Pak Suwandi itu. Kami bakal membicarakan soal ini baik - baik biar bisa berdamai dengan secara kekeluargaan. Mudah - mudah ALLAH memberikan jalan keluar dengan mudah, Aamiin". Eggy berkata sembari menggenggam tangan Almira lalu menciumnya.


"Aamiin".


" Oh ya! Suam curiga, kayak nya si Omen balikan lagi sama Widya, soalnya tadi waktu Suam ke studio tiba - tiba Widya datang dan langsung mencium Omen di depan Suam". Eggy teringat akan kehadiran Widya di tengah - tengah ia sedang mengobrol bersama Omen sore tadi.


Almira /"Hmm? Bagus donk kalau begitu. Mudah - mudahan saja memang mereka berjodoh. Suam kasi tahu Bang Omen, enggak usah pacaran - pacaran lagi, bilang langsung nikah kan saja Widya nya".


"Iya memang bagus. Tapi agak aneh saja. Kenapa tiba - tiba Omen mau menerima Widya lagi. Bukan nya sebelum - sebelumnya dia bersikeras enggak mau menerima Widya lagi, kenapa tiba - tiba mereka balikan, bahkan dia enggak cerita sama Suam". Eggy merasa penasaran.


" Mungkin Bang Omen sudah berubah pikiran dan mau memberikan Widya kesempatan. Lagian kan Bang Omen masih sayang sama Widya wajar donk dia mau ngasi kesempatan untuk Widya. Terus mungkin Bang Omen juga belum sempat cerita ke Suam mengingat banyak kali masalah yang menimpa nya". Almira selalu memberikan pikiran positive pada Eggy.


"Hmm... Mungkin. Suam jadi penasaran kenapa dia bisa berubah pikiran seperti itu". Eggy mengeratkan pelukannya pada tubuh Almira kemudian melirik mata Almira.

__ADS_1


" Ya sudah! Kita tidur yuk. Mata Ist sudah layu kayak gini he he he". Ajaknya sembari menyentuh mata Almira yang sudah terlihat mengantuk.


Almira tersenyum sembari mengangguk pelan.


"He em".


Eggy mengecup dahi Almira kemudian mereka memejamkan matanya dan tertidur pulas, tak lupa ia mengelus perut Almira sebelum mereka benar - benar tertidur.


...


Eggy, Omen dan Widya sudah berada di kantor milik Pak Suwandi sesuai dengan rencana mereka untuk menemui beliau.


Awalnya Widya tidak ikut serta soal ini namun ia memaksa untuk ikut bersama mereka.


Sudah hampir satu jam setengah mereka menunggu Pak Suwandi yang belum juga muncul di kantornya.


Hingga akhirnya ia pun tiba bersama dengan sekretarisnya.


Ia sempat terkejut melihat kedatangan mereka. Belum sempat ia mengatakan sepatah kata apa pun pada mereka, tiba - tiba Rania muncul menghampiri Beliau dengan wajah marahnya sembari membawa selembar kertas di tangannya.


"Papa, apa - apaan surat ini". Rania menunjukkan secarik kertas yang ia pegang, ia sudah tidak peduli lagi dengan orang - orang sekitar akan mengetahui statusnya sebagai anak Pak Suwandi.


" Papa?".


Semua orang terkejut mendengar Rania menyebut kata Papa pada Pak Suwandi. Terutama Omen dan Eggy yang paling terkejut ternyata Rania adalah anak Pak Suwandi bukan lah wanita simpanan nya seperti apa yang mereka pikirkan.


"Aku sudah bilang sama Papa untuk tidak menuntut mereka. Kenapa Papa tetap melanjutkan perkara ini? Bahkan Papa tega memalsukan tanda tangan aku lalu memfitnah mereka seperti ini". Rania tidak terima atas perbuatan orang tua nya itu.


" Apa?". Lagi lagi Omen merasa terkejut ternyata Rania sama sekali tidak mengetahui soal fitnah itu.


Sedangkan Pak Suwandi harus menanggung rasa malu sembari melihat orang - orang sekelilingnya.


"Rania. Ayo kita bicara di dalam ruangan. Enggak seharusnya kamu mengatakan itu di sini". Beliau mengecilkan suaranya sembari menarik tangan Rania namun Rania menepisnya.


Rania bersungguh - sungguh memperingati Papa nya sebab ia sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap Papa nya. /"Aku sudah bilang sama Papa, aku enggak akan diam lagi kalau Papa masih tetap melanjutkan perkara ini. Papa pikir aku hanya mengancam seperti anak kecil yang sedang marah. Tidak Pa. Bahkan mungkin aku sanggup memasukan Papa ke dalam penjara atas perbuatan Papa ini".


"Rania! Tolong, kita bisa bicarakan semua nya dengan baik - baik sayang. Papa bisa menjelaskan semuanya ke kamu. Ini enggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham sayang". Pak Suwandi mulai takut, wajah nya terlihat pucat ketika sang anak mengancamnya tanpa ragu dan beliau pun sudah tidak peduli lagi memanggil dirinya Papa.


Rania memejamkan matanya sejenak.


"Please...! Hentikan semuanya sekarang juga! Atau kalau tidak...". Perintahnya sembari menatap Pak Suwandi dengan mata nya yang kian memerah.


" Oke! Papa akan hentikan semuanya sekarang juga, Papa juga enggak akan menggangu mereka lagi tapi dengan satu syarat, Papa minta tolong kamu jangan pernah lagi berhubungan sama mereka terutama dia". Pak Suwandi punya permintaan untuk Rania, ia pun menunjukkan ke arah Omen dan Eggy.


Sontak membuat Rania merasa dilema kemudian ia melirik ke arah Omen yang berdiri di antara Eggy dan Widya.


"Kenapa hati ku rasa nya berat memenuhi permintaan Papa? Tidak biasanya aku seperti ini. Ada apa ini?". Rania berkata di dalam hati sembari melihat wajah Omen yang juga melihat nya dengan harap - harap cemas.


" Please Rania, jangan! Aku enggak mau kalau kamu menjauhi aku. Please! Bahkan aku belum sempat minta maaf dan terimakasih sama kamu atas semua ini. Bahkan aku belum sempat membuktikan hubungan di antara aku dan Widya tidak ada apa - apa nya lagi. Please, jangan menyetujuinya. Aku rela memperpanjang perkara ini, asalkan kamu tidak menjauhi aku. Please! Aku mencintai kamu Rania". Omen pun juga berkata - kata di dalam hatinya.


Rania memejamkan matanya sejenak kemudian menghembuskan nafasnya.


"Oke Pa! Aku setuju sama permintaan Papa. Aku enggak akan berhubungan lagi sama mereka. Lagian memang dari awal tidak ada hubungan apa pun di antara aku dan mereka". Dengan berat hati ia menyetujui kesepakatan itu bahkan ia pun tak sanggup melihat wajah Omen di saat ia mengatakan hal itu.


Omen terlihat kecewa dan lemas atas keputusan Rania, Eggy melirik Omen dan menyadari hal itu. Sedangkan Widya tersenyum bahagia dan merasa lega.


"Oke! Karena kamu sudah menyetujuinya. Papa juga akan memenuhi janji Papa. Semuanya sudah berakhir dan Papa berharap kamu menepati janji kamu". Pak Suwandi merobek surat penuntutan itu lalu menyuruh pengacara nya mengurus pembatalan tuntutan tersebut.


Tanpa berkata dan tanpa melihat ke arah Omen, Rania memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sebelum ia berubah pikiran dan mengingat janji nya pada sang Papa untuk tidak berhubungan lagi pada Omen.


...


Setelah semuanya usai akhirnya mereka bernafas lega tapi tidak untuk Omen.


"Alhamdulillah sayang! Akhirnya kelar juga urusan ini". Widya berkata sembari menggandeng tangannya.

__ADS_1


" Aku mau istirahat bentar. Kepala ku terasa sakit. Kamu pulang saja". Omen menarik tangannya kemudian berjalan menuju ruangannya.


Sontak membuat Widya merasa sedih dan bingung. Sedangkan Eggy merasa heran pada sahabatnya kemudian ia menyusul Omen setelah ia meminta Imam untuk mengantar Widya pulang.


"Bukan nya kau senang ya karena urusannya sudah kelar? Kenapa kau terlihat kecewa ku tengok dari tadi?". Eggy bertanya setelah ia mengunci pintu itu.


Omen mengusap wajah nya, itu terlihat kusam.


" Belum selesai! Ini belum selesai". Ujarnya.


"Maksud kau apa? Aku enggak ngerti". Alis mata Eggy menyatu.


" Aku enggak mau masalah itu selesainya seperti ini. Gara - gara menyelesaikan masalah ini Rania harus menjauhi aku. Aku enggak mau Rania menjauhi aku". Omen memang selalu berkata apa adanya pada Eggy dan tidak ada yang di tutup - tutupin padanya.


"Apanya kau ini? Bukan nya kalian memang enggak ada hubungan khusus? Kenapa kau enggak terima Rania menjauhi kau?". Eggy semakin bingung.


" Iya! Di antara aku dan Rania memang tidak ada hubungan khusus. Tapi aku mencintai Rania". Sambungnya.


"Apa? Terus Widya? Bukan nya kalian sudah balikan?". Eggy sungguh terkejut.


Lagi lagi Omen mengusap wajah nya kemudian ia menceritakan kejadian di antara nya dan Widya pada malam itu dan ia juga menunjukan foto - foto syur tersebut.


Mata Eggy terbelalak melihat foto - foto itu.


"Astaghfirullah! Kau yakin enggak terjadi apa pun malam itu?".


Omen /"Aku juga enggak tahu. Soalnya aku betul - betul enggak ingat. Waktu kita pulang dari salon, aku langsung ke studio bahkan gitu aku enggak kemana - mana lagi. Aku langsung tidur karena kepala ku sakit kali. Aku yakin ini jebakan yang sengaja di buat. Buktinya kenapa bisa ada foto - foto ini dan siapa yang memotretnya?".


Eggy /"Tapi kayak nya enggak mungkin itu enggak terjadi. Soalnya foto - foto ini sudah jelas kalau kalian melakukan itu. Ya walau pun ini sebuah jebakan tapi siapa yang tahu? Pasti enggak akan ada yang percaya karena foto ini sudah jelas walaupun wajah kau enggak keliatan".


Omen /"Itu juga yang di bilang sama si Imam. Dia pun mencurigai Widya yang melakukan ini semua, karena setahu Imam enggak orang lain lagi yang keluar masuk ke studio".


Eggy /"Hmm... Kau sudah tanyakan itu sama Widya?".


Omen /"Belum. Aku belum sempat membahas soal itu karena di saat yang sama kasus Rania muncul. Jadi aku memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu dulu baru menyelesaikan masalah ku dan Widya".


"Tapi saran ku ya Men. Lebih baik kau enggak usah bertanya atau pun membahas kejadian malam itu pada Widya. Karena kalau memang Widya yang menjebak kau, kemungkinan dia enggak bakalan ngaku bahkan mungkin dia akan melakukan segala cara supaya jebakan itu tidak ketauan". Eggy memberi saran untuk tidak gegabah.


"Hm... Iya juga ya!". Pikirnya.


Eggy meregangkan pinggang nya kemudian duduk di sofa milik ruangan itu.


" Hmmm... Pantesan saja dari kemarin - kemarin gelagat kau aneh setiap kali Widya ngedeketin kau. Aku sudah curiga pasti ada apa - apa nya, kenapa tiba - tiba kau dan Widya balikan. Karena setahu aku, kau itu paling nolak untuk balikan lagi sama dia. Ehh enggak tahunya..! Jangan kan balikan, malah sudah jungkir balik - jungkir balik kalian ck ck ck. Oh ya! Jadi di sini kau sama Widya jungkir balik - jungkir balik malam itu? Whoa... Pasti asoy (nikmat tiada tara) sampai - sampai hilang ingatan kau nya ha ha ha". Eggy terbahak menyindir Omen sembari mengelus - ngelus sofa yang ia dudukin.


"Kampr*t kau Gy. Ngejek kali kau ya! Justru kalau asoy, enggak bakalan bikin hilang ingatan. Bahkan terngiang - ngiang terus sampai ngilu ha ha ha. Ini malah kagak ingat sama sekali wk wk kwkk. Apa enggak k*m*k kali kan? Ha ha ha". Omen pun turut terbahak sampai air matanya keluar tak tertahankan sembari berkata kotor ala anak Medan.


"Lantak lah kau Men nanggung dosanya. Hiiiih... Ngeri lah pokoknya ". Bulu kuduk Eggy berdiri karena merinding membayangkan murka ALLAH terhadap orang - orang yang berbuat zinah.


" Hmm... Enggak usah nakut - nakutin lah kau koplak. Bikin aku merinding saja". Omen pun sama merindingnya.


"Siapa yang nakut - nakutin. Lagian kan memang benar ngeri nanggung dosa nya kalau memang betul kau sama Widya sudah begituan sebelum nikah. Apa lagi kalau Widya sampai hamil dan melahirkan anak kalian, dampak buruk nya terimbas ke anak kalian. Anak kalian enggak boleh pakai nama kau, kau enggak boleh menikahkan dia (kalau anak perempuan), anak itu enggak mendapatkan syafaat dari orang tuanya, dan tidak boleh mendapatkan apa pun dari kalian baik di dunia mau pun di akhirat. Baik harta atau pun sebagai nya". Eggy memberitahu Omen sedikit dari pengetahuannya.


"Hmm... Iya. Kalau pun di gugurkan, itu juga akan semakin memperbesar dosa yang di buat. Bahkan mungkin tidak ada ampunan dari ALLAH". Omen menyambungnya dengan nada lesu.


Eggy /" Nah tuh tahu! Tapi mudah - mudahan apa yang ada di foto - foto itu tidak benar. Dan mudah - mudahan masalah kau segera selesai dengan baik. Aamiin".


"Aamiin. I hope so".


" Jadi urusan perasaan kau sama Rania gimana? Mau move on atau go on?". Eggy kembali bertanya soal perasaan Omen.


Omen menaikkan kedua bahu nya kemudian berkata.


"Hmm... Entah lah! Biarkan ALLAH saja yang menjawab pertanyaan kau itu. Aku cuma bisa pasrah saja apa yang akan terjadi nanti nya".


Sedangkan Eggy hanya memandang wajah Omen yang begitu lesu lalu ia menepuk punggungnya tertanda untuk memberikan ia semangat hidup.

__ADS_1


__ADS_2