KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)

KEIKHLASAN HATI (JADI DUA)
CHAPTER 13


__ADS_3

"Assalamualaikum".


Eggy mengucapkan salam setibanya ia di kediaman Egga dan Ratna.


" Waalaikumussalam". Almira dan Ghifari pun menjawab dengan secara serentak sembari melihat ke arah Eggy yang berjalan menghampiri mereka.


"Daddy....". Ghifari berteriak mengejarnya kemudian memeluknya.


Eggy pun mencium kening sang anak sembari tersenyum.


" Kamu sudah mandi?".


"Sudah donk Dad! Masa Daddy enggak tercium gini wanginya Ghifari". Ia mencium aroma tubuhnya sendiri untuk meyakinkan bahwa tubuhnya wangi.


" Um... Hufft Bau acem (asam) iya". Eggy berpura - pura mengatakan itu dan sengaja menutup hidungnya.


"Iiih masa sih Dad? Wangi gini kok. Mommy.... Masa kata Daddy badan Ghifari bau acem sih? Padahal kan wangi ya kan Mom?". Ghifari mengadu pada Almira yang sejak tadi memperhatikan keduanya.


Almira pun menggeleng - geleng kan kepalanya sembari melirik Eggy yang memberi nya kode.


" Coba sini Ghifari! Coba Mommy cium dulu". Almira memanggilnya kemudian Ghifari pun menghampiri.


"Um... Wangi kok! Wangi permen karet. Hmm hidung Daddy saja itu tersumbat maka nya enggak ke cium aromanya". Almira justru tidak mendukung Eggy.


Ghifari /" Tuh kan...! Berarti hidung Daddy tuh lagi mampet. Coba deh Daddy periksa ke THT".


Eggy pun tak sanggup menahannya karena kedua anak beranak ini menyerang dirinya.


"Hmm... Iya deh iya! Daddy ngaku kalau Daddy tadi cuma ecek - ecek (pura - pura) bilang kalau Ghifari bau acem (asam). Huuu Mommy nya enggak kompak ih, ngeselin".


Almira menjulurkan lidahnya sengaja mengejeknya. Sedangkan mata Eggy melotot sembari merapatkan giginya.


" Eh... Eh... Ada apa ini? Kok kalian recok (bising) sekali?". Tiba - tiba Egga dan yang lain pun muncul ketika mereka mendengar suara Eggy.


Mereka bertiga menoleh.


"He he he enggak ada apa - apa kok". Eggy langsung menghampiri kedua orang tuanya kemudian mencium tangan mereka.


" Ma, Pa".


"Gimana masalah si Omen? Sudah selesai?". Pak Wijaya langsung menanyakannya. Sebelumnya Eggy memang sudah memberitahu mereka masalah Omen.


" Alhamdulillah sudah selesai Pa. Tapi muncul masalah lainnya". Eggy menjawab dengan nada resah.


"Masalah apa lagi? Apa masalah dengan CEO ini lagi?". Pak Wijaya penasaran.


" Enggak Pa. Ini masalah Omen dan Widya, Eggy pun tidak tahu pasti soal masalah ini. Oh ya! Kalian masak apa hari ini? Eggy lapar sekali ini". Ujarnya sembari memegang perutnya.


"Ya tanya lah sama binik kau. Rang dia kok yang masak di sini sedangkan binik aku cuma bantu - bantu saja". Egga melirik ke arah Almira.


"Hmm? Kok tumben mau masak? Bukan nya akhir - akhir ini enggak mau masak karena enggak tahan nyium aroma masakan terus muntah - muntah". Eggy sedikit memarahi Almira (marah tanda sayang).


"Hmm... He he he, itu pun tadi Ist nahan napas biar enggak kecium aromanya". Almira tertawa getir.


Sedangkan yang lainnya masih bingung terhadap pasangan ini. Kemudian Bu Hanna bertanya karena penasaran.


" Memang nya Almira hamil lagi?".


"Iya Ma". Eggy tidak sengaja kelepasan berbicara.


Almira langsung menyikut lengan Eggy karena ia keceplosan. Sebelumnya mereka memang sudah memutuskan untuk tidak memberitahu keluarga mereka perihal kehamilan Almira sampai kandungannya berumur 3 bulan karena mereka masih menyimpan rasa trauma.

__ADS_1


" Jadi Almira hamil lagi. Alhamdulillah Ya ALLAH!". Bu Hanna tampak bahagia, sedangkan Almira tampak malu - malu.


"Ehem... Berarti kalau gitu Papa sama Mama bakalan menanti 2 cucu sekaligus". Dengan tersipu malu Egga berkata pada mereka sembari melirik Ratna yang ada di sebelahnya.


Mata Bu Hanna dan yang lainnya nyaris keluar.


"Ratna, kamu hamil juga?".


Ratna pun mengangguk pelan.


" Iya".


"Alhamdulillah Ya ALLAH, selamat ya sayang". Bu Hanna langsung memeluk Ratna dan air mata nya tak dapat terbendung lagi.


Eggy, Almira dan Pak Wijaya turut berbahagia, sedangkan Ghifari dan Tara hanya terdiam melihat mereka. Mereka pun mengucapkan selamat kepada Egga dan Ratna.


" Selamat brooooo bakal jadi Bapak ho ho ho". Eggy memeluk Abangnya kemudian menepuk punggungnya.


"Hei... Aku memang sudah jadi bapak kali Gy". Egga mengingatkan keberadaan Tara.


" Ha ha ha, iya. Maksud aku bakalan jadi Bapak lagi sama seperti aku he he he". Eggy pun meralat ucapannya.


"Thanks bro dan selamat juga buat kau karena bakalan menjadi bapak yang ke empat kali nya ha ha ha". Egga balik mengucapkan selamat padanya.


" Ha ha ha. Pokoknya nanti kau siap - siap lah siaga satu. Karena biasanya kalau hamil anak pertama itu paling ngeri ngidamnya". Eggy menakut - nakuti Egga.


"Ahh tak ada. Buktinya Ist enggak kayak gitu waktu hamil Ghifari. Tergantung individunya". Almira membantah ucapan Eggy.


"Ghifari kan hamil yang kedua sayang. Ingat enggak waktu Ist pertama kali hamil, Ist itu manjanya bukan main". Eggy mengingat kembali masa itu.


" Enggak juga kok Gy. Buktinya Mama kamu waktu hamil Egga, Mama enggak pernah minta apa pun sama Papa. Justru Papa yang mau ini itu. Betulkan dek?". Pak Wijaya juga membantah Eggy.


Egga menjewer telinga Eggy hingga merah.


" Nah tuh kan! Pantesan saja ini anak orang nya lasak. Enggak pernah ada di rumah. Tahu nya touring sana sini. Kan yang ngajak Egga gabung di club touring dia. Kalau bukan karena dia, Egga pun mungkin enggak bakalan mau ikutan touring ha ha ha".


Eggy memanyunkan bibirnya sembari mengusap telinganya yang memerah. Sedangkan yang lain hanya tertawa kecil.


"Kau nih lah Bang. Jangan ngasal ngomong napa. Ada anak aku sama anak kau ngeliatin". Ia memarahi Egga dengan nada pelan sembari melirik kedua bocah itu.


" Ha ha ha, maaf. Aku kelupaan he he he". Egga pun baru sadar.


"Tara. Sini sayang". Pak Wijaya menyuruhnya untuk mendekatinya.


Tara pun menurut kemudian bersiap - siap akan di beri pertanyaan oleh Pak Wijaya.


" Kamu senang enggak kalau kamu nanti nya In Sya ALLAH akan memiliki adik?".


Tara tidak langsung menjawabnya, ia malah melihat ke arah Egga dan Ratna yang tersenyum padanya kemudian ia kembali melihat wajah Pak Wijaya yang masih setia menanti jawabannya.


Perlahan ia menganggukkan kepalanya.


"Iya Opa. Tara senang sekali". Jawabnya sembari tersenyum.


Mereka pun bahagia mendengar jawaban dari Tara. Bahkan Egga tidak melihat sedikit pun rasa keganjalan atau pun keterpaksaan Tara menjawab pertanyaan dari Pak Wijaya. Dan ia menjawab dengan keikhlasan dari hatinya.


.


.


"Fuuuuuht...! Kenapa lah gini kali nasib aku Ya ALLAH? Masalah satu selesai malah tumbuh masalah lainnya. Ini lagi mobil, entah apa pakai mogok segala di saat yang enggak tepat. Haiiiih!". Omen meratapi nasibnya setelah ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena mobilnya mogok mendadak.

__ADS_1


"Hedeh...! Kemana lah mau aku cari bengkel mobil semalam ini? Malah ini tempat nya sepi lagi". Omen menggaruk kepalanya sambil melirik ke sekitar area yang sudah sepi mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi.


Tiba - tiba mobil lainnya muncul secara mendadak dan menabrak mobilnya. Sontak membuatnya terkejut dan nyaris terhempas.


"Astaghfirullah! Ya ALLAH... Belum lagi kelar masalah mobil nih mogok. Kini Engkau tambah lagi, Engkau buat mobil nih di tabrak sama orang. Ha? Tapi aku berterimakasih karena untungnya aku tidak kenapa - kenapa. Itu tandanya Engkau masih sayang sama aku". Omen kembali mengeluh pada sang Maha Pencipta sambil melihat ke arah langit.


Setelah merepet (ngedumel) sendiri, kemudian ia turun dari mobil nya untuk melihat kondisi. Ia melihat mobil nya hancur parah, ia sempat menepuk jidatnya.


Kemudian ia melirik ke arah mobil yang menabrak mobilnya. Sontak membuatnya terkejut.


"Ini kan mobil...". Ia pun melihat ke arah dalam mobil.


" Rania". Ia melihat Rania terlihat sangat terkejut serta mengeluarkan darah pada dahinya.


Omen langsung memintanya untuk keluar dari mobilnya. Setelah Rania membuka pintunya Omen langsung memeluk tubuh Rania dengan erat.


"Kamu tidak apa - apa Rania?".


Rania terkejut ternyata lelaki yang memeluknya yang tak lain ialah Omen dan itu membuatnya merasa sangat nyaman.


...


" Kamu kenapa malam - malam gini masih menyetir? Apa kamu ngantuk sampai - sampai kamu kehilangan kendali seperti tadi?". Omen sangat penasaran, ia pun mengobati dahi Rania setelah ia mencari kotak P3K milik Rania di mobilnya.


Rania tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya memandang wajah Omen saja. Kemudian air matanya menetes ke tangan Omen.


"Eh... Maaf! Pasti perih ya karena aku oleskan salep ini ke dahi kamu. Fuuh fuh fuh". Omen bergegas menghembus dahi Rania agar ia tidak merasa perih.


Namun air mata Rania semakin menjadi dan itu membuat Omen menjadi kebingungan.


" Segitu perih nya ya? Kalau gitu aku hapus saja salep nya. Takutnya iritasi pulak dahi kamu". Omen mengambil tissue lalu ingin mengelap dahi Rania.


Rania menepis tangan Omen.


"Enggak seharusnya kita bertemu lagi. Kita sudah sepakat untuk tidak berhubungan atau bertemu lagi".


" Kita? Yang buat kesepakatan itu adalah kamu dan Papa kamu. Bukan kita. Aku tidak pernah buat kesepakatan itu dan aku juga enggak mau menerima kesepakatan itu, karena apa? Karena aku enggak mau kamu menjauh dari aku". Omen mengatakan yang sejujurnya.


Rania sempat terkejut mendengar bahwa Omen tidak ingin menjauh darinya begitu juga sebaliknya.


"Oke! Kesepakatan itu yang buat memang hanya antara aku dan Papa ku. Tapi please Men! Jangan buat aku mengingkari janji ku. Aku tidak ingin mengingkari janji ku kepada Papa ku".


Omen menatap mata Rania sembari menggenggam tangannya /"Huh...! Yang berjanji untuk tidak menemui ku lagi itu kamu, yang berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan ku itu kamu. Bukan aku. Jadi aku berhak untuk menemui kamu. Lagian juga pertemuan ini hanya kebetulan atau... Pertemuan ini memang sudah di atur oleh ALLAH sebaik - baik mungkin".


"Rania! Aku enggak tahu ini waktu yang tepat atau tidak dan aku juga enggak tahu ini benar atau salah. Jujur... Aku sangat mencintai kamu".


Jantung Rania berdegup sangat kencang mendengar Omen menyatakan isi hatinya kepadanya. Rania tidak bisa berkata apa pun justru yang terlintas ingatan di saat Omen tidur bersama dengan Widya.


" Stop! Aku enggak mau mendengar apa pun dari mulut kamu. Kamu memang benar - benar tidak sadar diri ya. Seharusnya kamu ngaca, siapa diri kamu dan siapa diri aku". Rania malah menghinanya dan itu membuat Omen merasa terpukul.


"Kamu enggak usah kePD'an hanya karena aku baik sama kamu. Kamu itu sama sekali bukan type aku. Lebih baik kamu keluar dari mobil aku! Dan... Ini...". Rania mengusir Omen kemudian mengambil dompetnya.


" Ini... Untuk biaya karena aku sudah menabrak mobil kamu. Kalau masih kurang, kamu tinggal minta saja ke kantor Papa ku, aku akan mengurusnya". Ia menyodorkan lembaran uang 100 ribuan cukup tebal ke tangan Omen.


Omen tidak bisa berkata apa pun karena ia masih terkejut, ia bukan hanya di tolak cintanya namun ia juga mendapatkan hinaan dari Rania.


Omen pun menurutinya turun dari mobilnya dengan lemas kemudian ia melihat kepergian Rania.


"Aaaaaarrrrrght....". Omen berteriak sambil menangis sehingga urat pada wajahnya terlihat dengan jelas.


Sungguh itu adalah pukulan telak untuknya.

__ADS_1


__ADS_2