
Flashback...
" Maafin aku hu hu hu. Tolong kamu jangan seperti ini. Ini akan memperparah rasa sakit yang aku rasakan. Jujur, berat rasanya menerima ini semua. Ini untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan patah hati. Ternyata sesakit ini hu hu hu. Aku mohon jangan seperti ini hu hu hu". Rania berkata sembari memandang wajah Omen yang tampak berantakan. Isak tangisnya semakin parah namun tak membuat Omen menjadi sadar karena parahnya pengaruh minuman tersebut.
Rania pun berdiri dan membalikkan badannya untuk meninggalkan Omen namun ia terkejut ketika Omen menarik tangannya sehingga langkah kaki pertamanya terhenti.
"Jangan pergi... jangan pergi... ". Gumamnya terbata dengan mata tertutup.
Air mata Rania semakin mengalir kemudian dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan Omen yang melingkar dipergelangan tangannya. " Maafin aku". Lalu pergi meninggalkan Omen yang masih terkapar di atas tempat tidur.
Rania berlari kecil menuju parkiran sembari menghapus air matanya. Dadanya terasa begitu sesak seakan sulit untuk bernafas.
"Eh... Bu. Sudah mau check out? Pacarnya kemana? Kok enggak barengan?". Tiba-tiba security yang membantunya malam itu menyapanya ketika ia melihat Rania.
__ADS_1
" Ah... Iya Pak. Dia masih ada di dalam kok sedangkan saya sedang buru-buru jadi saya tinggalkan sebentar he he he. Oh ya Pak, sekali lagi terimakasih ya karena sudah membantu saya tadi malam". Rania menyambutnya dengan senyum cerianya namun tidak menutupi kesedihannya.
"Ah... Iya Bu sama-sama. Eh... Iya, Ibu habis nangis ya?". Security itu memperhatikan wajah Rania yang tampak sembab.
" Ah... Enggak Pak. Ini mungkin efek karena baru bangun tidur. Saya memang gitu kalau baru bangun tidur. Saya sering dijuluki muka bantal he he he". Rania mengibaskan tangannya kemudian menyentuh wajahnya yang terasa hangat.
Security itu hanya tersenyum dan mengetahui bahwa Rania hanya mencari alasan.
" Iya Pak he he he. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu ya Pak". Rania langsung membuka pintu mobilnya sebelum ada pertanyaan lain lagi yang akan keluar dari mulut pak security.
"Iya Bu. Hati-hati dijalan dan selamat pagi". Jawabnya dengan ramah kemudian mengarahkan mobil Rania menuju jalur keluar.
" Fuuhhht... Anak muda zaman sekarang kalau sedang berantem aneh-aneh saja tingkahnya. Ngalah-ngalahi yang sudah lakik binik (Suami & Istri). Malah sudah berani pakai check-in ke hotel padahal belum menjadi suami istri". Security itu sangat prihatin dengan kelakuan anak zaman sekarang yang semakin modern semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
...
" Rania kamu benar-benar sudah yakin akan menetap di Swiss dan enggak akan kembali lagi ke Indonesia?". Manager Rania yang bernama Lira bertanya sembari membantu Rania memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
" Ya yakinlah. Kalau tidak ngapain aku sudah mempersiapkan ini semua". Jawabnya dengan tenang tanpa melihat wajah Lira.
" Bukannya kamu sudah lama ingin berada disini dan enggak akan balik lagi ke Swiss. Bahkan aku masih ingat bagaimana perjuangan kamu untuk kabur dari Swiss. Kenapa kamu jadi berubah pikiran seperti ini?". Sebenarnya Lira tidak yakin akan keputusan Rania.
Rania menghentikan tangannya dan terdiam sejenak memandang ke depan dengan pandangan kosong.
" Iya kamu benar, itu karena aku pikir kalau disini aku akan menemukan jati diri aku. Ternyata aku salah, justru aku semakin tidak mengenal dengan diriku sendiri. Yang parahnya lagi ternyata aku enggak betah disini dan menurut aku lebih menyenangkan di Swiss. Aku bisa bebas melakukan apapun yang aku mau kalau disana. Enggak kayak disini terlalu banyak peraturan, mau beli minuman saja ribet, makanya aku memutuskan untuk kembali ke Swiss. Lagian aku hanya mencoba-coba saja untuk tinggal disini enggak serius he he he". Rania tertawa kecil melihat wajah Lira yang hanya memandangnya sedih, sebab Lira tahu kalau yang diucapkan Rania tidak sunguh-sungguh.
# " Ya keputusan aku sudah benar untuk membuang jauh-jauh impianku yang ingin menetap disini demi menemukan kebahagiaanku. Di Swiss atau pun disini tidak ada bedanya, karena memang sudah takdirnya aku untuk tidak merasakan apa itu yang namanya kebahagiaan".
__ADS_1